
I tried so hard
I tried my best
I gave you my all
And now there's nothing left
(*Aku berusaha sangat keras
Aku mencoba yang terbaik
Aku memberimu segalanya
Dan sekarang tidak ada yang tersisa)
You stole my heart
Then tore it in two
Now I'm falling apart
And dont know what to do
(*Kamu mencuri hatiku
Kemudian merobeknya menjadi dua
Sekarang aku hancur berantakan
Dan tidak tahu harus berbuat apa)
______________________________
Ella kaget juga mendengar pertanyaan Reni. Butuh beberapa saat sebelum akhirnya bisa menjawab. "Maaf ya mbak. Aku masih ragu. Mungkin aku dan Roni gak bisa untuk melanjutkan hubungan kami."
"Ragu kenapa? Apa masalahnya? Kenapa tidak dibicarakan dulu baik-baik?" Reni ikutan kaget juga mendengar jawaban Ella. Tak mengira masalah mereka berdua seserius itu sampai dapat mempengaruhi kelanjutan hubungan mereka.
Ragu kenapa lagi coba? Apa Ella ini masih tidak bisa melihat kesungguhan dan keseriusan Roni untuk menjadikannya pasangan hidup? Apa gadis ini masih meragukan Roni setelah semua yang telah dilakukan adiknya itu untuknya? Apa masih ada pertimbangan lainnya? Soal materi? Soal sekolah yang belum selesai? Soal pekerjaan? Semua itu bisa dibicarakan baik-baik bukan?
__ADS_1
"Masalahnya terlalu kompleks mbak, susah untuk dijelaskan. Too cruel and complicated." Ella bingung juga bagaimana harus menjelaskan duduk perkara keretakan hubungan mereka. Harus memulai dari mana. Harus bagaimana menjelaskannya agar tidak terlalu menyakiti hati.
Tapi bukankah memang sejak awal hubungan mereka bukanlah hubungan yang utuh dan kokoh? Sejak awal hubungan mereka berdua memang sudah rapuh. Yang pasti akan goyah dengan sedikit sentuhan dan terpaan masalah saja. Karena tak ada fondasi yang kuat disana untuk menopang dan menahan dari segala goncangan. Tak ada rasa cinta dari kedua belah pihak. Yang ada hanyalah cinta sepihak, cinta sepihak tak akan mampu untuk menahan segala beban yang ada.
"Padahal kalian berdua terlihat sangat cocok, serasi, sepadan dan harmonis. Kalian bahkan sudah lama saling mengenal satu sama lainnya. Kalian sudah saling mengerti dan memahami selayaknya sahabat baik. Masih kurang apa lagi coba?" Reni tak habis pikir apalagi yang membuat Ella ragu.
"Apa Roni selingkuh? Apa Roni bermain dengan wanita lain? Apa Roni melakukan sesuatu yang menyakiti kamu? Sesuatu yang tidak bisa kamu maafkan?" Reni kembali menyelidik. Takut Roni lah yang melakukan kesalahan fatal sehingga Ella memilih untuk mengakhiri hubungan mereka.
"Roni itu sangat baik, mbak...Dia juga sangat setia dan memperlakukan aku dengan sangat baik. Yah memang dia bukanlah manusia yang sempurna. Tapi aku tahu dia selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku. He tried his best for me. Gak bakal ada pria lain yang sebaik Roni." Ella semakin bingung untuk menjelaskan pada Reni.
Tapi dilain sisi Ella juga ingin meyakinkan pada Reni bahwa bukan Roni penyebab semua ini. Memang ada kalanya Roni membuat Ella jengkel. Membuat Ella marah. Tapi semuanya itu tak akan cukup, tak akan bisa menjadi alasan untuk melepaskan pria sebaik Roni. Untuk mematahkan hatinya sekali lagi. Dan parahnya sekarang yang akan patah hati bukan hanya Roni saja, tetapi seluruh keluarga Suherman. Semuanya akan bersedih dan kecewa karena Ella.
"Lalu kenapa, El? Atau jangan-jangan kamu yang..." Reni tak dapat melanjutkan perkataannya. Tak sanggup untuk memikirkan gadis sebaik Ella yang menjadi penyebab masalah diantara mereka.
Apa Ella yang berselingkuh? Apa Ella yang mengkhianati adiknya? Apa Ella telah tergoda dengan pria yang lainnya? Atau apakah Ella sudah bosan dan lelah dengan hubungannya dengan Roni? Dengan sifat Roni yang kadang keras kepala, mudah marah, pencemburu dan sedikit over protected?
