Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
244. S2 - 2 Become 1


__ADS_3

Come a little bit closer, baby


Get it on, get it on


Cause tonight is the night


When two become one


(Mendekatlah sedikit, sayang


Ayo kita lakukan, lakukanlah


Karena malam ini adalah malamnya


Saat dua jiwa menjadi satu)


I need some love like I never needed love before


Wanna make love to ya, baby


I had a little love, now I'm back for more


Wanna make love to ya, baby


Set your spirit free,


it's the only way to be


(Aku membutuhkan cinta seperti aku tidak pernah membutuhkan cinta sebelumnya


Ingin bercinta denganmu, sayang


Aku memiliki sedikit cinta, sekarang aku kembali untuk mendapatkan yang lebih banyak


Ingin bercinta denganmu, sayang


Bebaskan jiwa ragamu,


itu satu-satunya cara untuk bersatu)


_Spice Girl - Two Become One_


______________________________________


Dini harinya Ardi terbangun karena sesuatu yang terasa berat menindih tubuhnya. Apaan coba? Adanya beban dan perasaan terjepit serta tertindih mau tau mau memaksa Ardi untuk membuka matanya walau masih terasa sangat berat.


Dan benar saja saat kedua matanya terbuka, Ardi mendapati sebuah kepala telah tersandar di dadanya, menjadikan dadanya sebagai bantal. Lebih parahnya lagi sebuah kaki dan separuh tubuh juga merangkul tubuh Ardi dengan sangat erat, menjadikan tubuhnya layaknya guling.


'Duh siapa si? Berani-beraninya ini orang ...'


Ardi diam sejenak dan berpikir untuk mengembalikan kesadaran. Memandang keadaan sekitarnya yang terasa asing, mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Ini dimana? Kamar hotel? Dan lagi siapa yang tidur seranjang dengannya?


Astagaaaa! Kemarin kan dirinya menikah. Dengan Ella pujaan hatinya...dan tadi malam, malam pertama mereka...Tunggu-tunggu, malam pertama? Ngapain?


'Aaaaaaaaaarrrrghhh...Masa malam pertama ketiduran?' Ardi mengutuk kebodohannya sendiri.


Berarti...seseorang yang sedang tidur di dadanya ini? Istrinya? Ella?...


Dag, dig, dug...Mau tak mau jantung Ardi berdetak lebih kencang demi menyadari hal itu. Keadaan semakin diperparah dengan kepala bagian bawah yang overexcited karena keadaan biologis di pagi hari. Aduh gawat ini...


'Ada sesuatu yang menonjol tapi bukan bakat,


Sesuatu yang tegak tapi bukan kebenaran,


Serta sesuatu yang keras tapi bukan ibu kota.'


"Honey...Ella sayang..." Ardi berusaha membangunkan Ella. Tapi sama sekali tak ada jawaban.


"Honey...bangun donk..."


Ardi mengusap lembut kepala dan rambut Ella dengan sebelah tangannya yang masih bebas. Sementara sebelah yang lainnya sudah tertindih badan Ella. Gak bisa gerak.


"Heemmm..." Ella mengerjap-ngerjapkan matanya. Tapi tak lama kemudian kembali merem. Tetap menjadikan dada Ardi sebagai bantal empuknya.


"Ella...Honey...ayo bangun donk..." Ardi mencolek pipi Ella yang gembul dengan jarinya. Mencubitnya pelan.


Tak lama kemudian Ella kembali membuka matanya perlahan. Mencari-cari dari mana asal suara yang memanggil namanya. Mendongakkan kepalanya dengan mata yang masih merem melek setengah sadar ke arah Ardi.


"Mas Ardi?" tanyanya keheranan melihat wajah Ardi.


"Selamat pagi istriku sayang," sapa Ardi sumringah. Senang sekali melihat penampilan bangun tidur Ella yang sangat menggemaskan baginya.

__ADS_1


"Selamat pagi..." balas Ella. Tapi sedetik kemudian Ella kembali meletakkan kepalanya ke dada Ardi, kembali tiduran disana.


