
"Ma...Ardi gak pa-pa. Ardi sehat kok, cuma capek dan butuh banyak tidur. Abis tidur juga ntar sehat lagi." Ardi tersenyum melihat reaksi mamanya yang sedikit berlebihan khawatirnya.
Entah mengapa rasanya ada kerinduan mendalam akan omelan dari mamanya itu. Ada rasa senang dan bahagia demi mendapat perhatian seperti itu dari mamanya. Perhatian yang dulu selalu saja dia dapatkan dari mamanya setiap hari. Perhatian yang dulu sampai membuatnya jengkel karena selalu ditanya itu-itu saja setiap harinya.
Kartika selalu saja menyempatkan untuk sekedar menelpon atau mengirimkan pesan kepada putra dan putrinya setiap hari. Karena mereka semua tinggal di kediaman berbeda, bahkan di kota yang berbeda pula.
Mamanya itu tidak pernah sekalipun absen untuk selalu menanyakan keadaanya dan memberikan nasehat-nasehatnya juga tentang menjaga kesehatan, setiap harinya. Membuat Ardi bosan sehingga sering tidak memperhatikan dan mengganggap sebagai omelan seorang ibu kurang kerjaan pada anaknya belaka.
Lebih jauh lagi, Kartika bahkan menempatkan pembantu-pembantu khusus untuk menjaga anak-anaknya itu. Seperti Ijah yang menjaga Ardi di Genting, Inem yang menjaga Linggar di Surabaya serta Surti yang menjaga Laras di Jembar.
Mungkin setiap harinya mamanya itu selalu menelpon untuk mengontrol keadaan putra putrinya dengan menanyai pembantu-pembantu itu. Sehingga beliau dapat mengetahui apa saja yang telah terjadi kepada putra putrinya. Mungkin juga untuk meyakinkan dirinya bahwa semua anaknya dalam keadaan sehat wal-afiat.
Ardi tidak mengira bahwa suatu saat dirinya akan merindukan omelan mamanya itu. Merindukan segala nasihatnya yang detail panjang kali lebar. Entah sudah berapa lama Ardi tidak melihat dan mendengar mamanya bersikap begitu padanya. Mungkin sejak lebih dari tiga tahun yang lalu?
Sejak mamanya menolak terang-terangan gadis yang dicintainya di pesta ulang tahun itu. Sejak Kartika dengan keras kepalanya tak mau menerima gadisnya itu sebagai menantu hanya karena gadis itu berasal dari keluarga biasa. Selanjutnya mamanya bahkan menemui dan menyuruh gadis itu untuk mengakhiri hubungan cintanya dengan Ardi. Bagaimana Ardi dapat menerimanya coba?
"Ardi...dasar kamu anak nakal, mama kangen banget sama kamu! Kamu sudah lama sekali gak pernah sekalipun menelpon, mampir berkunjung, atau sekedar menyapa, bercanda dan berbagi cerita dengan mama." Kartika tiba-tiba menumpahkan segala uneg-uneg di dalam hatinya
"Kamu... rasanya kamu semakin menjauh dari mama... Kamu pergi semakin jauh sampai tak terjangkau lagi oleh mama...mama sedih, sedih sekali melihat perubahan dirimu..."
Dengan membuang segala rasa gengsi dan egonya beliau menumpahkan seluruh perasaannya. Perasaan rindu yang telah lama terpendam pada putranya. Perasaan yang entah mengapa susah untuk diungkapkan olehnya selama tiga tahun ini.
Karena kalah dengan gengsi dan egonya yang terlalu tinggi. Kalah oleh kesombongannya sebagi nyonya Pradana yang agung. Tapi sekarang persetan dengan semua itu, persetan dengan harga diri. Yang Kartika inginkan hanyalah satu ... hanya untuk mendapatkan Ardi, putranya kembali ke pelukannya.
"Mama gak perduli lagi dengan apapun, mama cuma mau kamu...mama cuma mau anak mama kembali. Ardi anak kesayangan mama yang hebat, anak mama yang baik hati, my good boy."
