
Setelah menyamakan jadwal dan kesibukan antara Ella dan Roni yang sedikit bentrok. Akhirnya hari ini mereka berdua bisa meluangkan waktunya untuk keluar kota bersama. Ke kota Malang, ngapain lagi coba kalau tidak untuk mengunjungi rumah Roni. Bersilaturahmi dan berkenalan dengan keluarga Roni disana.
Roni menjemput Ella di rumahnya pagi itu dan meminta ijin kepada kedua orang tua Ella. Tentu saja kedua orang tua Ella tidak keberatan untuk memberikan ijinnya. Apalagi papa Ella sendiri yang memberikan saran untuk membawa Ella ke Malang pada Roni.
Setelah segala persiapan, meminta ijin, dan membeli oleh-oleh selesai, berangkatlah mereka berdua menggunakan mobil honda CRV abu-abu Roni. Perjalanan cukup lancar dan menyenangkan dengan adanya jalan tol Surabaya-Malang. Tak ada lagi kemacetan yang menghadang mereka, kemacetan yang dapat merusak segala kesenangan dan mood untuk liburan.
"Ron, gimana nanti rencananya buat ngadepin ortumu? Kita ngaku sebagai apa?" tanya Ella sedikit gelisah. Dirinya grogi juga memikirkan bagaimana reaksi dan tanggapan keluarga Roni padanya nanti.
Entah mengapa masih ada sedikit rasa trauma yang membekas di dada Ella untuk menemui orang tua dari seorang pria yang dekat dengannya, menemui calon mertua. Setelah apa yang terjadi padanya di kediaman keluarga pradana, setelah pembicaraannya dengan mama Ardi. Entah mengapa Ella menjadi tidak tenang dan memiliki ketakutan tersendiri untuk menghadapi orang yang dinamakan calon mertua.
Ketakutan akan adanya penolakan kembali padanya. Ketakutan akan adanya tuntutan yang tidak bisa dipenuhinya. Serta ketakutan bahwa dirinya harus menyerah sekali lagi akan hubungan yang ingin dijalinnya dengan seorang pria. Karena tentu saja dirinya tak akan dapat memaksakan kelanjutan hubungan tanpa adanya restu dari kedua orang tua sang pria, restu dari calon mertua.
"Ya kamu tinggal ketemu aja, menyapa dengan sopan, senyam-senyum sama jawab pertanyaan yang ditanyain. Gitu doank kan?" jawab Roni santai.
Roni sedikit bingung juga dengan pertanyaan Ella. Apalagi saat diliriknya wajah Ella sepertinya terlihat gelisah. Bukankah Ella ini gadis yang sangat cerdas? Tentunya tak akan susah baginya untuk berkomunikasi dengan siapa saja. Kenapa bisa segelisah itu hanya untuk acara perkenalan tidak formal dengan kedua orang tuanya?
"Gimana kalau...Gimana kalau misalnya kedua orang tuamu gak suka sama aku? Gimana kalau mereka menolakku?" Ella mengutarakan uneg-uneg dan kekhawatirannya.
"Hahaha kamu mikir apa si? Kalau yang kayak kamu aja ditolak, mau yang kayak gimana lagi? Bisa jadi jomblo seumur hidup aku!" Roni menjawab pertanyaan Ella sambil tertawa. Lucu aja mendengar Ella dengan kekhawatirannya yang tidak beralasan.
Bagaimana mungkin orang tua Roni akan menolak gadis seperti Ella coba? Dari segi penampilan saja sudah jelas Ella adalah wanita yang sangat cantik dan menarik. Latar belakang keluarga bagus, sifat juga sejauh yang Roni kenal sangat baik. Ditambah lagi Ella ini seorang dokter yang sebentar lagi akan lulus menjadi dokter spesialis. Ella adalah calon menantu idaman setiap mertua kan? Nikmat tuhan mana lagi yang mau kamu dustakan coba?
"Hmmm... Yah semoga saja aku tidak akan mengecewakan dimata mereka." Ella masih terlihat khawatir dan sedikit tertekan.
Roni melirik ke arah Ella sekali lagi, dia merasakan adanya sedikit kejanggalan dari ekspresi gadis itu. Apa Ella trauma dan ketakutan akan sesuatu? Apa mungkin dulu Ardi pernah membawa Ella ke rumahnya di Banyu Harum? Apa Ella mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan saat berkunjung ke kediaman keluarga pradana?
Apakah Ella mendapatkan penolakan dari kedua orang tua Ardi? Apa keluarga sultan itu menghina dan merendahkan Ella?
Sial! Si brengsek itu ngapain aja coba? Kenapa Ardi tidak melindungi Ella waktu itu? Kenapa dia membiarkan Ella mendapat perlakuan begitu?
Separah apakah perlakuan dan penolakan yang didapatkan Ella dari keluarga Ardi? Sampai-sampai gadis ini terlihat sangat trauma hingga saat ini?