'Apa ini? Kok enak banget buat dijadikan bantal, anget, empuk dan nyaman sekali rasanya.' Ella kegirangan menepuk-nepuk ringan bantal empuknya.


Entah mengapa Ella merasa sekujur tubuhnya kedinginan. Lupa kalau semalaman dirinya tidur cuma pakai lingery yang sexy. Ella semakin merapatkan pelukannya pada tubuh Ardi, mencari-cari kehangatan dari tubuh pria itu.


Dan parahnya entah sadar atau tidak, tangan Ella bergerak kemana-mana demi mencari kehangatan. Masuk-masuk ke night robe Ardi dan mengusap-usap lembut dada bidangnya. Bahkan belaian jemari Ella terus bergerak kebawah, ke bagian perut bahkan lebih jauh kebawah lagi yang tentunya lebih hangat.


Ardi sudah meremang bulu kuduknya demi merasakan sentuhan lembut Ella di sekujur tubuhnya, bahkan sampai daerah-daerah sensitifnya. Menggelinjang kegelian dan keenakan rasanya. Dan tentu saja si 'boy' yang sudah overexcited dari tadi semakin tegak berdiri menunjukkan kegagahannya.


"El...Ella...itu..." Ardi sudah tak berdaya.


"Kamu jangan bangunin 'dia' donk."


"Hmm bangunin apa mas?" Ella nampak kebingungan.


"Itu yang kamu pegang si 'boy' jadi bangun kan."


Ella mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengembalikan kesadarannya sepenuhnya. Dan begitu kesadarannya kembali, Ella kaget sekali menyadari tubuhnya sedang memeluk erat tubuh Ardi. Lebih kaget lagi saat mendapati tangan kirinya sedang memegang sesuatu gundukan menonjol yang sangat keras di balik celana Ardi.


'Apa itu? Jangan-jangan...'


"Aaaaaarrggh...maaf, maaf mas Ardi."


Ella kebingungan, buru-buru menarik tangannya dan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Ardi. Mundur mengambil jarak beberapa jengkal dari Ardi. Memalingkan wajahnya dengan sangat malu.


Ardi bangkit dari tidurnya. Menggerak-gerakkan lengan kirinya. Rasanya separuh tubuhnya sedikit kebas, kayaknya akibat tertindih badan Ella semalaman ini. Ardi memperhatikan Ella lebih seksama, betapa kagetnya Ardi melihat penampilan Ella kali ini.


Rasanya sudah berdenyut-denyut kepala bagian atas dan bawahnya demi melihat Ella dengan lingery sexy berwarna hitam. Warna favoritnya. Lingery dengan bahan transparan dan berenda yang tidak mampu menutupi keindahan tubuh Ella.


Lingery itu masih menampakkan detail lekukan tubuh Ella yang sangat sempurna. Menampakkan kulit putih dan mulusnya yang sangat kontras dengan warna hitam. Bahkan lingery itu dapat menambah kadar keseksian istrinya itu beberapa kali lipat. Membuat Ardi semakin panas dingin dan penasaran ingin segera menerkamnya bagaikan binatang buas.


Ardi sudah tak tahan lagi rasanya, seakan seluruh saklar di dalam tubuhnya sudah ON menghidupkan engine siap tempurnya. Ardi meraih sebelah tangan Ella, menarik tubuh istrinya itu lebih mendekat padanya. Mendekapnya dengan sangat erat di dadanya yang sudah berdentum keras tak karuan.


"Mas?..."


Ella kebingungan dan sangat malu dengan tindakan tiba-tiba Ardi. Lebih malu lagi saat menyadari kalau dirinya dari semalam memakai lingery yang sexy. Maluuuuu banget.


"Honey...may I?" Ardi meminta ijin.


Rasanya sudah sangat menyiksa dan tak tertahankan lagi. Tapi tetap saja Ardi ingin meminta persetujuan dari Ella. Ingin tetap santun dalam memperlakukan istrinya.


"Let the two Become one." Ardi tersenyum sambil menyibakkan anak rambut Ella yang berantakan menutupi wajah kebelakang telinganya.