Ardi cuma bisa terdiam tanpa sanggup bereaksi demi mendengar ucapan jujur mamanya. Ucapan yang terdengar begitu tak berdaya layaknya dari seorang ibu yang telah kehilangan anaknya. Bukan dari Nyonya besar Kartika Pradana yang memiliki segalanya dalam genggaman tangannya.
Entah mengapa Ardi jadi merasa sangat bersalah pada mamanya itu. Memang Ardi masih kesal dengan apa yang telah dilakukan mamanya tiga tahun yang lalu. Dan mungkin secara tidak sadar karena itulah dirinya mulai menjaga jarak dari mamanya itu.
Semakin lama waktu berjalan suasana semakin memburuk. Memang dari luar tidak kelihatan, hubungan mereka terlihat baik-baik saja. Tapi jauh di dalam hatinya, Ardi merasa kesal dengan mamanya itu.
Bahkan untuk bertemu dengan mamanya saja bisa membuat dirinya marah dan emosi. Membuat dirinya teringat kembali ulah mamanya yang menolak dan menyakiti hati gadis yang dicintainya tidak hanya sekali. Tapi bahkan untuk kedua kalinya.
Keadaan hubungan mereka semakin diperparah dengan sikap mamanya yang terus-terusan saja ingin mencoba mengenalkan Ardi pada berbagai macam wanita dari kalangan terpandang, bangsawan dan konglomerat.
Membuat Ardi semakin jengkel, marah dan eneg saja setiap bertemu dengan mamanya. Membuatnya memilih jalan paling aman dan damai, dengan kabur, menghindar, dan menolak sebisa mungkin semua rencana perjodohan yang telah diatur oleh mamanya.
"Aku juga kangen sama mama... Aku kangen kecerewetan mama, keruwetan mama dalam ngurusin aku dengan detail. Aku kangen untuk menghabiskan waktu, berkeluh kesah dengan mama."
Ardi juga ikut mengutarakan kerinduannya pada mamanya itu.Ikut membuang semua gengsi dan egonya sebagai seorang CEO yang bisa mendapat segalanya. Dia lebih memilih kembali ke pelukan mamanya.
__ADS_1
Kartika tertegun sejenak mendengar jawaban Ardi. Terharu mengetahui kalau putranya itu juga sama rindunya dengan dirinya. Mereka saling merindukan hubungan hangat mereka yang sebelumnya, hubungan ibu dan anak yang harmonis.
Hubungan mereka sebelum semua prahara keluarga yang pelik ini terjadi. Prahara yang berawal dari kesombongan, keegoisan serta sifat keras kepala mereka semua sehingga tak ada yang mau mengalah. Tak ada yang mau mencoba memahami dan mengalah satu sama lainnya.
"Maaf...maafkan aku, ma..." Ardi akhirnya meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
"Aku gak akan kemana-mana, ma. Tak akan pergi menjauh dari mama. Aku tetap anak mama," Ardi meraih kedua jemari mamanya, menggenggamnya dengan sangat erat sebagai bukti janjinya.
Ardi menyesal kenapa baru menyadarinya sekarang, setelah tiga tahun berlalu. Berarti selama ini dirinya sudah menyakiti hati mamanya? Berarti selama ini dia sudah membuat mamanya bersedih? Sungguh sangat besar dosanya pada mamanya itu. Seolah dirinya telah menjadi anak durhaka...
Sebagai pria dewasa seharusnya Ardi sadar bahwa bagaimanapun mamanya itu tetaplah seorang wanita. Wanita yang selalu mengedepankan perasaan dan emosi diatas pikiran sehat. Seharusnya dirinya yang seorang pria dapat lebih berpikiran logis. Bukannya ikut mengedepankan perasaan dan emosi juga...
