
"Tadi papa ngomong apa aja, Ron?" Ella bertanya kepo saat mereka berdua duduk di dalam mobil Roni, dalam perjalanan ke rumah Mahes .
"Biasalah interogasi dasar soal latar belakang keluarga, pendidikan dan alamatku." Roni menjawab pertanyaan Ella dengan santai.
"Masa gitu doank?" Ella tidak puas dengan jawaban Roni. Gak mungkin lah cuma pertanyaan dasar begitu yang ditanyakan papanya pada Roni.
"Iya awalnya begitu. Terus selanjutnya ditanyain soal hubungan kita berdua."
"Terus kamu jawab apa?"
"Aku bilang kalau serius sama kamu, El. Aku pengen menjalin hubungan yang lebih jauh lagi sama kamu." Roni menjawab dengan nada seriusnya kali ini.
"Terus, reaksinya papa gimana?" Ella semakin penasaran dengan pembicaraan mereka tadi.
"Kayaknya si beliau fine-fine saja dengan semua jawabanku, tidak menentang atau memprotes sama sekali. Jangan-jangan aku udah berhasil dapetin restu dari papamu ya?" Roni balik menanyakan tentang sikap papa Ella kepada putrinya.
"Kayaknya si begitu. Papa keliatan biasa saja tadi pas selesai ngomong sama kamu. Biasanya kalau gak suka sama seseorang ketara banget soalnya dari wajah dan sikap papa." Ella membenarkan ucapan Roni kali ini.
"Wah syukur deh kalau begitu," Roni kelihatan sangat kegirangan demi mengetahui dirinya telah mendapatkan restu dari papa Ella.
"Papamu juga meminta aku untuk sekali-kali bawa kamu ke rumahku di Malang, El. Untuk ketemu dan dikenalin sama anggota keluargaku disana." Roni memberitahukan saran dari papa Ella untuk kelanjutan hubungan mereka.
Ella sedikit kaget mendengarnya. Menyuruh Ella untuk enemui keluarga Roni? Berarti papanya mungkin berharap agar dirinya mau lebih jauh lagi untuk mengenal Roni dan keluarganya. Lebih membuka diri dan perasaannya untuk Roni...
Yah mungkin aku harus mencobanya pelan-pelan. Memang tak mungkin untuk terus menghindar dari masalah ini selamanya, pikir Ella.
"Boleh. Nanti kita atur jadwalnya saja." Ella tidak keberatan, menyanggupi ajakan Roni.
"Beneran, El?" Roni setengah tidak percaya.
Akhirnya Ella mau juga untuk mencoba mengenal dirinya lebih jauh. Yah semoga saja gadis itu nantinya akan bersedia untuk berhubungan yang lebih serius dengan dirinya. Bahkan kalau bisa sampai ke jenjang yang lebih lanjut, jenjang pernikahan.
__ADS_1
"Iya, kan cuma main saja dulu ke rumahmu. Kenalan sama papa, mama dan kakakmu. Lagian kamu kan juga udah kenalan sama keluargaku, ya biar adil aku juga harus kenalan sama keluargamu." Ella menjawab sambil tersenyum geli melihat reaksi Roni.
"Wah jadi gak sabar ni, ayo deh buruan agendakan kapan jadwalnya." Roni semakin bersemangat dan Ella hanya bisa tertawa ringan menanggapinya.
Tak lama kemudian sampailah mereka berdua di kediaman keluarga Hartanto. Rumah mewah dengan tema modern yang elegan. Roni segera memarkirkan mobilnya di halaman rumah yang cukup luas untuk ukuran rumah di tengah kota Surabaya ini. Kemudian mereka berdua berjalan beriringan memasuki rumah, menuju ruang tamu dan ruang tengah yang telah disulap menjadi party hall.
Ella mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Mengamati pesta yang katanya kecil-kecilan ala keluarga sultan ini. Dimana dekorasi dan penataan booth hidanganya memakai yang sekelas hotel bintang lima dengan nuansa warna peach.
Hidangan berupa makanan dan minuman yang disajikan pun tak main-main macam dan jumlahnya. Lengkap mulai dari makanan pembuka, main dish, sampai makanan penutup dan berbagai macam camilan ringan. Minuman juga sudah disediakan berbagai macam mulai dari minuman beralkohol, wine, soft drink, berbagai jus buah-buahan, sampai air mineral. Kayaknya gak bakal kehabisan stok walaupun para tamu ini nambah sampai dua tiga kali.
Bahkan sebagai hiburan, tuan rumah tak tanggung-tanggung mengundang sebuah grup band akustik yang cukup kondang di Surabaya. Grup band ini mambawakan lagu-lagu akustik yang menyenangkan serta membuat suasana malam ini menjadi hangat dan cerah, ceria.
Memang pesta malam ini merupakan private party untuk keluarga besar prodi Jantung dan Pembuluh darah. Residen dari prodi lain hanya sedikit yang hadir, yang merupakan teman dekat Mahes saja seperti Ella.
