
Uang dan kesuksesan tidak mengubah seseorang.
Uang dan kesuksesan justru dapat
memunculkan karakter asli seseorang.
_Will smith_
_______________________________
"Jadi gimana ini enaknya, Pak?" Bambang menanyai Ardi akan keputusan yang harus diambil.
"Eh? Kenapa? Kenapa tadi?" Ardi kembali bertanya setelah sadar dari lamunannya.
"Apa yang harus dilakukan pada para pelaku penggelapan dana? Termasuk bu Cindy yang terlibat di dalamnya." Bambang menjelaskan dengan sabar.
Bambang penasaran kenapa bosnya ini seakan tidak fokus dalam pekerjaan seharian ini. Seperti sedang mimikirkan sesuatu. Bahkan dalam staff meeting siang ini juga Ardi terlihat lebih banyak melamun. Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Bambang tahu benar Ardi keluar untuk makan malam dengan Ella kemarin. Tapi Bambang sama sekali tidak tahu peristiwa apa saja yang terjadi dengan detail.
"Berapa banyak yang Cindy ambil?" tanya Ardi sedikit malas. Bisa-bisanya Cindy terlibat dalam urusan runyam begini. Masa masih kurang uang tambahan yang sering Ardi berikan untuknya?
"Menurut laporan Kresna ada 50 juta rupiah yang masuk ke rekening pribadi bu Cindy." Bambang menjelaskan pada Ardi.
"50 juta? Cuma 50 juta?" Ardi tertawa geli. "Periksa lagi yang bener, Kres!" Ardi kembali memerintahkan.
Ardi tahu benar tak mungkin bagi seorang Cindy untuk menggelapkan dana yang hanya 50 juta rupiah dengan resiko kehilangan pekerjaannya. Bagaimana mungkin dia melakukannya kalau Ardi sering memberinya reward yang bahkan jauh diatas itu atas pekerjaan Cindy yang selalu memuaskan.
"Saya kan sudah bilang berkali-kali kalau saya hanya dijebak." Cindy mendengus kesal. "Nanti dananya saya kembalikan. Tapi wahai hacker jenius tolong ya kalau kerja yang bener!" Lanjutnya menyindir Kresna yang sudah memberikan laporan terkait namanya.
"Saya hanya menyampaikan fakta yang saya dapatkan dari hasil penyidikan. Dan memang benar di rekening anda telah masuk dana sejumlah 50 juta rupiah." Kresna mencoba menjelaskan alasannya mencantumkan nama Cindy dalam list pelaku korupsi dan penggelapan uang perusahaan.
"Ya harusnya kan kamu cek juga darimana uang itu masuk? Siapa pengirimnya?" Cindy makin kesal saja mendengar jawaban Kresna.
"Saya sudah lama ikut pak Ardi, bahkan lebih lama dibanding kalian semua. Sudah jelas ini jebakan, saya tak mungkin melakukan penggelapan dana." Cindy mencoba beralibi.
"Iya aku percaya sama Cindy. Kalau mau korup ngapain cuma 50 juta? Dia bisa ambil lebih banyak dari Pradana Construction di Genting. Apalagi perusahaan itu sekarang dipegang oleh Cindy sendiri. Harusnya si ngambil milyaran juga bisa." Ardi ikut membela Cindy.
"Tu dengerin..." tukas Cindy sewot.
"Tapi Kresna juga gak salah. Dia cuma mengungkapkan fakta berdasarkan data. Yasudah kalau gitu masalah penggelapan ini aku serahin sama Cindy dan Kresna saja. Kalian yang bereskan, aku kasih waktu dua minggu." Ardi memutuskan.
"Duh kok sama dia? Aku sendiri saja bisa kok." Cindy masih sebal dengan Kresna.
"Biar akur kalian," jawab Ardi seenaknya. Aslinya si memang karena tugas ini bakalan membutuhkan banyak data akurat. Dan semua itu hanya bisa didapatkan dengan hacking dari Kresna.
