Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
186. S2. Sari & Jun (2)


__ADS_3

Inikah akhir cerita cinta


Yang selalu aku banggakan


Biarkan kini ku berdiri, Melawan waktuku


Untuk melupakanmu, Walau sakit hatiku


Namun aku bertahan


Kini harus aku lewati, Sepi hariku


Tanpa dirimu lagi


Biarkan kini ku berdiri tanpamu


Tanpa kehadiran dirimu


Namun aku bertahan


_Akhir cerita cinta - Glenn Fredly_


___________________________________


Pagi itu setelah sarapan nasi gudeg dan pembicaraan yang sedikit alot serta menguras emosi dan air mata, akhirnya Sari memutuskan untuk dapat merelakan dan melepaskan Jun. Sari akhirnya memutuskan untuk menuruti saja apa permintaan Jun, mengakhiri hubungan mereka berdua.


Mungkin memang hal itu adalah keputusan terbaik bagi mereka saat ini. Sari juga sadar benar akan hal ini. Jadi dirinya bertekad akan mengakhiri semuanya dengan indah, sebisanya tak ada air mata. Agar Jun tidak kepikiran lagi tentang dirinya dan dapat berkonsentrasi dalam penyembuhannya.


Selanjutnya Sari akan segera meninggalkan kota Jogja ini. Kembali ke kehidupan aslinya, di Surabaya. Memang tak ada gunanya berlama-lama di Jogja sementara segala sesuatunya terbengkalai di Surabaya. Segala pekerjaan, tanggung jawab, keluarga, dan kehidupan yang masih panjang membentang menantinya di Jawa Timur.


Setelah segala persiapan serta rencana akan jadwal dan tujuan wisata mereka, Roni dan Sari kembali melaju dalam mobil menuju ke rumah Jun. Jadwal pertama hari ini adalah menjenguk Jun sekalian pamitan. Selanjutnya perayaan patah hati mereka berdua dan besok rencananya mereka berdua akan pulang kembali ke Surabaya pagi-pagi.


Roni menekan bel rumah nenek Jun, dan tante Jun yang sekali lagi membukakan pintu untuk mereka. Mempersilahkan mereka berdua masuk. Bahkan mengijinkan mereka berdua langsung saja masuk untuk ke kamar Jun.


Sari mendahului Roni berjalan, menunjukkan arah ke kamar Jun. Sari sudah hafal denah rumah ini karena gadis itu sudah sering ke rumah ini sejak terakhir Roni kesini bersamanya. Sari bahkan sudah dianggap sebagai keluarga sendiri oleh keluarga Jun di Jogja ini.


Di dalam Kamar, Roni dapat melihat Jun yang sedang duduk diatas ranjangnya sambil bersandar di sandaran ranjang. Dengan bunda Nia yang sepertinya sedang menyuapi putranya itu. Wajah Jun terlihat jauh lebih pucat dan lemah hari ini. Sepertinya keadaan Jun sedang turun, tidak sebaik terakhir kali Roni melihatnya. Wajah dan penampilan pasien kanker stadium IV yang mengkhawatirkan.


"Selamat pagi," Sari menyapa Jun dan bundanya.


"Selamat pagi...Oh Sari, Roni? Mari masuk." Nia menjawab dan mempersilahkan tamunya masuk.


"Udah, bun..." ujar Jun lemah. Menutupkan telapak tangannya di mulut untuk mencegah dirinya memuntahkan kembali makanan yang baru masuk ke tubuhnya dengan susah payah.


Nia mengangguk pasrah, tidak memaksakan lagi putranya untuk makan. Tak tega melihat putranya yang terlihat tidak nyaman dan ingin muntah. Disodorkannya beberapa helai tisue untuk Jun agar bisa membantu menahan dorongan muntahnya.


Nia beralih dari tempat duduknya di samping ranjang dan berjalan mendekati kedua tamunya. Membawa pergi semangkok bubur ayam yang sepertinya cuma dimakan beberapa sendok saja oleh Jun.


