
"Hampir?...Hampir gimana?" tanya Ella dengan nada sedikit histeris. Apalagi ketika didapatinya wajah Ardi yang juga sudah merah padam malu-malu.
"Ya hampir kejadian. Posisi kita udah bahaya banget kemarin. Udah man on top gitu. Hampir kuterkam aja kamu kemarin kayak singa kelaparan dan disodorin daging lezat. Untungnya aku masih bisa mikir logis, untungnya aku belum mabuk kemarin. Kalau nggak, pas ada setan lewat jadi deh..."
"Jadi? Jadi apa?..."
"Jadi Ardi Junior hahahahaha"
"Tidaaakkk!!!" Ella berteriak histeris kali ini.
"Lho kamu gak mau? Kemarin katanya cinta sama aku? Cinta banget?" Ardi kali ini menggoda Ella dengan jahilnya. Menggoda Ella yang sudah semerah kepiting rebus wajahnya, terlalu malu dan salah tingkah.
"No no no...Belum mau! Belum waktunya!" Ella menjawab sambil menggelang-gelengkan kepalanya, panik. Ella semakin menyesali perbuatannya yang seberani dan senekat itu kemarin. Yah meskipun dirinya sedang dalam keadaan setengah sadar kemarin. Tapi jelas-jelas Ella mengingat bahwa bukan Ardi yang memulai, dirinyalah yang duluan memeluk dan mencium Ardi. Gila banget!
Ella bertekad tak akan sekali-sekali lagi meminum minuman beralkohol lagi selamanya. Apalagi setelah diketahuinya toleransinya terhadap alkohol sangat rendah. Dirinya bahkan bisa mabuk hanya karena makan puding dan segelas cocktail saja.
"Maaf ya, El. Aku ceroboh biarin kamu makan puding itu. Puding coklat di bar kamarin itu ada vodca-nya. Dan parahnya aku lupa bawa pergi gelas cocktailku dari meja. Kamu malah minum itu cocktailku dengan semena-mena" Ardi sedikit melembutkan ucapannya kali ini, meminta maaf pada Ella.
"Waaah jadi itu cokctail-nya mas Ardi?" tanya Ella gemas, bisa-bisanya Ardi naroh minuman keras di dekat dirinya. Tapi ya salah Ella sendiri si yang salah minum dan salah ambil gelas kemarin. Agak lega juga si mengetahui itu adalah minuman Ardi, bukan minuman Johanh atau Masrur. Kan bisa berabe kalau dia minum dari bekas mereka, seolah ciuman tidak langsug kan.
"Terus gimana ceritanya bawa aku pulang kerumah?" Ella penasaran sekali dengan kejadian yang terjadi waktu mereka pulang ke rumah. Pasti heboh dan seru sekali nih.
"Papamu telpon pas kamu udah ketiduran. Aku terima dan disuruh langsung pulang. Gila banget! Aku gak bisa konsen nyetir kemarin, bingung mikir alasan apa ntar yang harus disampaikan. Alasan apa yang bisa membenarkan seorang pria muda membawa anak gadis orang sampai subuh, dan memulangkan si gadis dalam keadaan mabuk pula." Ardi menceritakan kejadian kemarin malam.
"Trus...terus?..."Ella semakin penasaran.
"Pas nyampe rumahmu, papa dan mamamu udah nungguin kita di depan rumah sambil berkacak pinggang. Asli serem banget tampang mereka kayak bisa nelen kita idup-idup waktu itu. Marah dan khawatir banget kelihatannya. Tapi sedikit lega juga melihat kepulangan kita," Ardi menghentikan ceritanya sejenak.
"Terus kan aku gendongin kamu di punggung. Makin bingung lah mereka, kamu kenapa? Waktu aku bilang kamu mabuk tambah bingung lagi mereka. Gimana ceritanya anak gadis dari keluarga baik-baik sampai mabuk-mabukan kayak gitu. Mamamu udah ngomel-ngomel gak karuan. Tapi papamu cuma diam saja ngeliatin aku dengan pandangan yang menusuk. Sepertinya beliau tak sanggup berkata-kata saking marahnya"
__ADS_1
"Karena memang sudah hampir subuh dan takut menganggu tetangga. Akhirnya mamamu nyuruh aku bawa kamu ke kamarmu saja. Nidurin kamu di kasurumu. Aku balik menemui mereka ke ruang tengah setelahnya. Asli canggung banget kayak maling jemuran yang abis kepergok masa..."
