
'Apakah kau tahu rasanya saling mencitai namun berusaha bertahan untuk saling tidak memiliki? Bertahan untuk tidak mengungkapkan cinta satu sama lainnya? Percayalah ini lebih buruk dari sekedar...Patah hati...Ini lebih bisa dikatakan sebagai ketidak berdayaan.'
_____________________________________
Keesokan harinya Ella terbangun dengan kondisi tubuh tidak sepenuhnya prima. Semalaman dia hanya bisa menangis dan menangis sampai air matanya kering. Tak ada gairah untuk sekedar makan dan minum. Terlalu sedih dan hancur untuk sekedar bangkit dari ranjangnya dan keluar dari kamarnya untuk mengusi perutnya.
Terlalu klise memang kedengarannya dan sangat mendramatisir. Ella juga tak mengira dirinya bisa seperti itu, semelankolis dan semenyedihkan itu. Ella tak mengira dirinya yang selalu bisa berpikir dengan logis dan rasional bisa menjadi benar-benar merasa otaknya blank. Sama sekali tak bisa berpikir. Mungkin memang benar bahwa tak ada yang dinamakan logika untuk cinta.
Ella juga tak mengira rasanya akan sehancur dan semenyakitkan itu rasanya. Hanya untuk memikirkan dirinya harus berpisah dan mengakhiri segala hubungannya dengan Ardi. Kukira aku kuat, kukira aku tegar dan aku bisa melakukannya...Tapi nyatanya tak semudah itu untuk merelakan dan menata hatiku yang telah hancur berkeping-keping.
Semalaman Ardi berkali-kali mencoba untuk menghubungi Ella melalui ponselnya, tetapi Ella tak menghiraukannya. Ella sama sekali tak ingin berbicara dengan pria itu. Ella mengaktifkan mode silent di ponelnya dan menjauhkan ponsel itu dari penglihatannya. Ella mengabaikan begitu saja semua panggilan masuk dari Ardi. Tak perduli Ardi sudah sangat mengkhawatirkannya di belahan bumi yang lainnya.
Bahkan puluhan pesan singkat dari Ardi pun tidak ada yang dibaca dan dibalas oleh Ella. Rasanya dirinya ingin menjauh dulu dari pria itu. Menata hatinya dan tidak berhubungan dulu dengan Ardi sampai perasaannya sedikit tenang. Sampai dirinya sudah siap untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal.
Ella memaksakan dirinya yang terasa lemas untuk berangkat ke kampus. Merasa sayang untuk meminta ijin karena hari ini ada perkuliahan penting dari pagi sampai siang. Ella sengaja tidak membawa mobilnya dan memilih naik taxi saja dari rumah ke kampus. Sadar diri bahwa tubuhnya terlalu lemah untuk menyetir.
Sesuai janjinya kemarin Mahes menyuruh seseorang untuk mengantarkan mobilnya ke rumah pada sore harinya. Setelah dirinya sendiri mengantar Ella pulang di siang harinya setelah kejadian di Sushi Toi.
Begitu sampai di kampus Ella langsung memasuki ruang kuliah satu tempatnya akan menerima materi perkuliahan hari ini. Kali ini kelas besar gabungan dengan jurusan spesialistik yang lainnya dengan jumlah mahasiswa residen sekitar empat puluhan. Dan hari ini kelas besar ini dijadwalkan akan ada dua materi kuliah berturut-turut secara maraton. Mulai jam delapan pagi sampai nanti jam setengah dua belas siang.
Ella sama sekali tak bisa berkonsentrasi selama berlangsungnya mata kuliah pertama. Tentang fisiologi tubuh manusia. Kepalnya terasa begitu berat dan pusing, ditambah dengan materi kuliah yang cukup berat dan susana kelas yang cukup sesak dan padat. Membuat Ella hanya bisa meletakkan kepalanya di tangan. Bersangga kepada telapak tangannya untuk menahan beban kepalanya yang terasa berat semakin berat.
Saat materi kedua berlangsung Ella sudah hampir tak kuat lagi untuk bertahan. Materi tentang farmakologi kedokteran dengan berbagai rumus kimia yang makin membuat kepalanya pusing hanya dengan melihatnya saja. Ella meletakkan kepalanya yang semakin berat di atas lengannya yang dilingkarkan diatas meja, meja yang tergabung dengan kursinya.
