
Akhirnya hari yang dinanti-nantikan oleh Ella datang juga. Hari dimana dirinya nanti akan resmi dilantik dan disumpah profesi sebagai seorang dokter spesialis penyakit dalam. Hari dimana impian dan cita-citanya terwujud. Segala usaha dan kerja kerasnya selama tiga tahun belakangan seakan terbayar lunas sudah hari ini.
Pagi-pagi sekali pihak MUA bookingan Laras sudah hadir di rumah Ella. Dan pagi-pagi itu pula Ella sudah dirias cantik untuk persiapan acara prosesi penyumpahannya. Make up minimalis dengan nuansa nude brown dan peach menjadi pilihan Ella.
Sementara untuk hairdo Ella hanya memilih sanggul minimalis modern yang dipadukan dengan bunga mawar segar berwarna peach, orange dan putih. Pilihan hardo yang sesuai karena rambutnya yang pendek. Biar tidak terlalu banyak memakai rambut palsunya. Kan berat rasanya di kepala.
Terakhir Setelah make up dan hairdo selesai, Ella memakai outfit kebaya pilihannya. Pilihan yang juga disetujui oleh Ardi untuk dipakainya di hari spesial ini. Outfit yang dibelikan oleh Ardi...Rasanya tambah spesial saja nilai kebaya ini bagi Ella.
Kebaya berbahan sutra yang tipis berwarna krem dengan hiasan embordier bunga-bunga berwarna coklat yang besar dan indah di sepanjang pinggiran kebaya. Untuk pelengkap bagian bawah, Ella mengenakan jarik batik dengan motif parang melingkari tubuh bagian bawahnya. Simple but elegant too. Penampilan yang membuat Ella terlihat layaknya putri kerajaan jawa kuno.
Tepat pukul delapan pagi saat Ella sudah cantik dan bersiap-siap untuk berangkat ke kampusnya, seorang kurir datang. Kurir itu membawakan sebuah buket bunga mawar segar berwarna peach yang sangat indah untuk Ella.
Mawar berwarna peach yang kerap diartikan sebagai lambang kesetiaan, persahabatan, dan kekeluargaan. Selain itu mawar berwarna peach kerap digunakannya untuk acara keluarga atau diberikan ke teman saat acara kelulusan sebagi penyemangat untuk terus berjuang dengan gelar barunya.
Ella menerima buket bunga itu dengan keheranan. Dari siapa? Masa si dari Ardi? Bukannya Ella sudah bilang untuk tidak memberi buket bunga? Bukannya Ella sudah mengatakan mendingan bunga bank aja? Kok masih ngotot kirim bunga mawar segar yang nanti akan berakhir di sampah?
Ella mengambil sebuah surat yang terselip di diantara bunga-bunga segar itu dan dibacanya.
Halo gadis cantikku,
Gimana kabarmu hari ini?
Luar biasa kan?
Selamat ya akhirnya menetas juga gelar Sp.Pd-nya
Perjuangan dengan segala peluh keringat
dan cucuran air mata terbayar sudah.
Aku bangga sama kamu, Ella-ku sayang.
Kamu keren, kamu hebat dan tangguh.
Semoga ilmu yang kamu dapatkan dapat
memberikan manfaat bagi kemanusiaan.
Yang selalu mendukung dan mencintaimu
Roni
__ADS_1
Mata Ella terbelalak demi membaca surat itu. Roni? Roni yang mengirimkan buket bunga dan tulisan semanis ini padanya? Tapi kenapa harus lewat kurir? Apa Roni tidak bisa menghadiri acara penyumpahan hari ini? Apa Roni tak bisa memberikan bunganya sendiri? Apa Roni bahkan tak bisa menyelamati dirinya secara langsung?
Tak lama kemudian ponsel Ella berbunyi dan Ella mendapati Roni yang menelponnya. Langsung saja Ella mengangkat panggilan telpon itu. Penasaran dengan apa yang akan dikatakan Roni.
"Halo Ella...Selamat ya...Akhirnya sah Sp.Pd..." Roni langsung memberondong dengan ucapan selamatnya.
"Makasih ya, Ron." Ella menjawab. "Makasih juga buat buket bunganya. Gaya bener sok sokan romantis dan puitis."
"Hehehe kamu suka?"
