
Setelah segala persiapan gila-gilaan, bahkan sampai kebut-kebutan lembur selama beberapa bulan terakhir. Akhirnya selesai juga proses pembangunan dan maintenance kompleks perusahaan yang digagas oleh Ardi.
Hari ini akhirnya menjadi hari Launching dari Kerajaan bisnis milik pradana group yang diberi nama Pradana Bussiness Park. Konferensi pers dan pesta pembukaan besar-besaran pun sudah disiapkan dan digelar di convention hall gedung utama pada sore hari ini.
Dua tahun tepat sejak penandatanganan bebagai kontrak kerja dengan para investor dan para mitra bisnis, pembebasan lahan, pembangunan bangunan fisik, sampai pemenuhan segala perlengkapan di masing-masing unit perkantoran. Akhirnya semuanya bisa dikatakan all set dan kompleks perkantoran ini sudah siap untuk beroperasi.
Linggar hari ini bertugas sebagai garda terdepan untuk menyapa dan beramah tamah menyambut berbagai tamu undangan dari berbagai kalangan. Mulai dari tamu VIP, para mitra bisnis, para konglomerat, pejabat, elit politik, bahkan beberapa kalangan artis undangan yang hadir dalam pesta.
Hari ini Linggar yang mendapat tugas menyebalkan berdiri di dekat pintu masuk hall sebagai sie penyambutan. Karena tentu saja sebagai seorang anggota inti Pradana sudah sewajarnya hari ini menjadi tuan rumah yang baik. Tugas utama Linggar adalah menyambut tamu VIP rekanan bisnis yang harus diarahkan ke ruang konferensi pers.
Sementara untuk anggota keluarga Pradana lainnya, Ardi dan timnya yang menjadi tokoh utama hari ini sangat disibukkan dengan konferensi pers dan segala formalitas upacara pembukaan. Laras dan Mahes juga ikut membantu Linggar beramah tamah dengan tamu di dalam hall.
Walau Laras tidak bisa maksimal dalam menjalankan tugasnya karena si kecil Rangga yang kadang rewel meskipun dalam asuhan Nany-nya. Mahes juga harus berperan ganda sebagai perwakilan Hartanto yang merupakan mitra bisnis VIP, sekaligus sebagai menantu Pradana yang menyambut para tamu.
Kedua orang tua mereka juga turut hadir, Tuan Erwin dan Nyonya Kartika Pradana. Tapi keduanya hanya hadir sebagai tuan dan nyonya besar saja tanpa mendapat pembagian tugas. Ardi seakan tak ingin membebani Erwin yang memang tidak boleh terlalu lelah sejak sakitnya. Sementara Kartika bertugas menemani dan mengawasi suaminya itu, mengingatkan untuk undur diri dari pesta dan beristirahat jika mulai lelah.
"Halo Kak Irza, selamat datang." Linggar menyapa dan mengulurkan tangannya pada seorang pria muda dengan kulit putih dan wajah tampannya. Pria yang dikenalnya sebagai Irza Wismail, sang pewaris utama Wismail Group dari Jakarta. Irza merupakan VIP guess malam ini, mengingat Wismail merupakan mitra bisnis yang mengambil salah satu komplek perkantoran di business park ini.
"Hei Linggar, sorry rada telat. Udah mulai ya acaranya?" Irza menyambut uluran tangan Linggar.
"Belum kok, Mas Ardi masih konferensi pers di dalam. Kak Irza silahkan masuk dan mengambil tempat di ruang konferensi juga untuk formalitas penanda tanganan kontrak secara simbolis."
"Yang lainnya udah pada datang ya?"
"Belum. Tamu VIP dari Sampoerna grup, MascusCo grup dan Ciputra grup juga masih belum hadir," jawab Linggar mengingat-ingat guess list incarannya.
"Itu kan si Prasetyo Sampoerna," Irza melambaikan tangannya pada seorang pria muda yang baru saja keluar dari mobil lamborgini bersama seorang wanita cantik dengan dandanan sedikit tomboy.
"Selamat datang, perkenalkan saya Linggarjati Pradana." Linggar menyambut kedua tamu VIP itu dengan senyuman lebar. Sedikit canggung karena dia belum pernah bertatap muka langsung dengan pewaris Sampoerna grup itu.
"Hei, kamu kan tuan muda Pradana ya? Ardi mana? pasti lagi ga bisa bergerak ya sekarang?." Tyo membalas sapaan Linggar, dan keduanya berjabatan tangan sebagai sapaan.
"Udah brani bawa cewek sekarang, Tyo?" Irza ganti menyapa Tyo dan saling bertukar bro-hug.
"Cewek apaan? Ini Praditha Adikku yang baru lulus kuliah di Australia. Sudah waktunya ngenalin para generasi muda sekarang," Tyo menjawab.
"Ditha, kenalin ini bos Wismail grup si Irza. Dan ini Linggar tuan muda Pradana yang satu generasi sama kamu." Tyo memerintahkan adiknya untuk berkenalan kepada kedua pria di hadapannya.
