Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
69. Ikatan


__ADS_3

When you realize you want to spend the rest of your life with somebody, you want the rest of your life to start as soon as posible _ Billy Cristall


(*Saat kau menyadari jika dirimu ingin menghabiskan sisa hidupmu dengan seseorang, maka kau akan menginginkan sisa hidupmu itu untuk sesegera mungkin dapat dimulai).


Marriage is a life-long journey that thrives on love, commitment, trust, respect, communication, patience, and companionship _ Ashley and Marcus Kusi


(*Pernikahan adalah perjalanan seumur hidup yang berkembang dengan cinta, komitmen, kepercayaan, rasa hormat, komunikasi, kesabaran, dan kerekanan).


______________________________________


Ardi meletakkan pisau dan garpunya ke piring. Mengakhiri makan malamnya. Meninggalkan beef steak yang bahkan belum dia habiskan setengahnya. Ardi menatap Ella yang duduk di hadapannya dengan tajam. "El, aku sayang kamu. Sayang banget sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu. Aku ingin kamu menjadi bagian dari hidupku. Aku ingin agar bisa menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Sesegera mungkin."


"Maksudnya? Maksudnya gimana, mas?" Ella sebenarnya sudah dapat menebak arah pembicaraan Ardi akan kemana. Tetapi tetap saja dirinya ingin mendengar secara langsung dari mulut Ardi tentang segala penjelasannya.


"Aku ingin mengikat hubungan yang resmi dengan kamu," jawab Ardi tegas.


Ella kembali terdiam tak sanggup bereaksi. Kenapa Ardi bicara seperti itu? Bukannya mereka sama-sama tahu kalau mereka berdua belum bisa mendapatkan restu dari orang tua Ardi? Lalu mengapa harus membahas soal ikatan ini? Bikin frustasi saja.


"Ikatan kayak apa? Tunangan? Atau nikah? Tapi kan kita belum dapat restu dari orang tua mas Ardi?" Ella balik bertanya keheranan. Diletakkan juga garpu dan pisaunya untuk menyelesaikan prosesi makan malamnya. Diteguknya segelas minuman bersoda di meja sebelum kembali berkonsentrasi menatap Ardi untuk melanjutkan pembicaraan serius mereka sekarang.


"Sama seperti kata papamu, kita memang seharusnya secepatnya terikat dalam suatu hubungan yang pasti. Bukannya terombang-ambing dalam hubungan tidak jelas kita... Aku akan coba bicara lagi sama mama." Ardi menjawab setelah dilihatnya Ella mulai serius juga menanggapi.


"Paling juga jawabannya sama aja, mas."


"El, aku mau nanya sekarang sama kamu tentang satu hal... Kamu kenapa malah ambil pendidikan spesialis?" Ardi menanyakan keheranannya dari dulu. Kenapa seolah Ella ingin menunda waktu untuk mereka bisa bersatu? Kenapa seakan Ella tidak mau untuk terikat dengannya?


"Aku ingin meningkatkan ilmu dan pengetahuan medisku. Untuk dapat menolong lebih banyak orang." Ella menjawab ringan seakan tanpa dipikirkan.


"Alasan klasik dan teoritis. Aku gak percaya, Ella-ku yang cerdas tak akan mumutuskan sesuatu sebesar ini hanya karena alasan klasik kayak gitu." Ardi terus mendesak.


"Aku...aku ingin membuktikan bahwa aku pantas untumu, mas. Bahwa aku juga bisa berdiri dengan tegak dan sejajar denganmu. Meskipun aku bukan berasal dari keluarga sultan yang kaya. Aku ingin kamu juga bangga memiliki aku sebagai pasanganmu." Ella mencoba untuk menjelaskan maksud dari segala tindakannya.


"Ella, kamu gak usah susah payah kayak begitu juga aku sudah sangat bangga bisa memilikimu. Aku mau menerimamu apa adanya sebagai Ella, Ella yang sekarang atau kapanpun juga. Kamu gak perlu sekeras itu sama dirimu sendiri, El. Biarkan aku saja yang bergerak dan bertindak. Biarkan aku saja berjuang untukmu." Ardi berkata lembut, tak menyangka Ella mau berjuang sekeras itu hanya untuk dapat mensejajarinya.

__ADS_1


"Tapi itu tidak adil untukmu, mas. Aku gak mau kayak gitu. Jika harus berjuang, maka kita akan berjuang bersama-sama. Kamu berjuang dengan caramu dan aku juga berjuang dengan caraku sendiri. Dokter spesialis itu sama bergengsinya dengan harta dan kekayaan. Cuma kami lebih kaya dibidang keilmuan daripada dibidang materi." Ella menjelaskan tentang idealismenya.


