Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
205. S2 - Pasangan Absurd


__ADS_3

Betapa kagetnya Ella, Sari dan Intan karena ternyata jumlah pria yang menanti mereka bertambah satu personil, Ardi. Ketiga pria itu terlihat asik menonton acara balapan motor GP 500 di TV sambil memakan potongan pizza.


Mereka bertiga sepertinya tidak terlalu ambil pusing untuk duduk bersama meskipun tidak saling mengenal. Mungkin memang begitu lah pembawaan para pria kalau lagi berkumpul. Sibuk dengan dunia dan pikirannya sendiri serta tidak perduli dengan apa yang dilakukan atau dipikirkan orang lain.


"Lho, babang sultan ngapain ke sini?" Intan langsung bertanya pada Ardi tanpa bisa direm lagi. Saking kepo dan penasarannya melihat Ardi hadir disana.


'Ini cowok asli makin ganteng aja. Makin tua makin jadi, aura dan wibawanya makin keluar,' batin Intan mengagumi pesona Ardi.


"Pulang kerja kebetulan lewat daerah sini." Jawab Ardi beralibi.


"Sekalian delivery pizza." Roni menambahkan sambil menunjukkan sepotong pizza yang akan digigitnya.


Baik Ella, Sari dan Intan kompak menyuarakan ketidak percayaan mereka akan alibi Ardi dalam hati. Jelas-jelas pria itu sengaja datang kesini untuk menghampiri Ella. Takut Ella hilang digondol wewe gombel kali ya. Mana ada coba orang yang mampir kebetulan lewat sambil membawa dua round pan besar pizza kaya gitu? Sengaja banget ini mah.


"Kamu pengangguran banget ya bisa antar jemput Ella kayak gitu?" Intan kembali menginterogasi Ardi. Masih penasaran saja dengan kegiatan seorang CEO perusahaan besar beromset milyaran ini.


"Buat Ella semua scedule bisa dibatalkan."


"Haaaah?" Semua yang hadir ikutan kaget demi mendengar jawaban tak punya dosa Ardi. Batalin semua scedule demi Ella? Iya kalau Ella-nya lagi kenapa-napa atau membutuhkan dirinya. Lha ini kan cuma untuk urusan gak penting begini? Berapa rupiah bisa melayang karena pembatalan ini?


"Dasar sultan bucin parah, bisa-bisanya kamu kabur seenaknya dari kantor untuk urusan pribadi kayak gini." Hanya Intan yang masih sanggup ngomong mengutarakan jeritan hatinya. Yang lainnya hanya bisa bengong dan membatin saja.


"Lagi aman gak ada kerjaan penting. Bisa di handle sama asistenku semua." Ardi menjelaskan kembali dengan tanpa beban sama sekali. Santai.


Sementara Bambang di tempat dan waktu yang lain sudah nangis-nangis karena harus mengurusi dan memilah dokumen-dokumen yang ditinggalkan Ardi begitu saja. Memisahkan mana yang harus diperiksa, mana yang harus ditanda-tangani dan mana yang tidak penting. Nasibmu Mbang...


"Sultan mah bebas..." Roni menyeletuk menyuarakan jeritan hatinya dan semuanya menyetujui ucapannya sambil tertawa garing. Gak bisa dan gak nutut untuk membayangkan gaya kehidupan para sultan itu.


Ella, Sari dan Intan mengambil duduk di antara para pria itu. Intan dan Sari mengambil potongan pizza yang dibawa Ardi dan memakannya dengan lahapnya. Padahal sejak tadi sudah banyak suguhan dan cemilan juga yang dihidangkan pelayan Sari. Tapi entah mengapa pizza hangat yang dibawa Ardi tampak begitu menggoda untuk disantap.


"Yang itu ada smoked tuna-nya honey, kamu ambil yang satunya saja. Real meat itu yang satunya cocok buat kamu." Ardi menegur Ella yang hendak mengambil seiris pizza di meja. Ingat benar Ella gak suka dengan makanan yang amis-amis.


"Ok, I'll get the other one." Ella beralih membuka bungkus pizza yang masih baru dan mengambilnya seiris, kemudian memakannya dengan lahap.


"Ehem ...ehem...honey...jiwa jombloku meronta." Roni memprotes kedua pasangan yang pamer kemesraan di hadapannya. Asyem banget emang.


"Hahaha jomblo dilarang baper ya..." Ivan ikutan meledek Roni.


"Sini beb, duduk bareng aku biar yang jomblo makin panas dingin." Dipanggilnya Intan untuk duduk mendekat padanya. Intan pun menurut saja beranjak duduk di sofa yang sama di sebelah Ivan.


"Ya, ya terusin aja. Awas ya doa orang teraniaya manjur lho...Aku doain kalian bahagia dan punya banyak anak nantinya!" celetuk Roni ngasal.


"Amiiiiiin" Ella, Ardi dan Ivan kompak mengamini.


