Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
112. S2 - Kondangan


__ADS_3

Sabtu malam minggu, hari ini adalah hari pernikahan Hendri. Ella akhirnya memutuskan untuk menuruti saran dari mamanya. Mengajak Roni untuk ikut ke pesta itu. Selain sebagai alibi kalau dirinya sudah punya pasangan juga bisa sebagai penolak pertanyaan-pertanyaan tidak menyenangkan yang mungkin akan diterimanya.


"Ron, sorry lo ya kamu jadi harus nemenin aku ke pesta kawinan mas Hendri." ujar Ella saat dirinya berjalan berdampingan dengan Roni dari parkiran mobil.


"Aku malah seneng kok. Akhirnya kamu mau ngajakin keluar duluan hehe," jawab Roni santai.


Memang benar sebelumnya Ella tak pernah sekalipun mengajaknya keluar duluan, kecuali urusan kampus dan perkuliahan. Biasanya Roni lah yang selalu berinsiatif untuk mengajak gadis itu keluar, yah walau kadang hanya untuk makan bersama.


"Jadi, gimana rencananya nanti?" Roni memastikan rencana Ella. Tak ingin terlalu berharap juga gadis itu berubah haluan dengan drastis untuk dapat menerimanya.


"Gimana apanya? Ya bilang aja kita pacaran." Ella menjawab dengan santainya.


"Wuih beneran ni? Perlu dirayain kalau gitu." Roni kegirangan mendengar jawaban Ella.


"Ih ada-ada aja kamu pake dirayain segala." Ella ikutan ketawa melihat tingkah Roni.


"Dua tahun lho, El. Aku udah nungguin kamu selama dua tahun ini tanpa kepastian. Sekarang akhirnya kamu sedikit ngasih harapan ya harus dirayain donk." Roni memberi alasan.


"Jadi beneran kamu udah mau nerima aku?" tanya Roni sekali lagi ingin memastikan perasaan Ella.


"Almost...one step closer..." jawab Ella berjalan cepat buru-buru mendahului langkah Roni agar tidak ditanya-tanya lagi.


Setelah bertarung dengan berbagai pergolakan batin selama beberapa hari akhirnya Ella ingin semakin mencoba mengenal Roni. Semakin mencoba membuka hatinya untuk Roni, mungkin kelak dirinya akan dapat menerima Roni sebagai cinta yang baru di hatinya.


"Maksudnya? Maksudnya gimana, El?" Roni masih tak dapat mengerti arti ucapan Ella. Tapi dilihatnya Ella sudah berjalan cepat, berusaha kabur darinya.


"Ella..." Roni gemas dan mengejar Ella juga. Walaupun langkah kaki Roni lebih lebar ternyata susah juga mengejar langkah cepat Ella.


"So let's have a party," Ella berhenti sejenak tepat di pintu masuk gedung tempat diselenggarakannya pesta pernikahan Hendri. Ella menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan untuk mengatasi kegrogiannya.


Gimana gak grogi kalau dirinya akan menghadapi para keluarga besarnya. Keluarga besar yang selalu resek dan kepo menanyakan tentang kehidupan pribadinya, percintaannya. Dan pertanyaan mereka biasanya selalu saja berakhir dengan Kapan nikah? Pertanyaan yang tak pernah bisa dijawab oleh Ella bahkan sampai saat ini.


Roni meraih sebelah tangan Ella dan menggenggamnya dengan lembut. Seolah dapat melihat kegelisahan Ella, pria itu ingin sedikit memberikan ketenangan dan semangat untuk Ella.


"Kamu bebas bilang apa aja tentang hubungan kita nanti, aku tak akan keberatan. Kamu bisa pakai aku sebagai alibi, alasan atau bahkan tameng untuk membuatmu kuat." Roni tersenyum lembut untuk menguatkan Ella. "Jangan gentar, ada aku di sampingmu."


"Makasih ya, Ron." Ella mempererat genggaman jemarinya ke jemari Roni. Berdua mereka berjalan beriringan memasuki gedung yang sudah disulap menjadi weding hall dengan dekorasi serba putih yang meriah ini.


Ella dan Roni langsung masuk, mengisi buku tamu dan gentong yang disediakan di depan gedung. Ella menyapa beberapa saudara sepupunya yang bertugas sebagai receiptionis. Bersalaman dan sesekali bercupika cupiki dengan mereka. Tak lupa juga mengenalkan Roni yang ikut menyapa dengan anggukan sopannya pada para wanita itu.


