Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
101. S2 - Family Time


__ADS_3

Kupikir hidupku akan baik-baik saja.


Semua akan berjalan normal seperti semula.


Kamu dengan seseorang yang memilihmu.


Aku dengan hati baru yang coba kutumbuhkan di hidupku.


Kuberikan hatiku pada seseorang yang lain. Kubiarkan dia untuk menggantikanmu.


Namun ternyata aku keliru,


Melupakanmu ternyata tak semudah itu.


_ Boy Candra


____________________________________


Malam itu Ella menemani Lilik, mamanya untuk menonton sinetron favorit mamanya di televisi. Bersantai dan bercengkerama berdua di ruang keluarga mereka.


"Aduh ini kok b*go banget si pemeran wanitanya, gemes mama liatnya." Lilik berkomentar sambil melihat adegan seorang isteri yang teraniaya oleh suaminya.


"Hahahaha lagian mama, udah tahu ini film isinya pembodohan ditonton aja." Ella tertawa ngakak menanggapi. Ikutan gemes juga melihat reaksi mamanya nonton film.


"Yah abisnya mana ada coba wanita yang bisa sesabar itu? Idupnya menderita terus-terusan. Kasihan sih, tapi gemes juga."


"Dan bisanya cuma menangis ya hehe." Ella menimpali sambil terkikik.


"Nah itulah b*gonya. Koyo ra ono wong lanang liyane ae modele." Lilik lanjut ngomel dengan menggunakan bahasa jawanya.


"Waduh lagi nonton apa ini? Ibu dan anak kok kayaknya asik banget?" Bowo tertarik juga dengan pembicaraan isteri dan puterinya. Ikutan nimbrung duduk di sofa di depan TV.


"Ini lo, Pa. Mama udah tahu filmnya jelek dan tidak mendidik tapi masih ditonton aja." Ella menjelaskan pada Papanya.


"Yo ngunu kui mamamu. Lak mending nontok berita to? Timbang sesuatu sing ora ono faedahe blas ngunu." Bowo menyetujui ucapan putrinya.


"Ya memang tidak mendidik. Tapi kan lumayan menghibur." Lilik membela diri.

__ADS_1


"Menghibur apanya, wong mama jadi ngomel dan sebel sendiri gitu abis liatnya hehe." Ella masih saja merasa lucu melihat mamanya.


"Hahaha iya sih. Tapi nanti endingnya yang baik selalu bahagia dan yang jahat selalu kena karma kok, pesan moral," Lilik masih saja membela diri.


"Nah kui sing gak masuk akal. Kok enak banget kalau hidup semudah itu." Bowo ikutan mengkritik jalan cerita sinetron itu.


"Yah yah hanya ada di senetron kesayangan anda hahaha." Ella tertawa lepas dan kedua orang tuanya juga ikut tertawa bersamanya.


"Oiya El, itu ada undangan nikahannya Hendri. Minggu depan acaranya, kamu mau datang sama mama papa atau gimana?" Lilik memberikan sebuah surat undangan yang tergeletak diatas meja pada Ella.


"Wah mas Hendri nikah? Alhamdulillah. Dapat anak mana calonnya?" Ella mengambil dan membuka surat undangan itu dengan senang dan bersemangat. "Widih perawat juga ni calonnya, temen kerjanya?"


"Katanya si malah temen kuliahnya dulu. Baru ketemu lagi pas reuni." Lilik menjelaskan. "Anak Surabaya juga kok gak jauh-jauh amat."


"Papa sama Mama diminta untuk bantuin terima tamu. Ella kalau agak sibuk gak usah datang bareng kami, kamu datang bentar aja gak pa-pa yang penting kelihatan datang." Lilik memberi saran pada putrinya.


"Iyalah ma, masa aku gak datang ke nikahan mas Hendri? Bisa jadi adik durhaka ntar hehe." Ella menjawab santai.


"Terus kamu datang sendirian? Ajakin nak Roni aja pasti mau." Lilik sedikit khawatir juga kalau Ella datang sendirian di acara keluarga kayak gitu. Pasti bakalan diberondong dengan berbagai pertanyaan kapan kawin oleh keluarga besarnya.


"Kenapa harus sama Roni? Kan Ella juga bisa datang sendirian. Lagian itu kan acara keluarga sendiri. Palingan kan tante-tante dan om-om, budhe dan pakdhe serta para sepupu." Ella sedikit kebingungan menanggapi usulan mamanya.