Ella tak lagi memperdulikan teman yang melihatnya dengan tatapan tidak suka, mengiranya ketiduran. Dia juga sudah tak memikirkan profesornya yang kemungkinan akan marah karena dirinya sama sekali tak memperhatikan materi kuliah yang diberikannya. Pandangannya Ella mulai gelap dan berputar-putar, perlahan namun pasti dia tak dapat merasakan apa-apa lagi. Tak dapat mengetahui kejadian disekitarnya lagi.
Begitu dapat membuka matanya dan tersadar Ella mendapati dirinya terbaring, terlentang diatas sebuah bed perawatan. Diedarkannya pandangan berkeliling, didapatinya sebuah infuse set terpasang di lengan kirinya. Dan lebih jauh lagi didapatinya dirinya berada di sebuah ruang observasi yang sepertinya di IGD sebuah rumah sakit.
__ADS_1
Aku kenapa? Ella berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi padanya. Tadi kan aku sedang kuliah dan tiba-tiba pusing banget. Lalu pandanganku gelap. Terus kok tiba-tiba bisa ada disini? Masak aku pingsan di kelas tadi? Ella bingung sendiri jadinya.
"El? Kamu sudah sadar?" Sebuah suara yang tidak asing dan terasa sangat dirindukan oleh Ella terdengar dengan nada lembut dan khawatir. Dan benar saja, tak beberapa lama kemudian sosok itu hadir menghampiri Ella. sosok yang juga sangat dirindukannya, Ardi. Pria itu menghampirinya dengan outfit lengkap resminya, setelan jas hitam dengan dasi garis-garisnya. Keren? Sudah pasti.
"Mas Ardi?" Ella bertanya dengan sedikit kebingungan. Kok bisa-bisanya Ardi sudah ada disini? Bukannya dia masih di Singapore dan besok baru kembali?
"Yah ini aku, sayang. Kamu istirahat dulu ya, aku panggilin dr.Maheswara sebentar." Ardi beranjak meninggalkan Ella, dan tak beberapa lama kemudian kembali lagi bersama Mahes dalam balutan jas putihnya. Sepertinya pria itu sedang bertugas jaga di IGD ini.
"Gimana keadaan kamu, El?" Mahes menghampiri Ella, memeriksa tubuh gadis itu dengan cekatan. "Masak PPDS Uner tumbang kayak gini? Malu-maluin aja," ujar Mahes menggoda Ella. Padahal Mahes tahu benar kenapa Ella bisa seperti ini, pasti karena kejadian kemarin. Pasti kemarin semalaman gadis ini menangis, tidak tidur dan tidak makan mungkin sampai siang ini. Jelas saja tubuhnya ambruk tidak kuat saat hari ini dipakai untuk kuliah maraton empat jam berturut-turut.
"Udah mendingan. Kok aku bisa ada disini?"
"Temen kuliahmu tadi heboh membawa kamu ke IGD. Roni dan kawan-kawannya. Mereka panik, kirain kamu kenapa ternyata cuma dehidrasi berat dan kekurangan energi. Masuk satu flash infuse juga pasti udah enakan." Mahes menjelaskan keadaan Ella.
"Mas Ardi kenapa bisa disini juga?" Tanya Ella masih penasaran.
"Mahes yang ngasih tahu kamu pingsan. Dari bandara aku langsung lari kesini tadi. Ampir mati jantungan aku tadi denger kabar kamu masuk IGD." Ardi menjawab sambil mendekati Ella di ranjangnya.
"Ok, thanx ya." Ardi menjawab sementara Ella hanya mengangguk saja, masih sedikit lemas. Ardi mengambil kursi plastik dan mendudukinya tepat disebelah ranjang Ella. Digenggamnya sebelah tangan Ella, dipandanginya wajah gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Keduanya sama-sama tak berbicara, hanya saling memandang penuh arti. Melepaskan kerinduan mereka setelah hampir sebulan tak berjumpa. Ardi mengusap kepala dan rambut Ella dengan lembut. Hatinya terasa sakit dan hancur melihat Ella terbaring lemah begini. Melihat gadis itu sakit karena kejadian kemarin dengan mamanya.
Mahes sudah menceritakan inti dari pembicaraan Ella dan mamanya kemarin. Ardi sendiri pun tak percaya bagaimana mamanya bisa setega itu pada gadis yang dicintainya? Bagaimana mamanya bisa sekeras kepala itu untuk menolak dan menentang hubungan mereka. Serta bagaimana mamanya bisa memaksa Ella untuk menyerah akan hubungan mereka.
