
Jam dinding di ruangan kantor Ardi sudah menunjukkan pukul 16.00 sore, saat Bambang masuk dan menghampirinya. Jam pulang kerja bagi sebagian besar karyawan kantornya.
"Pak, semua staff sudah siap untuk berangkat ke rumah Pak Mahes." Ujar Bambang mengingatkan Ardi akan undangan pesta di rumah Mahes sore ini.
"Berapa orang yang berangkat?" tanya Ardi.
"Hampir semua staff dari seluruh bagian dan devisi bersemangat ikut pak. Ingin tahu rumah pak Mahes dan bu Laras sekalian makan-makan sampai puas katanya. Totalnya ada sekitar dua puluhan orang." Bambang memastikan jumlah rombongan staff kantor yang akan pergi ke pesta.
Ardi mengerutkan dahi demi mendengar jumlah anak buahnya yang akan hadir untuk merampok makanan di rumah Mahes. Dua puluhan orang berarti hampir semua tim managemennya ikut semua donk. Udah kayak rombongan demo aja ini jadinya.
Tapi gak pa-pa deh, kapan lagi coba ngerjain Mahes dan Laras kayak gini. Lagian juga sepertinya tidak akan ada masalah. Mereka pasti gak bakal kekurangan suguhan dan sajian untuk pestanya nanti.
Laras yang sudah terkenal perfeksionis pasti sudah mempersiapkan matang-matang segala hal bahkan sampai detail kecil untuk pesta ini. Dia tak bakal membiarkan pesta di kedimannya berakhir memalukan dengan kekurangan makanan. Malu-maluin keluarga besar Hartanto aja kalau sampai terjadi.
"Suruh mereka berangkat duluan aja Mbang. Nanti aku bareng kamu nyusul." Ardi memberi keputusan.
Ardi merasa nanggung banget mau ninggalin kerjaannya me-review dan menanda tangani dokumen kontrak-kontrak bisnis yang sudah hampir selesai dibacanya. Kalau dihentikan sekarang dirinya harus ngulang lagi membaca dari awal karena mungkin melupakan detail-detail kecil dari kontrak itu.
"Baik, Pak. Akan saya sampaikan pada teman-teman. Saya akan kembali menjemput pak Ardi 30 menit lagi." Bambang menurut saja apa kata bosnya. Kemudian pamit undur diri dari ruangan Ardi.
Bambang keluar ruangan dan menghampiri rombongan rekannya yang sudah harap-harap cemas di depan ruangan Ardi, sudah siap berangkat ke rumah Mahes. Bambang menyampaikan pada para rekan kerjanya untuk berangkat duluan ke kediaman Hartanto yang ada di pusat kota Surabaya.
Sebagai tanggapan dari para staff, alih-alih sedih karena bosnya tidak ikut, kedua puluh staff khusus itu malah terlihat lega dan senang. Kalau ada Ardi kan mereka masih harus menjaga sikap dan tingkah lakunya, kalau bos mereka gak ada bisa bebas deh.
Bambang kemudian menjelaskan tentang pembagian mobil yang akan dinaiki oleh rombongan itu. Karena pak Ardi nyusul jadi cuma ada empat mobil kantor yang bisa mereka pakai. Cukup lah untuk dua puluhan orang staff yang akan pergi.
__ADS_1
Sementara Bambang dan Ardi akan memakai mobil sedan BMW pribadi Ardi. Selanjutnya Bambang juga menjelaskan alamat dan rute perjalanan paling mudah ke rumah Mahes pada masing-masing driver mobil.
Setelah semua staff berangkat Bambang kembali menghampiri Ardi di ruangannya. Sepertinya Ardi juga sudah menyelesaikan pekerjaan dengan tumpukan dokumen di atas mejanya.
"Pak?..." Bambang menghampiri bosnya itu yang menurutnya terlihat sedikit aneh. Ardi terlihat duduk bersandar pada kursi kerjanya. Menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerjanya, memejamkan matanya, kayaknya si bos sedang kecapekan banget.
Ardi membuka matanya perlahan terbangun dari tidur singkatnya, sedikit kaget mendengar sapaan Bambang padanya. Entah mengapa rasanya hari ini sekujur tubuhnya capek sekali rasanya. Yah mungkin akumulasi dari rasa lelah akibat lembur beberapa hari yang dilakukannya akhir-akhir ini. Ardi juga merasa kepalanya juga terasa berat, mengantuk dan ingin tidur saja bawaannya.
"Ayo..." Ardi beranjak dari kursi kerjanya.
"Pak Ardi sakit? Apa perlu saya belikan obat?" Bambang bertanya khawatir akan keadaan Ardi yang tidak biasa. Aduh bisa gawat kalau pak bos sampai sakit dan tidak bisa hadir ke kantor. Bisa delay semua urusan di kantor nantinya. Dan tentu dirinya sebagai sekretaris pribadi Ardi yang bakalan disalahkan oleh banyak pihak karena gagal menjaga kesehatan bos yang menjadi tugasnya.
"Nggak kok, kayaknya cuma agak kecapekan aja. Dipake istirahat dan banyak makan juga pasti sembuh." Ardi mendahului Bambang keluar kantornya, berjalan ke lift, menuju lobi dan halaman kantor di lantai dasar.