"Kemarin Jun habis kemoterapi. Kayaknya efek sampingnya masih sangat terasa. Dia jadi kehilangan nafsu makan, mual dan muntah terus, serta merasa lelah dan lemah sepanjang hari." Nia menjelaskan keadaan Jun pada Roni dan Sari.


"Bunda tinggal ke belakang dulu ya," Nia pamit meninggalkan ketiganya di dalam kamar. Memberi kesempatan untuk mengobrol.


Sari mendekat ke arah Jun dan mengambil duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Nia. Semakin hancur hatinya melihat keadaan Jun. Tak tega melihat keadaan Jun, bahkan mungkin seolah dapat merasakan sakit yang dirasakan oleh kekasihnya itu. Rasa sakit yang mungkin lebih hebat daripada yang dapat terbayangkan olehnya.

__ADS_1


Sari kemarin mendampingi Jun seharian di rumah sakit untuk menjalani kemoterapi. Melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana perjuangan Jun dalam melawan penyakit mematikan itu.


Batin Sari serasa meronta-ronta melihat pria itu kesakitan disetiap tetes obat yang dimasukkan ke dalam tubuhnya. Selama berjam-jam Jun menderita seiring proses terapi itu. Tapi kemarin sore keadaannya sudah stabil sehingga diijinkan pulang dari rumah sakit paska kemoterapi. Lalu sekarang kenapa bisa tiba-tiba nge-drop kayak gini?


Sementara itu Roni berdiri saja di belakang Sari. Hanya bisa memandang tak tega melihat keadaan Jun yang sangat lemah pagi ini. Dapat dilihatnya Sari sudah terlihat berkaca-kaca di kedua belah matanya, mana tega coba.


"Gimana keadaanmu?..." Roni bertanya prihatin. Terlalu bingung untuk bertanya topik lainnya diluar keadaan Jun. Walaupun sebagai dokter Roni dapat menilai sendiri betapa 'jelek'-nya keadaan temannya itu saat ini dengan hanya melihat sesaat.


"Sekarat..." jawab Jun berusaha tersenyum.


"Kamu ngomong apa sih?" Sari memprotes sambil berusaha sekuatnya menahan butiran bening untuk menetes di sudut matanya.


Memang dapat dilihatnya keadaan Jun semakin buruk, memang benar pria itu sedang sekarat. Tapi tetap saja, Sari tak ingin mendengar ucapan itu dari mulut Jun sendiri. Seakan pria itu sudah pasrah dan menyerah saja akan keadaannya. Seakan sudah tak ada semangat hidup lagi.


"Jangan cengeng Jun, kamu ini kuat. Masa kalah sama sel kanker yang ukurannya kecil. Ayo kalahkan sel-sel kanker jahat dalam tubuhmu." Roni berusaha menguatkan Jun dengan nada seriang mungkin.


Jun hanya tersenyum pahit mendengar perkataan Roni. Kuat apanya? Sekujur tubuhnya rasanya sudah remuk dan babak belur saat ini. Sakit semua secara merata seluruh tubuh sampai Jun pun tak tahu bagian mana yang lebih sakit dari yang lainnya.


"Ngapain kalian kesini?" tanya Jun keheranan melihat Sari dan Roni yang masih ada di kota ini. Terutama Sari, kenapa gadis ini begitu keras kepala. Padahal Jun sudah berkali-kali memintanya pergi. Baik dengan cara halus maupun kasar, Jun sudah berkali-kali mengusir Sari untuk menjauh darinya. Untuk melepaskan dan mengikhlaskan dirinya.


"Sari ingin melihat keadaanmu." Roni menjawab.


Kemudian Roni pamit dan beranjak pergi dari tempatnya berdiri, meninggalkan kamar itu. Tak ingin menjadi orang ketiga disana, sekaligus untuk memberikan kesempatan keduanya saling bicara.


