
When I'm with You, I feel safe from the things that hurt me inside _ Subham Kumar
(*Saat bersamamu, Aku merasa aman dari segala sesuatu yang menyakitkan di dalam diriku)
_________________________________________
Ella berkutat di dapur bersama bi Ijah. Membuatkan minuman herbal perpaduan antara teh hijau, jahe, madu dan lemon hangat untuk Ardi. Bi Ijah tadi juga sudah membuatkan bubur untuk Ardi sesuai perintah Cindy. Biasanya si akan diberikan topping berupa daging ayam suwir dan bawang goreng di atasnya. Tetapi Ella kali ini meminta menambahkan sayur bayam yang cocok untuk makanan pasien hypotensi.
"Non Ella ini pacarnya tuan Ardi ya?" Tanya Ijah kepo sambil melanjutkan memasaknya.
"Eh? Kata siapa bi?" Ella balik bertanya.
"Abisnya non Ella dibolehin diem di kamarnya tuan Ardi. Biasanya tuan Ardi paling gak suka kalau ada wanita yang masuk kamarnya. Saya aja cuma berani bersihkan kamar kalau tuan lagi keluar saja." Ijah menjelaskan.
"Lho bukannya Cindy sering masuk kamar mas Ardi?" Ella bertanya penasaran.
"Iya non Cindy memang sering. Tapi gak bakal lama pasti udah disuruh pergi."
"Bi Ijah udah lama ikut mas Ardi?"
"Kalau tinggal disini si baru tiga bulanan. Tapi kalau ikut sudah sejak nempatin rumah ini dua tahun yang lalu."
"Udah bi, siapin di nampan aja ntar aku yang bawa ke atas." Ella menawarkan bantuan.
"Lho jangan non. Non Ella ke atas duluan saja nanti saya yang antarkan makanan tuan Ardi kesana. Oiya makan siang non Ella mau di bawa ke atas juga atau tetap di meja makan lantai bawah?"
"Di bawah aja," Ella menjawab sambil berlalu dari dapur kembali ke kamar Ardi yang ada di lantai dua.
Begitu sampai di kamar Ella mendapati Ardi masih duduk di sofanya, bersandar dengan mata terpejam. Ketiduran kayaknya, bisa-bisanya emang ini orang tidur di sembarangan tempat kayak gini.
Ella menghampiri dan menemaninya duduk bersebelahan di sofa. Tak lama kemudian, Bi Ijah mengetuk pintu, mengantarkan satu nampan makanan Ardi.
"Mas, bangun dulu yuk makan siang. Terus minum obat. Baru nanti tiduran lagi." Ella menepuk pelan pipi Ardi. Pria itu pun membuka matanya dengan cepat, rupanya belum nyenyak tidurnya.
Ella menyodorkan nampan di hadapan Ardi. Yang pertama diambilnya adalah gelas berisi minuman herbal hangat. Diminumnya beberapa teguk sebelum dikembalikan ke nampan.
"Abisin!" perintah Ella sebelum Ardi meletakkan gelas itu sepenuhnya di nampan. "Abisin biar anget badannya."
Ardi menurut saja kembali meminum obat herbal bikinan Ella. Setelah segelas minuman herbal itu habis, Ardi kemudian juga mengambil semangkuk bubur ayam plus bayam yang sudah disodorkan Ella di nampannya.
Dahinya sedikit berkerut melihat bubur ayamnya berbeda dari biasanya. Warna hijau kayak ada daun-daun gitu di dalamnya terus ada jagungnya juga dikit-dikit. Pasti ulah Ella ini yang nyuruh bi Ijah nambahin sesuatu di buburku, batinnya.
"Sayur bayam itu bagus buat penambah darah dan naikin tensi juga. Gak usah protes abisin aja." Ujar Ella seakan dapat menebak keheranan Ardi. Ketus, persis seperti nada bicaranya Ella pada pasien yang agak rewel.
"Iya..." Ardi tetap menurut saja, sama sekali tidak membantah kali ini. Benar-benar menghayati peran sebagai pasien yang baik. Ardi memakan buburnya perlahan namun pasti. Kadang berhenti sebentar saat rasa mual dan pingin muntah menyerangnya. Tapi Ardi masih tetap berusaha untuk terus memakan dan menghabiskannya.
'Good, gini donk yang banyak makan biar cepet sembuh', batin Ella senang demi melihatnya.
"Abis ini sekalian minum obat ya," Ella sekalian mengambil obat dari golongan anti piretic dan betahisthine untuk Ardi serta segelas air putih dari meja kecil di sebelah ranjang Ardi.
__ADS_1
"Ini obat yang biasa mas pakai?" Ella bertanya keheranan. Apa memang Ardi sering pusing-pusing? Apa pria itu punya riwayat sakit vertigo?