"Siap, pak." Kresna menyanggupi tanpa protes. Sementara Cindy akhirnya mau juga menerima tugas ini walau harus bersama orang menyebalkan.
"Sudah semua agenda rapatnya, Mbang?" Ardi melirik jam tangannya dengan gelisah. Sudah sore ini, dirinya malah masih saja terjebak di kantor karena staff meeting yang dilakukan setelah jumatan tadi. Tak mengira bakal selama ini rapatnya molor. Padahal perkiraannya ashar sudah selesai.
__ADS_1
"Sudah semua, pak. Semua bahasan sudah selesai dibicarakan." Bambang memeriksa catatannya untuk memastikan semua bahasan selesai.
"Yasudah kalian boleh bubar." Ardi membubarkan staff meeting internal mereka. Memang cuma beberapa pegawai kepercayaan saja yang diundangnya, paling gak sampai sepuluh jumlahnya
Ardi melonggarkan ikatan dasinya, mengambil ponsel dari saku jasnya dan memandanginya. Menatap kosong pada benda pintar yang sekarang rasanya tidak pintar itu.
Aduh, kok aku gak minta nomer ponsel Ella si? Gimana bisa menghubunginya coba? Ardi menyesali kebodohannya sendiri. Kalau sudah begini masa mau titip pesan ke malaikat?
Sejak tadi pagi, seharian ini memang dirinya selalu gelisah dan tidak tenang. Galau tepatnya. Harus ke rumah Ella atau nggak? Kemarin malam sepertinya papa Ella marah sekali padanya bahkan mengusirnya untuk pergi. Tapi beliau juga bilang kalau mau bicara besok saja. Jadi hari ini aku bisa kesana? Jangan-jangan ntar malah diusir lagi?
Entah mengapa Ardi merasa bahwa dirinya selalu apes kalau berhadapan sama papa Ella. Selalu saja ketahuan membawa anak gadis Pak Wibowo pulang malam. Bisa-bisa image Ardi sudah benar-benar rusak di mata papa Ella itu.
Dan kebodohan kedua adalah baju-baju kebaya Ella yang kemarin dibelikannya masih ada di bagasi mobilnya semua. Kok bisa kelupaan diturunin si kemarin? Saking syok dan bingungnya gara-gara ketahuan papa Ella kayaknya.
Apa bikin alasan mau nganterin bajunya Ella aja ya terus ke rumahnya? Kalau diusir pun paling nggak dia sudah mengantarkan kebaya Ella. Dan Ella masih bisa memakai kebayanya buat besok.
"Pak? Bapak mau langsung pulang atau ada acara lain?" Bambang bertanya pada bosnya. Bingung juga melihat Ardi yang dari tadi bengong memandangi ponselnya sementara meeting sudah berakhir.
"Duluan aja, aku pulang sendiri."
"Baik, pak." Bambang nurut saja meninggalkan Ardi.
Tak lama kemudian ponsel Ardi berdering dan nama Laras yang terpampang di layarnya. Ardi langsung saja mengangkat panggilan itu.
"Halo, Ras? Ada apa?" sapa Ardi.
"Di kantor. Emang kenapa?"
"Buruan mandi yang wangi, pakai baju rapi, dandan yang ganteng. Oiya jangan pakai work suit-mu yang biasa, pakai saja kemeja kasual yang resmi tapi santai." Laras memerintahkan dengan detail.
"Haaaah? Emang kenapa?" Ardi bertanya keheranan.
"Persiapan tempur sebelum ke rumah mbak Ella. Kalau kucel dan bau kecut setelah seharian kerja gitu bisa dianggap kalah sebelum bertanding hihihi." Laras menjelaskan sambil cekikikan.
"Rumah Ella?" Ardi bertanya penasaran. Kok bisa-bisanya Laras tahu kalau dirinya berniat akan ke rumah Ella sepulang kerja nanti.