Ardi sudah bertekad dalam hatinya bahwa dia tak akan menyerah, tak akan mengakhiri hubungan mereka. Kecuali Ella sendiri yang mengatakannya padanya. Ella sendiri yang meninggalkannya dan mencampakkannya.
Dirinya bisa apa coba kalau Ella sendiri melepaskannya genggaman tangannya? Tak mungkin juga dirinya untuk memaksakan kehendaknya pada gadis itu. Pemaksaan yang hanya akan membuatnya semakin menderita dan tak bahagia. Tentu saja Ardi tak mau itu terjadi. Dia hanya ingin Ella hidup dengan bahagia...Baru kali ini dalam hidupnya Ardi merasakan derita ini. Benar-benar tak berdaya, hopeless.
__ADS_1
"Bukannya besok harusnya jadwal pulang, mas?" Ella bertanya penasaran.
"Iya masih ada acara meet and greet hari ini. Tapi gak penting, Cindy dan Bambang aja bisa mewakiliku untuk hadir," Ardi menjawab.
"Kamu yang lebih penting, El...Aku kangen banget sama kamu."
"Gombal..." ujar Ella tersenyum lemah.
"Hampir sebulan, El. Aku udah bertahan gak ketemu kamu. Eh waktu akhirnya bisa ketemu malah kamu sambut kayak gini, terbaring pucet dan lemah di IGD rumah sakit kayak gini. Gak ada romantis-romantisnya sama sekali tahu." Ardi sedikit mengomeli Ella. Merasa geram juga karena Ella yang biasanya selalu mengingatkan dirinya untuk menjaga kesehatan malah melupakan kesehatannya sendiri sampai ambruk dan harus dirawat kayak gini.
"Maaf ya..." Ella meminta maaf.
"Kenapa malah kamu yang minta maaf...Harusnya aku yang meminta maaf padamu. Maafkan aku, El. Maafkan aku yang tak bisa menjaga dan melindungimu. Maafkan aku yang membuatmu sampai kayak gini." Ardi meletakkan jemari tangan Ella yang dari tadi digenggamnya ke pipinya. Menggerakkan jemari itu untuk mengusap pipinya sendiri. Lalu mencium lembut jemari tangan itu.
"Udah sekarang kamu istirahat dulu yang penting. Jangan mikir macam-macam lagi." Ardi mengakhiri percakapan mereka. Ella hanya mengangguk lemah menjawabnya.
Ardi menaikkan selimut Ella sampai dadanya, mengusap lembut dahi dan rambut gadis itu, memberinya kenyamanan. "Tidur dulu ya, sampai infusenya habis," ujar Ardi sambil terus mengusap kepala Ella sampai gadis itu tertidur pulas.
Beberapa jam kemudian cairan infuse Ella sudah habis satu flash dan Ella sudah terlihat lebih segar. Ardi pun mengantar gadis itu pulang ke rumahnya. Dengan meminjam mobil Mahes kali ini. Dia terlalu buru-buru tadi pagi ke bandara untuk mengejar penerbangan pertamanya dari Changi Airport Singaphore, sampai lupa meminta kunci mobil yang diparkir di Bandara juanda pada Bambang.
Lebih-lebih saat Mahes menelphonenya dan memberitahukan bahwa Ella pingsan dan masuk IGD. Ardi langsung saja menaiki taxi dari bandara, menuju rumah sakit tempat Ella dirawat. Terlalu khawatir akan keadaan dan keselamatan gadisnya itu.
Sesampai di rumah Ella tentu saja Ardi disambut dengan keheranan oleh kedua orang tua Ella. Kedua orang tua Ella heran bagaimana bisa Ardi yang mengantarkan Ella pulang. Tapi keheranan mereka segera teralihkan oleh keadaan Ella yang terlihat lemah dan memprihatinkan. Tanpa berkata apapun akhirnya mereka mengijinkan Ardi masuk dan membawa Ella ke kamarnya, menidurkan di kasurnya.
Mama Ella terus saja mengikuti dan melihat apa saja yang dilakukan oleh kedua anak muda itu. Memastikan tak ada yang sesuatu yang terjadi diantara keduanya. Sedikit takut suaminya salah paham dan marah lagi pada Ardi yang masih saja berhubungan sedekat itu dengan Ella.
"Lanjut istirahat ya. Get Well soon." Pamit Ardi setelah merapikan posisi selimut di tubuh Ella. Setelah itu barulah kemudian mama Ella mengajak Ardi untuk ke ruang tengah menemui suaminya.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