"Iya bagus. Tapi kenapa dikirim pake kurir? Kamu? Kamu dimana sekarang? Jangan-jangan kamu gak bisa datang acara penyumpahan ini?" Ella bertanya curiga dengan tingkah aneh Roni.
"Maaf ya, El. Aku...aku masih dalam perjalanan sekarang. Baru sampai di tol daerah ngawi. Yah semoga saja nanti nutut ke acara di kampus."
"Ngawi?...Masih jauh banget itu, Ron. Kenapa gak kemarin malam saja kamu pulang? Kan pagi sudah bisa ada di Surabaya?" Ella memperotes Roni.
"Iya kemarin rencana begitu. Tapi ada sesuatu yang terjadi, Sari gak bisa ditinggal sendirian disana kemarin malam. Jadi aku baru bisa pergi tadi pagi." Roni memberi alasan dengan nada merasa bersalah.
Deg. Sari lagi? Kenapa Roni lebih mementingkan Sari daripada dirinya? Apa yang sebenarnya terjadi di Jogja? Apakah Roni sekarang mencintai Sari? Sehingga Roni bahkan lebih memilih menemani Sari daripada mendatangi acara penyumpahannya?
Mau tak mau ada rasa kecewa juga yang menghampiri Ella. Bagaimana pun Roni, selain kedua orang tuanya adalah orang yang paling berjasa baginya dalam menyelesaikan study nya di prodi penyakit dalam ini. Roni yang paling banyak andil dalam membantunya. Dan pria itu layak mendapatkan ucapan terima kasih tak terkira dari Ella di hari kelulusannya ini.
"Sari kenapa, Ron? Kalian sebenarnya ngapain si ke Jogja berdua selama beberapa hari?" Ella bertanya frustasi karena tak dapat menebak apa yang sedang terjadi disana.
"Yaudah aku nyetir dulu ya. Kalau gak nutut atau aku sampai disana kesiangan nanti langsung kuhampiri ke rumahmu saja."
"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut." Ella mengakhiri panggilan telpon mereka. Kemudian mengembalikan ponselnya ke clutch bag yang ditentengnya. Dia juga membawa masuk dan meletakkan buket bunganya di vas yang terdapat di ruang tamu.
"El? Udah siap?" Bowo memastikan persiapan Ella sebelum mengeluarkan mobil dari garasi.
"Iya pa, sudah." Ella ikut menjawab sambil keluar rumah, diikuti Lilik yang telah mengunci pintu rumah mereka sebelumnya. Lilik juga sudah berdandan cantik dengan kebaya bruklatnya, serta touch up dari MUA tadi.
Mereka bertiga pun akhirnya melaju membelah aspal menuju ke gedung serba guna di kampus A Uner Fakultas Kedokteran.
"El, siapa yang telpon tadi? Buket bunga tadi juga dari siapa?" Lilik bertanya kepo. Karena ekspresi wajah Ella tak tampak bahagia setelah menerima telpon tadi.
"Roni," jawab Ella singkat sambil membalas pesan-pesan dan ucapan-ucapan selamat dari teman-temannya di ponsel.
"Roni? Yang ngirim bunga juga Roni?" Lilik bertanya semakin penasaran. Bukannya Roni itu juga kuliah di kampus yang sama? Ngapain nganter buket dengan kurir? Ngapain pula telpon gak nyamperin langsung.
"Roni kayaknya gak bisa datang nanti."
__ADS_1
"Haah? Bukannya dia masih pacar kamu ya? Kok gitu si dia? Masa gak datang di hari penting kamu?" Lilik ikutan memprotes.
"Masih on the way katanya. Diusahain datang tadi bilangnya. Tapi kayaknya si gak bakal nutut juga."
"Gak pa-pa yang penting kan ada papa sama mama yang nemenin kamu prosesi nanti." Bowo mencoba membesarkan hati putrinya.
"Iya donk. Yang penting ada mama papa saja udah cukup buat Ella. Makasih ya atas segalanya ma, pa. Kalian the best parent pokonya." Ella mengungkapkan rasa syukurnya karena memiliki orang tua yang baik dan selalu mendukungnya.
Kedua orang tua Ella pun tersenyum bahagia mendengar ucapan putri semata wayang mereka. Sangat bangga memiliki putri yang cerdas dan berprestasi serta dapat membanggakan kedua orang tuanya seperti Ella.
