
Ella terdiam saja mendengarkan dan mengamati layar ponselnya, vidio call yang masih aktif menyambung dengan Ardi yang sedang ada di Jakarta. Ardi membukakan pintu kamar hotel untuk melihat siapa tamu yang barusan mengetuk pintu. Sepertinya bukan Bambang atau room service.
"Rena?..." Sapa Ardi dengan nada suara tak percaya. Seperti keheranan menerima kunjungan tak terduga dari tamunya itu.
"Hi Ardi. Long tome no see." Suara seorang wanita balas menyapa Ardi dengan nada gembira. "May I have your time?"
(*Hi Ardi. Lama tak berjumpa. Boleh minta waktu?)
"Ah sure, Come in..." Ardi mempersilahkan wanita bernama Rena itu memasuki kamarnya.
(*Tentu, mari masuk)
Deg, jantung Ella serasa berhenti berdetak untuk sejenak saat Ardi menyebutkan nama itu. Rena? Renata? Mantan mas Ardi yang beberapa hari yang lalu mereka bicarakan? Yang katanya keren dan model internasional itu?...Terus yang jadi masalah kenapa dibolehin masuk kamar sih mas Ardi? Ella menjadi geram sendiri demi mendengar percakapan mereka berdua. Namun Ella memilih diam saja.
Mengapa Rena bisa mengunjungi mas Ardi di kamar hotelnya? Bukannya mas Ardi mengatakan bahwa mereka sudah tidak berhubungan lagi? Apa mereka janjian ketemuan di Jakarta? Untuk apa wanita itu mendatangi mas Ardi lagi? Bahkan sekarang mereka berduaan saja di kamar hotel begitu?
Bambang mana coba disaat begini? Bukannya dia bertugas menemani Ardi?... 'Mbang tolong samperin mas Ardi dikamarnya donk. Jangan biarkan mereka berduaan, biar gak kena godaan setan.' Batin Ella semakin meronta-ronta rasanya.
Mau tak mau ada gelombang rasa tidak nyaman yang melanda dan berkecamuk di dada Ella. Apakah ini yang dinamakan cemburu? Rasanya begitu sesak, perih dan sedih bergabung menjadi satu. Rasa tidak rela dan tidak terima bahwa ada wanita lain yang terlihat akrab bahkan berduaan saja di kamar hotel dengan mas Ardi.
"I miss you, Ardi. You look just the same as many years ago. Or should I say, more handsome?" Ella dapat mendengar lagi Rena berkata dengan nada seperti teman akrab pada Ardi.
(Aku kangen kamu, Ardi. Kamu keliatan sama saja seperti beberapa tahun yang lalu. Atau bisa dibilang makin ganteng aja?).
Samar-samar juga dari layar ponsel Ella dapat melihat gadis itu semakin mendekati tubuh Ardi. Pasti sedang memberikan pelukan hangatnya pada Ardi serta memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri Ardi seperti sapaan hangat yang biasa dilakukan para sultan dan sultanwati saat bertemu temannya.
"Oh cmon, stop firlting on me. No body can resist your beauty." Ardi terlihat buru-buru melepaskan pelukan Rena dari tubuhnya.
(*Hentikan gombalanmu. Gak bakal ada yang sanggup menolak godaan kecantikanmu).
Ella tahu benar bahwa peluk dan cium pipi adalah sapaan wajar komunitas mereka. Tahu benar bahwa tak ada maksud tersembunyi dari tindakan mereka. Tapi masalahnya...yang memeluk dan mencium Ardi kali ini adalah Renata. Wanita yang jelas-jelas pernah mengisi hati Ardi. Wanita yang pernah menjalin asmara dan menjadi cinta pertama Ardi.
Bagaimana gak panas dingin coba perasaan Ella saat ini? Tak sanggup rasanya membayangkan apa saja yang mungkin akan mereka lakukan berduaan saja di kamar hotel. Tak rela, tak terima...