'Wah sepertinya sudah waktunya, aku harus gimana?'


Ella semakin panik, tak tahu harus bagaimana. Apa mungkin dirinya hanya perlu pasrah saja dan membiarkan Ardi yang memimpin jalannya permainan? Sama seperti waktu dansa tadi?


Ella sadar benar bahwa sudah merupakan hak mutlak dari Ardi sebagai suaminya untuk mendapatkan pelayanan darinya. Sebagai seorang istri sudah merupakan kewajiban bagi Ella dan akan berdosa kalau menolak permintaan Ardi. Sebaliknya akan mendapatkan pahala yang besar jika Ella dapat melayani suami dengan sebaik-baiknya.


Baiklah cepat atau lambat memang hal ini tak dapat dihindari lagi... Mau sekarang atau besok atau kapanpun pasti juga mereka harus melakukannya.


'Bismillah, semoga apa yang akan kami lakukan bernilai ibadah.'


"Sure..." Ella mengangguk ringan dengan malu-malu.


"Thanx you honey... Bismillah..."


Ardi langsung menyerbu dan mendaratkan bibirnya di bibir Ella. Menikmati setiap kecupan yang panas membara dan sangat menggairahkan.


Keduanya berpelukan erat dan berbagi keintiman dalam mengungkapkan rasa cinta mereka satu sama lainya. Mencurahkan segalanya dalam panasnya api asmara yang membara. Membuat dua tubuh dan dua jiwa mereka menjadi satu. Two Become one.


Cause I give you all of me


And you give me all of you


(*Karena aku memberimu segalanya dariku


Dan kau memberiku segalanya darimu)


Pagi itu bahkan saat sang Surya belum terbit di ufuk timur, Ardi akhirnya menikmati jamuan buka puasa pertama istimewa. Setelah menahan diri dan berpuasa selama 30 tahun lamanya akhirnya terjadilah. Sesuatu yang sangat indah dan nikmat luar biasa. Sungguh kenikmatan dunia yang tiada tara. Ditambah lagi dengan keadaan halal yang penuh berkah dan pahala.


'Nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan?'


Segala teori dan ilmu yang dipelajari Ardi sebelumnya dari berbagai sumber ternyata tidak berlaku di medan pertempuran. Terpatahkan dan terbantahkan oleh kejadian-kejadian diluar logika. Terlalu banyak hal-hal diluar dugaan yang menambah pacuan hormon adrenalin, menambahkan nilai kenikmatan.


Tetapi intuisi sebagai seorang pria sejati dapat muncul kapan saja. Intuisi sebagai seorang penyerang bahkan bisa juga menjadi binatang buas. Intuisi yang muncul begitu saja tanpa komando, mengalahkan segala pikiran sehat. Mengedepankan gairah dan kenikmatan maha dahsyat sampai ke tujuan akhir yang memberikan kepuasan kepada keduanya.


"Honey...kamu gak pa-pa?" Ardi bertanya khawatir kepada Ella setelah beberapa lama mereka mengakhiri ritual. Masih berpelukan dengan erat sambil menata napas memburu.


Ella hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.

__ADS_1


"Sakit banget ya? Masih berdarah? Maaf ya, aku yang terlalu bersemangat dan tidak bisa menahan diri." ujar Ardi dengan nada penuh penyesalan.


Ardi merasa bersalah karena mungkin dirinya telah membuat Ella kesakitan bahkan sempat berdarah juga tadi. Terharu karena istrinya itu begitu penurut yang bahkan tak sekalipun mengeluhkan sakitnya. Ella melayani Ardi dengan sepenuh jiwa dan raganya.


"I'm Ok." Ella tersenyum lemah menjawabnya.


Ardi dapat melihat Istrinya itu kelelahan dan kesakitan tapi juga. Tetapi selain itu juga tersirat rona bahagia dan kepuasan juga di wajah cantiknya.


"Mau minum obat? Aku ambilkan ya? Obat anti perdarahan dan anti nyeri yang diberikan Intan?" Ardi sedikit panik dan tak tega melihat keadaan Ella yang sampai begitu karena ulahnya.