__ADS_1
"Salam kenal, saya Praditha Sampoerna." Ditha mengangguk, memperkenalkan diri dengan sopan.
Linggar mengamati wanita dihadapnnya itu, penasaran karena dibilang satu generasi dengannya. Sekilas Praditha terlihat mencolok dan berbeda dengan kebanyakan wanita lainnya yang hadir di pesta ini.
Ditha tidak mengenakan gaun sebagai outfit pestanya, dia lebih memilih Blazer dan celana panjang dengan warna hitam dengan hiasan bunga dan manik-manik yang memberi kesan elegan. Membuatnya terlihat formal layaknya eksekutif muda. Bahkan dengan dandanan tomboy begitu, gadis ini masih jelas menampakkan kecantikan alami di wajahnya.
"Kalian bertiga silahkan langsung ke ruang konferensi pers saja ya," Linggar memerintahkan salah satu waiters untuk mengantar ketiga tamu VIP itu untuk beranjak.
Linggar kembali melaksanakan tugasnya setelah kepergian ketiga tamunya tadi. Menyapa dan mempersilahkan siapapun tamu yang hadir. Tak lama kemudian datanglah Ceicillia Tang, sang putri dari Ciputra grup.
Wanita cantik itu terlihat glamour dan sangat mencolok dengan slit dress berwarna silvernya. Penampilan yang memukau dan mengundang kekaguman bagi siapapun yang melihatnya, layaknya bintang film dari Korea. Linggar langsung menyapa dan mempersilahkan Ceicillia untuk segera ke ruang konferensi dengan diantar oleh seorang waiters.
Tamu VIP terakhir yang dinanti Linggar datang tak lama kemudian dengan mobil Alphard nya. Pasangan suami istri muda Nickolas Marcus, dan Angelina Marcus dari MarcusCo grup. Mereka berdua juga terlihat mencolok dengan wajah asli bulenya. Keduanya memang warga negara Amerika yang sudah lama berbisnis di Indonesia, mendirikan anak cabang perusahaan yang bergerak di bidang otomotif.
Linggar segera menyapa mereka dengan sopan dan mempersilahkan mereka. Kali ini Linggar tidak memanggil waiters, melainkan mengantarkan sendiri mereka berdua ke ruang konferensi pers. Karena memang tugas utamanya untuk menyambut para tamu VIP sudah selesai.
Linggar mengantar kedua tamunya ke kursi VIP mereka bersama para bos lainnya. Kemudian dirinya mengambil duduk di deretan kursi keluarga Pradana. Duduk tepat disebelah kursi mama dan papanya.
"...Jadi semua kegiatan produksi dari perusahaan inti Pradana dan lima perusahaan Pradana lainnya akan tetap di kota Banyu Harum. Di Surabaya ini hanya akan ada proses assembly, finishing dan marketing saja." Ardi menjelaskan di depan semua tamu yang hadir serta awak media tentang pembagian wilayah tugas perusahaan di bawah nama Pradana.
"Iya ma. Mas Ardi berniat ngantor di Surabaya saja," Linggar menjawab pertanyaan mamanya. Jadi benar mas Ardi membuat semua keputusan sendiri soal pembuatan kerajaan bisnis baru di Surabaya ini? Dia bahkan tidak berkonsultasi dan meminta pendapat dari mama dan papanya?
"Pa, Ardi pernah ngomong ke papa sebelumnya?" Kartika balik bertanya pada suaminya.
"Nggak. Sejak memegang perusahaan Ardi tidak pernah bertanya atau berkonsultasi kecuali tentang hal yang mendesak," Erwin menjawab.
"Jadi kerajaan bisnis segede ini dia mikir sendiri?" Kartika mau tidak mau menjadi takjub dan bangga juga dengan pencapaian luar biasa Ardi.
Hanya dalam waktu tiga tahun menjabat Ardi dapat melakukan banyak perubahan, perbaikan dan kemajuan pesat pada semua perusahaan di bawah naungan Pradana Group. Ditambah lagi Ardi juga berhasil membangun kerajaan bisnis baru di Surabaya.
"Tapi dari mana dia dapat uang sebanyak itu? Bahkan seluruh simpanan Pradana pun tak akan cukup untuk membangun kerajaan bisnis seperti ini."
"Mas Ardi itu pinter cari investor ma. Dia juga udah terkenal cakap dan bisa dipercaya, makanya banyak investor besar tidak ragu mengucurkan dana jika mas Ardi yang mengajukan."
"Tapi kalau Ardi mau pindah Ke Surabaya gimana dengan semua perusahaan di Banyu Harum? Bisa kacau kalau gak ada CEO nya." Kartika masih tidak menyukai ide Ardi untuk tinggal di Surabaya. Tinggal jauh dari keluarganya di Banyu Harum.
"Aku yang akan gantiin..."
__ADS_1
"Kamu? Kamu bahkan belum lulus sarjana. Abis itu kamu masih harus ambil S2 dulu baru bisa pegang kendali perusahaan." Kartika memprotes.