Tak lama kemudian mereka bertiga telah sampai di wilayah kampus, memarkir mobil dan berjalan beriringan ke arah gedung serba guna.
Halaman gedung serba guna kampus A Uner sudah padat dipenuhi orang saat Ella dan kedua orang tuanya tiba disana. Mereka adalah para keluarga dan kerabat dari para dokter-dokter spesialis penyakit dalam yang akan dilantik di dalam ruangan.
Ella, papa dan mamanya langsung memasuki gedung dan menempati tempat sesuai yang telah ditetapkan bagi mereka
Ella mengambil duduk di barisan terdepan bersama dengan ke sepuluh rekannya dokter spesialisnya yang akan menjalani prosesi penyumpahan hari ini. Sementara Bowo dan Lilik dipersilahkan duduk di barisan orang tua dan wali yang sedikit lebih ke belakang.
Acara ini sangat sakral dan hanya dihadiri oleh sedikit orang. Hanya dua orang dari masing-masing keluarga dokter yang melakukan penyumpahan yang dapat masuk ke dalam gedung dan mengikuti prosesi. Selebihnya adalah para jajaran pejabat kampus, dosen dan guru besar, petugas upacara, mahasiswa paduan suara serta para panitia yang bertugas memastikan acara berjalan dengan baik.
Sementara tamu lain yang tidak berkepentingan dipersilahkan menunggu dan mengikuti jalannya prosesi di luar gedung. Di luar gedung sudah disediakan beberapa layar besar yang menampilkan siaran langsung berjalannya acara prosesi penyumpahan. Dari layar itulah para kerabat dokter dapat melihat secara langsung berjalannya prosesi di dalam gedung.
Tak beberapa lama kemudian acara prosesi pengambilan sumpah dokter spesialis segera dimulai. Ella mengikuti setiap susunan acara dengan hati berdebar penuh haru dan kebanggaan tersendiri di dalam dadanya. Bangga karena akhirnya dirinya berhasil mewujudkan cita-citanya. Bangga pula karena berhasil mempersembahkan gelar spesialis itu untuk membanggakan kedua orang tuanya.
Beberapa lama kemudian sampailah mereka pada acara utama prosesi penyumpahan. Satu persatu nama dokter spesialis penyakit dalam yang baru, dipanggil untuk maju ke tengah ruangan, termasuk Ella. Nama, gelar, tanggal lahir, nama orang tua, serta daerah asal mereka pun disebutkan juga satu persatu sebagai tanda kehormatan.
Setelahnya bersama sembilan dokter lainnya berdiri dan berjajar rapi di tengah ruangan. Menantikan acara pelantikan, pengukuhan gelar serta pengambilan janji profesi dan sumpah dokter mereka yang akan mereka ikrarkan.
Sang pembawa acara meminta hadirin yang hadir baik di dalam gedung maupun di luar gedung untuk berdiri sebagai bentuk penghormatan. Kemudian bersama-sama seluruh hadirin menyanyikan lagu kebangsaan. Lagu indonesia raya pun akhirnya mengalun merdu, menggema dengan khidmatnya dinyanyikan bersama-sama.
Selanjutnya hadirin dipersilahkan duduk kembali, sementara Ella dan kesembilan rekan dokter spesialisnya masih berdiri di tengah ruangan. Menantikan kelanjutan prosesi penyumpahan mereka dengan perasaan semakin terharu.
Sang pembawa acara kemudian mempersilahkan dan memperkenalkan perwakilan dari dokter untuk membacakan sumpah mereka yang akan diikuti oleh rekan-rekannya. dr. Kurniyanto Widodo, Sp.Pd adalah nama yang disebutkan.
Satu perwakilan dokter yang akan mengikrarkan sumpah maju beberapa langkah kedepan meninggalkan barisannya, mendekati microphone. dr. Yanto berjalan dengan elegan dan gagahnya dalam balutan setelan jas hitam resminya.
Beberapa pemuka agama dari berbagai agama yang dianut oleh dokter peserta sumpah menghampiri barisan. Mengambil posisi dan menyodorkan kitab suci yang akan menjadi saksi sumpah suci para dokter itu.
Kemudian suasana berubah menjadi sunyi dan sakral saat dr.Yanto dengan lantangnya menyuarakan ikrar sumpahnya yang diikuti oleh seluruh rekannya yang berdiri dibelakangnya.
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