
I never know I could love anyone
As much as I do love you
And always be my greatest wish
To give myself away like this
I'd never thought I'd found someone
To love so unconditionally in you
I found the person to live with
Forever and most happily
(*Aku tak pernah tahu bisa mencintai seseorang
Sebesar aku mencintai dirimu
Dan selalu menjadi keinginan terbesarku
Untuk menyerahkan diriku padamu seperti ini
Aku tak pernah berpikir akan menemukan seseorang
Untuk cinta tanpa syarat seperti dirimu
Aku menemukan seseorang untuk hidup bersama Selamanya dan paling bahagia).
________________________________
Keesokan harinya adalah hari paling bikin galau dalam hidup Ella. Seolah ucapan Ardi tentang lamaran kemarin masih belum cukup membuat Ella gak bisa tidur semalaman. Kepikiran.
Hari ini malah dilewati Ella dengan berbagai keanehan yang terjadi. Bukan keanehan yang mempengaruhi daily life-nya si. Tapi lebih-lebih pada keanehan karena seseorang. Si babang sultan kesayangan yang bertingkah sangat aneh hari ini.
Pagi-pagi biasanya si babang pasti sudah menyapa Ella dengan ucapan selamat paginya. Tapi hari ini tidak ada. Padahal sejak mereka jadian lagi, Ardi tak pernah sekalipun absen mengucapkan selamat pagi lengkap dengan emot ciumnya. Kenapa ya? Apa dia belum bangun?
Akhirnya Ella yang mengalah untuk mengucapkan selamat pagi duluan pada Ardi, gak papa kan sekali-kali gantian. Tapi bahkan sampai siang bolong dan lebih parah lagi sampai sore dan malam hari seperti sekarang, sama sekali tak ada jawaban dari ucapan selamat pagi Ella. Aneh, Weird.
Membuat Ella semakin galau dan kepo saja apa yang sebenarnya terjadi dengan Ardi? Tak ada kabar seharian bagaikan ditelan bumi. Gak biasanya dia begitu, biasanya sesibuk apapun pasti Ardi menyempatkan untuk sekedar memberi kabar. Menanyakan kabar, sekedar mengingatkan makan atau gombalan bucin tidak pentingnya.
Tapi sekarang apa? Bahkan pesan singkat dari Ella sejak pagi pun tak dibalas. Dan parahnya nomer Ardi sama sekali tak bisa dihubungi. Membuat Ella bad mood dan uring-uringan seharian. Suasana hati yang bahkan terbawa saat harus melayani pasien di poli penyakit dalamnya tadi pagi.
Kenapa dia? Apa mas Ardi sakit? Gak mungkin kan? Kemarin sore masih seger buger begitu. Apa sakit vertigo-nya kambuh mendadak? Apa terjadi sesuatu? Kecelakaan?...
Nggak! Gak mungkin terjadi! Yah mungkin Ardi cuma sibuk saja dengan pekerjaannya, Ella mencoba menenangkan dirinya sendiri. Mau tak mau jadi kepikiran yang enggak-enggak juga kan kalau Ardi tiba-tiba menghilang begini.
Ella jadi heran sendiri bagaimana bisa dirinya untuk mencintai seseorang sebesar ini. Mencintai Ardi dengan sebegitu besarnya. Sampai-sampai sehari tanpa kabar darinya saja bisa bikin Ella kacau dan kelimpungan begini. Serasa ada sesuatu yang kurang, hilang dalam hidup Ella. Hampa...
"El itu ada tamu nyariin kamu di depan." Lilik memanggil Ella di kamarnya.
"Tamu? Siapa? Mas Ardi?" Tanya Ella penuh harap.
__ADS_1
"Bukan. Pria muda yang lumayan keren juga. Tapi mama gak kenal." Jawab mama Ella detail.
Dengan keheranan maksimal Ella segera beranjak ke ruang tamu dan didapatinya seorang pria dengan wajah super serius disana. Pria yang pernah dikenalkan Ardi sebagai salah satu anak buahnya waktu upacara penyumpahan Ella. Pria yang membawakan hadiah cheese cake untuk Ella.
