
Hari ini Ella bertugas di UGD RS.Hartanto Medika. Karena Poli penyakit dalam di rumah sakit ini belum buka sambil menunggu perijinan yang belum kelar. Menunggu terbitnya STR miliknya yang masih diproses, jadi ya sementara dirinya masih belum memiliki SIP sebagai dokter spesialis.
Tak ada yang spesial sejak pagi untuk sift jaga Ella kali ini. Beberapa pasien gangren diabetikum, hypertensi, dan kecelakaan lalu lintas saja yang menjadi pasiennya. Membuat Ella lumayan santai untuk sift jaganya hari ini.
Namun kedamaian itu berkahir saat Sari menghampiri Ella di meja jaga UGD-nya dengan terburu-buru di siang hari. Sari kelihatan sangat cemas dan khawatir.
"El, ambulans udah datang?"
"Belum. Emang ada pasien gawat?" Ella penasaran juga mendengar kata ambulans. Apa ada pasien kecelakaan lalu lintas? Gawat darurat?
"Gawat si enggak. Tapi ini pasien VVIP."
"VVIP? Golongan sultan?" Ella semakin penasaran.
"Iya tuan muda Pradana sakit. Tadi pembantunya minta dikirimin ambulans ke kediamannya."
Hati Ella rasanya melorot beberapa centi meter mendengarnya. Tuan muda Pradana? Mas Ardi? Atau Linggar? Gak mungkin mas Ardi kan? Kemarin terakhir mereka bertemu dan berkencan kan masih sehat-sehat aja. Sampai terakhir berpisah dia naik taxi-nya juga baik-baik saja masih senyam-senyum.
Linggar? Masa Linggar yang sakit? Bisa sakit juga bocah tengil itu?
Dan benar saja tak berapa lama kemudian ambulans datang, beberapa perawat langsung menyambut dan membawa tubuh pasien itu masuk ke dalam UGD. Ella dan Sari segera begegas menghampiri pasien yang sudah dipindahkan ke bed perawatan. Dan benar saja Ella dan Sari mendapati sosok yang sudah sangat mereka kenal terbaring disana, Linggar.
Tubuh Linggar terlihat sangat pucat dan banyak berkeringat, gelisah. Sepertinya demam sangat tinggi. Kelihatan sangat kesakitan dan setengah gak sadar, gak mungkin untuk ditanyai. Kenapa anak ini? Ella segera melakukan pemerikasaan umum untuk mengetahui keadaan Linggar secara menyeluruh.
Sementara Sari langsung melakukan anmnesa pada sang pengantar Linggar. Yang sepertinya seorang pembantu. Kemana coba anggota keluarga lainnya? Kemana mas Ardi? Kenapa dia tidak mengantar sendiri adiknya yang sakit? Masa iya dia masih sibuk kerja aja saat adiknya sakit kayak gini? Apa dia belum tahu?
"Bi Inem, Kenapa dengan Linggar?" Sari bertanya pada sang asisten rumah tangga.
"Kemarin malam pulang masih gak pa-pa. Tadi pagi gak keluar kamar buat sarapan. Bilangnya gak enak badan. Ijin gak masuk kerja sama tuan Ardi. Katanya sih dadanya sakit, nyeri buat napas...Terus siang ini tadi saya cek keadaannya buat nanyain makan siang udah kayak gitu. Badannya panas sekali dan kelihatan sangat kesakitan. Saya panik dan langsung menelpon Tuan Ardi." Inem bercerita.
"Iya tadi mas Ardi yang nelpon aku, suruh ngirim ambulans buat jemput ke rumah." Sari menambahkan kelanjutan cerita Inem.
Ella yang mendengar juga pembicaraan mereka segera membuka kemeja Linggar dan benar saja didapatinya memar dan lebam kebiruan di sisi kanan dadanya. Seperti luka benturan dengan benda keras.
Ella menyentuh perlahan bagian itu dan tubuh Linggar langsung berjingkat bereaksi kesakitan. Dapat dirasakan adanya krepitasi juga di area itu. Wah kayaknya ada yang gak beres ini sama tulang rusuknya, batin Ella.
"Pasang infuse set, masukkan antibiotik dan analgesic injeksi. Setelahnya siapkan thorax foto. Sepertinya fraktur tulang rusuk," Ella memberikan perintah pada beberapa perawatnya. Kemudian kembali ke meja jaganya.
"Gak ada yang gawat kan, El?" Sari bertanya sangat khawatir akan keadaan Linggar yang juga merupakan sepupunya.
"Suspect Fraktur rusuk, Sar. Semoga aja gak ada tulang yang menembus paru-parunya. Kalau dari demamnya bisa karena pleuritis yang mungkin terjadi karena gesekan pluera dengan tulang." Ella menjelaskan perkiraan diagnosanya. Memang diagnosa pasti belum bisa ditegakkan sebelum ada foto ronsen thorax pasien.
"Semoga saja cuma retak tulangnya. Bisa gawat kalau ada yang patah dan menusuk organ dalam. Nanti baru ketahuan dari hasil foto ronsentnya."