"Yah mama cuma gak pingin kamu sedih aja kalau nanti ditanyain kapan kawin." Lilik menjelaskan dengan nada prihatin. Tak ingin putrinya bersedih karena ucapan orang lain yang tak berperasaan.


Memang usia Ella sekarang sudah 27 tahun. Usia yang sudah lebih dari cukup untuk menikah bagi seorang gadis. Bahkan untuk beberapa kalangan keluarganya yang berasal dari desa bisa saja mereka memanggap Ella sebagai perawan tua. Menganggap Ella sombong, terlalu pilih-pilih atau bahkan tidak laku-laku. Untuk orang kota si masih banyak yang bisa memaklumi, apalagi karena Ella juga masih sibuk dengan sekolah spesialis.


Ella terdiam sejenak memikirkan ucapan mamanya. Dia tahu benar mamanya hanya tak ingin dia merasa sedih dengan perkataan-perkataan jahat yang mungkin nanti dilontarkan keluarga besarnya. Tapi masa dia harus membawa Roni? Kalau dirinya sudah berani membawa Roni berarti dirinya sudah benar-benar serius donk dengan pria itu. Dan pastinya bakal ditanyain juga kapan nikahnya. Jangan lama-lama, nunggu apalagi, dan lain sebagainya. Gak akan ada habisnya kalau nurutin omongan orang lain.


"Gak usah didengerin, ma. Gak akan ada habisnya kalau kita mau nurutin orang lain terusan." Ella akhirnya menjawab pasrah.


"Iya juga sih. Eh tapi kamu sama nak Roni itu gimana si hubungannya? Kayaknya udah lama bareng, masa kalian gak kepikiran mau serius?" Lilik tiba-tiba jadi kepo akan hubungan Ella dengan Roni.


"Papa juga penasaran. Kalian udah bareng cukup lama, tapi Roni gak pernah ngomong serius sama papa. Dia juga gak pernah bawa kamu ke keluarganya? Kok kayaknya hubungan kamu sama Roni ini gak seserius seperti waktu sama Ardi?" Bowo ikutan penasaran dengan hubungan kedua anak muda itu.


"Ya mungkin karena kami masih sama-sama ingin fokus kuliah, biar cepet lulus." Ella sedikit memberikan alasan yang logis.


"Ya kan bisa sambil jalan. Temen-temen kalian juga udah banyak yang nikah sambil kuliah kan? Minimal kalian kan biasa tunangan saja, papa gak tenang kalau kamu keluyuran sama laki-laki yang gak punya hubungan jelas sama kamu." Bowo menjelaskan kekhawatirannya. Bagaimana gak kuwatir coba anak gadisnya keluyuran kemana saja sama laki-laki yang bukan muhrimnya. Memang mereka sudah dewasa dan dapat menjaga dirinya dengan bertanggung jawab. Tetapi tetap saja ini adalah hal yang salah baik dari segi agama ataupun norma sosial. Hal seperti ini tak bisa diterus-teruskan atau akan nambahin dosa saja.

__ADS_1


"Gimana ya jelasinnya, Ella sendiri juga bingung bagaimana menjelaskannya."


"Gimana? Bukannya udah cukup lama juga kamu dekat sama Roni? Anaknya juga baik gitu?" Lilik semakin mendesak putrinya itu.


"Aku...Aku masih belum bisa ngelupain mas Ardi, Ma, Pa..." Ella menjawab lemah.


"Astaga..." Lilik ikut memekik pelan dan sedih.


"Jadi Roni cuma kamu gunakan sebagai pelarian?" Bowo ikut menghakimi. Tak mengira putrinya itu dapat berhubungan dengan seorang pria sementara hatinya masih terpaut pada pria yang lainnya.


"Bukan begitu juga, Pa. Sebenarnya Roni yang memaksakan hubungan kami. Ella sudah bilang sama dia kalau Ella belum siap. Ella belum bisa lepas dari bayangan mas Ardi. Tapi Roni menyakinkan Ella kalau dia ingin berusaha, sambil menunggu Ella siap dan mau menerima serta membuka hati untuknya." Ella berusaha menjelaskan status hubungannya dengan Roni yang rumit.


