
Sering kali bertanya, saat bahagia hadir
Akankah ada akhir
Akankan untuk selamanya
Sering kali bertanya, adilkah hidup ini
Saat sedih melanda
Meruntuhkan rasa di jiwa
**Tak mudah untuk dihati
Tak mudah untuk dihadapi
Saat harus mengucap selamat tinggal
Kadang ingin jauh berlari
Bila diri bertemu realita**
_Indra Lesmana - Selamat Tinggal_
____________________________________
Ardi menghisap rokoknya dalam-dalam dan mengepulkan asapnya dari mulutnya. Terduduk di tepian ranjangnya sambil terus merenung dan berpikir. Berpikir tentang masalah yang tak pernah bisa dia temukan jalan keluarnya. Membuatnya semakin frustasi saja dan putus asa.
"Mas, Yaampun bauknya..." Linggar tiba-tiba saja sudah masuki kamar Ardi. Memprotes kakaknya yang sedang bertelanjang dada dan merokok di dalam kamarnya. Gak bakal ada yang menyangka kalau pria itu adalah Ardi Pradana sang CEO Pradana Group, perusahaan yang begitu besar. Penampilannya kali ini benar-benar jauh berbeda. Penampilan Ardi kali ini benar-benar kayak pengangguran yang sedang tongkrongan di warteg jalanan.
Kamar Ardi kali ini sengaja dibuka jendela balkonnya lebar-lebar, dan dimatikan AC-nya. Membuat suasana di dalam kamar menjadi sangat panas bak sauna di siang bolong begini. Serta bau rokok yang menyengat memenuhi seluruh ruangan.
Ardi tidak menjawab ucapan Linggar, malah semakin asik melanjutkan menghisap rokok dengan cueknya. Seakan menganggap Linggar tidak ada disana. Kayak setan yang kasat mata saja.
"Mas?...Mau sampai kapan kamu kayak gini?" Linggar bertanya frustasi. Pusing juga dirinya menghadapi Ardi. Kakaknya yang beberapa hari ini tetap menginap di rumah Surabaya dan menolak untuk pulang ke Genting dan Banyu Harum. Membuat Cindy, Bambang, Mama dan Papanya sekaligus kebingungan menghadapi aksi mogok kerja yang dilancarkan Ardi sampai sekarang ini.
Secara garis besar Linggar tahu apa yang terjadi dengan Ardi. Serta apa yang telah dilakukan mamanya pada Ella. Yang pasti ini jelas ada hubungannya dengan putusnya hubungan percintaan antara Ardi dan Ella.
Linggar juga masih ingat bagaimana sabtu malam kemarin Ardi meminta Linggar untuk menjemput dirinya yang dalam kondisi mabuk berat di sebuah restoran hotel bintang lima. Entah berapa banyak red wine yang telah dihabiskan Ardi sebagai perayaan patah hatinya. Mau tak mau Linggar harus menyeret dan membopong kakaknya itu untuk dibawa pulang ke rumah mereka.
Linggar tak mengira kakaknya itu bisa sehancur dan seterpuruk itu hanya karena seorang wanita. Hanya karena wanita dari kalangan rakyat jelata. Sebegitu besarkah cinta Ardi, kakaknya itu pada Ella?
__ADS_1
"Mas? Please mas jangan kayak gini... Udah berapa hari coba mas Ardi kayak gini? Mas Ardi ngilang begitu saja dan tak bisa dihubungi?" Linggar ikut mengeluhkan Ardi yang bahkan mematikan ponselnya selama berhari-hari. Lebih tepatnya membiarkan ponsel itu mati tanpa di charge sama sekali.
"Masalah ini gak cuma menyangkut mas Ardi saja, tapi juga sangat berpengaruh pada perusahaan kita mas. Bisa kacau seluruh Pradana Group kalau mas Ardi kayak gini terus," lanjut Linggar dengan nada khawatir.
