
Hari ini sepertinya akan menjadi hari terakhir Linggar untuk menginap di rumah sakit ini. Hasil tes darah lengkap kemarin menunjukkan jumlah leukositnya sudah cukup banyak mengalami penurunan. Memang masih sedikit diatas nilai normal si, tapi sudah bisa dikatakan keradangan dan infeksi di tubuhnya sudah berangsur membaik.
Memang kamar yang ditempati Linggar adalah kamar VVIP dengan berbagai fasilitas mewahnya. Tepi tetap saja rasanya sangat membosankan untuk berbaring saja di ranjang rumah sakit selama empat hari. Apalagi jarang ada yang bisa menemani dirinya. Palingan cuma bi Inem yang paling setia.
"Kamu nanti bakal dipulangkan jam berapa kira-kira?" Ardi bertanya sambil memasang dasinya.
"Paling siangan," Linggar menjawab sambil menyantap menu sarapan paginya.
"Ella jaga pagi ya hari ini?" Ardi menyelidik.
"Kemarin si bilangnya setelah sif pagi mau visite. Sekalian ngasih keputusan keluar rumah sakitnya."
"Jangan pulang dulu, tungguin aku." Terakhir Ardi memakai jas navi sebagai outfit-nya. Done ganteng maksimal dan siap tempur untuk hari ini.
"Mas Ardi emang mau kesini jam berapa?"
"Sorean, pulang dari kantor."
"Gak usah deh mas. Kelamaan nunggunya ntar. Aku pulang sendiri aja naik taxi atau suruh supir jemput." Linggar udah gak tahan, pingin cepet pulang.
"Biaya rumah sakit siapa yang bayar?"
"Aku bisa bayar sendiri kok pake duitku!" Linggar gak mau kalah. Pokoknya pengen cepet pulang.
"Yaudah mending aku minta Sari buat tambahin sehari lagi kamu nginep sini." Ardi balik mengancam.
"Haaaaah? Enak aja!"
"Makanya nurut aja tungguin aku sampai sore. Ntar aku yang urusin administrasinya dan pembayarannya. Kamu tinggal terima beres."
"Yaelah mas, bilang aja mau ketemu mbak Ella!"
"Nah tau gitu lo." jawab Ardi enteng seakan gak punya dosa bahkan saat modusnya ketahuan.
"Terus aku yang dikorbankan? Dijadikan alibi?" Linggar terang-terangan sewot menanggapinya.
"Tungguin aku atau nambah nginep sehari lagi?" ujar Ardi menegaskan penuh ancaman.
Pria itu mengambil kunci mobil dan barang-barang pribadi bawaannya. Bersiap pergi berangkat ke kantor. Kemarin malam memang Ardi sengaja menginap lagi di rumah sakit menemani Linggar. Tapi apesnya malah gak ketemu Ella sama sekali. Entah masuk sift apa Ella kemarin.
"Lho mas Ardi mau berangkat sekarang? Bi Inem aja belum datang, terus siapa yang nemenin aku donk?" Linggar kembali memprotes melihat Ardi yang sudah siap berangkat kerja.
"Manja bener! Sendirian juga gak bakal ada yang mau nyulik kamu. Dijual gak laku soalnya hehe" Ardi tetap tak perduli dengan protes adiknya. Beranjak pergi meninggalkan Linggar begitu saja.
"Ingat ya, jangan pulang sebelum aku datang!" Tambahnya mengingatkan sekali lagi saat membuka pintu ruangan VVIP ini.
"Iya iya..." Linggar pasrah saja mengalah sama kekeras kepalaan kakaknya ini.
"Good boy! Nanti aku belikan pizza big size....Bye!" Ardi tersenyum puas sambil menawarkan sogokan, menutup pintu kamar itu.
Linggar tertawa garing menanggapinya. Yah paling tidak kakaknya itu sudah bersedia bertindak sedikit lebih agresif lah untuk pendekatan pada mbak Ella. Asli gemes lama-lama ngelihat mereka berdua itu. Sama-sama keras kepalanya mereka berdua.