"Berarti dia tulus banget sama kamu, El. Jarang lho ada laki-laki kayak gitu yang mau berjuang demi wanita yang dicintanya." Lilik mengomentari sikap Roni pada Ella. Sedikit terharu juga dengan kesungguhan Roni.


"Iya ma, Ella tahu benar hal itu. Dan Ella juga sudah berkali-kali untuk mencoba menerima Roni. Tapi bahkan setelah dua tahun kami bersama, Ella masih belum bisa menerima dirinya dengan sepenuh hati. Ella gak bisa membohongi perasaan Ella sendiri, ma."


"Terus kamu mau gimana? Mau nungguin Ardi yang gak jelas itu?" Lilik lama-lama kesal juga dengan kekeras kepalahan putrinya ini.


"Aku juga gak berani terlalu berharap pada mas Ardi. Bagaimana pun juga tiga tahun ini dia seakan mengilang dan tak sekali pun menghubungi aku," jawab Ella pasrah. Sebenarnya Ella bahkan tidak tahu Ardi berusaha menghubunginya atau tidak. Karena sejak the hardest day of her life tiga tahun yang lalu Ella menyimpan handphonenya rapat-rapat.


Ella tak pernah membuka dan menghidupkan lagi benda itu dan benda-benda lain pemberian Ardi padanya, benda-benda yang sekiranya dapat mengingatkan dirinya pada Ardi. Berharap dapat melupakan Ardi dan segala tentangnya dengan terkuburnya benda itu. Tapi nyatanya dirinya sudah gagal total untuk melupakan pria itu bahkan hanya dengan sisa-sisa ingatannya.


"Lha makanya itu. Daripada kamu terus mengharapkan sesuatu yang tidak jelas kayak gitu. Sementara sudah ada pria baik di depan matamu. Pria yang sudah jelas-jelas mencintaimu, dan mau berjuang buat kamu. Kamu harus rasional, El. Tresno kui jalaran soko kulino, Cinta itu karena terbiasa. Nanti juga lama-lama kamu bakal mencintai Roni." Lilik semakin geram mendengar Ella masih belum bisa memilih antara pria yang sudah pergi menghilang dan pria yang nyata ada di depan matanya.


"Aku udah mencoba, ma. Dua tahun bersama Roni, aku juga berharap dapat membuka hatiku untuknya. Tetapi nyatanya tak semudah itu untuk menghapus dan melupakan bayangan mas Ardi." Ella menjawab semakin pasrah.


"Terus kamu mau gimana enaknya? Kan kasihan juga Roni kalau terus digantungkan begitu? Kamunya sendiri juga pasti tidak tenang kan?" Bowo ikut bertanya pada putrinya itu. Dia tahu Ella memang tipe gadis yang keras kepala dan berpendirian teguh. Tapi dirinya juga tak mengira bahwa Ella menyimpan kesedihan dan masalah percintaan yang pelik seperti ini dibalik kesehariannya yang terlihat ceria selama tiga tahun ini. Sejak kandasnya hubungan asmara Ella dengan Ardi.


"Aku bingung, Pa. Yasudah aku pasrah saja bagaimana enaknya sama papa dan mama. Mungkin keputusan kalian adalah yang terbaik buat masa depan Ella." Ella akhirnya menyerahkan keputusan di tangan orang tuanya. Karena dirinya merasa sudah lelah untuk mencari jawaban akan dibawa kemana hubungannya dengan Roni setelah dua tahun ini.


"Ya sudah, nanti kamu suruhlah si Roni ke sini. Nemuin papa, papa ingin ngomong sama dia. Nanti kalau misal papa merasa dia baik untukmu atau tidak baik bisa kita pikirkan lagi gimana enaknya." Bowo akhirnya membuat keputusan.


"Baik, Pa. Nanti akan Ella kasih tahu Roni," jawab Ella menurut saja. Berharap papanya kelak bisa memberikan pertimbangan dan keputusan yang terbaik baginya. Yah paling tidak segala sesuatu yang sudah direstui oleh orang tua akan mendatangkan berkah. Mungkin benar kata mamanya, cinta akan dapat tumbuh perlahan seiring berjalannya waktu. Mungkin akan sedikit lambat bagi mereka tetapi untuk saat ini biarkan saja waktu yang akan menjawab semuanya.


~∆∆∆~


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan IKUTI author ya. Makasih 😘🌼

__ADS_1


__ADS_2