"Iya..." Ardi melanjutkan makan tanpa banyak bicara. Berusaha keras menghabiskan semangkuk bubur di hadapannya. Ella juga diam saja memperhatikan Ardi makan.
"Udah, gak kuat lagi. Eneg banget." Ardi menyerahkan mangkuk buburnya pada Ella. Masih tersisa lebih dari separuh keseluruhan porsi bubur tadi. Ella tidak memaksanya untuk melanjutkan makan kali ini.
Tak tega melihat wajah Ardi yang terlihat seakan dia sudah mau muntah lagi. Cepat-cepat pria itu menutupkan kedua tangannya ke arah mulutnya untuk menahan keinginan muntahnya.
"Minum dulu mas, sekalian obatnya" Ella menyodorkan segelas air putih dan tablet pil yang dari tadi dibawanya beberapa saat kemudian. Saat Ardi sudah terlihat cukup tenang dan tidak ingin memuntahkan isi perutnya lagi. Ardi menerimanya dan langsung menegukknya cepat-cepat.
Ardi kembali meletakkan punggung dan kepalanya ke sandaran sofa. Menarik napas dalam-dalam beberapa kali sambil memejamkan matanya. Pria itu terlihat berkali-kali menekan dan memijit bagian pelipis di pertengahan antara kedua matanya dengan jari jempol dan telunjuknya.
"Pusing banget ya?" Ella bertanya prihatin. "Tiduran aja deh, istirahat lagi."
"Bosen tidur mulu dari tadi pagi"
"Mau aku pijitin?" Ella menawarkan dirinya.
"Mau banget," jawab Ardi kegirangan.
"Sini..." Ella menepuk-nepuk pahanya. Ardi bergerak perlahan untuk meletakkan kepalanya di pangkuan Ella dan menselonjorkan kakinya memanjang diatas sofa besar yang mereka duduki.
Ella mulai memijat kepala Ardi perlahan. Memijat titik-titik yang biasanya sering dilalukan pemijatan saat facial atau perawatan wajah. Ardi terlihat merem melek keenakan menikmati pijatan Ella di sekitar kepalanya. "Enak banget rasanya, kamu punya bakat mijit kayaknya," puji Ardi pada Ella.
"Iya donk. Gini-gini aku pernah ikut kursus kecantikan dan perawatan wajah. Kalau cuma pijat dan relaksasi wajah si gampang." Ella menjelaskan keahliannya dengan sedikit congkak. Kapan lagi coba bisa sombong pada sultan yang punya segalanya ini.
"Hemm, pijet badan atau pijat cepek? Bisa si tapi otodidak. Berdasarkan pengalaman aja mijitin mama atau papa kalau capek hehe"
"Kalau pijet plus-plus?"
"Plus apa? Bisa juga nih plus cubit." Ella sekali lagi mencubit lengan Ardi dengan gemas. Dasar cowok ini masih bisa-bisanya bercanda disaat sakit kayak gitu.
"Aduuh, duh, duh. Ampun El, ampun!" Ardi mengeluh dan meminta ampun. Sementara Ella hanya ketawa ngakak keasikan nyubitin lengan Ardi, masih gemas dengan pria itu.
"Emang paling nyaman tiduran di paha kamu, El. When I'm with You, I feel safe and sound."
(*Saat bersama kamu aku merasa aman dari segala bahaya).
Cukup lama kegiatan pijat memijat itu berlangsung sampai akhirnya Ardi tertidur pulas dipangkuan Ella. Setelah yakin pria itu sudah pulas tidurnya, Ella mengangkat kepalanya perlahan dan menggantikan pahanya yang menopang kepala Ardi dari tadi dengan salah satu bantal sofa.
Ella mengambil selimut dari atas kasur dan memakaikannya untuk menutupi tubuh Ardi. Diselimutinya seluruh tubuh pria itu sampai batas lehernya.
"Duh gemesin banget kamu kalau tidur mas," Ella tersenyum-senyum sendiri melihat pose tidur Ardi. Didaratkannya sebuah ciuman ringan di pipi pria itu. "Sleep tight darling, get well soon," bisiknya di telinga Ardi dengan lembut.
(*Tidur yang nyenyak sayang, semoga lekas sembuh).
Ella menutup korden kamar, menghalangi sinar matahari yang menyilaukan masuk ke dalam kamar. Dinaikkan sedikit temperatur AC ruangan sehingga cocok untuk orang yang sedang demam. Baru setelah itu Ella segera keluar dari kamar itu.
Dengan membawa nampan berisi bekas makanan Ardi tadi.Turun ke bawah, kearah dapur untuk meletakkan mangkuk dan gelas kotor disana. Ternyata bi Ijah sudah mempersiapkan hidangan makan siang untuknya di meja makan.