Mereka berdua melanjutkan memasuki hall dengan beriringan layaknya pasangan yang serasi. Melewati barisan wanita dan pria paruh baya, yang merupakan kerabat Ella. Para tante, om, pakde, budhe bahkan mama dan papanya berada disana. Berdiri sebagai among tamu yang bertugas menyambut para tamu yang hadir. Keberadaan mereka dapat mudah ditemui di depan pintu masuk ketika para tamu baru datang.

__ADS_1


Ella langsung menyapa dan bersalaman dengan para kerabatnya itu. Tak lupa dia juga mengenalkan Roni yang ikut bersalaman juga dengan sopan pada mereka. Mereka berhenti sejenak setelah bersalaman dengan kedua orang tua Ella.


"Eh nanti setelah salaman sama kedua mempelai langsung aja ke bagian keluarga di sayap kanan. Biar gak ngantri ambil makanannya," mama Ella memberikan info.


"Ok siap, ma." Jawab Ella sambil mengikuti arah yang ditunjuk oleh mamanya.


"Udah kalian masuk aja dulu, nikmati pesta dan hidangan yang disajikan." Papa Ella ikut memberi saran karena sudah terjadi kemacetan manusia di tempat mereka. Banyak yang sudah anteri untuk bersalaman di belakang Ella dan Roni.


"Yaudah kami duluan ya," Ella pamit dengan Roni yang hanya mengangguk sopan dan tersenyum ringan sebagai pamitnya juga.


Keduanya langsung menaiki podium pengantin, bersalaman dengan kedua orang tua Hendri yang menyambut Ella dan Roni dengan sumringah. Lalu melanjutkan ke tengah podium menghampiri kedua mempelai yang sedang berbahagia. Mas Hendri dan isterinya yang terlihat bagaikan raja dan ratu malam ini dalam balutan pakaian adat jawa bertema kecoklatan yang mereka kenakan.


"Selamat ya mas Hendri. Samawah untill jannah." Ella bersalaman dengan kakak sepupunya itu. Kemudian melanjutkan kepada sang pengantin wanita juga.


"Selamat ya mbak. Semoga langgeng sampai kakek nenek dan banyak keturunan." Ella juga menyalami sang pengantin wanita. Roni mengikuti saja apa yang dilakukan Ella di belakangnya.


"Makasih lho El. Semoga lekas nyusul deh kalian. Jangan lama-lama lho." Hendri menjawab ucapan selamat dari Ella.


"Iya doain aja deh," Ella menanggapi ucapan Hendri sementara Roni hanya senyam senyum saja tanpa berkomentar.


Selanjutnya mereka melanjutkan dengan beberapa kali sesi pemotretan bersama kedua mempelai sebelum pamit dan beranjak menyalami kedua orang tua mempelai wanita. Selanjutnya mereka menuruni podium dan langsung menuju ke bagian keluarga yang tadi ditunjukkan oleh mama Ella.


Sebagai kesopanan Ella mengajak Roni menyapa rombongan keluarga besarnya yang sudah berkumpul di salah satu sudut ruangan. Mereka berdua bersalaman dan beramah tamah dengan para kerabat Ella dari segala usia.


"Gak dikenalin sekalian ni pacar gantengnya, El?" Tante Susi ikutan menyeletuk setelah puas mengamati Roni juga.


"Iya kenalin semuanya, ini Roni pacar Ella." Ella mengenalkan Roni yang mengangguk sopan berusaha mengembangkan senyumannya walau agak canggung dengan perlakuan para tante Ella yang kepo ini.


"Nak Roni ini kerja dimana?" Kali ini budhe Umi yang ikutan bertanya pada Roni.


"Saya masih freelance kerjanya bu," jawab Roni sedikit merendah. Bingung juga mau jawab apa, dibilang belum kerja juga seolah-olah dirinya pengangguran gak guna kan? Bisa makin heboh ini para tante ntar.


Duh salah langkah ni si Roni, batin Ella. Bisa-bisa makin ditindas kalau sekali aja kelihatan merendah dan tidak memuaskan bagi para tante dan budhe rempong ini. Harusnya sekalian aja disombongin biar mereka mingkem tak berkutik hehe. Biar gak terlalu lama proses interogasi menyebalkan ini. "Roni ini masih sekolah bareng sama Ella. Jadinya belum bisa bekerja full time." Ella ikut menambahkan keterangan Roni.


"Piye to? Jadi belum kerja? Masih sekolah?" Celetuk tante yang lainnya tak kalah kepo. Memang sebagian orang tidak dapat memahami tentang sekolah apa yang dilakukan untuk orang setua Roni.


"Sekolah bareng kamu, El?" tante Mira yang mengetahui maksud ucapan Ella menambahi.


"Iya tante. Roni satu kampus sama Ella cuma beda jurusan saja." Ella berusaha sabar menjelaskan tentang sekolah yang mereka jalani di usia mereka yang ketuaan untuk sekolah bagi sebagian besar orang.