"Kresna?" tanya Ella memastikan.
Kresna hanya mengangguk sebagai jawaban. "Selamat malam, bu Ella... Tunggu sebentar," Kresna kemudian berlalu pergi ke arah mobilnya mengambil sesuatu disana.
Entah mengapa Ella merasa pria satu ini begitu misterius dan susah diajak bicara. Apa memang begini pembawaan seorang hacker? Ella duduk di sofa menunggu apa yang kira-kira akan dilakukan Kresna. Sudah jelas ini perintah dari Ardi. Gak mungkin kan Kresna datang kesini atas inisiatif sendiri? Kenal aja nggak sama Ella.
Beberapa saat kemudian Kresna kembali dengan membawa sebuah buket bunga mawar super besar lengkap dengan vas putih panjangnya. Mawar berwarna pink, putih, dan baby pink dirangkai dengan apik bersama bunga-bunga kecil berwarna putih, dedaunan hijau serta sebuah pita berwarna pink yang senada. Kresna menyerahkan buket bunga itu kepada Ella yang menerimanya dengan sangat keheranan dan bertanya-tanya.
"Apa ini?" Ella bertanya keheranan. Tapi dalam hati sudah dapat menebak siapa yang mengiriminya buket bunga ini. Buket bunga yang pastinya mahal untuk ukuran sebesar itu. Siapa lagi kalau bukan si babang sultan. Tapi buat apa coba?
Kresna diam saja tak menjawab. Memasang wajah tanpa ekspresi dan tanpa emosi. Ella mendengus kesal karena tak dapat mencari informasi apapun dari Kresna. Ella mencari-cari dari buket bunganya dan benar saja disana terdapat sebuah kertas kecil berbentuk hati dengan sebuah pesan singkat.
*I miss you honey...Come to me please...*
Ella mengerutkan dahinya demi membaca pesan itu. Ardi kenapa? Kenapa gak datang sendiri untuk memberikan buket bunga kepadanya? Kenapa malah menyuruh Kresna untuk memberikannya pada Ella? Apa dia gak bisa datang? Apa dia beneran sakit? Ella mau tak mau jadi cemas juga dengan keanehan ini. Terlalu janggal rasanya, Weird.
"Mas Ardi kenapa Kres? Dia gak kenapa-napa kan?"
"Saya kesini untuk jemput bu Ella."
Duh ini orang ditanyain apa malah jawab apa. Ella semakin gemas saja sama Kresna ini. Kenapa bukan Bambang saja si yang dikirim kesini? Kalau Bambang kan masih bisa ditanya-tanyain. Beda sekali dengan Kresna ini yang sangat misterius.
"Sebentar aku ambil barangku dulu." Ella buru-buru ke kamarnya memakai outer bolero lengan panjang warna hitam diatas simple dress pink dengan motif bunga-bunga yang dikenakannya. Tak lupa Ella melakukan touch up ringan dengan wajahnya serta membawa hand bag, dan memasukkan dompet serta ponselnya di dalamnya.
Ella menghampiri mamanya di ruang tengah untuk pamit keluar sebentar. Ella menjelaskan bahwa pria yang menjemputnya adalah bawahan Ardi. Biar gak khawatir si mama mengira dirinya keluar dengan pria asing yang tak dikenal begitu.
Kresna langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Diam saja seperti sedang berkonsentrasi dengan kemudi dan jalanan malam. Ella hanya melirik pria itu tak berani mengajak bicara. Aura Kresna seakan menegaskan 'don't disturb me' terpampang di dahinya.
Akhirnya mereka berdua hanya terdiam selama perjalanan. Ella masih mencoba untuk menghubungi Ardi dengan ponselnya berkali-kali. Tapi tetap saja sama sekali gak ada respons. Kayaknya lagi mati deh ponselnya. Duh kamu kenapa si mas Ardi?...