Tinggallah sekarang Sari dan Jun berduaan saja. Sari masih berusaha, bertekad menahan air matanya agar tidak lolos di sudut matanya. Aku harus kuat, aku gak ingin terlihat menyedihkan di depan Jun. Tak ingin menambah beban perasaan Jun dengan kesedihan dirinya.


Mereka berdua saling berhadapan dan memandang untuk beberapa saat lamanya. Berpandangan dalam diam dan senyum yang dipaksakan terkembang. Dengan segala emosi yang mengharu biru berkecamuk di dalam dada mereka masing-masing, yang berusaha sekuat tenaga ditekan dan diredakan agar tidak meledak.


"Please, Sar...let me go..." ujar Jun setengah memohon. Memohon sekali lagi pada gadis itu agar merelakan dirinya dan mengakhiri hubungan cinta antara mereka berdua.


(*Tolong Sar...ijinkan aku pergi...)


Jun tak ingin Sari semakin menderita untuk berada disisinya. Melihatnya kesakitan dan sekarat begini. Melihatnya yang bisa pergi meninggalkan dunia ini sewaktu-waktu. Karena jujur saja Jun juga merasa sudah tak sanggup lagi untuk pura-pura kuat menahan segala kesakitan di sekujur tubuhnya. Rasanya seluruh tenaganya sudah terkuras habis bahkan hanya untuk bernapas saja. Sudah diambang batas...


"Jadi beginilah akhir cerita cinta kita..." Sari tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Memang sejak di losmen tadi dirinya sudah bertekad untuk mengakhiri hubungan. Bertekad untuk menuruti permintaan Jun yang ingin berpisah.


Tapi nyatanya Sari masih sangat mencintai Jun. Dan melihat keadaan Jun yang semakin lemah begini tak mungkin dirinya sampai hati untuk meninggalkannya bukan? Sari malah semakin ingin menemani pria itu sampai akhir, sampai detak jantung terakhirnya.


"Terima kasih atas segalanya..."


"Aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu, Jun. Kamu yang selalu sabar menghadapi segala sifat manja dan egoisku. Kamu yang selalu menemani dan menjagaku. Bahkan saat sakit pun kamu selalu saja menanyakan kabarku. Mengingatkan untuk menjaga kesehatanku." Sari teringat dengan pesan-pesan singkat Jun setiap harinya yang mengingatkan makan, mengingatkan istirahat, hal-hal remeh dan tidak romantis yang dilakukan pria itu untuknya.


"I love you... You're my first and endless love..." Jun mengungkapkan perasaan cintanya pada Sari.


(*Aku mencintaimu...Kamu adalah cinta pertama dan cinta terakhirku).


"Bagaimana kamu bisa mengusirku pergi setelah mengucapkan kata cinta begini...Kamu terlalu kejam." Semakin sesak rasanya dada Sari, semakin sulit pula untuk membendung air matanya.


"I love you too, Jun...I do love you..."


(*Aku mencintaimu jun...Sangat mencintaimu...)


"Berbahagialah..."

__ADS_1


"Mana bisa, aku gak sanggup..."


"Hidupmu masih panjang. Kamu harus bahagia..."


"Mana bisa aku bahagia tanpa dirimu?"


"Harus bisa. Karena kamu Sari-ku yang kuat."


"Kenapa...Kenapa harus begini? Kenapa kita harus berpisah dengan cara begini..."


Sari benar-benar frustasi dan tak rela rasanya. Bingung, tak berdaya dan putus asa. Haruskah dirinya menyalahkan takdir yang terasa begitu tak adil bagi mereka berdua? Haruskah menyalahkan semesta yang tak mengijinkan mereka hidup bersama? Mereka berdua masih sangat saling mencinta...kenapa harus berpisah...


"I'm sorry...Good bye..." Jun mengakhiri pembicaraan mereka dengan sebuah kata perpisahan.


Sari bangkit dari duduknya, berjalan ke arah Jun dan mengambil duduk di sebelah ranjangnya. Dipandangnya lekat-lekat wajah pria itu, sebelum akhirnya Sari mendekatkan wajahnya sendiri ke wajah Jun. Mencium lembut bibir pria itu sebagai salam perpisahan mereka.