Dan tahu-tahu Ella sudah memutuskan sambungan vidio callnya dengan Ardi. Tak ingin mendengar atau melihat lagi kebersamaan mereka berdua. Tak sanggup rasanya...
Tak beberapa lama kemudian ponsel Ella bergetar dan masuklah sebuah pesan singkat dari Ardi.
Lazuardi
I'll call you latter. Dont overthink bout it.
(*Nanti kuhubungi lagi. Jangan terlalu dipikirkan.)
Jangan terlalu dipikirkan? Yang benar saja! Mana bisa! Semakin dilarang malah semakin kepikiran kan? Mereka mau ngapain coba berduaan di dalam kamar hotel begitu? Gimana kalau ada setan yang menghampiri mereka? Gimana kalau cinta lama mereka yang belum kelar bersemi kembali?
Padahal Ardi dan Ella baru saja resmi pacaran lagi. Padahal Ardi juga mengatakan akan melamar dan melanjutkan hubungan serius dengannya. Akan melamarnya, akan menikahinya. Tapi apa-apaan ini mas Ardi?... Segala pikiran dan prasangka buruk kembali berputar-putar di kepala Ella.
Karena Ella tidak menjawab pesannya, Ardi ganti memanggilnya lewat panggilan suara. Tapi Ella tidak mau menerimanya, terlalu marah dan emosi untuk sekedar berbicara dengan Ardi saat ini. Akhirnya Ella membiarkan saja panggilan itu tanpa niatan untuk mengangkatnya. Beberapa kali Ardi memanggilnya. Ella tetap tidak mau menerima panggilan itu.
Ardi memang memintanya untuk percaya akan cintanya pada Ella. Akan ketulusannya dan keseriusannya terhadap hubungan mereka. Percaya bahwa Rena adalah masa lalu dan Ella ada masa depan baginya. Tapi tetap saja rasanya begitu menyesakkan untuk mengetahui bahwa Ardi dan Rena kembali bertemu dan berduaan di kamar hotel. Can I still believe in you mas Ardi?
__ADS_1
(*Apa aku masih bisa mempercayaimu mas Ardi?)
Tak beberapa lama kemudian ada panggilan lain yang masuk, Ella melihat layar ponselnya dengan malas. Kalau dari Ardi tak akan diangkatnya lagi. Tapi ternyata malah nama Roni yang ada disana. Ngapain ini si Roni? Tumben-tumbennya nelpon? Sejak hubungan mereka berakhir memang tidak sekalipun Roni menghubunginya.
"Halo Ron?" Ella menyapa.
"Iya halo El." Roni menjawab, dengan suara bising disekitarnya. Sepertinya sedang dalam perjalanan.
"Kenapa Ron? Kamu lagi dimana sekarang?"
"Aku baru pulang dari Jogja. Ini sama mas Mahes yang lagi gantian nyetir mobil."
"Jogja? Sama mas Mahes? Kalian abis ngapain?" Ella semakin bingung dan penasaran. Kok tumben Roni berkendara berdua dengan Mahes?
"Lho kamu belum tahu? Kamu gak buka sosmed atau baca grup WA? Kami dari takziah ke rumah Jun di Jogja." Roni sedikit gemes juga dengan sifat Ella yang cuek dan jarang mau membuka media sosialnya. Grup WA juga paling cuma dibiarin aja numpuk sama Ella tanpa dibaca.
"Haaah? Rumah Jun? Tunggu dulu, siapa yang meninggal?" Ella semakin kebingungan.
"El...Jun...Jun yang meninggal dunia. Tadi pagi." Roni menjelaskan dengan nada sedih.
"Jun? Gak mungkin Ron. Kamu gak bohong kan?" Ella masih tak bisa percaya akan berita yang baru saja didengarnya. Bagaimana mungkin Jun kan masih muda dan terlihat sangat sehat? Jun yang seorang dokter pasti dapat menjaga kesehatannya sendiri kan? Kenapa sampai begini?