"Emangnya mas Ardi pernah kepergok nyuri jemuran?" Ella berusaha keras menahan tawanya. Tak sanggup membayangkan wajah Ardi dan wajah kedua orang tuanya tadi subuh-subuh. Duh sayangnya aku ketiduran, jadi gak bisa lihat. Pasti seru banget deh.
"Aku minta maaf. Maaf dan maaf pokonya, gak bisa mikir kata-kata yang lainnya. Terlalu bingung dan nyesel juga udah melibatkan kamu dalam masalah kayak gitu."
"Akhirnya mamamu yang bicara duluan. Nyuruh aku istirahat aja dulu. Nanti dibicarakan lagi katanya, waktu semuanya sudah tenang dan nggak emosi. Waktu kamunya juga udah bangun. Yah akhirnya aku balik ke kamar aja sampai sekarang belum berani keluar kamar saking canggungnya."
"Hahahaha kasian banget kamu mas!" Ella tertawa ngakak sekarang, gak sanggup membayangkan wajah Ardi waktu itu. Pasti lucu banget deh, jadi penasaran. Ardi yang diketawain cuma bisa memasang tampang manyun di wajahnya.
"Ella, Ardi! Makan siang udah siap. Ayo kita makan bareng-bareng!" Teriakan Mama Ella menghentikan pembicaraan mereka.
"Ini ni kayaknya waktunya sidang. Siap-siap ya, mas Ardi" Ella sedikit menggoda Ardi dengan jahilnya.
"I, iya. Ntar bantuin jawab ya dikit-dikit."
"Ok, ok." Ella masih senyum-senyum melihat wajah Ardi yang sedikit memucat. Mungkin pria itu beneran nervous mau mengahadapi interogasi dari kedua orang tuanya tentang kejadian kemarin malam. Sementara Ella sendiri santai saja karena memang tidak ada apa-apa yang terjadi di antara mereka.
Dan duduklah mereka berempat di meja makan. Saling berhadapan duduk mengelilingi meja makan. Segala menu hidangan sudah tersaji disana dengan lezatnya. Masakan Lilik memang tak diragukan lagi kok kelezatannya. Mereka berempat makan dengan lahapnya. Terutama Ella dan Ardi yang telah melewatkan jatah sarapan pagi mereka.
Makan siang berlangsung aman, tak ada yang membicarakan sesuatu yang sensitif. Memang tidak baik untuk merusak suasana makan kan? Jadi pembicaraan bisa ditunda setelah semua prosesi makan selesai.
"Jadi gimana penjelasan soal kemarin?" Bowo, papa Ella memulai persidangan siang ini. Ella, Ardi dan Lilik langsung meletakkan sendok dan garpu mereka di piring. Menyudahi acara makan dan mengisi perut mereka.
"Maaf, Om." Ardi memulai menjawab dengan permintaan maaf terlebih dahulu. "Kemarin sesuai seperti yang saya katakan waktu membawa Ella, kami berdua nonton konser di Tunjungin Plasa. Konsernya baru selesai jam dua belas malam."
"Saya yang salah. Seharusnya setelah selesai nonton kami langsung pulang. Tetapi saya malah mengajak Ella untuk gathering bersama teman-teman saya ke J.W Melati Lounge and bar." Ardi menata kalimatnya sedemikian mungkin sehingga kesalahan murni ada padanya. Ella gak salah apa-apa.
"Sekarang kamu tahu kan dimana salahnya? Masa kamu sebagai laki-laki gak mikir, kamu bawa anak gadis orang keluar sampai dini hari kayak gitu? Dilihat dari segi manapun tindakan kamu ini sudah salah besar." Nada ucapan Bowo kali ini sedikit meninggi.
__ADS_1
Ardi tak sanggup menjawab dan berkata-kata kali ini. Hanya dapat menunduk semakin dalam, mengakui kesalahannya. Memang benar kali ini dirinya yang bersalah. Dirinya yang terlalu egois dan memaksakan untuk bertemu dan berkumpul dengan teman-temannya demi kesenangannya sendiri. Padahal waktu sudah sangat larut.