"Baik, Pak. Nanti Bapak tiduran aja dimobil selama perjalanan kan lumayan beberapa menit." Bambang mengekor saja, berjalan di belakang Ardi. Membukakan pintu belakang mobil BMW yang sudah stand by di depan lobi kantor untuk Ardi.
Kesalahan fatal yang sampai membuatnya benar-benar harus bed rest total selama beberapa hari karena sakit vertigo yang lumayan parah. Mungkin Ardi kapok dan tidak ingin sakit lagi sehingga dia memperbaiki seluruh pola hidupnya. Atau bisa juga karena janjinya pada gadis itu, janjinya untuk menjaga diri dan menjaga kesehatannya.
Ardi menurut saja memasuki mobil, duduk, menyandarkan kepalanya dan langsung memejamkan matanya, berusaha melanjutkan tidurnya. Dan benar saja mungkin karena tubuhnya benar-benar lelah, tak lama kemudian Ardi pun terlelap. Sampai Bambang membangunkannya beberapa menit kemudian saat mobil mereka telah sampai di kediaman Hartanto.
Ardi turun dan memasuki party hall sementara Bambang memarkirkan mobilnya. Dapat dilihatnya tamu-tamu yang hadir di hall kebayakan didominasi oleh staff Pradana Group dan anak buah Mahes dari perusahan farmasi yang baru dibuatnya di Surabaya, Hartanto Farmacies. Serta beberapa orang staff rumah sakit cabang Hartanto Medika yang ada di Surabaya juga, rumah sakit yang baru dibangun juga oleh Mahes. Tidak begitu banyak yang hadir di pesta ini palingan cuman tujuh puluhan orang totalnya.
Mungkin tamunya nanti malam akan lebih banyak lagi. Para tamu orang-orang medisnya dari kampus A Uner. Teman sejawat Mahes PPDS di program study Jantung dan pembuluh darah.
Ardi sedang tidak pada mood yang bagus hari ini. Terlalu lelah dan malas bahkan hanya untuk menyapa dan bertegur sapa dengan para tamu yang hadir di pesta. Bahkan dirinya hanya mengangguk dan berlalu begitu saja saat ada seseorang yang menyapanya.
__ADS_1
Ardi segera menghampiri dan menyapa Mahes dan Laras yang berdiri di tengah keramaian pesta. Tuan rumah sekaligus pusat perhatian dalam pesta ini. Ardi menyapa, menyalami, dan memberi selamat kepada adik dan adik iparnya itu.
"Selamat ya, Hes. Semoga ilmunya barokah, bermanfaat bagi banyak orang." ujar Ardi sambil memberikan bro hug-nya.
"Makasih udah nyempetin datang, kakak ipar." Mahes menjawab dengan senyuman ramah. "Yuk nikmatin dulu sajian kami, kamu pasti udah laper kan?" lanjutnya mempersilahkan.
"Kontrak yang kemarin aku suruh kamu baca dan tanda tangani udah selesai belum?" Ardi menagih kontrak kerjasama perusahaan mereka yang kemarin diserahkannya.
"Udah, ada di ruang kerja diatas. Gak usah ngomongin itu dulu lah, ayo seneng-seneng dan makan-makan dulu sekarang." protes Mahes karena Ardi masih saja ngomongin masalah kerjaan disaat pesta sedang berlangsung kayak gini, merusak suasana saja.
"Yaudah aku naik dulu, liatin kontraknya. Ras, aku pinjam kamar tamu di atas ya," Ardi pamit undur diri dari keramaian.
"Mas? Mas Ardi kenapa?" Laras yang menyadari ketidak beresan kakaknya segera menghampiri Ardi. Sedikit khawatir dengan keadaan Ardi yang sepertinya kurang sehat.
"Gak pa-pa, cuma agak capek aja. Pengen sedikit tiduran bentar diatas," jawab Ardi.
"Pakai kamar tamu disebelah ruang kerja aja buat istirahat. Nanti aku suruh maid nganter makanan dan minuman kesana." Laras mempersilahkan Ardi untuk beristirahat di kamar atas. Kemudian dirinya beranjak mencari maid untuk mempersiapkan makanan Ardi dan mengantarnya keatas.
Ardi menurut saja, beranjak ke lantai atas meninggalkan keramaian pesta. Terlalu capek dan malas untuk berpesta saat ini. Ardi menghampiri ruangan kerja Mahes alih-alih ke kamar tamu.
Ruang kerja sekaligus perpustaan mini milik Mahes dengan banyak sekali buku-buku medis dan bisnis yang terdapat di rak sepanjang dindingnya. Tempat paling nyaman untuk bekerja atau belajar.
Diamati dan diperiksanya dokumen yang ada di atas meja kerja Mahes. Ada dua tumpukan dokumen, Ardi mengambil dari salah satu tumpukan yang dikenalinya dari mapnya. Sudah selesai ditanda tangani semua oleh Mahes, nanti tinggal dibawa ke kantor saja.
Selanjutnya Ardi menghampiri sofa empuk di sudut ruangan yang seolah-olah menggoda dan memanggil-manggil dirinya. Ardi merebahkan tubuh disana dan menutup matanya untuk menghilangkan rasa capek, lelah dan penat diseluruh tubuhnya. Tak lama kemudian Ardi ketiduran juga di sofa itu.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Tolong luangkan waktu klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan IKUTI author ya. Makasih 😘🌼