
Ruang pertemuan RSUD G sudah ramai saja pagi ini. Upacara penutupan program dokter interenship telah berlangsung disana. Beberapa dokter dan perawat ikut menghadiri prosesi. Dan tentu saja ke dua belas dokter muda yang mengikuti program interenship hadir disana. Sebut saja Ella, Roni, Intan Jun, Sari dan ketujuh dokter lainnya hadir disana.
Acara penutupan berlangsung khikmad dan lancar menandai berakhirnya masa tugas kedua belas dokter interenship itu di wilayah Genting ini. Penghujung acara digunakan sebagai sesi ramah tamah. Para peserta program interenship bersalam-salaman dan berterima kasih kepada para dokter-dokter dan perawat dari RSUD G, Puskesmas Sobo dan Puskesmas Botoan. Tempat mereka mengabdi selama kurang lebih satu tahun ini.
Setelah seluruh prosesi selesai dua belas sekawan itu tidak langsung pergi meninggalkan aula. Mereka masih asik mengobrol dan berkumpul membahas acara yang akan mereka adakan secara pribadi sebagai acara perpisahan mereka.
Rencananya mereka ingin rekreasi atau sekedar jalan-jalan kemana gitu. Beberapa menyarankan kawah Ijen, pantai Merah atau gunung Bromo. Beberapa dokter terutama para pria sangat bersemangat untuk memilih salah satu dari tujuan destinasi mereka. Sementara Ella, manut saja mau kemana pun dia tinggal ikut saja hehe.
Ella malah asik bermain dengan ponselnya dan bertukar pesan dengan Ardi. Setelah seminggu berlalu sudah pasti Ardi telah pulih dengan sempurna dari sakitnya. Ada hikmahnya juga Ardi sempat menderita sakit yang sedikit merepotkan kayak kemarin. Seolah tak ingin mengulangi sakitnya lagi, pria itu sekarang jadi lebih aware akan kesehatannya sendiri. Membatasi jam kerja dan jam tidur malamnya dengan ketat. Tak lagi suka begadang dengan lupa waktu seperti sebelumnya.
Dan mengenai pembicaraan serius mereka, entah bagaimana keduanya sepakat untuk kembali menundanya. Menunda sampai Ardi mencoba berbicara dengan mamanya dulu. Menunda sampai Ella menyelesaikan interenshipnya di Genting ini dengan tenang.
Ella
Udah selesai acara penutupannya. Sekarang lagi diskusi internal aja soal mau jalan-jalan kemana sebagai acara perpisahan.
Lazuardi
Mau jalan kemana? Jangan lupa kalian punya Sari. Manfaatin aja dia sekali-kali hehe
Ella
Dasar. Manfaatin gimana?
Lazuardi
Pinjem villanya. Villa keluarga Hartanto banyak hampir di semua obyek wisata ada. Atau mau pinjem villa keuargaku juga boleh.
Ella
Apa hubungannya coba sama villa Pradana? kalau villa Hartanto boleh juga tu idenya.
Lazuardi
Ya biar Ardi Pradana bisa ikut jalan-jalan juga. Anggap aja sebagai tuan rumah yang menyambut kedatangan tamunya.
Ella
Apaan si? Gak lucu. Masa mas Ardi mau ikut acara internal kayak gini.
Lazuardi
Abisnya, kalian kan akan pergi jalan-jalan dengan beberapa lelaki juga kan. Nginep lagi.
Ella
Pasti aman lah. Delapan cewek dan empat cowok. Mana berani macam-macam cowoknya.
Lazuardi
Tapi kan ada si Roni juga. Aku gak tenang kalau ada dia deket-deket kamu.
Ella
__ADS_1
Nah mulai lagi. Ada Intan dan Sari juga kok pasti aman. Aku janji gak deket-deket Roni.
Lazuardi
Beneran aku gak boleh ikut ni?
Ella
Nggak! Titik! udah dulu ya makin seru ni diskusinya mau fokus ngikutin. Bye
Ella cekikikan demi membaca pesan singkat dari Ardi. Membayangkan bagaimana Ardi ingin ikut rekreasi karena gak rela Ella keluar bersama empat orang pria lainnya. Dasar bucinnya udah kronis banget.
"Kok ketawa-ketawa sendiri? Kesambet ya, El?" Intan bertanya penasaran dengan Ella.
"Eh enggak kok. Ini lho mas Ardi masa pengen ikut acara jalan-jalan kita."
"Edan! Pasti gak asik banget! Tolak aja!"