"Jun sakit El. Udah agak lama, cuma dia gak mau ngasih tahu teman-temannya. Osteosarcoma stadium 4." Roni menjelaskan penyebab meninggalnya Jun.
Rasanya seluruh tubuh Ella menjadi lemas seketika demi mendengar penjelasan Roni. Jadi beberapa hari yang lalu Roni beneran cuma nganterin Sari ke Jogja untuk menemui Jun? Menemui Jun yang sedang sekarat? Tapi Ella malah sempat berpikiran macam-macam soal mereka. Ella sempat mengira Roni dan Sari berselingkuh...Jahat sekali rasanya. Membuat Ella benar-benar sedih dan menyesali prasangka buruknya pada teman-temannya itu.
"Sari gimana sekarang, Ron?" Ella tak dapat membayangkan bagaimana hancur dan sedihnya perasaan Sari saat ini. Bagaimana rasanya ditinggal pergi kekasih hati untuk selama-lamanya. Ella yang pernah merasakan putus cinta saja sudah sehancur itu. Apalagi kalau harus dipisahkan oleh maut.
"Aku gak bisa bayangin gimana sedihnya Sari..."
"Nah iya jelas dia sedang down banget sekarang. Makanya aku sama mas Mahes mau minta tolong sama kamu. Nanti kalau Sari sudah kembali ke Surabaya kamu temenin dia ya. Dia mungkin butuh teman sesama cewek buat nemenin." Roni mengutarakan maksudnya menelpon Ella.
"Iya, nanti aku usahakan nemenin dia." Ella menyanggupi. Memang dalam keadaan berduka begitu kalau dibiarkan sendirian bakalan nangis terus dan semakin larut dalam kesedihan.
"Makasih ya, El. Nanti aku kabarin lagi kalau Sari sudah kembali. Maaf ya jadi ngerepotin kamu, karena kami gak tahu siapa lagi temen cewek Sari di Surabaya selain kamu." Roni mengakhiri permintaan dan pembicaraan.
"Iya Ron sama-sama. Gak usah sungkan, aku kan juga temen Sari. Salam ya buat Sari, mas Mahes dan keluarganya." Ella menutup panggilan telponnya.
Selanjutnya Ella menghabiskan malam itu dengan kegalauan tingkat dewa. Galau karena memikirkan Ardi yang tak kunjung menelponnya. Lagi ngapain aja coba sama Rena? Huh jangan bilang mereka lagi keasikan kencan berduaan. Menghabiskan malam berduaan dengan mesranya. Aaaarrrggh bisa gila!
Lebih galau lagi saat memikirkan Sari dan Jun. Tak tega rasanya memikirkan nasib percintaan mereka yang berakhir begitu tragis. Harus berpisah walaupun masih saling mencintai, berpisah karena suratan takdir yang tak terbantahkan. Sesekali Ella menitikkan air matanya ditengah kegalauannya sampai akhirnya gadis itu ketiduran.
Tepat tengah malam Ella terbangun dari tidurnya. Betapa kagetnya dia saat mendapati dua puluh lima missed call dari Ardi. Duh ini orang emang gak ada matinya. Pantang menyerah juga sebelum keinginannya tercapai. Memang Ella men-silent ponselnya tadi, sehingga dirinya tidak kebangun meskipun ada panggilan sebanyak itu.
Mungkin karena menyadari Ella barusan membuka ponselnya, Ardi langsung menghubungi Ella kembali. Memanggilnya dengan vidio call kembali. Ella melirik jam dinding yang sudah menunjukkan lewat tengah malam. Kok masih belum tidur aja si mas Ardi? Jangan-jangan dia jadi gak bisa tidur gara-gara panggilannya gak diangkat-angkat?
Karena kasihan Ella akhirnya menerima panggilan itu. Tapi kemudian diam saja tanpa bicara.