"Ogah!" Hanya Intan yang menolak doa dari Roni. Membuat semuanya kembali cekikikan tertawa.


"Gimana kabarnya babang Sultan? Kayaknya makin sukses aja ni sampai masuk TV segala." Intan bertanya berbasa-basi pada Ardi. Ingin tahu bagaimana peragai dan sifat Ardi sekarang dengan segala kesuksesan dan kekayaannya yang semakin gila-gilaan. Ingin membuktikan apakah pilihan Ella untuk kembali pada Ardi adalah pilihan tepat.


"Biasa invest kecil-kecilan." Jawab Ardi merendah.


"Saking kecilnya sampai omsetnya milyaran bahkan triliunan ya?" Intan tidak puas dengan jawaban Ardi. Kecil-kecilan? Bisnis Park megah yang sampai masuk TV segala pembukannya? Gila lu ndro...


"Kamu sendiri gimana? Kayaknya udah agak jinak ya?" Ardi balik bertanya sebagai formalitas.

__ADS_1


"Iya donk. Aku udah jinak dan kalem sekarang. Aku juga sudah menjadi jadi istri yang baik, serta ibu dari dua putra yang lucu." Intan memanasi dan memamerkan keharmonisan rumah tangganya. Biar cepet kepengen nikah juga teman-temannya ini.


"Jinak dari hongkong!" Roni memprotes.


"Bukannya kamu makin ganas ya sejak jadi ibu dari duo jagoan kecil yang gak bisa diem?" Ella ikut tertawa cekikikan. Dan semua yang hadir langsung membenarkan ucapan Ella sambil tertawa riang.


"Ih kalian sekongkol menyudutkan aku." Intan memasang muka ngambeknya. Tapi yang lain makin keras menertawakan dirinya.


Dalam hati Intan merasa puas, ternyata Ardi masih sama seperti yang dulu. Memang sedikit dingin dan jarang bicara selain waktu ditanyain. Tapi pria itu sama sekali tidak pernah sombong atau memamerkan kekuatan finasialnya. Bahkan Ardi malah sering merendah dan menutupi status kesultanannya.


'Yah semoga saja pria ini dapat menjagamu dan membahagiakan kamu, El.'


"Abis ada ritual iris bawang ya di atas? Kok kalian bertiga kayak abis kena bawang semua matanya?" Ivan bertanya dengan tidak pekanya.


Padahal Ardi dan Roni sudah menahan diri untuk tidak bertanya tentang ketiga gadis itu yang bermata sembab dari tadi. Jelas sekali mereka bertiga habis curhat-curhatan. Mungkin juga membahas tentang Jun yang menyedihkan. Dan tentu saja mereka menangis bersama, saling berbagi kesedihan. Eh ini lakinya Intan malah gak peka banget.


"Abis nonton pilm telenovela di atas. Esmeralda cinta yang hilang." Intan menjawab sekenanya. Kesel juga dengan suaminya yang tidak peka itu. Kok gak pinter-pinter si ini orang menilai situasi. Gemes!


"Oiya katanya kalian mau lamaran? Dah buruan sana dihalalin Ella-nya. Sebelum digondol wewe gombel." Intan mengalihkan pembicaraan pada Ella dan Ardi.


Ella diam saja tak berani menjawab. Membiarkan Ardi saja yang memutuskan akan menjawab apa.


"As soon as posibble," jawab Ardi mantab.


"Semua waktu itu posibble...Mau secepat apa?" Intan semakin mendesak pertanyaan.


"Besok juga bisa," lagi-lagi Ardi menjawab dengan nada dan wajah super seriusnya.


Jawaban Ardi membuat semua yang hadir melongo. Ella bahkan nyaris tersedak saat mengunyah pizza di mulutnya. Tak ada yang dapat menduga apakah Ardi hanya bercanda atau serius saat mengatakan akan melamar Ella besok.


Ucapan Ardi seakan sesuatu yang mutlak dan pasti akan dia lakukan. Sama sekali tidak bercanda. Benar-benar ucapan seorang CEO perusahaan raksasa yang berwibawa, bertanggung jawab dan dapat dipegang serta dipertanggung jawabkan.


"Ditunggu lho ya undangan resminya." Ujar Intan. Sepertinya masih menganggap Ardi bercanda.


"Emang yakin kamu diundang?" goda Ardi.


"Astagaaa...El, denger tu. Belum jadi suamimu aja udah berani gak ngundang temen deketmu. Batalin deh, batalin pertunangan kalian gak baik cowok kayak gini mah." Intan tidak terima dirinya tidak diundang. Merengek pada Ella.


"Hahaha tenang aja, Tan. Kalau gak diundang sama mas Ardi kamu pasti aku undang kok." Ella tertawa geli. Bisa-bisanya Ardi bercanda dengan muka seserius itu sampai Intan ngamuk-ngamuk karena tak dapat membedakan mana candaan mana bukan dari seorang Ardi Pradana.


"Kamu memang yang terbaik." Intan tersenyum dan mengacungkan dua jempol, tumbs up pada Ella dengan gemas.