Tapi kalau melihat betapa cintanya Roni pada Ella, Roni pasti tetap memilih bertahan. Apapun kesalahan yang diperbuat Ella, Roni pasti akan berusaha mempertahankan hubungan mereka. Karena Roni sudah terlalu lama menunggu dan berjuang untuk mendapatkan Ella.
"Maaf...semua murni karena aku, mbak. Aku yang salah. Aku yang sudah sangat jahat pada Roni selama beberapa tahun ini." Ella menundukan kepalanya dalam-dalam untuk mengungkapkan pengakuan dosanya ini pada Reni. Merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah dan kan dilakukannya pada Roni nantinya.
"Kamu...kamu selingkuh? Selingkuh dengan pria lain?" Reni semakin tak bisa mempercayai ucapan Ella. Bagaimana mungkin gadis yang terlihat sangat baik dan lugu begini bisa berselingkuh? Yah memang kadang penampilan dapat menipu sih. Tapi tetap saja...Tidak mungkin hal itu terjadi pada Ella.
"Semuanya hanya karena rasa, mbak...Rasa yang tak pernah bisa untuk berbohong. Rasa yang entah bagaimana tumbuh dan bersemayam di dalam dada tanpa bisa dibuang begitu saja. Dan rasa itu disebut dengan cinta."
"Kamu, kamu mencintai pria lain?" Reni bertanya dengan nada bergetar saking syoknya.
"Benar mbak. Makanya selama ini aku terus saja ragu dan gundah gulana. Di satu sisi aku dihadapkan dengan adikmu yang terlalu baik, yang sama sekali tidak layak untuk dikecewakan. Di sisi lain, aku dihadapkan dengan pria yang kucintai. Pria yang selalu ada dan bersemayam di dalam hatiku." Ella menceritakan alasan keraguannya.
"Tunggu, tunggu sebentar! Aku gak mau denger penggalan-penggalan cerita begini. Aku mau dengar cerita runtutnya..." Reni semakin penasaran. Karena Reni yakin benar Ella ini adalah gadis yang sangat baik. Gadis yang sangat peka dan berperasaan halus. Dia bahkan memikirkan perasaan orang lain mungkin diatas perasaan pribadinya sendiri.
Lantas bagaimana ceritanya gadis yang seperti ini bisa berselingkuh? Dan lagi apa kurangnya Roni? Bagaimana bisa seorang gadis menduakannya dengan yang lain? Terus Reni juga semakin penasaran pria macam apa yang telah berhasil mencuri hati Ella sampai sebegininya? Sampai bahkan Roni pun tak dapat mengalahkannya?
"Semuanya berawal lebih dari tiga tahun yang lalu, di Genting. Saat kami masih menjalani interenship di RSUD G." Ella menarik napas panjang beberapa kali sebelum mulai bercerita. Mungkin memang lebih baik dia mengatakan dengan jujur semua perasaannya pada Reni.
Sehingga nanti Reni dapat menjelaskan juga pada keluarganya. Sehingga Roni tak harus membuat alasan kegagalan hubungan mereka pada keluarganya. Karena pasti akan sangat menyakitkan bagi Roni jika terpaksa harus melakukannya.
"Saat itu aku mempunyai seorang kekasih mbak, orang asli Banyu Harum yang dikenalkan oleh Sari, sesama dokter interenship putaran kami juga."
"Tak lama setelah aku jadian dengan mas Ardi, Roni juga menyatakan cintanya padaku. Dan aku tanpa ragu langsung menolak waktu itu. Karena aku sudah punya mas Ardi. Aku juga tak ingin memberikan harapan palsu kepada Roni." Ella menjelaskan tentang Roni yang menyatakan cintanya untuk pertama kali.
__ADS_1
"Sebenarnya semua hanya masalah takdir dan masalah waktu. Andai saja waktu itu aku belum menjadi kekasih Ardi. Andai saja Roni duluan yang memintaku menjadi kekasihnya, mungkin ceritanya akan jauh berbeda dari yang sekarang."
Reni menganggukkan kepala, memang dirinya tahu cerita ini. Dia tahu hubungan Roni dengan gadis incarannya di Genting tidak berjalan lancar. Reni juga tahu benar gadis itu adalah Ella, dan ternyata inilah alasan kegagalan hubungan mereka waktu itu.
"Tapi kemudian hubunganku dan mas Ardi juga kandas di tengah jalan. Hanya karena kami tidak bisa mendapatkan restu dari mama mas Ardi. Kami akhirnya terpaksa harus berpisah meskipun masih saling mencintai. Waktu itu awal aku menjadi residen PPDS di UNER." Ella berhenti sejenak, mengambil napas sebelum menceritakan hal yang lebih menyedihkan dan membuat dilema.