Seharusnya dirinya mengalah dan mencoba memperbaiki hubungannya dengan mamanya itu. Seharusnya dirinya bisa mengerti semua yang diinginkan mamanya adalah kebaikan untuknya. Untuk menjamin masa depannya lebih baik dan bahagia. Walaupun mungkin cara yang dilakukan oleh beliau sedikit salah...
"Harusnya kan mama yang meminta maaf padamu, nak?" Kartika sudah tidak dapat menahan desakan air mata yang sejak tadi ditahannya. Butiran bening itu akhirnya mengalir juga membasahi pipinya.
'Ardi? Kenapa lagi-lagi kamu begitu? Kenapa kamu tidak menyalahkan mama? Kenapa kamu malah menyalahkan dirimu sendiri? Kamu terlalu baik, nak.' Batin Kartika semakin sesak demi mendengar permintaan maaf dari putranya itu.
"Mama yang sudah sangat egois, mama yang sudah menghancurkan hubungan cintamu, mama jugalah yang sudah menghancurkan hidupmu...Maaf, maafkan mama yang membuatmu menderita..."
"Mama janji tak akan lagi ikut campur dalam masalah asmaramu. Mama tak akan menolak atau menentang siapapun gadis yang kamu pilih. Kamu boleh menikah dengan siapa saja yang kamu cintai." Kartika mengutarakan semua yang ingin dikatakannya. Uneg-unegnya, penyesalannya, rasa bersalahnya, dan keinginan terbesarnya agar putranya itu bisa hidup dengan bahagia.
Apalah artinya kekayaan, harta, tahta, jabatan dan martabat, jika akhirnya Ardi harus berakhir dengan sangat menyedihkan begitu. Semua hal duniawi itu dapat Ardi raih dengan mudah, semudah membalik telapak tangan. Tapi tidak dengan kebahagiaan, sepertinya putranya itu tetap tidak akan menemukan kebahagiaan tanpa cinta sejatinya, tanpa Ella.
Ardi kembali kaget dan tertegun mendengar ucapan mamanya. Perkataan yang diucapkan dengan sangat sedih ditengah-tengah tangis sesenggukan dan linangan air mata. Perasaan tulus seorang ibu yang rela membuang segala ego, keinginan, dan prinsip hidup yang dianutnya. Hanya demi kebahagiaan putranya saja. Akhirnya mamanya mau mengalah hanya untuk melihat dirinya berbahagia.
Perlahan Ardi meraih tubuh mamanya yang terlihat berguncang ringan karena tangisnya. Dipeluknya tubuh mamanya itu erat erat dengan penuh kasih sayang. Hangat, kehangatan yang sudah lama dirindukannya telah kembali...
Ardi menepuk dan membelai ringan punggung mamanya untuk membantu menenangkan dan meredakan tangisannya.
"Aku sayang mama..." bisiknya lembut.
Untuk beberapa lama keduanya hanya saling berpelukan, berbagi kehangatan, berbagi perasaan dan kasih sayang. Tak perlu terlalu banyak kata-kata lagi yang harus diucapkan. Yang mereka sadari adalah mereka saling menyayangi sebagai ibu dan anak, sebagai satu keluarga.
"Mama juga sayang dan bangga banget sama kamu, nak..."
Setelah dapat menenangkan dirinya dan meredakan tangisannya, Kartika melepaskan pelukannya dari tubuh putranya. Diakhirinya sesi berbagi kehangatan mereka dengan senyuman hangat dan kecupan ringan di kening putranya itu.
"Apa mama perlu menemui Ella dan minta maaf sama dia?..." Kartika bertanya ragu-ragu.
"Gak perlu lagi ma, Kita tidak usah mengusik lagi kehidupan Ella. Ella sudah bahagia sekarang. Dia sudah menemukan pengganti diriku..." Jawab Ardi dengan nada pasrah.
__ADS_1
Ardi jadi teringat dengan Ella yang bersanding dengan Roni di pesta Mahes. Ella yang terlihat bahagia dan tidak keberatan untuk berdampingan dengan pria lainnya. Rupanya Ella telah menepati janjinya waktu mereka berpisah dulu. Untuk berbahagia, untuk tidak menangis lagi, meskipun kebahagiaan Ella berasal dari pria selain dirinya.