Roni jadi tersadar bahwa kandasnya hubungan Ella dan Ardi mungkin karena terhalang restu dari orang tua Ardi. Pantas saja baik Ella ataupun Ardi sendiri sangat susah untuk move on. Keduanya masih saling mencintai bahkan sampai saat ini. Hanya keadaan dan latar belakang mereka yang memaksa keduanya harus berpisah.
"Keluargaku itu keluarga normal, El. Sama aja kayak keluargamu dan keluarga lainnya. Kami bukan dari keluarga sultan ataupun konglomerat. Jadi santai aja, pasti gak bakal aneh-aneh kok." Roni menjelaskan tentang keadaan keluarganya.
Jauh di dalam lubuk hatinya Roni berharap Ella dapat lebih menerimanya setelah mengetahui sambutan keluarganya pada Ella nanti. Roni berani mamastikan bahwa orang tuanya tak akan menolak gadis sebaik dan sesempurna Ella sebagi pacarnya.
"Mama papamu bakal nanya apa aja ya kira-kira?"
__ADS_1
"Palingan nanya kamu bisa masak apa nggak. Khawatir putranya nanti gak dikasih makan sama kamu hehe," jawab Roni sambil bercanda.
"Waduh gawat. Bisa gak lulus seleksi ni. Apa lagi kalau ketahuan putranya bakal sering memakan masakan gosong dan keasinan." Jawaban pasrah Ella kali mampu membuat keduanya tertawa bersama.
Sebelum tengah hari mereka telah sampai di kawasan Ijen Boulevard yang asri. Beberapa rumah mewah berjajar di jalanan ini. Roni membelokan mobilnya memasuki halaman salah satu rumah mewah bergaya minimalis modern dengan nuansa warna coklat, dan memarkirnya di halaman luasnya.
Ella mengamati sejenak kediaman keluarga Suherman ini. Rumah yang terlihat bersih dan asri dengan taman yang berisi berbagai jenis bunga. Ella memang sudah dapat menebak kalau Roni berasal dari keluarga mampu dari mobil, penampilan dan kesehariannya yang tak pernah terlihat kesusahan soal uang. Wajar saja si mengingat keluarga Roni adalah keluarga dokter tiga generasi, pastinya mereka hidup berkecukupan.
Roni mengajak Ella turun dari mobilnya dan memasuki rumah. Seorang pembantu mempersilahkan keduanya masuk rumah dengan ramah.
"Mbak siti, mama dan papa ada?" tanya Roni.
"Ibu ada mas, tapi bapak lagi keluar. Saya panggilkan dulu ya," Siti pamit undur diri. Ella menyerahkan bungkusan oleh-oleh kepada Siti untuk dibawa masuk.
Roni menemani Ella duduk di ruang tamu sementara pembantu tadi masuk ke dalam rumah untuk memanggil sang tuan rumah. Tak lama kemudian muncullah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dalam usianya sekarang. Wanita itu tersenyum ramah menyambut Ella dan Roni.
Roni langsung berdiri dari duduknya dan langsung mencium tangan kanan mamanya, menyalaminya. "Ma, kenalin ini temen Roni. Ella." Roni memperkenalkan Ella pada mamanya.
"Ella, tante." Ella ikut menyalami tangan mama Roni dengan sopan.
"Selamat datang di kediaman kami. Ayo silahkan duduk, anggap aja rumah sendiri." Ida, mama Roni menyambut Ella dengan ramah. Sedikit heran juga tumben-tumbennya putranya membawa seorang wanita ke rumah. Pasti gadis ini lebih dari sekedar teman, batinnya.
"Masa si, ma? Perasaan belum sebulan Roni pulang?" Roni mengingat-ingat kapan terakhir dirinya mengunjungi kedua orang tuanya. Kok kayaknya belum lama dirinya pulang kampung.
"Udah hampir dua bulanan. Anisa dan Aisyah udah kangen berat sama om Oni nya."
"Hahaha aku juga udah kangen sama duo comel itu. Oiya Papa kemana, ma?"
"Nganterin si duo comel jalan-jalan ke taman. Paling bentar lagi juga udah pulang."
"Lho mereka ada disini? Mbak Zahreni sama mas Wildan nya kemana?" tanya Roni sedikit heran mengetahui kedua keponakannya ada rumah orang tuanya. Tetapi tidak ada Reni kakak perempuannya dan suaminya disini.
"Reni ada seminar di Hotel Haris sementara Wildan lagi ada perjalanan dinas keluar kota. Makanya duo comel itu dititipin disini," Ida menjelaskan.
Ella hanya tersenyum-senyum saja mendengar pembicaraan ibu dan anak yang terlihat sangat akrab itu. Roni sepertinya memiliki hubungan yang cukup dekat dan akrab dengan anggota keluarganya.