"Hahaha jelas lah, Tan." Ella makin cekikikan, rupanya Intan juga dapat membayangkan bagaimana ribetnya kalau harus ada Ardi dan Roni dalam satu waktu dan tempat yang sama. Ella kembali mendengarkan pembicaraan yang lainnya tentang tujuan wisata mereka.
"Ok, Bromo ya sesuai suara terbanyak." Roni yang tahu-tahu menjadi ketua panitia berkata.
"Lha aku belum voting," Ella menyeletuk jahil.
"Kamu ditanyain diem aja. Yawes diam berarti iya." Roni menjawab santai.
"Kalau ke Bromo berarti nginep donk?" Ella lanjut bertanya, tak keberatan dengan Bromo sebagai tujuan jalan-jalan mereka.
"Nah itu yang mau kita bahas sekarang," Dani ikut membantu Roni menjawab. Salah satu dokter ganteng yang seputaran dengan Sari.
"Aku bisa bantu villanya." Sari menyeletuk, wah baik juga ini sultanwati menawarkan diri tanpa diminta. "Villa, konsumsi dan segala keperluan disana ikut aku," lanjutnya.
"Nah gitu donk, makasih lho." Roni menanggapi tawaran Sari dengan kegirangan. "Berarti tinggal masalah jeep-nya aja ya ntar. Katanya kita touringnya harus pakai jeep. Mobil kita diparkir di villa."
"Gampang aku urusin semua. Kalian tinggal siapin acaranya aja sama kendaraan buat ke villa. Jun bisa bawa mobilku ntar. Kurang dua lagi, ada yang mau nyumbang?" Nah ini yang paling disuka dari para sultan. Mereka royal banget kalau masalah duit. Sama sekali gak peritungan keluar duit berapapun demi kesenangan mereka.
"Aku sama Dani bisa bawa mobil juga. Pas deh tiga mobil. Yak pembagian mobilnya sesuai kloter aja ya biar gak ribet. Jun dan Dani yang tukeran rombongan soalnya sekalian jadi supir." Si Roni memberi instruksi menjiwai banget jadi ketua panitia.
"Ok fix ya? Ada yang perlu ditanyakan? Sar, kita perlu bawa apa-apa gitu?" Verdi cowok terakhir dalam tim ikut nimbrung. Keempat cowok ini dimanfaatkan semaksimal mungkin sebagai panitian jalan-jalan mereka.
"Villa dan akomodasinya beres. Makanan juga ada, mungkin kalian biasa nambahin cemilan dan obat-obatan pribadi. Jangan lupa baju, jaket tebel, syal sama sarung tangan ya. Hawa disana biasanya dingin kalau musim panas kayak gini." Sari menjelaskan.
"Ok, ok siap." Semua yang hadir menyanggupi.
"Baiklah besok kita kumpul jam sebelas siang teng ya. Di parkiran RSUD G. Kalau beruntung kita bisa liat sunset di Gunung Bromo." Roni mengakhiri rapat singkat soal jalan-jalan perpisahan mereka.
Setelah pembicaraan itu selesai, mereka bubar dan kebanyakan langsung pulang untuk mempersiapkan keperluan tour mereka. Sari yang memang jarang sekali bisa ketemu Ella dan Intan masih asik ngobrol bersama mereka.
Sementara Roni, Dani, Verdi dan Jun, sang panitia dadakan sudah mojok berempat membicarakan susunan acara. Rencananya setelah susunan acara fix akan diserahkan pada Sari untuk bisa mempersiapkan akomodasi yang dibutuhkan setiap acara. Si sultan mah tinggal perintahin pegawainya di villa untuk menyiapkan segalanya.
Sambil menunggu keempat cowok itu rapat, Ella, Sari dan intan nongkrong di kantin RSUD. Sekedar untuk ngobrol, ngopi dan ngemil.
"Selamat ya, El. Kamu berhasil di terima di PPDS Penyakit Dalam Uner. Keren banget sumpah," ujar Sari memberi selamat Ella.
__ADS_1
"Iya makasih ya, Sar," jawab Ella.
"Yang keren itu si Roni bisa keterima di Jantung dan Pembuluh darah." Intan ikut menyeletuk. "Kayak apa ya otaknya orang-orang yang sekolah disana?".
"Mas Mahes udah bilang adik kelasnya ada yang keterima di Jantung. Eh gak tahunya si Roni temen kita ini hehe," ujar Sari.