Diamatinya Ardi di seberang sana sedang tiduran di kasurnya. Kasian juga si sebenernya melihat Ardi yang sepertinya sedang kecapekan tapi masih harus begadang nungguin telponnya diangkat oleh Ella. Ella yang malah ketiduran tanpa rasa berdosa.
"Akhirnya kamu mau angkat juga..." Ardi membuang napas lega. Ella diam saja tak menjawab, masih marah dan cemburu saja rasanya. Sakit hati.
__ADS_1
"El? Hallo...Ella sayang? Honey...Duh kok diem aja si?" Ardi kebingungan menghadapi aksi diam Ella. Dan gadis itu tetap tak bergeming, mingkem rapet.
"Honey...I'm sorry. I'm so sorry..." Ardi mengawali dengan meminta maaf.
"Kamu marah ya?"
"Enggak." Ella akhirnya mau menjawab singkat.
"Nggak marah tapi ngambek?" Ardi coba mencairkan suasana. Tapi Ella malah balik mingkem lagi.
"Kamu mau ngambek sampai kapan?...Sampai pagi liat-liatan aja sambil diem? Ayo aja."
Ardi ikutan terdiam sambil memandangi wajah Ella dengan lebih seksama. Dapat dilihatnya mata gadis itu sedikit sembab. Abis nangis?
"El...Kamu abis nangis ya?" Ardi jadi merasa bersalah juga telah membuat Ella menangis.
"Tadi ada Renata yang datang berkunjung. Ya benar Rena mantan pacarku. Entah darimana dia bisa tahu tempat aku nginep." Akhirnya Ardi mengalah untuk bercerita duluan, mungkin Ella ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi.
"Kami ngobrol sebentar, karena masih ada yang harus diselesaikan diantara kami berdua..."
"Ngobrol sebentar? Pelukan dan ciumannya gak diceritain? Terus ngapain juga ngobrol pake berduaan di kamar hotel begitu?" Ella tiba-tiba memotong pembicaraan Ardi. Karena Ardi sengaja melewatkan bagian yang menurutnya penting.
"Oh jadi kamu marah karena itu?" Ardi tertawa geli. "Kamu kan tahu cara sapaan dalam pergaulan kami? Pelukan dan ciuman ringan tanpa maksud apa-apa. Kalau masalah berduaan nggak juga kok, kami lanjut ngobrol di restoran, dinner."
Ella kembali terdiam, mempertimbangkan ucapan Ardi. Beneran atau cuma alibi semata.
"Aku tahu batasanku, El. Kamu gak usah khawatir. Please just believe me. Believe me that I love you."
(*Tolong percayalah padaku. Percayalah bahwa aku mencintai kamu).
"Aku tadi menegaskan pada Rena bahwa hubungan kami sudah berakhir lima tahun yang lalu. Aku juga bilang padanya kalau aku udah punya kamu. Dan aku akan mempersuntingmu menjadi istriku." Ardi menjelaskan akhir dari pertemuannya dengan Rena.
"Beneran?..."
"Masa kamu masih gak percaya aja sama aku?"
"Aku takut kehilangan kamu lagi." Ella mengakui ketakutan yang membuatnya cemburu.
"Yang kita butuhkan cuma saling percaya, El. Believe in each other. Aku percaya sama kamu dan kamu percaya sama aku. Udah cukup gitu aja. Gak usah percaya atau dengerin omongan orang lain." Ardi memberikan saran tentang apa yang seharusnya dilakukan dalam hubungan mereka. Dan Ella hanya mengangguk saja menyetujui ucapan Ardi.
(*Saling mempercayai satu sama lainnya)
"Do you believe me?" Ardi memastikan bahwa Ella sudah percaya kepadanya.
(*Apa kamu percaya padaku?)
"I do." Ella akhirnya menjawab mantap dan tersenyum ringan walau masih sedikit sebel pada Ardi. Keduanya pun kembali berpandangan dalam diam sebelum pamit mengakhiri sambungan.
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss donk kasih KOMEN buat penyemangat author. 🌼
__ADS_1