"Good bye, Jun..." ujar Sari setelah melepaskan tautan bibir mereka berdua. Berat, berat sekali rasanya kata ini untuk terucap dari bibir Sari. Seakan kata-kata ini merupakan kata perpisahan mereka selamanya. Tak akan mungkin untuk berjumpa kembali...


Sari buru-buru bangkit dari ranjang Jun sampai tak sengaja menabrak kursi besi yang tadi didudukinya. Membuat kursi itu terjatuh dan menimbulkan suara berkelontangan yang keras.


Roni yang daritadi menunggu di depan kamar kaget mendengar suara keras dari kamar Jun. Saking khawatirnya Roni langsung menghambur masuk ke kamar tanpa pikir panjang lagi. Syukurlah tidak ada apa-apa yang terjadi disana, hanya sebuah kursi yang tergeletak dilantai saja.


"Pulanglah... Ron, tolong bawa Sari pulang. Jaga dia untukku." Pinta Jun pada Sari dan Roni sekaligus.


Baik Sari atau Roni sama sekali tak bergeming mendengarnya. Sari yang sejak tadi menahan tangisnya pun akhirnya jebol juga pertahanannya. Air mata gadis itu mengalir deras saja tanpa suara.


"Aku akan pulang...Aku akan pergi dari kota ini. Tapi, tapi kamu harus kuat. Kamu harus sembuh..." ujar Sari sambil membelakangi Jun, tak ingin jun melihatnya menangis. Sari berjalan perlahan dengan langkah gontai keluar kamar.


"Titip Sari, ya Ron..." pinta Jun pada Roni seakan sebagai permintaan terakhirnya.


Roni pun hanya mampu mengangguk menjawabnya. "Aku pergi...get well soon," pamit Roni sambil mendoakan kesembuhan Jun.


Roni buru-buru mencari sosok Sari, melihatnya terus melangkah ke arah mobilnya di luar. Roni mencari ibu Jun di dapur untuk berpamitan pulang. Meminta maaf juga untuk Sari yang sepertinya tidak sanggup untuk sekedar berpamitan pada beliau.


Nia memaklumi, dapat memahami bagaimana hancurnya perasaan Sari.


Selanjutnya Roni menghampiri Sari yang sudah duduk di dalam mobilnya sambil menangis sejadi-jadinya. Tangisan putus asa dan tak berdaya. Tangisan perpisahan yang memilukan...


Roni menjalankan mobilnya pergi dari kediaman Jun dalam diam. Memberikan kesempatan pada Sari untuk menangis sampai puas dan menata hatinya.


"It's Ok. Everything gonna be alright..." Roni mencoba untuk menghibur dan menyodorkan tisue mobilnya pada Sari.


~∆∆∆~


FYI (For Your Information)


*Kemoterapi merupakan salah satu jenis pengobatan untuk menghancurkan sel kanker yang berbahaya bagi tubuh. Cara kerjanya dengan menghambat pertumbuhan sel kanker yang berkembang dan membelah diri dengan cepat. Tergantung jenis dan stadium berapa kankernya.


*Kemoterapi juga dapat memengaruhi sel sehat yang secara normal membelah diri dengan cepat, misalnya sel pada kulit, usus, serta rambut. Kerusakan pada sel sehat itu yang dapat mengakibatkan efek samping.


*Efek samping yang bisa terjadi akibat kemoterapi antara lain ; Rambut rontok, Nyeri, Kehilangan nafsu makan, Mulut terasa asam atau pahit, Mual dan muntah, anemia. Kulit kering, Pendarahan dan mimisan, mudah infeksi, sulit tidur, depresi, stres, dan cemas. Rasa lelah dan lemah sepanjang hari. Konstipasi atau diare serta sariawan.


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss donk kasih KOMEN buat penyemangat author. 🌼

__ADS_1


__ADS_2