Ternyata mobil terus melaju sampai ke pinggiran kota Surabaya dan berakhir di Pradana Bisnis Park. Kresna memberhentikan mobilnya di depan kantor milik perusahaan Pradana. Kantor yang pernah di datangi Ella beberapa waktu yang lalu.
"Pak Ardi menunggu di kamar pribadinya. Di dalam ruangan kantornya di lantai 3." Kresna menjelaskan tempat Ardi berada pada Ella.
Ella hanya menganguk sebagai balasan dan langsung menghambur keluar dari mobil. Memasuki gedung yang sangat sepi dengan pencahayaan remang-remang. Maklum saja sudah malam dan tak ada karyawan yang tinggal sampai jam segini di perusahaan kan? Palingan cuma Ardi dan orang-orang kepercayaannya waktu lembur saja.
Ella berjalan cepat kearah lift, menekan tombol lantai tiga dan lanjut berjalan ke ruangan Ardi di ujung lantai. Kamu kenapa si mas Ardi? Ella semakin khawatir saja. Diketuknya pintu ruangan tapi tentu saja tak ada yang menjawab. Ruangannya terlalu besar dan kedap suara. Akhirnya Ella nekat masuk saja ke dalam ruangan itu.
Living room di sayap kiri kosong, tak ada siapapun. Bahkan working room di sayap kanan juga kosong. Meski komputer masih menyala dan tumpukan dokumen masih berantakan di atas meja. Ella juga dapat melihat ponsel Ardi tergeletak disana dalam posisi mati dan charging.
"Mas? Mas Ardi?" Ella mengetuk pintu kamar pribadi Ardi yang terhubung ke ruangan. Tak sopan kan rasanya kalau langsung nyelonong masuk.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka, dan Ardi langsung menyambut Ella dengan senyumannya.
Tanpa sadar Ella langsung saja menghambur dan memeluk tubuh pria itu. Lega karena ternyata Ardi baik-baik saja tak kurang satu apa pun. Lega karena segala ketakutan dan kecemasannya yang tak beralasan tidak menjadi kenyataan.
"El? Kamu kenapa?" Ardi bertanya kebingungan. Ini ngapain Ella ketemu-ketemu main peluk aja? Kangen banget ya sama aku?
"Mas Ardi gak pa-pa?" Ella melepaskan pelukannya dan mengamati Ardi dengan seksama dari ujung kepala sampai ujung kaki.
__ADS_1
Gak ada yang aneh kok, biasa aja penampilannya dengan kemeja kotak kotak dan celana jeansnya. Penampilan semi formal Ardi sehari-hari. Ella meletakkan punggung telapak tangannya di dahi Ardi juga, normal kok. Fix sehat.
"Aku kenapa emangnya?" Ardi balik nanya. Diajaknya Ella masuk ke kamarnya.
Kamar yang terlihat nyaman dengan kasur empuk ukuran king size. Sofa ukuran besar lengkap dengan mini home teatre. Serta walk in wardrobe yang langsung berhubungan dengan kamar mandi. Tempat Ardi menyimpan pakaian-pakaian dinasnya serta berbagai outfit perlengkapan resmi lainnya.
"Mas Ardi itu ngilang seharian gak ada kabar sama sekali. Aku kan jadi khawatir banget, takut kamu sakit atau kenapa-napa." Ella menjawab jujur.
"Oh, kemarin ada rapat sampai malam. Terus tadi pagi aku bangun kesiangan. Seharian banyak urusan dan ribet banget. Jadi lupa kasih kabar. Tapi kan aku udah ngasih buket sebagai permintaan maaf." Ardi menjelaskan kesibukannya seharian.
"Dasar egois! Kalau aku yang ngilang aja kamu ngamuk-ngamuk dan nyariin aku sampai ketemu. Kalau kamu yang ngilang kayak tadi aku bisa apa?..." Ella melampiaskan kekesalannya.
Gak tahu apa yang disini udah galau menantikan kabar berita, eh yang disono malah santai aja. Ngasih buket buat permintaan maaf? Enak aja!