Kenapa coba gak tukeran nomer ponsel aja biar bisa janjian ketemu? Sok-sokan nungguin dipertemukan oleh takdir segala? Emangnya para malaikat itu pengangguran dan cuma ngurusin takdir mereka berdua apa? Jelas aja tak semudah itu untuk selalu bisa ketemu kebetulan bak sinetron kan?
Setelah kepergian Ardi tinggallah Linggar sendirian di kamarnya. Semakin bosan dan akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan bermain game online, browsing atau sekedar berselancar di sosial medianya.
Tak lama kemudian Inem datang sendirian dengan membawa berbagai macam makanan dalam tas plastik besar untuk Linggar. Sepertinya Bambang sedang sibuk sehingga tidak sempat mengantarnya. Jelas aja langsung ke kantor si Bambang, lhawong Ardi atasannya saja sudah berangkat ke kantor. Masa sekretarisnya malah belum datang?
"Maap tuan saya kesiangan. Supir taxi nya bingung disuruh mampir-mampir di banyak tempat." Inem menceritakan alasan keterlambatannya. Rupanya pembantu itu berangkat ke rumah sakit dan beli-beli makanan dengan diantar taxi. Pantesan datangnya agak telat begini.
"Iya gak pa-pa. Bawa apa aja itu? Ada cemilan yang gurih-gurih?"
__ADS_1
"Mau snack? Keripik? Kentang goreng? Burger?" Inem menawarkan pilihan.
"Kentang goreng deh." Linggar memutuskan. Dan kembali tenggelam dalam permainan game online yang dimainkannya. Mob*le Legend Bang Bang.
Tepat tengah hari pintu kamar VVIP ini kembali diketuk dan Inem segera membukakannya untuk sang tamu. Seorang wanita cantik dengan gaya kantoran yang terkesan tomboy-nya memasuki ruangan dengan langkah sedikit ragu-ragu, Praditha Sampoerna.
"Selamat siang," Ditha menyapa.
"Ditha? Selamat siang..." Linggar sedikit kaget juga menerima tamu spesial yang bahkan dirinya tak berani untuk mengharapkannya. Tapi mau tak mau ada rasa berbunga-bunga dihatinya demi menerima kedatangan si cewek tomboy unik ini.
"Ehm...kamu gimana kabarnya, Nggar? Udah enakan?" Ditha bertanya dengan sedikit kikuk.
"Udah lumayan. Hari ini kayaknya udah bisa keluar rumah sakit." Linggar menjelaskan keadaanya.
"Oh..." Ditha kebingungan harus ngomong apalagi. Asli kikuk dan canggung banget situasinya.
"Saya permisi keluar sebentar ya tuan, mau cari makan siang." Inem seakan tahu diri tak ingin mengganggu, pamit meninggalkan ruangan. Meninggalkan kedua pemuda itu berduaan saja.
Ditha mengambil duduk di kursi sebelah ranjang Linggar. Celingukan melihat-lihat kesana kemari untuk mencari topik pembicaraan.
"Kamu mau apel? Aku kupasin ya?" Pandangan mata Ditha berhenti di buah-buahan yang ada di meja sebelah ranjang. Menawarkan untuk mengupaskan apel untuk pria itu.
"Iya boleh," Linggar tak keberatan. Padahal aslinya perutnya masih kenyang juga. Burger, kentang goreng dan berbagai macam makanan lainnya sudah masuk ke perutnya sejak tadi.
"Gimana kata dokter? Kok udah boleh pulang?" Ditha bertanya sambil mengupas apel ditangannya.
"Yang penting radang paru-parunya sembuh dulu. Kemarin tes darah nilai leukositnya udah turun jauh. Tandanya radangnya sudah berkurang. Kalau fraktur tulang rusuknya sambil jalan aja penyembuhannya."
"Hmmm...Lama ya sembuhnya?"
"Satu dua bulan katanya. Agak lama karena gak bisa di-gips. Lokasinya tidak memungkinkan."
"Patahnya parah ya?" Ditha merasa makin merasa bersalah mendengarnya. Lama banget itu satu dua bulan untuk masa penyembuhan.