Selebihnya hanya para residen dari tahun pertama sampai akhir prodi jantung dan pembuluh darah. Dosen serta para staff pengajar, pegawai lab, serta staff poli jantung dan ruangan rawat inap jantung di rumah sakit yang hadir disana. Beberapa juga tampak membawa pasangan atau keluarga mereka. Tapi tetap saja jumlah tamu yang hadir cuma sekitar seratusan orang saja.
Ella menemani Roni menyapa beberapa senior, dosen dan guru besar di prodi Jantung yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Hanya sebagai ramah tamah dan formalitas sebagai murid saja.
"Selamat ya mas Mahes. Semoga menjadi dokter yang mabrur." Roni menyalami dan berpelukan hangat dengan Mahes yang tertawa ngakak mendengan kata-kata Roni. Emanganya abis pulang ibadah haji?
"Selamat ya mas, doain kita cepet nyusul juga." Ella juga ikut bergantian memberi selamat dan menyalami Mahes dan Laras.
"Nyusul apa ni? Nyusul nikah?" Mahes menggoda Roni dan Ella. Sedikit penasaran juga sudah sejauh apa hubungan mereka berdua. Kalau dilihat-lihat si keduanya selalu nempel kaya perangko kemana-mana. Bahkan sudah menjadi rahasia umum di kalangan residen kalau Ella dan Roni adalah sepasang kekasih.
"Amiin doain aja lancar, mas." Roni malah mengamini tanpa malu-malu.
"Ih apaan si, ikut nyusul lulus maksudnya." Ella menjelaskan maksud ucapannya dengan muka memerah, malu-malu.
"Yah semoga yang terbaik aja deh buat kalian baik dalam pendidikan dan percintaan." Mahes ikut mendoakan kedua juniornya itu.
Sementara Laras diam saja tak merespon, terlihat terang-terangan memasang tampang cemberutnya. Kelihatan sekali dia tidak menyukai keakraban dan hubungan diantara Ella dan Roni.
__ADS_1
Roni dan Ella melanjutkan formalitas untuk menyapa, bersalaman dan memberi selamat pada para dokter lainnya dan pasangannya.
Setelah prosesi salam salaman dan memberikan ucapan selamat selesai, Roni dan Ella kembali menghampiri Mahes untuk beramah tamah dengan sang tuan rumah. Laras sudah tidak ada disampingnya kali ini, mungkin sedang sibuk mengurus segala sesuatunya sebagai nyonya rumah.
"Makasih ya udah datang, Ron. Udah ngajakin Ella juga lagi kesini. Jangan sungkan-sungkan lho ayo dinikmati semua hidangannya." Mahes menyambut mereka dengan ramah.
"Beres mas, tenang aja. Pasti aku habisin entar makanan disini hahaha," jawab Roni sementara Ella hanya tersenyum dan tertawa ringan saja menanggapinya. Tapi sebenarnya Ella juga penasaran si dengan rasa dari hidangan-hidangan yang terlihat mewah itu.
"Eh Ron, aku udah siapin file dan data tentang tugas akhirku yang kamu minta. Ada di ruang kerja lantai atas." Mahes memberi tahukan Roni tentang permintaannya.
"Wah beneran ni mas boleh aku ambil? Makasih banyak lho ya." Roni kegirangan mendapatkan warisan berharga. Dirinya memang sengaja meminta file itu hari ini, takut Mahes keburu balik ke kampung halamannya dan mereka akan susah untuk bertemu lagi.
"Ambil aja, udah gak ada gunanya juga buat aku kan hehe," jawab Mahes santai.
"Ih gaya bener emang ya yang udah lulus. Jadi pengen cepetan lulus juga ni. Tapi apalah daya masih ada dua tahun menantiku." Celetuk Roni dan langsung disambut dengan tawaan renyah oleh semua orang disekitar mereka yang mendengarnya.
"Kamu bisa ambil sendiri kan ke ruang kerjaku di lantai dua? Sorry aku kayaknya gak bisa ninggalin tamu-tamu ini." Mahes memberi tahukan tempat dokumennya.
"Iya gampang, aku kan udah apal denah rumah ini." Roni sama sekali tidak keberatan.
Lagian dirinya juga sudah sering ke rumah ini dulu sebelum Mahes menikah. Rumah ini sudah seperti base camp buat anak prodi Jantung untuk sekedar kumpul-kumpul atau mengerjakan tugas perkuliahan mereka.
"Sip deh kalau gitu." Mahes lega mendengarnya.
"Aku ambil sekarang ya mas, mumpung inget," Roni meminta undur diri dari Mahes. Tak ingin memonopoli Mahes yang harus beramah tamah dengan para tamu lainnya.
Kemudian Roni mengajak Ella menjauhi keramaian pesta. Berjalan ke arah tangga di sudut ruangan yang melingkar ke lantai dua. Mereka berdua ke ruang kerja Mahes untuk mengambil file dan dokumen yang tadi dikatakan Mahes padanya.
Mereka tak tahu kalau saat ini di ruang kerja itu sedang ada orang lain juga. Ardi yang sejak tadi sore ketiduran di sofa ruang kerja.
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Tolong luangkan waktu klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan IKUTI author ya. Makasih 😘🌼