Ardi juga menyesali dirinya yang melupakan Ella yang seorang gadis dari keluarga baik-baik. Ardi merasa bodoh sekali dengan kecerobohan fatalnya kali ini. Jelas dan wajar saja papa Ella semarah ini. Bahkan misalnya kejadian yang sama menimpah Laras, adik perempuannya mungkin Ardi dan ayahnya juga sama geram dan marahnya.
Sementara itu Ella dan Lilik hanya bisa diam dengan hati berdebar-debar mendengarkan pembicaraan kedua pria itu. Ardi kayak beneran sedang disidang. Dan papa Ella sepertinya beneran marah kali ini.
"Kamu juga Ella! Masak kamu gak bisa mikir? Udah segede ini masa gak tahu kalau anak gadis itu gak boleh pulang malam? Harusnya kamu minta dianterin pulang secepatnya atau pulang saja naik taksi kalau Ardi gak mau nganterin." Bowo ganti memarahi Ella. Wah ini papanya Ella keren banget, batin Ardi. Beliau tidak hanya memarahinya tapi juga memarahi anak gadisnya juga. Karena memang mereka berdua sama-sama bersalah.
"I, iya pa...maaf," Ella meminta maaf dengan nada penuh penyesalan. Ella sadar memang dirinya juga bersalah karena tidak bisa menolak ajakan Ardi dengan tegas kemarin. Seharusnya kan dia bisa menolak untuk ikut acara gathering itu, bukan malah ikutan nongkrong sampai malam kayak gitu.
"Terus kesalah kedua kalian. Kalian mau Gathering? Ngapain pakek ke bar segala? Bukannya di restoran atau cafe juga bisa? Kalian sudah sedewasa ini tentu tahu kan kayak apa bahayanya bar itu?" Bowo lanjut bertanya menyelidik.
"Itu karena teman saya kebetulan menginap di hotel J.W Melati. Jadi mereka sekalian gatheringnya di Lounge and bar-nya. Resto udah tutup soalnya jam segitu, om" Ardi mencoba memberikan penjelasan.
"Terus apa perlu pesen minuman keras juga? Bukannya disana juga menjual minuman yang tidak beralkohol?" Pertanyaan Bowo yang menusuk terus berlanjut.
"Maaf om, saya sudah berusaha memilihkan minuman yang tidak mengandung alkohol untuk Ella. Tapi sepertinya Ella salah minum, minuman saya yang dia minum," jawab Ardi.
"Iya, pa. Aku yang salah ambil gelas minumannya mas Ardi kemarin. Kami gak ada niatan untuk mabuk-mabukan sama sekali." Ella mencoba menambahkan.
"Kamu cuma mesenin Ella minuman tanpa alkohol? Tapi kamu sendiri malah pesen yang beralkohol? Kamu sudah biasa minum minuman keras kayak gitu?" Bowo semakin menyelidik. Sedikit tidak senang mengetahui Ardi ternyata suka minum-minuman keras.
"Iya, om. Kalau saya sih tidak akan mabuk kalau cuma minum satu dua gelas saja. Jujur saja saya sudah biasa minun minuman keras, bukan sebagai hobi juga si. Tapi lebih sebagai formalitas dalam pergaulan kami saja. Kami mau tak mau harus minum saat berpesta atau gathering dan pertemuan bisnis di lounge and bar." Ardi mencoba menjelaskan pada Bowo.
"Kami ini maksudnya apa? Bukanya kamu kontraktor dan insinyur? Ngapain pakek gathering di tempat-tempat kayak gitu?" Bowo semakin curiga dengan kejanggalan dari cerita Ardi.
"Sebenarnya mas Ardi ini bukan kontraktor biasa, pa. Mas Ardi adalah putra pertama dari Pradana Group. Perusahaan properties terbesar di wilayah Jatim bagian timur dan Bali." Ella yang kali ini membantu Ardi untuk menjawab pertanyaan papanya.
Semua langsung terdiam demi mendengar ucapan ringan Ella itu. Seolah sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tak ada yang sanggup berbicara atau bereaksi.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