Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
82. The hardest day


__ADS_3

Jika istrimu tidak cocok dengan ibumu maka biarkanlah istrimu tinggal sendirian dan ajaklah ibumu tinggal bersamamu. Atau engkau mencari isteri selainnya yang dapat membantumu berbakti kepada ibumu.


Adapun jika engkau menyia-nyiakan ibumu dan engkau pergi bersama isterimu dan engkau taat kepada isterimu, ini perkara yang tidak diperbolehkan. Karena perbuatan ini termasuk bentuk durhaka kepada ibumu.


(Syaikh Sholih Al Fauzan)


_____________________________________


Setelah puas beramah tamah dan bercengkerama dengan rekan-rekannya serta menikmati sajian hidangan pesta, Ardi dan Ella memutuskan untuk pamit dan undur diri dari pesta pernikahan Intan ini. Tetapi mereka berdua tidak langsung beranjak pulang ke rumah Ella meskipun hari sudah semakin larut.


Mereka berdua sadar sepenuhnya akan tujuan pertemuan mereka hari ini. Bahwa masih ada yang harus dibicarakan dan diselesaikan diantara mereka, mengenai kelanjutan dari hubungan mereka berdua.


Ardi mengajak Ella keluar dari ballroom hotel, menggandeng dan menggenggam jemari tangan gadis itu dengan lembutnya. Membawanya menaiki lift ke lantai paling atas hotel bintang lima ini. Ardi selanjutnya membimbing Ella untuk memasuki restoran mewah yang tersedia disana. Restoran bergaya western dengan suasana yang romantis serta kaca-kaca di sepanjang dindingnya. Sehingga dari sana mereka dapat menikmati keindahan suasana malam kota Surabaya yang gemerlap dengan banyaknya lampu kota. Upper sky restoran.


Ardi mengajak Ella untuk duduk di meja paling pojok, paling dekat dengan kaca untuk melihat langit malam kota Surabaya. Posisi mereka juga tak begitu jauh dari panggung. Beberapa orang musisi sedang membawakan lagu akustik yang merdu dan romantis disana. Ardi membantu memundurkan kursi Ella dan mempersilahkannya duduk, memperlakukannya bak seorang ratu.


"Restorannya cantik." Ujar Ella senang sambil memandang ke sekeliling restoran.


"Kamu lebih cantik..." celetuk Ardi.


"Tatanan restorannya didesain sangat apik dan romantis, cantik banget." Ella mengagumi bagaimana penataan meja di hadapan mereka, dengan candleier, vas bunga yang berisi bunga mawar merah segarnya, serta peralatan makan mewah dan serbet serta taplaknya yang bernuansa merah dan putih yang ditata sangat apik diatas meja.


"Kamu lebih cantik..." Ardi menanggapi.


"Liat deh pemandangan langit malam kota Surabaya dari sini. Keren banget mas, cantik." Ella pura-pura tidak mendengar ucapan Ardi tadi. Mengalihkan pandangannya ke kaca besar di sebelah mereka. Melihat pemandangan kota Surabaya di malam hari.


"Kamu jauh lebih cantik lagi." Ardi tetap saja bersih keras menjawab dan mengatakan bahwa Ella lebih cantik.


"Mas Ardi..." Ella akhirnya menyerah.


"Aku gak bohong, El. Kamu cantik sekali malam ini. Tadi di pesta banyak banget mata-mata pria kurang ajar yang melihatmu dengan laparnya. Pengen aku bungkus aja kamu rasanya tadi, biar gak ada yang bisa liat selain aku." Ardi mengungkapkan kekesalannya selama di pesta tadi.


Bagaimana dia harus menghalau para pria itu untuk tidak bisa memandangi Ella terus. Rasanya sedikit nyesel juga dirinya menyuruh Ella berdandan secantik itu di acara keramaian. Harusnya Ella hanya berdandan cantik untuknya saja.


"Berarti biasanya aku gak cantik ya? Malam ini doank cantiknya?" Ella pura-pura ngambek.


"Cantik. Kamu selalu cantik kok buat aku. Pas bangun tidur bau iler aja masih cantik."


"Doh selalu deh bahas wajah bangun tidurku."


"Yah gimana lagi...Kamu gemesin banget waktu itu..." Ardi tertawa membayangkan muka bantal Ella saat baru bangun tidur.