Ella menggelengkan kepalanya, "Aku gak pa-pa..."


"Yaudah kamu istirahat dulu ya, sini tiduran di dadaku lagi." Ardi menawarkan dada bidangnya sebagai bantal empuk untuk Ella. Ingin memberikan kenyamanan pada istrinya itu


Ella menurut saja meletakkan kepalanya di dada Ardi, mencari kehangatan, perlindungan dan ketenangan disana. Rasanya lega sekali telah berhasil memenuhi kewajiban pertamanya sebagai seorang istri. Berhasil mengatasi ketakutan yang menghantuinya.


Sekali lagi bersyukur karena Ardi memperlakukannya dengan sangat lembut dan beradab. Yah meski tak dapat dipungkiri lonjakan hormon membuat keduanya terbawa suasana dalam permainan panas berapi-api.


Ardi mendekap erat tubuh istrinya itu dengan penuh kasih sayang. Semakin dalam saja rasa cintanya pada Ella setelah proses penyatuan mereka berdua, seakan dua tubuh dan jiwa menjadi satu, Two Become One


Sebelah tangan Ardi memeluk Ella dengan erat, dan sebelah tangan lainnya mengusap lembut puncak kepalanya. Mereka berbagi selimut bersama, berbagi kehangatan bersama sampai tak lama kemudian keduanya terlelap ke alam mimpi bersama.


~∆∆∆~


Malam harinya kembali diadakan perhelatan pesta pernikahan mereka untuk sesi kedua. Kali ini memakai tema classic dengan konsep golden marriage. Pemilihan dekorasi untuk hari kedua ini bernuansa gold dan putih. Mimbar pelaminan tempat pengantin dan kedua pasang orang tua juga sudah ditata dengan megahnya di tengah ruangan.


Pesta hari ini yang diundang lebih besar jumlahnya daripada sesi pertama kemarin. Yang menjadi tamu adalah teman-teman Ella sesama dokter, rekan kerja dari rumah sakit Hartanto Medika, rekan PPDS dari RSUD G, serta saudara, kerabat dan kenalan keluarga Ella lainnya. Dari keluarga Ardi pun juga tak sedikit yang diundang untuk hadir malam ini. Kerabat dan sanak saudara jauh serta rekanan bisnis dan bahkan para karyawan Pradana yang banyak sekali jumlahnya.


Karena yang hadir kemarin malam khusus para sultan dan sultanwati saja, jadi jumlahnya tidak banyak. Tapi untuk malam ini, jangan ditanya lagi. Sudah seperti perhelatan Akbar dengan ribuan tamu yang hadir.


Ardi dan Ella duduk berdua di singgasana pelaminan mereka, bagaikan raja dan ratu semalam. Kali ini Keduanya mengenakan busana pengantin dengan tema clasik. Ardi dengan broken white satin tuxedonya yang dipadukan dengan vest, sapu tangan dan dasi berwarna coklat. Handsome absolutely.


Sementara Ela juga tampil menawan dengan simple glitery wedding dress-nya yang melebar di bagian bawah dan berakhir dengan ekor memanjang. Sapuan make up minimalis dan hairdo simple kembali menjadi pilihan Ella. Tiara yang mewah serta veil memanjang juga tak ketinggalan melengkapi penampilannya. Totally georgeous.


Ella dan Ardi menyambut satu persatu tamu yang hadir dan menyalami mereka ke mimbar. Menyambut siapa saja yang memberikan selamat dan ucapan doa kepada mereka. Berbagi kebahagiaan dan berkah pernikahan dengan semua orang.


Tepat ditengah berlangsungnya pesta datanglah tamu yang sangat dinantikan oleh kedua mempelai, Ella dan Ardi. Siapa lagi kalau bukan Roni? Seorang pria yang sangat baik, sahabat terbaik bagi Ella dan Ardi. Roni dengan segala kebesaran hatinya yang telah mengalah demi kebahagiaan mereka berdua.