"Nih..." Ditha memberikan seiris apel buat Linggar. Meletakkan piring berisi irisan apel lainnya di meja, lalu beranjak membuang kulit apel ke sampah.
Linggar langsung menelan habis irisan apelnya. Bermaksud mengambil irisan lainnya di meja, tapi apalah daya tangannya tak sampai dan sebagai gantinya malah rasa nyeri yang amat sangat melandanya karena otot-otot bagian dadanya yang berkontraksi karena gerakan menggapainya.
"Uuuuuughh." Linggar mengeluh tak tertahankan.
"Nggar? Kamu gak pa-pa?" Ditha buru-buru kembali menghampiri Linggar di ranjangnya.
"Nggak...Gak pa-pa." Ujar Linggar sok kuat, tapi wajahnya masih meringis menahan sakit.
"Sorry ya Nggar, gara-gara aku kamu jadi kayak gini." Ditha kembali mengambil duduk di sebelah ranjang Linggar. Tak tega melihat pria itu nampak kesakitan.
"Apaan si, Dith? Kok kamu bisa bilang karena kamu? Kan jelas-jelas aku yang salah. Aku yang ceroboh sampai selip nyetirnya." Linggar menjawab dengan santainya. Ternyata si Ditha ini masih merasa bersalah saja karena kecelakaan yang menimpanya. Padahal kan murni karena nasib lagi apes. Bukan salah siapa-siapa.
"Ya kan gara-gara aku kamu jadi memaksakan diri buat menang..."
"Ya sebagian si gitu. Sebagian lainnya karena aku gak mau kalah sama Lisa Rajasa dan teman-temannya. Jadi kalau mau ada yang disalahkan sebagai penyebab, ya karena aku sendiri."
"Tapi kan...tapi kan gara-gara janji kamu juga..." Ditha mengingatkan Linggar dengan pertaruhan mereka yang konyol dan menggelikan. Masa si Linggar malah lupa?
"Janji apa? Oh ciuman itu?" Linggar bertanya.
Ditha tak sanggup menjawab, tapi wajahnya yang berkulit putih seketika bersemu kemerahan.
"Kamu kepikiran itu ya? Hahhaha" Linggar mau tak mau tertawa juga melihat reaksi Ditha yang malu-malu dengan wajah memerah. Aduuuh makin gemes aja melihat cewek unik ini.
"Gimana gak kepikiran coba? Kamu jadi kayak gini hanya karena janji konyol itu." Ditha berusaha beralibi. Padahal aslinya sudah ketar ketir juga kalu memikirkan bagaimana harus memenuhi janjinya, membayar hutangnya pada Linggar.
__ADS_1
"Konyol? Bagiku gak konyol kok...Malah worthed untuk diperjuangkan."
"Haaaah?"
"Aku rela ngelakuin apa aja buat dapetin ciumanmu."
Melongo. Ditha bener-bener melongo mendengar jawaban Linggar. Duh beneran apa nggak si ini orang? Ditha benar-benar gak bisa menebak dari ekspresinya karena Linggar mengatakan dengan santainya. Keahlian bawaan playboy kelas kakap.
"Jadi gimana? kapan kamu bayar janjimu?" Linggar semakin menantang Ditha.
"Uhm...aku...aku..." Ditha kebingungan juga harus menjawab apa. "Kamu minta apa? Akan kuturuti apapun permintaanmu."
"Nanti saja janji yang itu. Aku belum mikirin mau apa." Linggar tahu benar Ditha berusaha mengalihkan pembicaraan dari topik ciuman. "Aku mau minta yang kiss dulu sekarang."
"Tapi..." Ditha semakin kebingungan. Aduh gimana ini? Ini kan ciuman pertamanya? Masa mau dikasihkan pada cowo playboy kayak Lingngar? Padahal sebagai seorang gadis Ditha ingin ciuman pertamanya diberikan pada pria yang dicintainya.