"Tapi mama tidak akan berpikir seperti itu... Mama akan berpikir bahwa kamu sengaja menantangnya. Bahwa kamu sengaja mengambil spesialis sebagai declarasi perang. Declarasi terbuka bahwa kamu tak akan melepaskan profesimu." Ardi mencoba memberikan sudut pandang yang sekiranya dipikirkan oleh mamanya. Pikiran mamanya itu begitu simple, tipikal pikiran ibu-ibu konglomerat asia yang masih kolot dan terlalu terikat dengan berbagai aturan kuno yang tidak penting.


"Harus kuakui memang aku juga punya niat kayak gitu. Kuakui aku memang jahat, aku gadis egois dan tamak. Aku memang mencintaimu, mas. Aku juga tak mau kehilanganmu, tapi dilain sisi aku juga sangat mencintai profesiku ini. Dan aku juga tak akan sanggup untuk melepaskannya begitu saja." Suara Ella sedikit bergetar demi menyuarakan isi hatinya yang telah lama dipendamnya.


"Jadi maksudmu kita harus menunda sampai kamu berhasil mendapatkan gelarmu? Tiga tahun lagi?" Ardi bertanya dengan nada pilu. Apakah Ella benar-benar tidak ingin secepatnya untuk bersatu dengannya? menghabiskan sisa hidup bersamanya? Berdua salamanya dalam suka dan duka.


"Kemungkinan terburuknya si begitu. Tapi misal ditengah jalan mama mas Ardi sudah bisa menerimaku ya akan lebih baik. Aku bukannya ingin menunda-nunda hubungan kita, tapi aku realistik saja. Mungkin saat ini aku memang belum pantas bersanding denganmu. Tapi aku juga ingin untuk memperjuangkannya. Dan kalaupun nantinya gagal, aku tak akan menyesal karena aku sudah berjuang mati-matian untuk itu." Ella bersih keras mempertahankan idealismenya.


"Apa menurutmu aku dan keluargaku sanggup menunggumu selama itu?" ujar Ardi semakin frustasi saja mendengar jawaban Ella.


"Aku sama sekali tidak meminta kalian untuk menungguku. Aku hanya membutuhkan waktu untuk membuktikan diriku sendiri. Jika kalian tak sanggup menungguku dan menemukan penggantiku, maka aku pun tak akan dapat menolak atau keberatan dengan keputusan kalian."


Ardi terdiam kali ini, dia tahu benar Ella juga mencintai profesinya itu. Menyuruh gadis itu untuk melepaskan profesinya ini sama saja dengan menyuruhnya membuang separuh hidupnya sendiri. Sekali lagi pembicaraan mereka menemui jalan buntu.


"Masa kita harus melewati batasan itu?" celetuk Ardi makin pusing dengan pembicaraan mereka yang semakin runyam.


"Melewati batas bagaimana?"


"Gila! Mikir apa sih, mas Ardi ini?" Ella langsung memprotes keras.


"Kalau kita punya anak kan mau tidak mau orang tua kita juga akan mengakui ikatan di antara kita." Ardi mengutarakan ide gilanya.


"Please mas. Jangan sekali-kali mikir jalan pintas kayak gitu. Terlalu mengerikan!" Ella masih ingat benar akan cerita Jillia tentang kesalahan fatal yang diperbuatnya karena memaksakan hubungan dengan pacarnya. Memaksakan hamil diluar nikah agar dapat diterima oleh keluaga mereka. Tapi apa yang mereka dapatkan pada akhirnya? Tak ada yang lain selain penderitaan yang lebih dalam lagi. Mereka malah semakin terusir dan terbuang oleh keluarga mereka.


Ella dan Ardi yang sama-sama sangat mencintai keluarganya pasti tak akan sanggup untuk melakukan hal itu. Keduanya tak akan sanggup untuk mempermalukan nama keluarga mereka. Mencoreng dan menodai nama baik keluarga mereka. Serta tak sanggup pula untuk pergi begitu saja meninggalkan keluarga mereka dengan tidak bertanggung jawab.


"Aku tahu, aku juga tak ingin mengambil jalan pintas itu sebisanya. Terlalu besar resiko dan dosa yang harus kita tanggung jika melakukan perbuatan hina itu. Terutama aku pribadi, aku mungkin tak akan bisa untuk memaafkan diriku sendiri yang tak bisa menjagamu dengan baik. Sampai aku mengikrarkan ijab qobul pada papamu untuk memintamu menjadi isteriku"


"Jangan memulai sesuatu kebaikan dengan niat yang salah. Jika kita memang ingin bersatu dalam suatu ikatan yang suci mari kita berjuang dengan cara yang baik dan benar. Jangan sekali-kali mengotori niat suci kita dengan perbuatan dosa yang hina." Ella menimpali diskusi serius mereka. Tidak suka dengan ide gila Ardi.