"Yaudah nanti kalau aman, selesai perawatan dan foto thoraxnya langsung masukin ruangan VVIP aja. Gak usah observasi di UGD. Kalau gawat, langsung telpon dokter bedah buat operasi." Sari memberikan saran sekaligus instruksinya sebagai atasan.
Ella hanya menganguk menyetujui. Yah memang pasien kelas sultan mana layak ngemper di bed UGD. Belum lagi nanti pengunjungnya yang sesama sultan mau dipersilahkan dimana kalau di UGD? Kayaknya tadi cuma retak aja tadi gak ada yang patah, jadi pasti aman saja.
Akhirnya Ella berkutat dengan rekam medis Linggar yang harus diisinya, formulir permintaan foto thorax serta operan pemindahan pasien ke kamar rawat inap VVIP dari UGD.
__ADS_1
Linggar yang sudah selesai dilakukan perawatan segera dibawa untuk foto ronsen. Sementara bi Inem mengikuti perawat lainnya untuk mempersiapkan ruangan rawat inap yang akan ditempatinya. Sedangkan Ella tetap di UGD menantikan hasil foto sebelum bisa membuat keputusan tindakan selanjutnya.
Beberapa waktu kemudian hasil foto ronsen thorax linggar sudah jadi dan diserahkan pada Ella. Ella mengamati dengan seksama hasil foto itu. Sesuai dugaannya hanya terlihat retakan pada dua ruas tulang rusuk sebelah kanan Linggar. Aman berarti selama tidak ada patahan tulang.
Ella menyelesaikan tugasnya menangani dan memberikan advice tindakan pada pasien-pasien UGD lainnya sebelum melakukan visite pada sang pasien VVIP. Yah namanya juga sultan perlakuan yang diterimanya sebagai pasien juga spesial.
Bukan keluarga pasien yang mendatangi dokter, tapi dokter yang mendatangi pasien ke ruangan. Memang rumah sakit Hartanto Medika ini menargetkan sasaran pasien menengah keatas, juga pasien VIP dan VVIP. Oleh karena itu pelayanan yang diberikan haruslah sangat memuaskan. Exellent Service (Pelayanan Prima).
Ella mengetuk pintu ruangan dan bi Inem segera membukakan pintu ruangan untuknya. Mempersilahkan dirinya memasuki ruangan.
Didalam ruangan sudah berkumpul beberapa orang mengelilingi Linggar yang masih terbaring di ranjangnya. Ardi, Bambang dan satu lagi gadis yang kemarin di mall ada disana.
"Selamat siang," Ella menyapa memberi tahukan kedatanganya.
"Bagaimana keadaan pak Linggar, dok?" Bambang langsung bertanya pada Ella. Penasaran dengan apa yang terjadi pada tuan mudanya itu. Perasaan kemarin masih sehat dan cengengesan waktu pinjem kunci mobil darinya. Eh bisa-bisanya sekarang terkapar kayak begini.
"Linggar gak pa-pa kan dok?" Si gadis cantik dengan balutan setelan formal yang terlihat sedikit tomboy ikut bertanya dengan sangat khawatir.
Ditha juga merasa sepertinya mengenali wajah dokter di hadapannya ini. Tapi siapa ya? Sementara Ardi diam saja tak berkata-kata. Lebih memilih menikmati pemandangan wajah cantik di hadapannya dengan lebih seksama.
"Hasil ronsent-nya sudah keluar. Syukurlah hanya ada retakan pada dua ruas tulang rusuk sebelah kanan pasien. Tidak ada tulang yang patah yang melukai organ dalamnya. Sementara demamnya dikarenakan infeksi pada selaput paru-parunya." Ella menjelaskan dengan bahasa yang sekiranya mudah dimengerti oleh orang awam.
"Kok bisa gitu dok? Kemarin dia masih seger buger?" Bambang menyuarakan keheranananya.
"Ada luka lebam di dada pasien. Sepertinya pasien habis terkena benturan dengan benda keras. Kecelakaan?" Ella kembali bertanya pada keluarga pasien tentang apa yang terjadi. Memang kemarin siang dia juga sempat melihat Linggar yang masih sehat-sehat saja. Penasaran juga apa yang terjadi.
"Kemarin setelah dari mall kan pak Linggar keluar berduaan dengan Bu Ditha." Bambang kali ini ingin bertanya pada Ditha tentang kejadian kemarin.
"Kalian berdua keluar kemana kemarin? Apa yang terjadi?" Ardi membantu bertanya dengan nada sehalus mungkin.
"Kami pergi ke sirkuit motocross..." Ditha akhirnya mau menjawab pertanyaan Ardi.
"Bukannya Pak Linggar itu rider profesional?" Bambang makin penasaran.
"Maafkan aku..." Ditha malah minta maaf dan membuat semua yang hadir makin bingung.
"Linggar kemarin ikut race. Gara-gara aku dia maksain ingin menang. Ya waktu race itu motornya sempet selip dan dadanya kena stang. Mungkin karena itu dia jadi kayak gini." Ditha menjelaskan dengan wajah bersalahnya.