"Iya sorry banget honey...Kamu kangen ya?" Ardi berusaha menggoda Ella, berusaha mencairkan suasana yang tidak enak. Sedikit merasa bersalah juga membuat Ella sekhawatir itu.
"Nggak."
"Terus kok tadi pakek peluk-peluk segala? Sini peluk lagi kalau masih kangen." Ardi merentangkan kedua lengannya, menawarkan pelukan untuk Ella.
"Iihhhhhh ngeselin." Ella mendorong tubuh Ardi menjauh alih-alih memeluknya.
Ardi cengengesan melihat reaksi Ella, "Ternyata bukan aku saja yang bucin parah. Kamu juga bucin sama aku, meskipun kamu gak mau megakuinya."
"Enak aja." Ella mengelak tapi wajahnya sudah terasa memanas. Masa iya si dirinya sudah sebucin itu pada Ardi? Tapi kan gak sekronis bucinnya Ardi kepada dirinya kan?
"Kamu makin gemesin kalau ngambek." Ardi keasikan senyum-senyum memandang wajah Ella.
"Kamu lama-lama berubah dari bucin menjadi maniak!" Ella semakin tak berdaya diliatin terus.
"Hahahah bukan maniak sayangku. Tapi kecanduan. I'm addicted to you. I can't live without you."
"Idih gombal." Ella mengelak. Bertekat tak mau jatuh lagi ke rayuan gombal Ardi.
"Sini deh ayo ikut aku." Ardi menarik sebelah tangan Ella. Mengajaknya keluar dari ruangannya dan berjalan beriringan menyusuri koridor-koridor kantor yang sepi. Menuruni lift ke lantai dasar, kemudian terus mengajaknya berjalan keluar kantornya.
Mereka berdua berjalan berduaan melewati taman dengan pencahayaan remang-remang. Berjalan sampai akhirnya berkahir di sebuah ruangan terbuka yang sepertinya sebuah kantin atau restoran outdoor di tengah taman. Suasana disana sedikit remang-remang karena kantin sedang tutup di malam hari.
Ardi mengajak Ella duduk di salah satu kursi yang ada disana. Duduk berhadapan berdua dengan suasana kantin yang cukup menyenangkan. Dari tempatnya mereka duduk, suara gemericik air mancur di taman dapat terdengar. Pemandangan air mancur dan dan taman yang indah pun dapat memanjakan mata.
"El...I love you..." Ardi memulai percakapan dengan tembakan maut tanpa basa basi. Ucapan dengan nada sangat serius dan pandangan tepat tertuju ke mata Ella.
Ella sudah tahu dan tidak kaget lagi dengan pernyataan Ardi itu. Tapi tetap saja rasanya wajahnya sudah memanas dan naik beberapa derajat suhunya demi mendengar ucapan Ardi seserius itu ditengah suasana sesepi ini. Untung saja suasana gelap jadi gak kelihatan wajahnya yang sudah merah padam.
"Would you be mine?" Ardi melanjutkan ucapannya. Mengeluarkan sebuah kotak perhiasan, membukanya dan menyodorkannya pada Ella.
Ella benar-benar terngaga kaget melihatnya. Jadi... Ardi beneran melamarnya hari ini sesuai dengan yang dikatakannya kemarin?
Dua buah cincin dengan lekukan simple yang manis. Cincin pria dengan motif polos sementara cincin wanita bertaburkan batu permata berlian yang berkilau indah dalam kegelapan.
Ella tak sanggup bereaksi atau berkata-kata melihatnya. Ada rasa senang dan terharu biru yang membuncah di dalam dada. Tanpa terasa air mata mengalir di sudut matanya, air mata bahagia. Sungguh sangat bahagia, rasanya bagaikan mimpi saja. Mimpi indah sebagai seorang putri yang dilamar oleh seorang pangeran. Private dan tidak mencolok sesuai permintaannya.
Ella memberikan senyuman indah terbaiknya pada Ardi sebelum akhirnya menjawab...
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN yaaaa 🌼