__ADS_1
Ella pun segera duduk di meja kursi meja makan dan menyantap hidangan lezat yang telah dihidangkan oleh bi Ijah. Tepat saat Ella menyelesaikan makan siangnya bi Ijah kembali menghampiri Ella. "Non sudah saya siapkan kamar tamu di atas. Non Ella istirahat dulu aja ya."
"Lho saya mau pulang saja, bi. Toh mas Ardinya sudah tidur."
"Justru itu non saya nggak berani membiarkan non Ella pulang tanpa sepengetahuan tuan." jawab Ijah takut-takut. Waduh ngeri juga ini didikannya Ardi, jadi tamu g boleh datang dan pergi dari rumahnya tanpa seijin dia?
Akhirnya Ella nurut saja. Naik ke lantai dua, dan memasuki kamar tepat di sebelah kamar Ardi. Kamar yang dulu ditempati oleh Linggar waktu tinggal di rumah ini. Penataan Barang di kamar ini didominasi oleh nuansa berwarna coklat muda yang hangat.
Bahkan kamar tamu pun rasanya lebih hangat daripada kamar tuan rumah sendiri. Ella merebahkan tubuhnya di kasur, tiduran dan ternyata ketiduran beneran. Duh dasar muka bantal! kena bantal dikit langsung ngorok aja, maki Ella pada dirinya sendiri.
Bangun-bangun didapatinya suasana sudah sore. Cepat-cepat Ella merapikan dirinya. Harus buruan pamit ni, udah kelamaan nongkrong di rumah orang. Ella segera melangkah ke kamar Ardi. Diketuknya pintu kamar itu, dan si empunya kamar segera menjawab mempersilahkannya masuk.
Ardi sudah bangun rupanya? Ella masuk ke kamar Ardi dengan sedikit ragu. Dapat dilihatnya Ardi sedang duduk bersandar di ranjangnya, selonjoran. Dia kelihatan sudah sedikit lebih segar, habis mandi kayaknya. Udah berganti pakaian dengan t-shirt dan celana training yang santai.
"Lho kamu belum pulang?" Ardi keheranan melihat Ella masih ada di rumahnya. Dia meletakkan tab yang dipegangnya ke kasur, menyembunyikan apa yang baru saja dibacanya dari Ella.
"Udah enakan mas? Kok udah mandi aja? Gak kedinginan?" Ella bertanya khawatir menghampiri Ardi di ranjangnya.
"Udah mendingan. Thanx to you. Gerah dan bau, tadi keringetan banyak banget. Ada seseorang yang naikin suhu ruangan tadi. Kaya sauna rasanya."
"Hehehe tapi biasanya enakan kalau bisa keringetan banyak. Demam juga pasti turun." Ella menghampiri dan meletakkan telapak tangannya di dahi Ardi, beneran udah jauh lebih adem daripada tadi siang.
"Mentang-mentang udah enakan terus balik kerja lagi? Duh gak ada kapoknya ya emang ini orang!" Ella mengambil tab yang sengaja disembunyikan Ardi di kasurnya. Membawanya menjauh dari dari pria itu. Diletakkannya di meja kerja Ardi. "Pliiis mas, hari ini aja. Jangan pikirin kerjaan, pikirin badanmu aja ya."
"Iya iya bu dokter galak."
"Aku mau pulang abis ini. Mas Ardi lanjut istirahat ya. Nanti bi Ijah kusuruh anter makanan kesini. No more work today!" Ella pamit pulang pada Ardi.
"Bilang Ijah, suruh Bambang anterin kamu pulang." Ujar Ardi, bahkan udah ada driver yang tinggal di rumah ini sekarang?
"Gitu doank pamitnya? Gak dikasih apa gitu?" Ujar Ardi penuh harap.
Ella mendengus keras-keras. Tahu benar apa yang diinginkan mas Ardi, pria mesum satu ini. Mau nolak Ella juga kasian kalau ingat dia lagi sakit kayak gini. Dihampirinya pria itu dan diberikan kecupan ringan di kening Ardi. "Get well soon. Istirahat yang banyak, jangan kerja mulu"
"Thanx, honey. I love you more and more." Ardi tersenyum mengantar kepergian Ella meninggalkan kamarnya.
(*Makasih sayang. Aku makin mencintaimu)
~∆∆∆~
FYI (For Your Information)
*Vertigo : Sensasi berputar di dalam atau di luar kepala yang tiba-tiba, seringkali dipicu karena menggerakkan kepala terlalu cepat atau tiba-tiba.
*anti piretic : obat penurun panas
*betahisthine : obat untuk meredakan keluhan vertigo, gangguan pendengaran dan telinga berdenging. Obat ini hanya boleh digunakan dengan resep dokter.
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼
__ADS_1