"Barusan aku telpon mbak Ella, katanya mas Ardi disuruh datang ke rumahnya."
"Ella? Kamu nelpon dia? Kamu punya nomer ponselnya?" Ardi semakin penasaran. Tapi seneng juga karena ternyata Ella sendiri yang memintanya datang ke rumahnya. Berarti dirinya bukan tamu tidak diundang, gak mungkin diusir kan?
"Iya kan di kontak listnya mas Mahes ada. Mbak Ella kan temennya dan sekarang salah satu crew rumah sakitnya?" Laras menjelaskan. Dan Ardi langsung mengumpat dalam hati. Menyesali kebodohannya sendiri. Kenapa gak kepikiran minta nomer ponsel Ella ke Mahes.
"Kasih aku kontaknya Ella ya." Ardi sudah lelah dengan mengandalkan takdir dan malaikat. Paling nggak untuk keadaan darurat dia harus punya nomer Ella yang bisa dihubungi.
"Ok, Ntar aku kirim." Laras menyanggupi. "Terus ya mas, sempetin mampir ke bakeri, beli apa gitu buat oleh-oleh. Jangan bawa badan doank, gak sopan namanya." Laras menambahkan sarannya.
"Iya iya...Udah aku mandi dulu..." Ardi menutup panggilannya. Menuruti semua saran Laras mulai dari mandi sampai gaya berpakaian serta mampir beli buah tangan ke bakeri. Setelah semua persiapan perang selesai akhirnya Ardi melajukan mobilnya berangkat ke rumah Ella di jalan Ketintung Wiyata.
__ADS_1
Entah mengapa jantung Ardi rasanya berdebar lebih kencang dari biasanya, ada rasa tidak nyaman, rasa nervous dan grogi. Apa-apaan ini? Kenapa bisa segugup ini hanya untuk berhadapan dengan keluarga Ella, dengan papa Ella? Padahal biasanya dirinya selalu bisa menjaga ketenangan saat berhadapan dengan orang kelas atas, bangsawan, pejabat, artis atau bahkan para konglomerat.
Ardi mengetuk pintu rumah Ella, tak lama kemudian Ella sendiri dengan dandanan khas rumahannya yang membukakan pintu untuk Ardi. Tetap cantik dan menggemaskan saja untuk dilihat. Ardi menyerahkan papper bag berisi kebaya Ella pada gadis itu beserta beberapa kue yang tadi dibelinya di bakeri sebagi oleh-oleh.
"Mari masuk mas, Makasih ya udah dibawa-bawain." Ella menerima semua pemberian Ardi dan mempersilahkan pria itu masuk. Mempersilahkan pula untuk duduk di ruang tamu.
Ardi menurut saja mengambil duduk di salah saru sofa, masih terlalu gugup dan bingung harus bersikap bagaimana nantinya. Karena memang status hubungannya yang tidak jelas dengan Ella.
"Aku manggil mas Ardi kesini karena papa bilang ingin sedikit berbicara dengan mas Ardi." Ella memberitahukan alasannya memanggil Ardi. Sedikit aneh juga melihat wajah Ardi yang nampak gugup dan tegang. Kemana coba perginya CEO cool yang biasanya selalu memasang poker face di wajahnya?
"Bukannya kemarin mas Ardi yang nantangin pengen ngomong sama papa?" Ella sedikit menggoda Ardi untuk meredakan ketegangannya.
"I see..."Ardi menjawab singkat, menelan salivanya beberapa kali. Memang kemarin dirinya yang nantangin sih untuk ketemu papa Ella. Tapi nyatanya kalau mau berhadapan langsung begini untuk meminta anak gadis seseorang kok rasanya bisa sekacau ini. Asli grogi tingkat dewa.