"Oiya Roni adik kelasnya dok Mahes di Unibrew katanya. Waktu di Uner aku sempet ketemu dok Mahes, keren banget ya orangnya?" Ella menjelaskan pertemuannya dengan Mahes pada Sari dan Intan.
"Keren? Gak salah, El? Bukannya mas Ardi lebih keren lagi?" Sari tak percaya Ella bisa menyebut pria lain keren padahal di sisinya sudah ada yang sekeren Ardi.
"Hehe dok Mahes itu ganteng tipe lokal. Kalau mas Ardi kan ada darah-darah importnya. Terus dok Mahes itu kelihatan ramah dan teduh banget. Gak kelihatan kalau sultan."
"Wah seganteng itu kah?" Intan ikutan kepo. Biasa radarnya kuat kalau soal cowok ganteng. "Kok kamu bisa kenal, Sar?"
"Lha gimana lagi? Dia kakakku, mau bilang dia keren ntar aku dikira brother complex lagi. Yah kayak artis Fedi Nuril gitu mukanya, Tan." Sari menunjukkan foto mahes di ponselnya.
"Wah ini si keren pakek banget." Intan membenarkan ucapan Ella.
"Ih kalian udah pada rusak ya matanya? Kerenan mas Ardi kemana-mana kali." Sari tak mau kalah.
"Kok jadi kerenan mas Ardi. Jun apa kabarnya, Sar?" Ella menggoda Sari. Ternyata Sari masih menyimpan kekaguman pada Ardi.
"Aku ini rasional, El. Kalau ganteng aku bilang ganteng. Kalau jelek ya jelek. Gak ada lah istilahnya love is blind hahahha."
"Bener banget kalau ini, Sar. Aku juga realistik kok kalau wajah Ivan gak seganteng Ardi dan Mahes." Intan dengan semena-mena membandingnya wajah tunangannya sendiri dengan cowok lainnya.
"Oiya gimana keadaan mas Ardi, El? Katanya abis sakit?" Sari bertanya pada Ella.
"Udah sembuh total sekarang. Biasa lah dia overwork jadi kecapekan, ngedrop tensinya sama ada vertigo nya juga ternyata. Aku heran siapa yang ngasih dia resep? Kok bisa-bisanya langsung ngasih obat vertigo." Ella mengutarakan keheranannya.
"Siapa lagi? Mas Mahes lah. Mas Ardi itu klo sakit minta resep obatnya ya ke mas Mahes. Bisa dibilang kayak dokter pribadinya gitu."
"Owaalah. Pantesan, udah tahu riwayat penyakitnya toh." Dan keraguan Ella terjawab juga akhirnya tentang siapa dokter Ardi.
"Betewe itu dokter Mahes udah nikah?" Intan masih saja kepo soal mahes.
"Mana sempet dia. Kebanyakan sekolah, kayak gak minat sama cewek. Bikin sekeluarga ketar-ketir aja dia kapan nikahnya." Sari mendengus kesal. "Mungkin setelah mas Ardi punya Ella, mudah-mudahan dia juga berniat cari cewek. Soalnya mereka berdua biasanya barengan. Udah terkenal mereka itu, dua high quality jomblo yang paling susah didekati."
"Sapa coba yang berani deketin sultan-sultan kayak gitu? Paling cuma Ella doank hehe." Intan mengomentari.
"Apaan, aku juga gak tahu awalnya kalau dia sultan kayak gitu."
"Beneran, El? Kan aku udah bilang sepupuku. Masa kamu gak bisa nebak?" Sari masih tidak percaya Ella tak tahu menahu soal asal usul Ardi waktu pertama kenalan.
"Lha kan aku juga gak tahu kalau kamu sultanwati?"
"Udah, Sar. Si Ella ini emang paling gak peka soal gosip-gosip beginian hahaha." Intan juga pasrah dengan sifat cuek Ella ini. Dan akhirnya mereka serempak menertawakan sifat Ella ini.
"Yang penting kamu semangat aja ya, El. Emang agak serem kelihatannya kami ini. Tapi kalau udah kenal biasa aja kan? Toh kamu juga sudah kenal sama aku, mas Ardi, mas Mahes, Laras dan Linggar. Dan kami ya gini-gini aja sama kayak yang lainnya." Sari memberi semangat dan wejangan pada Ella.
"Iya, aku tahu. Sultan juga manusia. Manusia kebanyakan duit hahaha." Ella tertawa lepas dan kedua temannya yang lain ikut tertawa lepas juga bersamanya.
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