"Experience is the best teacher, ma. Daripada sekolah S2 kayaknya mending langsung praktek kerja langsung aja. Aku sebentar lagi juga wisudah, setelah itu semua perusahaan yang ada di sana akan aku handle semua." Linggar menjelaskan.
"Nggar, ini kita lagi ngomongin perusahaan inti Pradana dan lima anak perusahaanya lho. Bukan main-main dengan perusahaan kecil." Erwin ikutan khawatir juga mendengar Linggar yang akan memimpin semua perusahaan besar itu.
Erwin bukannya tidak percaya dengan putra keduanya ini, tapi Linggar masih terlalu muda dan belum berpengalaman. Terlalu beresiko untuk langsung meletakkan semua kekuasaan di tangannya. Linggar masih belum cukup merasakan pahit dan manisnya kehidupan. Apalagi dunia bisnis yang kadang sangat brutal dan kejam.
"Aku akan berusaha, pa. Percayalah aku akan belajar dengan sangat keras untuk cepat menguasai medan. Demi keluarga kita, demi perusahaan, demi semua orang yang bekerja di bawah kita. Dan yang paling penting demi mas Ardi..."
"Demi Ardi? Apa hubungannya dengan Ardi?" Kartika bertanya keheranan tak dapat menebak mengapa Linggar mau menanggung semua beban demi Ardi.
"Mas Ardi itu udah sampai di ambang batasnya, ma. Bisa gila dia kalau diterus-terusin kayak gini. Mama jangan pura-pura lupa deh, kenapa mas Ardi bisa sampai kayak sekarang ini..."
Linggar merasa mendapat kesempatan untuk dapat membuka cerita lama. Cerita lama yang seakan tabu dan tak ingin dibahas oleh keluarganya. Masa lalu kelam yang menghantui Kakaknya sampai saat ini, membuatnya menjadi seseorang yang sangat berbeda dari sebelumnya. Dan mamanya lah yang secara tidak langsung menjadi penyebab dari semuanya.
Kartika terdiam membisu kali ini, memikirkan perkataan Linggar. Memang dirinya juga merasa bahwa sifat Ardi jauh berbeda setelah kejadian tiga tahun lalu. Sejak kegagalan hubungannya dengan gadis itu, Ella. Entah sihir dan kutukan apa yang telah digunakan Ella sampai bisa membuat Ardi seakan tidak bisa move on darinya.
Sebagai seorang anak, Ardi tidak lagi menjadi good boy yang selalu menuruti perkataan orang tuanya. Memang bukan pemberontakan ekstrim seperti kabur dari rumah, kawin lari, menghamili anak orang, atau pemboikotan dan mogok kerja. Putranya itu masih tahu diri dan menyadari tanggung jawab yang harus ditanggungnya.
Ardi masih berusaha bertahan dengan hanya melakukan perlawanan pada hal-hal yang menyangkut kehidupan pribadinya. Terutama yang berhubungan dengan soal cinta dan asmara. Tidak sedikit wanita cantik dan menarik dari berbagai keluarga terpandang dikenalkan oleh Kartika untuk Ardi.
Tapi Ardi selalu saja menolak dan menghindar, bahkan terang-terangan kabur jika Kartika mengatur suatu perjodohan untuknya. Ardi lebih memilih untuk menenggelamkan dirinya dalam kesibukan dan urusan perusahaan. Seakan putranya itu sama sekali tidak tertarik dengan wanita lagi, membuatnya khawatir saja.
"Masa mama dan papa tidak merasa aneh kenapa mas Ardi ingin memindahkan kantornya ke Surabaya?" Linggar kembali bertanya.
Pertanyaan Linggar sekali lagi membuat Kartika tersadar. Surabaya? Kenapa bukan kota lainnya? Yah tentu saja karena gadis itu tinggal di kota ini. Ella kan tinggal di Surabaya. Jadi Ardi masih saja ingin mendekati gadis itu? Ingin kembali mengejar cintanya yang pernah kandas bersama Ella?
Sementara Erwin yang memang tidak tahu apa-apa mengenai kejadian tiga tahun yang lalu makin bingung dengan pertanyaan Linggar. Memang dirinya juga dapat merasakan perubahan sifat Ardi yang menjadi berbeda selama beberapa tahun ini. Erwin mengira beban kerja dan tanggung jawabnya di perusahaan yang membuat putranya itu berubah.
Erwin menjadi sedikit merasa bersalah juga pada Ardi. Karena dirinya yang tiba-tiba sakit sehingga harus melimpahkan segala kekuasaan sekaligus ke pundak Ardi. Membuat hidup putranya itu menjadi kacau bahkan tidak sempat untuk memikirkan cinta dan asmara.
~∆∆∆~
Buat yang penasaran sama Irza dan Kika wismail serta Johanh Astin bisa langsung mampir dan kepoin di novel berjudul YOUNG MISS karya author teman saya ASTARI ATELIER. Dijamin gak kalah serunya.
Gak pernah bosen buat ngingetin untuk LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN donk. Komen apa aja, bisa kritik dan saran atau hujatan juga boleh 😉
__ADS_1