"Owalah dasar bocah tengil doyan pamer." Ardi malah ngomel-ngomel menyalahkan Linggar. "Gak pa-pa dith, biar tobat dia sekali-kali kena batunya gini... Yang penting gak bahaya aja sama nyawanya."
"Setuju! Biar antengan dikit Pak Linggar." Bambang juga menyetujui ucapan Ardi.
"Eh? Beneran gak pa-pa ni?" Ditha masih merasa gak enak.
"Iya kan ini murni kecelakaan. Santai saja." Ardi menenangkan Ditha.
"Oiya bi Inem dan Bambang jangan kasih tahu mama dan papa ya biar gak khawatir disana." Ardi melanjutkan perintahnya yang langsung diiyakan oleh kedua bawahannya itu.
"Yasudah sekian penjelasan saya sebagai dokter UGD yang menerima pasien. Untuk selanjutnya nanti silahkan dipilih dokter penanggung jawab untuk pasien siapa." Ella menjelaskan tugasnya.
__ADS_1
"Kamu aja. Aku mau dokter Ella yang merawat Linggar." Ardi Langsung memutuskan seenaknya.
"Tapi saya hanya dokter UGD sementara ini. Saya belum praktek sebagai dokter spesialis." Ella menolak, pasti ribet ini kalau berurusan sama pasien sultan begini. Sultan Pradana lagi. Males banget kan.
"Pokoknya aku mau kamu! Nanti aku bilang sama direkturmu buat milih kamu." Nah ini dia kumat sifat seenaknya Ardi. Sultan kalau sudah berkehendak dan tak dapat ditolak.
"Terserah bapak saja, saya permisi sekarang." Ella mengalah saja malas berdebat lebih jauh. Pamit dan segera berlalu meninggalkan ruangan.
Ardi juga bergegas keluar ruangan mengikuti langkah Ella keluar dari ruangan. Membuat semua yang ada di ruangan jadi bengong melihatnya.
"Dokter itu kok kayaknya pernah lihat. Tapi dimana ya?" Ditha menyeletuk.
"Dia kan mbak Ella, mantannya pak Ardi. Yang kemarin kita ketemu di mall." Bambang menjawab.
Oh jadi ini cewek yang kemarin di mall? Jadi cewek yang kayak gitu seleranya mas Ardi? Sangat cantik dan terlihat cerdas. Pantesan cerdas, rupanya dia seorang dokter. Dan melihat dari sikap mas Ardi yang masih saja mengejar-ngejar gadis itu sepertinya memang mas Ardi masih menyimpan rasa padanya.
Ardi mengejar langkah Ella dan menghentikan gadis itu di lorong dengan memegang sebelah lengannya.
"Ada apa mas? Masih ada yang belum jelas?"
"Ada...aku sakit juga..."
"Haaah?"
"Dadaku berdebar kencang terus kalau ngelihat kamu. Sakit parah kayaknya."
Ella mendengus kesal mendengar jawaban konyol Ardi. Bisa-bisanya pria ini bercanda disaat begini. Dilepaskannya lengannya dari pegangan Ardi, tak ingin terlalu intim.
"Sakit jantung kayaknya itu. Nanti aku jadwalkan konsul sama dokter Roni ya." Ella menjawab. Sengaja menyebut nama Roni untuk membuat Ardi kesal.
"Cih, ogah kalau sama dia!" Ardi langsung menolak mentah-mentah, memasang wajah manyunnya.
"Yaudah kalau gitu, aku duluan ya..." Ella membalikkan badannya berlalu meninggalkan Ardi, cekikian dalam hati melihat reaksi Ardi.
"El! Aku masih kangen! Jangan pergi dulu..." Ardi memelas mencoba merayu. Tapi tahu diri, posisi dan lokasi juga untuk tidak melanjutkan mengejar Ella.
"Iya iya..." Ella menjawab sambil terus berlalu.
Gak lucu kan kalau terang-terangan berduaan dengan keluarga dari pasien VVIP di lorong rumah sakit begini. Apalagi seluruh crew rumah sakit sepertinya sudah tahu kalau dirinya sedang berpacaran dengan Roni saat ini. Bisa runyam kan kalau jadi gosip? Tahu sendiri tembok pun seakan punya mata dan dapat berbicara untuk komunitas kerja seperti ini.
~∆∆∆~
FYI (For Your Information)
* Fraktur tulang rusuk adalah Cedera yang terjadi ketika salah satu tulang di celah-celah tulang rusuk retak. Tulang rusuk retak biasanya disebabkan karena jatuh atau kecelakaan.Â
* Gejala klinis yang dialami berupa nyeri saat mengambil napas dalam-dalam, saat menekan bagian yang cedera, atau saat membungkuk atau memutar tubuh.
*Pleuritis adalah peradangan pada selaput pembungkus organ paru-paru atau pleura. Kondisi ini menyebabkan penderita demam, merasakan nyeri dada yang menusuk, terutama ketika bernapas.
__ADS_1
🌼Gak pernah bosen ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. ðŸ¤ðŸŒ¼