"Muka mas Ardi waktu tidur juga lucu kok. Udah gitu tidurnya pules banget lagi, kayak orang mati." Ella juga ikut tertawa membayangkan Ardi yang hobi tidur.


Pembicaraan mereka terhenti saat beberapa waiters menghampiri mereka. Menyajikan beberapa menu makanan ala restoran hotel bintang lima. Mulai dari Apertiser, main dish sampai dessert lengkap semua tersaji di meja. Makanan yang menurut Ella cantik bentuknya tapi pasti tidak mengenyangkan hehe. Yah untunglah mereka sudah cukup kenyang tadi setelah keliling booth cemilan di pesta pernikahan Intan.


Terakhir waiters itu menuangkan red wine di kedua gelas dihadapan mereka. Kemudian meletakkan botol wine yang tersisa di wadah berisi es batu di troli dekat meja.


"Bisa minta soft drink dan mineral water?" Ardi meminta pada salah seorang waiters. Ingat benar Ella tidak bisa meminum minuman yang mengandung alkohol.


"Tentu, Tuan." Sang waiters beranjak pergi dan tak lama kemudian kembali dengan minuman pesanan Ardi. Dia juga menuangkan soft drink ke gelas wine baru yang diletakkannya di meja juga. Sementara mineral waternya dibiarkan tetap dalam botolnya di atas meja.


"Ada lagi yang bisa saya bantu, Tuan."


"Tidak ada. Thanx for your service." Ujar Ardi sekaligus mengusir para waiters itu agar menjauhi meja mereka. Memberikan tips kepada mereka juga.


"Makan dulu yuk," Ardi mempersilahkan. Dirinya pun mulai menyantap hidangan di hadapannya. Tidak begitu berselera, mungkin karena memang sedang tidak lapar karena banyak nyemil di pesta pernikahan Intan tadi. Mungkin juga karena perutnya sedikit mulas demi memikirkan bagaimana harus memulai pembicaraan dengan Ella. Bagaimana akhirnya dia dapat membuka bom waktu hubungan mereka, apakah akan dapat mereka jinakkan atau malah meledak menghancurkan segalanya sekaligus.


Ella juga berkutat dengan pisau dan garpu dihadapannya. Berusaha menyantap hidangan mewah yang sebenarnya sangat lezat. Tapi entah mengapa selera makannya hilang entah kemana. Dirinya sama sekali tak dapat menikmati setiap suapan makanan yang masuk ke dalam mulutnya.


Otak Ella rasanya terlalu sibuk untuk memikirkan tentang pembicaraan mereka berdua malam ini. Dan kenapa Ardi memilih tempat semanis ini untuk membicarakan sesuatu yang pastinya sangat menyedihkan. Apa Ardi sengaja ingin memberikan kencan terkahir yang sangat indah untuknya?


Sambil menikmati hidangan, Ella dan Ardi dapat mendengar artis yang sedang berada di atas panggung mulai bernyanyi. Dan entah bagaimana lagu yang diputar adah lagu sedih. Mungkin ada yang request pada mereka untuk menyanyikannya? Mungkin ada salah satu pengungunjung restoran yang sedang patah hati. Atau bisa juga hanya kebetulan mereka menyanyikan lagu dari The Corrs, band asal Irlandia yang terkenal di era tahun 1990-an. The hardest day of my life.


One more day, one last look


Before I leave it all behind

__ADS_1


And play the role that's meant for us


That said we'd say goodbye


If I promise to believe will you believe


That there's nowhere that we'd rather be


Nowhere describes where we are


I've no choice, I love you leave,


Love you wave goodbye


And all I ever wanted was to stay


And nothing in this world's gonna change, change


Never want to wake up from this night


Never want to leave this moment


Waiting for you only, only you


Never gonna forget every single thing you do


When loving you is my finest hour


Leaving you, the hardest day of my life


The hardest day of my life


Setelah lagu satu reff berakhir Ardi meletakkan garpu dan pisaunya di meja. Sepertinya selera makannya benar-benar hilang karena mendengarkan lagu dari sang artis. Ardi mengakhiri sesi makan malamnya dengan meneguk habis segelas red wine dari gelasnya. Mengambil segelas wine lainnya yang tadi dituangkan untuk Ella, memutar-mutar gelas itu di meja dengan jemarinya, kelihatan sangat gelisah.


Ella yang menyadari kegelisahan Ardi juga buru-buru mengakhiri sesi makan malamnya. Meminum segelas soft drink untuk sekedar membasahi tenggorokannya dan memudahkannya dalam berbicara nantinya.