"Bilangin mereka aku cuma ingin liburan seminggu. Jangan diganggu gugat. Abis itu aku balik kesana. Titik." Ujar Ardi tak ingin memperpanjang pembicaraan mereka.
Linggar hanya bisa mendengus pasrah melihat keadaan kakaknya itu. Dirinya bahkan tidak tahu dan tak pernah melihat sebelumnya bahwa Ardi bisa dan bahkan suka untuk merokok. Tapi dalam beberapa hari ini entah sudah berapa bungkus rokok yang telah dihabiskan kakaknya itu.
Memang wajar si kalau Ardi pernah merokok mengingat dia dulunya kuliah di fakultas teknik yang murni berisi laki-laki semua. Ditambah lagi pekerjaannya yang selalu berhubungan dengan para tukang bangunan dan pekerja proyek di lapangan. Tapi tetap saja selama ini Ardi tak pernah terlihat merokok di dalam rumah sama sekali, baik di rumah Banyu Harum, Jembar, Genting atau rumah manapun juga. Ardi tak pernah menampakkan dark side-nya, Ardi yang selalu terlihat sebagai good boy di matanya.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka lagi dan masuklah Mahes ke dalam kamar bahkan tanpa dipersilahkan. Langsung saja nyelonong masuk dan berkacak pinggang dengan kening berkerut di hadapan Ardi. "Bah, liat tampang-mu itu. Udah kayak morfinis tau gak? Parah banget Hahahha" Dia tertawa ngakak melihat penampilan Ardi.
"Brengsek. Ngapain kamu kesini?" Ardi bersungut-sungut kesal menanggapi.
"Yaudah kalau gak ada yang laper. Tak bawa pulang lagi." Mahes menyodorkan satu timba besar ayam K*C dan tiga gelas besar minuman bersoda di tangannya.
"Eit rejeki gak boleh ditolak mas." Linggar yang dengan sigap menjawab tawaran Mahes. Mempersilahkan Mahes duduk dengannya di karpet di depan TV. Mahes pun tanpa buang-buang waktu ikut duduk bersila di samping linggar.
"Ada film bagus gak nggar? Yang bening-bening gitu yang enak dilihat." Mahes bertanya berbasa-basi sambil membuka tutup timba berisi ayam krispinya.
"Banyak. Mau yang kayak apa? Bule? Indo? Korea? Cina?" Linggar memastikan.
"Apa aja lah, yang penting bagus." Mahes pasrah saja karena memang tidak mengikuti perkembangan dunia perfilm-an. Linggar pun langsung menyalakan film di DVD-player tanpa banyak berkomentar. Film barat kali ini.
"Cuma mau mastiin kamu masih idup apa udah mokad," jawab Mahes bercanda.
"Sialan!" Ardi mengumpat kesal menanggapi.
"Tadi aku ketemu Ella di kampus..." ucapaan Mahes kali ini mampu membuat Ardi menghentikan kegiatan mengunyah ayamnya.
"Ella udah bisa tersenyum hari ini, Di. Dia sudah tidak terlalu bersedih lagi. Gak kayak kamu. Tu coba liat kayak apa tampangmu! Parah banget...Masa kamu kalah sama Ella?" lanjut Mahes.
"Syukurlah..." jawab Ardi singkat.
"Kamu mau ketemu sekali lagi sama Ella?" Mahes menawarkan bantuan. Dirinya mungkin dapat menjembatani keduanya untuk bertemu.
"Gak usah... Ella pasti nangis lagi kalau ketemu aku..." Ardi menolak tawaran Mahes. Sedikit lega juga demi mendengar keadaan Ella yang sudah bisa move on.
"Ella udah gak mau ketemu aku lagi. Hubungan kami sudah berakhir. It's over...Bahkan nomer HP-nya juga sudah tidak aktif lagi. Tak bisa dibuhungi." lanjut Ardi pasrah.
"Nggar, Ella jomblo ni sekarang. Bisa ni kita gebet." Mahes sengaja menggoda Ardi.