"Aku panggilin papa dulu ya, jangan pasang muka serem gitu dong mas santai aja hehe" Ella tertawa ringan melihat tampang grogi Ardi. Kemudian beranjak pergi masuk lagi ke dalam rumahnya.
Ella mengetuk kamar papanya, memberi tahukan kedatangan Ardi pada beliau. Kemudian dirinya beranjak ke dapur untuk mempersiapkan suguhan dan minuman untuk tamunya.
Ardi langsung bangkit dari duduknya, begitu papa Ella menghampirinya di ruang tamu. Menyapa dan memberikan salam, mencium tangan pria paruh baya itu sebagai penghormatan kepada orang yang lebih tua. Kikuk dan cangung rasanya. Rasanya bahkan lebih gugup daripada saat harus ngomong di depan konferensi pers untuk mempresentasikan perusahaannya.
"Mari duduk, nak Ardi." Bowo mempersilahkan Ardi untuk kembali duduk dengan nada suara datar.
Ardi menurut saja duduk dengan kegugupan yang semakin menjadi-jadi demi menyadari Bowo yang memperhatikannya. Mengamatinya dengan teliti, mungkin sedang menilai tentang penampilan fisik dan segala sikap serta perilakunya.
Ardi jadi bersyukur menuruti saran dari Laras tadi untuk sedikit merapikan diri sebelum kemari. Yah paling tidak penampilannya kali ini bersih dan rapi. Tapi juga tidak terlalu kaku dan formal.
"Apa kabar nak Ardi? Lama tidak jumpa." Bowo memulai berbasa-basi setelah puas mengamati pria di hadapannya itu. Sedikit diluar dugaannya si penampilan Ardi kali ini, penampilan yang terlihat kasual dan semi formal. Seperti penampilan pemuda biasa dan kebanyakan pada umumnya.
Padahal Bowo mengira tuan muda Pradana ini akan datang dengan setelan jas formalnya untuk memamerkan kedudukannya sebagai sultan. Atau paling tidak Ardi akan datang dengan work suit-nya jika kesini sepulang dari kantornya. Tapi ternyata Ardi malah terkesan tidak ingin menampakkan status kesultanannya. Dia tampil begitu sederhana untuk orang sekelas dirinya.
"Baik, Om..." saking groginya cuma kata itu saja yang sanggup terucap dari mulut Ardi.
"Gimana keadaan keluarga? Katanya adikmu abis kecelakaan?" Bowo memulai interogasi, sekaligus ingin mengetahui benar tidaknya perkataan Ella kemarin. Tentang alasan pertemuan mereka berdua.
"Mama dan papa sehat di Banyu Harum." Ardi menjawab tentang orang tuanya. Sudah mulai bisa mengatasi kecanggungan-nya.
"Benar, Om. Adik terakhir saya, Linggar beberapa hari yang lalu kecelakaan. Yang menyebabkan dia patah tulang rusuk dan radang paru-paru sehingga harus di rawat di RS. Hartanto Medika. Syukurlah kemarin sudah diperbolehkan untuk keluar rumah sakit." tambahnya menceritakan tentang Linggar.
Bowo mengangguk puas, kedua cerita mereka singkron. Berarti memang Ardi dan Ella tidak berbohong dan mencari-cari alasan untuk bertemu.
"Bagaimana perusahaanmu? Om lihat kamu masuk TV beberapa minggu lalu." Bowo masih penasaran dengan pandangan Ardi tentang harta. Bowo tahu bahwa kekayaan dan kekuasaan dapat menunjukkan karakter seseorang.
Ingin mengetahui karakter Asli Tuan muda Pradana ini. Apakah tipe orang yang mementingkan harta diatas segalanya atau bukan. Tentunya Bowo tak ingin Ella bersanding dengan orang yang hanya memikirkan materi semata.
"Oh itu pembukaan bisnis park kami..." Ardi menjawab, bingung akan maksud pertanyaan Bowo.
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