"Kenapa? Jangan bilang kalau ini bakal jadi ciuman pertamamu?" Linggar semakin penasaran melihat reaksi Ditha. Yey menang banyak kalau gitu! Beneran gak rugi berjuang sampai sakit gini hehe.
"Enak aja!" Ditha berbohong menutupi kenyataan bahwa dirinya belum pernah berciuman sebelumnya. Seorang Praditha Sampoerna yang lulusan universitas Australia belum pernah kissing? Mau ditaruh mana mukanya coba?
"Kalau begitu gak ada masalah kan?" Linggar keterusan semakin menggoda Ditha. Tersenyum menyeringai dengan jahilnya.
"Iya! Siapa takut!" Ditha pun akhirnya terpancing juga. Kalah sama rasa gengsi dan sifat tak mau kalahnya.
Ditha bangkit dari kursinya, pindah duduk di tepian ranjang Linggar. Didekatinya tubuh Linggar yang bersandar di sandaran bed pasiennya. Dekat dan semakin dekat Ditha mendekatkan wajahnya ke arah wajah Linggar. Kemudian gadis itu memejamkan matanya sesaat sebelum akhirnya kedua bibir mereka bertabrakan.
Manis, entah mengapa ada rasa manis dan getaran menyenangkan yang memenuhi dada Linggar begitu bibir Ditha menyentuh bibirnya. Rasanya berbeda sekali dengan ciuman-ciuman yang pernah dilakukannya dengan banyak gadis lainnya. Membuat tubuhnya serasa melayang untuk sesaat.
Yah sesaat. Karena tak lama kemudian Ditha melepaskan tautan bibir mereka. Hanya memberikan light kiss pada Linggar. Gadis itu mengangkat dan menjauhkan wajahnya dari wajah Linggar tepat saat pintu ruangan tiba-tiba terbuka...
Masuklah Inem yang mempersilahkan Ella untuk memasuki ruangan. "Mari dok, silahkan melakukan pemeriksaan." Inem mempersilahkan.
'Aduh mati aku! Ada yang lihat? Apa mereka melihat kejadian memalukan barusan?' Ditha panik dan buru-buru bangkit berdiri dari atas ranjang Linggar.
"Baiklah urusanku sudah selesai...Aku pergi dulu ya..." Ditha pamit pada Linggar ingin cepat-cepat kabur rasanya dari ruangan VVIP ini.
"Lho, Dith..." Linggar memprotes tapi tak berdaya mencegah kepergian Ditha.
"Kok sudah pulang non?" Inem menanyai Ditha keheranan. Biasanya kalau main kan lama nona ini.
"Iya, bi. Baru ingat ada urusan di kantor. Aku permisi dulu ya," Ditha langsung ngacir dari ruangan.
"Hallo, Nggar. Gimana kabarmu? Udah enakan?" Ella menghampiri dan menyapa Linggar. Melakukan pemeriksaan fisik rutinnya sebagai dokter.
"Nggar? Are you Ok?" Ella jadi khawatir melihat Linggar yang bengong saja dari tadi tanpa menjawab sapaan dan pertanyaannya. Padahal dari pemeriksaan, bocah ini sudah jauh lebih sehat. Hanya saja entah mengapa suhu tubuhnya sedikit panas dan detak jantungnya lebih cepat.
"Eh? Kenapa dok?" Linggar kelabakan seolah tersadar dari lamunannya.
"Are you Ok?" Ella mengulang lagi pertanyaannya.
"Much better. Barusan aku seperti dapat obat paling mujarab di dunia."
"Haaaah?" Ella semakin kebingungan mendengar jawaban gak jelas dari Linggar.
~∆∆∆~
FYI (For Your Information)
*Bayi yang baru lahir umumnya memiliki jumlah leukosit antara 9.000–30.000 per mikroliter (mcL) darah. Rentang jumlah leukosit normal ini akan berubah seiring dengan bertambahnya usia hingga hanya menjadi 5.000–10.000 mcL saat dewasa.
*Pada orang dewasa, jumlah sel darah putih atau leukosit dikatakan tinggi apabila mencapai lebih dari 11.000 mcL.
__ADS_1
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