"Nak Ella ini rumahnya dimana? Kenal Roni darimana?" Ida penasaran dengan Ella, gadis yang dibawa oleh Roni. Sekilas terlihat gadis itu sangat cantik tapi juga terlihat cerdas. Pasti bukan cewek sembarangan ini yang bisa membuat Roni, putranya sampai membawanya ke rumah. Pasti Roni ingin serius berhubungan sama gadis ini.
"Saya asli Surabaya, te." Ella menjawab. "Kalau kenal Roni sudah sejak empat tahun yang lalu. Kami kebetulan satu tim interenship si Genting."
__ADS_1
"Ella ini sekarang juga lagi sekolah PPDS bareng aku, ma. Dia ambil prodi penyakit dalam." Roni ikut membantu memperkenalkan Ella.
"Oh sesama residen ya..." Ida mengambil kesimpulan. Fix ini cewek luar biasa. Dan lagi udah lama banget kenalnya dengan Roni. Pantesan saja putranya itu selalu saja mengelak saat ditanya soal pernikahan. Saat ditawari akan dikenalkan dengan berbagai macam gadis pun selalu menolak. Ternyata karena sudah ada Ella ini toh alasannya.
"Tapi jangan ditanyain bisa masak apa nggak lho, ma," celetuk Roni jahil sambil menggoda Ella yang langsung bermuka masam mendengarnya.
"Hahahaha nggak kok, santai saja. Jaman sekarang masak nomer sekian, udah banyak delivery order." Mama Roni tertawa melihat keakraban kedua anak muda dihadapannya. "Lagian gak makan sehari dua hari juga gak bakal mati kamu, Ron."
"Widih sadis si mama. Masak doain anak sendiri mati kelaparan," ujar Roni yang langsung disambut dengan tawa dari Ida dan Ella sekaligus.
Tak beberapa lama kemudian seorang pria paruh baya datang memasuki rumah. Pria itu menuntun dua gadis kecil lucu yang terlihat sangat mirip dengan pakaian gaun bermodel sama hanya beda warna. Gadis berbaju pink berumur empat sampai lima tahunan. Sedangkan yang berbaju kuning sedikit lebih besar setahun dari yang satunya. Bukan anak kembar ternyata setelah Ella amati baik-baik. Mereka pasti Papa Roni dan kedua keponakannya.
"Lho ada tamu ternyata," ujar Rizal, papa Roni saat menyadari ada orang asing di ruang tamu yang sedang ditemui isteri dan puteranya.
"Iya pa, kenalin ini Ella temen Roni." Roni berdiri menghampiri papanya dan mencium tangannya.
"Ella, Om." Ella ikutan berdiri, mencium tangan papa Roni sebagai sapaan perkenalannya.
"Om Oniiiiii...." Kedua gadis kecil tadi langsung berlari ke arah Roni dan memeluknya. Berebutan memeluk dan mencium pipi Omnya itu bergantian.
"Halo kesayangannya Om Oni tambah cantik aja ni." Sapa Roni kegirangan mendapat sambutan mesra dari kedua keponakan lucunya.
"Ayo kenalan sama tante Ella," Roni mengenalkan kedua gadis kecil itu pada Ella. "Yang pink ini Anisa dan yang kuning adalah Aisyah."
"Ayo Nisa, Aish, kasih salim sama tante Ella." Roni memerintahkan kedua keponakannya.
"Halo, Nisa, Aish, kenalin nama tante Ella." Ella berusaha mengenalkan diri pada kedua gadis itu. Kedua gadis itu dengan ragu-ragu mencium tangan Ella bergantian. Ella jadi gemas melihatnya, benar-benar didikan yang bagus ini.
"Tante Ella pacarnya Om Oni ya?" celetuk si kecil Nisa, aduh darimana coba kecil-kecil tahu istilah pacar. Kebanyakan nonton sinetron kayaknya ini.
"Berarti tante Ella nanti jadi manten sama Om Oni dan jadi tante kita." Aish sang kakak ikut menambahkan.
"Gak boleh! Om Oni kan nanti jadi manten sama Nisa." Sang Adik memperotes.
"Enggak! Om Oni nanti jadi manten sama Aish." Sang kakak ikutan tak mau kalah. Keduanya semakin berebut, bertengkar, dan beradu mulut untuk mendapatkan Om Oni-nya.
Lha pembicaraan apa ini coba? Ella mau tidak mau menjadi panik juga demi mendengar celotehan kedua gadis kecil itu. Kok tiba-tiba ngomongin manten coba? Masa iya mau membahas pernikahan di kunjungan pertama Ella ke rumah ini? Dan lagi kenapa pembicaraan ini dimulai oleh kedua gadis kecil ini dengan tanpa dosanya?
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Tolong luangkan waktu klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan IKUTI author ya. Makasih 😘🌼