"Lho kok gitu..." Kartika merasa sangat kaget dan kecewa dengan reaksi dan jawaban Ardi. Masa iya Ardi mau menyerah semudah itu? Setelah apa yang telah dilaluinya demi gadis itu?
"Sudah ya, ma. Aku beneran capek banget. Aku mau tidur dulu di kamarku, tolong jangan diganggu..." Ardi bangkit dari sofa dengan perlahan kali ini. Tak ingin terlihat gontai karena pusing yang akan melandanya saat bangkit secara tiba-tiba. Gak lucu kan kalau nanti tubuhnya oleng lagi di hadapan mamanya. Ardi tak ingin membuat mamanya terlalu khawatir lagi akan keadaan dan kesehatannya.
Kemudian Ardi berjalan perlahan ke arah tangga, ke arah kamarnya di lantai dua. Sementara Kartika hanya bisa memandangi kepergian putranya itu dengan semakin kebingungan.
Linggar yang dari tadi menonton drama mother and son dari kejauhan ikut keheranan juga dengan akhir cerita yang tidak sesuai prediksinya. Benar-benar unpredictable ending dan tentunya the worst ending.
Setelah sekian lama akhirnya mama mereka mau mengalah akan hubungan Ardi dengan Ella. Akhirnya Ardi bisa mendapatkan restu dari mamanya. Linggar mengira Ardi akan bersemangat untuk kembali memperjuangkan cinta sejatinya. Ardi akan menghampiri gadis itu dan merebut hati Ella kembali.
Tapi ini apaan coba? Kenapa Ardi seakan tidak perduli? Kenapa Ardi terlihat sama sekali tidak bersemangat? Apa semuanya sudah terlambat? Apa Ella sudah menikah? Apa gadis itu sudah menemukan cinta yang lainnya?
Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa Ella sekejam itu? Bagaimana Ella bisa Mengkhianati Ardi yang terus saja setia mencintainya meskipun mereka tidak bersama lagi?
Tidak mungkin. Linggar tahu benar Ella gadis seperti apa. Ella yang sangat mencintai kakaknya. Ella juga pasti tak akan bisa melupakan Ardi begitu saja. Karena Linggar tahu baik Ardi atau Ella saling mencintai, mencintai dengan begitu dalamnya sampai rasanya tak mungkin untuk berpaling hati.
'Baiklah kalau mas Ardi gak mau bertindak, mungkin aku yang harus bergerak. Aku gak rela kalau kedua orang itu akhirnya tidak bisa bersatu' Linggar bertekat di dalam hatinya, ingin menyatukan kembali kedua insan yang saling mencintai itu.
Linggar percaya hanya itulah satu-satunya cara memberikan kebahagiaan dan ketenangan batin pada Ardi. Untuk menghentikan segala kegilaan dan kekacauan dalam hidupnya.
"Kamu juga berhak untuk bahagia, mas. Sudah cukup kamu bersedih dan menderita." Linggar berguman lirih sambil melihat kakaknya yang berjalan menaiki tangga ke lantai dua.
~∆∆∆~
Setiap orang tua terutama seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik bagi putra putrinya.
Tak pernah sedetik pun dalam hidup mereka tidak memikirkan putra-putrinya itu.
Kadang mereka dibutakan oleh rasa cinta dan sayangnya itu hingga berlebihan dan kebablasan.
Bahkan tak jarang hilang arah atau mungkin tanpa mereka sadari telah melakukan kesalahan.
Tak ada orang tua yang menginginkan anaknya menderita dan tak bahagia.
Sementara dilain pihak, kadang justru sang anaklah yang melupakan orang tuanya.
Begitu juga Nyonya Pradana, sebenarnya dia bukanlah wanita yang jahat. Dia hanya terlalu mencintai putranya. Menginginkan yang terbaik bagi putranya itu...
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼
__ADS_1