"Dan kamu sultan jahat!" Lanjutnya pada Ardi dengan memberikan tumbs down pada Ardi. Semua semakin ngakak melihat pertengkaran Intan dan Ardi yang bagaikan anjing dan kucing.


"Aku seneng kalian akhirnya akan meresmikan hubungan. Semoga lancar ya sampai pelaminan nanti." Roni ikut berkomentar dan mendoakan dari lubuk hati yang terdalam pada kedua pasangan itu.


"Makasih ya, Ron." Ella tersenyum senang.


"Ya kamu juga cepetan nyusul donk, Ron." Ivan tiba-tiba menyeletuk kembali dengan tidak peka. Apa memang karena dia gak tahu tentang kisah cinta segitiga antara Ella, Ardi dan Roni ya?


"Hahahha iya doain aja ya." Roni tertawa garing, pasrah saja menerima nasib sebagai jomblo.


"Lhaini ada cewek cantik dan baik di depan kamu kan? Kenapa gak digebet saja? Si Sari." Lanjut Ivan dengan tidak punya dosa.

__ADS_1


"Haaah?" Roni kaget mendengarnya. Tapi tak dapat dihindari wajahnya menjadi memerah.


"Sari-nya mau nggak sama aku?" Dan entah bagaimana ucapan pasrah itu meluncur begitu saja dari mulutnya.


Sudah terlambat untuk menyesal saat dirinya menyadari apa yang barusan diucapkannya, dari tatapan kaget dan bingung teman-temannya. Duh keceplosan ngomong...


Sari ikut tercengang mendengar ucapan spontan Roni. Apa benar Roni menyimpan suatu perasaan padanya? Sejak kapan? Bukannya Roni ini sangat mencintai Ella?


"Hmmm...gimana Sar? Tik tok tik tok...Kami menunggu jawaban." Intan memecahkan kesunyian yang tiba-tiba terjadi setelah Roni keceplosan berbicara tentang perasaan terpendamnya tadi.


"Aku...aku masih butuh waktu. Aku gak bisa kasih jawaban sekarang." Sari menjawab dengan wajah tak kalah merah padamnya.


"Sabar ya Ron. Ini cuma penundaan kok, bukan penolakan." Ivan mencoba menghibur Roni sebagai sesama pria. "Semangat terus pokoknya. Gas pol."


"Duh ternyata kamu itu 11.12 ya sama Intan, Van. Pantesan aja kamu betah idup sama nenek lampir kayak Intan." Roni menggerutu dengan sifat Ivan yang sangat tidak peka.


"Hahahaha kalau Ivan ini peka, pasti udah putus dari dulu sama Intan. Ya emang harus yang kayak begini yang jadi pendamping Intan biar langgeng." Ella ingat betul bagaimana sifat Intan dan Ivan sejak kuliah.


"Eh apaan tu maksudnya." Intan kebingungan. Ini maksudnya nyindir atau muji?


"Maksudnya kita serasi, Beb." jawab Ivan tanpa ambil pusing.


"Hahahaha." Semua yang hadir tertawa kompak melihat kedua pasangan *absur**d* itu.


Selanjutnya mereka melanjutkan menghabiskan pizza sambil sesekali bercengkrama membahas hal-hal ringan. Sampai akhirnya Intan mendapat panggilan telpon dari mamanya, mengabari kalau anaknya rewel. Dan barulah kedua pasangan absurd itu ingat kalau mereka sudah terlalu lama meninggalkan anak-anak mereka bersama kakek dan neneknya. Benar-benar orang tua durhaka...


Intan dan Ivan akhirnya pamit pulang pada mereka semua. Tak lama kemudian Ardi juga mengajak Ella untuk pamit pulang. Sengaja ingin memberikan waktu pada Sari dan Roni untuk berduaan.


"Mas, yang tadi bercanda aja kan?" tanya Ella saat sudah di dalam mobil Ardi dan mereka melaju menuju ke rumah Ella.


"Yang mana?"


"Yang mau ngelamar besok."


"Menurut kamu gimana?" Ardi balik nanya.


"Serius?...Mas Ardi serius mau ngelamar besok?" Ella beneran panik karena gak bisa menebak isi pikiran Ardi dari ekspresi datarnya. Duh ini orang pinter banget memasang poker face.


"Liat aja besok." Ardi menyunggingkan senyuman penuh misterinya pada Ella.


Aaaaaaarrrgghh!! Ella menjerit frustasi dalam hati! Bisa gila rasanya masa tiba-tiba besok mau dilamar? Seneng si tapi mendadak banget.


"Kamu pengen dilamar secara private atau public?"


"Haaah? Private? Public?" Ella semakin panik.


"Terserah kamu aja maunya gimana."


"Private! Sederhana dan tidak mencolok." Ella menjawab buru-buru.


"As you wish honey." Ardi tersenyum menyanggupi.


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN yaaaa 🌼


__ADS_2