Kali ini Roni hadir dengan ditemani oleh Sari. Entah sudah sejauh mana hubungan mereka, yang pasti keduanya terlihat sangat serasi bersanding bersama. Sari memang sudah hadir kemarin bersama keluarganya, tetapi gadis itu memilih untuk kembali hadir menemani Roni. Semoga saja ini menjadi pertanda baik untuk hubungan keduanya.


"Selamat ya atas pernikahannya, semoga kalian bahagia selamanya. Semoga menjadi keluarga yang samawa." Roni mengulurkan tangan dan memberikan ucapan selamatnya pada Ardi dengan senyuman lebar yang terkembang.


"Terima kasih." Ardi membalas jabatan tangan Roni.


"Sekarang Ella sudah resmi menjadi istrimu. Jaga dan bahagiakan dia." Pinta Roni pada Ardi. Dan Ardi mengangguk mantap sebagai jawabannya.


Selanjutnya Roni menghampiri Ella, merentangkan kedua lengannya lebar-lebar untuk sahabatnya itu. Menawarkan pelukan persahabatan.


Tanpa pikir panjang lagi Ella langsung menghambur ke pelukan Roni. Menyambut pelukan persahabatan yang hangat itu.


"Selamat ya, El. Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Jangan lupakan kewajibanmu pada suami juga pada keluargamu. Doaku selalu untukmu, semoga kamu bahagia selalu." Ujar Roni sambil menepuk ringan punggung Ella. Entah dengan perasaan seperti apa pria itu mengatakannya.


"Makasih...makasih banyak ya. Thanx for everything you've done for me," jawab Ella terharu dan tak bisa menahan butiran bening menetes disudut matanya.


"Senyum donk. Masa pengantin nangis sih?" goda Roni saat melepaskan pelukan dari tubuh Ella.


"Hehehe iya..." Ella menghapus air matanya dan mengembangkan senyuman indahnya.


"Selamat sekali lagi ya buat kalian berdua." Giliran Sari yang memberikan selamatnya. Memeluk dan mencium Ardi dan Ella bergantian.


"Makasih lho Sar, udah datang lagi." Jawab Ardi.


"Makasih banyak," Ella menambahkan.


Kemudian mereka berempat melakukan beberapa kali sesi pemotretan bersama. Sebelum akhirnya Roni dan Sari pamit turun dari pelaminan karena antrian untuk bersalaman dengan kedua pengantin sudah panjang.


"Semoga kalian berdua juga bisa menemukan kebahagiaan." Ella memandangi kedua sosok sahabatnya itu, mendoakan Sari dan Roni agar bisa menemukan kebahagiaan mereka sendiri.


"Amiiin," Ardi ikut mengamini.


Ardi turut mengharapkan kebahagiaan untuk mereka berdua. Keduanya adalah orang-orang yang baik. Mereka sudah sepantasnya untuk mendapat kebahagiaan juga. Semoga saja doa kedua mempelai diamini oleh malaikat yang turut hadir dalam pesta ini.


~∆∆∆~


🌼THE END🌼


TERIMAKASIH SUDAH SETIA MENGIKUTI KISAH DOKTER ELLA. 😘


Akhirnya setelah perjuangan panjang dengan berbagai halang rintang, Mbak Ella dan Mas Ardi bisa bersanding berbahagia sebagai pasangan suami istri. Kisah mereka mengajarkan kita bahwa cinta perlu perjuangan. Serta harus diperjuangan dengan tidak mudah. Dibutuhkan tekat yang kuat, keyakinan, usaha dan doa kepada Tuhan. Dan setelah perjuangan panjang, maka akan mendapatkan buah yang manis pada akhirnya.


Kehidupan babak baru yang sesungguhnya baru akan dimulai bagi mereka setelah ini. Tak ada jaminan semua akan mulus dan baik baik saja. Tapi dengan segala cinta dan ketulusan, mereka pasti akan dapat melaluinya bersama. Untuk menciptakan keluarga kecil yang bahagia, Life happily ever after.

__ADS_1


__ADS_2