__ADS_1
"Kalian cari mati, hah!" Ardi langsung menjawab dengan nada suara meninggi, marah. Mahes dan Linggar kontan tertawa ngakak mendengarnya. Ardi masih sebucin itu ternyata pada Ella meskipun gadis itu sudah bukan kekasihnya lagi.
"Yaudah kalau gitu. Kamu gak pengen jalan-jalan? Mau camping? Semeru? Rinjani? Atau jalan ke Flores? Manado?" Mahes menawarkan sesuatu yang sekiranya disukai oleh Ardi, travelling. Ingin sekali membantu sepupu sekaligus sahabatnya itu untuk bisa move on dan sedikit melupakan patah hati dan kesedihannya. Untuk dapat melanjutkan sisa kehidupannya dengan lebih tegar.
"Emang kamu bisa ninggalin kuliahmu?" Ardi sedikit heran dengan tawaran Mahes. Tetapi jiwa petualangannya seperti tertantang juga mendengar tawaran Mahes.
"Gampang. Aku bisa kosongin jadwal jaga IGD, tukeran sama temen," jawab Mahes.
"Aku ikut! Aku bolos kuliah aja. Toh cuma kamis dan jumat bolosnya." Linggar tak mau ketinggalan untuk ikutan travelling.
"Diving...Bunaken." Ardi menjawab. Tiba-tiba kepikiran ingin menyelam saja seharian di lautan luas nan indah ditemani berbagai terumbu karang di perairan Bunaken.
"Ok, Nanti malam kita berangkat. Sampai minggu ya. Senin kita udah balik ke reality." Mahes memutuskan jadwal acara mereka seketika. Diambilnya ponselnya dan dibukanya aplikasi travel untuk membooking tiket pesawat mereka ke manado. "Mau liburan gaya sultan atau gaya backpacker?"
"Sultan donk. Kere bener si lu mau jadi backpacker..." Ardi menjawab dengan bersemangat. Kapan lagi coba bisa morotin uang Mahes. Kapan lagi bisa jalan-jalan bertiga kayak gini? Pasti seru banget.
"Gini ni, Nggar kakakmu itu. Dia yang punya duit lebih banyak malah tega porotin aku." Keluh Mahes sambil memesan hotel bintang lima serta memilih paket travel tour VIP selama mereka di Manado nantinya.
"Hahaha ya ntar gantian disana kita porotin uang mas Ardi." Linggar tertawa saja mendengar kedua kakaknya laki-lakinya itu berdebat. "Pokoknya aku ngikut aja. Aku kan mahasiswa kere tak berpenghasilan."
"Gampang. Kita habis-habisan ntar disana. Kita rayakan pesta patah hatiku. Rayakan kembalinya tiga high quality jomblo ke dunia persilatan," jawab Ardi bersemangat. Dan ketiganya pun langsung tertawa, kemudian mereka sibuk membuka-buka aplikasi travel untuk merencanakan acara perjalanan mereka nantinya. Perjalanan mewah ala sultan untuk mengobati rasa sakit hati Ardi.
Yah at lease aku masih punya kalian. Aku masih punya saudara, keluarga dan teman yang selalu ada mendukungku. Aku juga masih punya tanggung jawab besar yang harus aku tanggung dan kuemban. Aku masih harus ngurusin keruwetan Pradana Group. Jadi aku harus kuat dan tetap berdiri dengan tegak, tidak hanya untukku sendiri tetapi juga untuk Ella, untuk keluarga, sahabat dan semua orang disekelilingku.
Life must go on...
Setelah semua yang terjadi
Aku masih hidup dan kehidupanku terus berputar dan berjalan tanpa kenal kompromi
Biarkanlah aku pergi untuk sejenak
Kabur dari segala keruwetan duniawi
Menuju ke surga dunia yang ditawarkan alam
Menjernihkan kembali pikiran
Sebelum kembali ke realita kehidupan
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