"Kau benar, mungkin kepalaku masih pusing jadi tidak bisa berpikir dengan rasional." Ardi memejamkan kedua matanya, menekan tulang pelipis diantara kedua matanya keras-keras.

__ADS_1


"Maaf ya El, jangan hiraukan pembicaraan gilaku malam ini." Rasa sakit yang menusuk, serta sensasi rasa pusing dan berputar-putar yang amat sangat kembali menyerangnya. Membuat Ardi sedikit mendesah pelan menahan sakit di kepalanya.


"Angin disini cukup besar. Kita kembali ke kamar saja yuk. Kayaknya mas Ardi masih butuh banyak istirahat." Ella sedikit khawatir dengan keadaan Ardi yang terlihat sangat kesakitan.


Mungkinkah sakit kepala, pusing dan vertigo Ardi kambuh lagi? Ella buru-buru bangkit dari kursi duduknya, beranjak menghampiri, membantu Ardi untuk bangkit pula dari kursinya pelan-pelan.


"Kita balik ke kamar ya, mas." Ella membantu memapah Ardi berjalan kembali ke kamarnya. Mendudukkan pria itu di ranjangnya dan menata bantal serta selimutnya menutupi kaki sampai dadanya.


"Minum obat dulu ya," dengan cekatan Ella mengambil dan menyodorkan obat yang ada di meja sebelah ranjang. Diambilnya pula segelas air putih yang telah siap di meja itu juga.


"Berbaring dulu dan tidur aja. Jangan dipake mikir macam-macam biar gak tambah pusing. Besok total bed rest lagi ya, no work dan no keluar kamar." Ella memberikan beberapa instruksi pada Ardi untuk beristirahat. Membantu pria itu berbaring di ranjangnya dengan perlahan.


"Ok..." jawab Ardi menurut saja. Masih terlalu pusing dan sakit kepala untuk berkata kata.


"Good night and get well soon." Ella tersenyum, memberikan kecupan ringan di kening Ardi sebagai ucapan selamat tidurnya.


"Maaf ya, El. Aku ngerepotin kamu terus." Ardi merasa sangat bersalah pada Ella.


merasa bersalah karena dirinya telah merusak suasana makan malam romantis mereka. Merusaknya dengan pembicaraan yang tidak menyenangkan dan menyesakkan jiwa. Merusaknya lagi dengan kondisi tubuhnya yang entah mengapa jadi selemah ini.


Ardi sendiri sampai heran dengan keadaan tubuhnya. Biasanya dipakai istirahat seharian juga udah sembuh. Kenapa kok sekarang gak sembuh-sembuh kayak gini. Sepertinya Ella benar, aku harus benar-benar fokus istirahat dan memperbaiki pola makan agar biasa cepat sembuh, pikir Ardi.


"Duh kayak ngomong ke siapa aja," Ella tersenyum geli, merasa gemas mendengar ucapan Ardi.


"No problems. Kan biasanya aku yang selalu ngerepotin mas Ardi. Sekali-kali mas Ardi ngerepotin aku kayak gini gak masalah kok. Penyakit vertigo mas Ardi masih cukup ringan kok, dengan pengobatan rutin dan istirahat yang cukup pasti bisa cepet sembuh. Dan yang perlu diingat jangan bergerak atau bangkit tiba-tiba." Ella memberikan advice panjang lebar sebagai seorang dokter pada pasiennya.


"Baik dok..." ujar Ardi pasrah saja.


"Aku pulang dulu ya, mas." Pamit Ella sebelum undur diri dari kamar Ardi.


Ardi hanya mengangguk menjawabnya, berusaha menutup matanya dan tertidur untuk sedikit meredakan sakit kepalanya...


Ella keluar dari kamar Ardi, berjalan ke dapur untuk pamit pada Ijah. Ijah memberikan sisa kue yang sudah dibungkusnya dengan rapi. Kemudian Ijah juga memanggil Bambang untuk mengantarkan Ella pulang ke kontrakannya. Tak lupa Ella memerintahkan Ijah untuk sedikit merubah dan memperbaiki menu makanan Ardi menjadi menu yang lebih sehat dan bergizi. Menu makanan yang cocok untuk pasien dengan hypotensi dan vertigo.

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼


__ADS_2