"Owalah. Jadi gini lo, Ella ini kan kita tahu seorang dokter. Terus sekarang katanya lagi ngambil pendidikan dokter spesialis. Kalau nak Roni ini katanya sekolah bareng sama Ella ya berarti dia juga dokter dan sedang kuliah spesialis juga." Mira ikut membantu menjelaskan kepada saudara-saudaranya.

__ADS_1


"Owalah dokter to."


"Wes cocok podo doktere."


"Pinter ni Ella pilihnya, dapat dokter ganteng lagi." Berbagai tanggapan dan celetukan spontan dari budhe dan tantenya mau tak mau membuat Ella tersenyum masam. Duh dasar emak-emak rempong. Coba kalau pekerjaan Roni tidak memuaskan, pasti bakalan lebih pedes reaksinya.


"Ambil jurusan dokter spesialis apa nak Roni?" semakin kepo mereka menginterogasi.


"Jantung," jawab Roni singkat. Terlalu bingung dan canggung dikelilingi para wanita rempong yang menginterogasinya.


"Rumahnya dimana?"


"Malang."


"Kapan ni rencananya? Jok suwe-suwe lho cepetan, Ella juga sudah berumur kasian kalau nunggu kelamaan." Nah ini mulai menjurus kesana lagi kan pembicaraannya. Mulai tidak menyenangkan sepertinya. Dan tentu saja Roni tidak dapat menjawabnya.


"Iya gak baik buat wanita seusia Ella yang masih saja belum nikah-nikah juga," makin nyelekit aja rasanya omongan mereka.


"Doain aja deh, budhe, tante. Doain yang terbaik buat kita berdua." Ella berusaha menengahi, sudah sedikit kebal dengan omongan-omongan tidak menyenangkan tentang pernikahan. Ella mencoba memberi jawaban senetral mungkin yang tidak menimbulkan spekulasi.


"Udah dulu ya semuanya, Ella sama Roni mau makan dulu, udah laper banget." Tak ingin memperperpanjag pembicaraan menyebalkan ini, Ella segera pamitan dan mengajak Roni menjauh dari kerumuman keluarga besarnya. Yang pastinya akan lanjut menggosip setelah kepergian mereka berdua.


Roni merasa tidak senang juga dengan perlakuan para kerabat Ella tadi, tak mengira bahwa para wanita bisa sebegitu kejam dan teganya dalam mengomentari wanita lainnya. Apalagi mereka adalah kerabat dekat yang lebih tahu dan mengenal Ella. Bisa-bisanya mereka berujar tanpa empati seperti itu?


Sebagai pria Roni biasanya tak akan ambil pusing kalau ditanya masalah pernikahan. Memang masih wajar untuk pria berusia 27 tahun belum menikah. Tapi sebagai wanita Ella pasti lebih berdampak dengan ucapan-ucapan seperti ini. Karena di usia 27 tahun bagi wanita singgle sudah banyak yang mulai berpikran negatif tentang mereka.


Roni meraih sebelah tangan Ella dan menggenggamnya dengan erat namun lembut, berusaha memberikan kekuatan dan ketenangan pada gadis itu. Mereka berjalan beriringan ke booth makanan dan minuman.


"It's Ok El. You're doin great in your way...And I love the way you are." Ujar Roni saat mereka sudah menepi dan mengambil beberapa hidangan yang tersaji ke piring mereka.


"Thanx ya," jawab Ella singkat. Masih harus sedikit menata hatinya yang sedikit terusik.


"Kamu adalah wanita paling hebat yang pernah aku kenal, El. Kamu harus percaya diri, kamu beda dari wanita-wanita lainnya. Kamu jauh lebih bernilai daripada mereka yang hanya bisa berkomentar jahat." Roni menambahkan ucapannya untuk menghibur Ella yang terlihat muram.


"Gak pa-pa kok Ron. Makasih ya, Thanx for all you've done for me."


_______________________________


Jodoh, rejeki dan kematian itu sudah diatur dan tertulis sebagai takdir Tuhan yang tidak bisa kita ganggu gugat. Everyone have their own life track, jangan disama-samakan dan dibanding-bandingkan antara hidupmu dengan hidup orang lain.


Be wise dengan ucapan, bersimpati dan empatilah kepada sesama manusia. Ucapkalah kata-kata yang baik saja kepada siapa pun itu. Karena lidah memang tidak bertulang. Kita tak akan tahu bahwa mungkin ucapan kita akan sangat menyakitkan bagi orang lain.

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Tolong luangkan waktu klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan IKUTI author ya. Makasih 😘🌼


__ADS_2