"Karena kami bersekolah di kampus yang sama, jadinya aku dan Roni sering berjumpa dan berhubungan sebagai teman. Bahkan waktu itu aku sudah menganggap Roni sebagai seorang sahabat baik. Yang selalu ada dan membantuku serta setia menemaniku di setiap kesempatan."
"Setahun kemudian, Roni yang sudah cukup dekat hubungannya kembali menyatakan cintanya padaku. Tapi waktu itu aku masih belum bisa move on dari Ardi. Kemudian Roni dengan keras kepalanya memaksakan hubungan tanpa status untuk kami berdua. Dia bilang akan setia menunggu aku sampai dapat membuka hatiku untuknya."
Reni kaget mendengarnya. Jadi sampai sebegininya Roni mencintai gadis ini? Bahkan sampai rela menjalani hubungan cinta sepihak seperti ini? Tapi Reni juga hapal benar dengan sifat adiknya itu. Dengan kekeras kepalaan Roni yang kadang memang kelewatan untuk memaksakan keadaan.
"Lalu kenapa kalian akhirnya jadian? Kamu akhirnya bisa melupakan Ardi?" Reni kembali bertanya.
"Bukan mbak. Nama mas Ardi itu masih tertanam di hatiku bahkan setelah tiga tahun kami berpisah. Bahkan sampai saat ini pun masih ada. Tapi yang jadi masalah Ardi seolah menghilang ditelan bumi selama tiga tahun ini tanpa satupun kabar berita."
"Sedangkan untuk Roni, mbak tahu sendiri kan betapa baiknya dia. Betapa Roni mencintai aku dan menjagaku selama dua tahun kami bersama. Dan saat itulah aku mulai berpikir untuk mencoba membuka hati pada Roni dan akhirnya kami jadian."
"Tapi mbak, semakin lama kami berdua menjalani hubungan ini rasanya semakin menyesakkan karena memang tidak didasari oleh rasa saling cinta. Rasanya ada yang salah dan tidak semestinya..."
"Sampai akhirnya beberapa minggu yang lalu mas Ardi tiba-tiba muncul kembali dalam kehidupanku. Dia datang setelah menyelesaikan semua urusan dan halangan akan hubungan kami. Dia telah mendapatkan restu yang menjadi penghalang hubungan kami di masa lalu. Dan dia menawarkan untuk kembali menjalin hubungan denganku."
"Jadi...Jadi kamu lebih memilih Ardi?" Reni bertanya dengan nada tak berdaya. Sebenarnya dari cerita ini sudah dapat ditebak akan kemana pilihan Ella. Tapi tetap saja Reni ingin mendengarnya langsung dari mulut Ella sendiri.
"Sekali lagi rasa tidak pernah berbohong mbak. Dari dulu dihatiku memang hanya nama mas Ardi yang terpahat disana. Dan aku tak ingin membohongi hatiku sendiri mbak, karena akan terasa sangat menyakitkan. Bukan hanya untukku tapi juga untuk Roni jika hubungan ini terus dipaksakan." Ella merasa lega setelah mengakhiri ceritanya.
"Jadi kamu ingin mengakhiri hubungan dengan Roni?" Reni membuang napas kecewa. Tahu benar akan sehancur apa hati dan perasan Roni nantinya.
"Iya mbak, sepertinya sudah tidak bisa ditunda lagi."
"Baiklah. Memang kalau masalah rasa tak akan ada yang salah. Tapi kalian berdua sudah menjadi teman baik sebelumnya untuk waktu yang lama. Jadi akhirilah dengan baik juga. Jangan merusak hubungan baik kalian hanya karena masalah ini." Reni memberikan sarannya. Yah paling tidak jika tak bisa menjadi pasangan, Ella dan Roni harus tetap menjadi teman yang baik. Menjadi sahabat.
"Akan aku usahakan," Ella menyanggupi. Meskipun dalam hati bingung dan galau juga bagaimana nantinya untuk mengeksekusi kata-kata saat berhadapan langsung dengan Roni nantinya.
Pembicaraan mereka terhenti karena Nisa dan Aish yang menghampiri mereka. Keduanya merengek kelaparan ingin makan sebelum melanjutkan kembali berenang. Alhasil Ella dan Reni menyuapi mereka dengan bekal yang dibawakan Lilik dari rumah Ella tadi. Mau tak mau Ella jadi memuji kecakapan mamanya yang dapat memperkirakan situasi dengan tepat.
Sementara Roni dan Wildan memanfaatkan waktu saat kedua pengganggu kecil pergi, untuk beralih ke kolam dewasa. Mereka berenang sepuasnya di kolam renang itu, bahkan juga sedikit beradu kecepatan untuk balapan renang disana. Ella memandang dari kejauhan sosok mereka sambil tersenyum.
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