"Indeed. This will be the hardest day of my life too." Ella ikut menambahkan sambil tersenyum simpul, getir. Menyetujui ucapan Ardi bahwa hari ini adalah hari yang paling berat dalam kehidupan mereka berdua.


"Aku sudah berbicara dengan mamaku kemarin malam..." Ardi memulai pembicaraannya serius mereka.


"Jadi gimana kata mama mas Ardi?" Ella berusaha menekan gejolak jiwanya demi mendengar nama mama Ardi disebut.


Ardi mendengus, membuang napasnya dengan pasrah. Ella tahu benar dan memang sudah menduga bagaimana reaksi mama Ardi. Tapi tetap saja ada rasa kecewa yang merasukinya.


"Mama tetap keras kepala dengan pendiriannya. Bahkan mama malah mengingatkanku tentang kewajibanku sebagai anak laki-laki. Bagaimana aku harus berbakti kepada beliau dan bagaimana aku akan durhaka jika tidak menuruti perkataan beliau..." Ardi berkata dengan nada lirih, lemah, dan frustasi.


Ella memaksakan tersenyum demi mendengarnya. "Sudah kuduga...Aku tahu beliau tak akan semudah itu untuk berubah pikirannya," ujar Ella.


"Aku tahu betul kewajibanku, aku tahu betul beban yang harus kutanggung...Tapi aku juga mencintaimu, El. Aku gak mau pisah sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu." Ardi tetap berusaha meyakinkan Ella akan kesungguhan perasaannya.


"Aku juga mas. Aku juga sangat mencintaimu. Karena itulah aku tak mau menjadi penyebab dirimu menjadi anak yang durhaka kepada ibumu...Aku sayang kamu mas, aku ingin yang terbaik bagimu." Ella memaksakan senyumannya pada Ardi. Menahan rasa perih dan sesak di dadanya. Ella juga dapat merasakan kelopak matanya yang mulai memanas karena menahan gelombang air mata yang ingin mengalir dengan derasnya.


"Tapi El, gak bisa kayak gitu. Aku gak rela, aku gak mau kita berpisah..." Ardi memohon pada Ella dengan sangat sedihnya. Tak berdaya.


"Aku ingin kita putus mas...Mari kita akhiri hubungan kita sampai disini saja." Ella akhirnya mengatakan kata-kata itu. Kata-kata yang sudah lama terlintas dalam benaknya namun tak pernah sampai hati terucap.


~∆∆∆~


Ini lagu pas banget jadi coba diartiin ya di bagian ini ya biar menjiwai tapi juga tidak merusak susunan cerita di atas sana karena saking panjangnya lirik.


One more day, one last look


Before I leave it all behind


And play the role that's meant for us


That said we'd say goodbye

__ADS_1


Satu hari lagi, satu pandangan terakhir


Sebelum aku meninggalkan semuanya


Dan memainkan peran yang diperuntukkan bagi kita


Yang mengatakan kita akan mengucapkan selamat tinggal.


If I promise to believe will you believe


That there's nowhere that we'd rather be


Nowhere describes where we are


I've no choice,


I love you leave,


Love you wave goodbye


Jika aku berjanji untuk percaya akan kah kau akan percaya


Bahwa tidak ada tempat yang kita inginkan


Tidak menjelaskan di mana kita berada


Aku tidak punya pilihan,


Aku mencintaimu pergi,


Cinta padamu dan melambai selamat tinggal


And all I ever wanted was to stay


And nothing in this world's gonna change, change


Dan segala yang kuinginkan hanyalah tinggal


Dan tidak ada di dunia ini yang akan berubah, berubah


Never want to wake up from this night


Never want to leave this moment


Waiting for you only, only you


Never gonna forget every single thing you do


When loving you is my finest hour


Leaving you, the hardest day of my life


The hardest day of my life


Tidak pernah ingin bangun dari malam ini


Tidak pernah ingin meninggalkan momen ini


Hanya menunggumu, hanya kamu


Tidak akan pernah melupakan setiap hal yang kamu lakukan


Saat mencintaimu adalah saat terbaikku Meninggalkanmu, hari tersulit dalam hidupku


Hari tersulit dalam hidupku


Aaawwww Ambyar gaes. Jangan lupa siapkan tisue ya sebelum lanjut...

__ADS_1


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼


__ADS_2