
Mahes semakin kebingungan demi mendengar jawaban Laras. Dirinya benar-benar tak dapat mengerti jalan pikiran gadis dihadapannya itu. Apa-apaan coba? Masa Laras tega-teganya menolak pernyataan cinta darinya hanya karena cara dia menyampaikannya kurang romantis. Padahal dirinya sudah berusaha mengungkapkan segala perasaannya dengan sepenuh hatinya. What the...
"Aku gak mau jawab sekarang, Mas Mahes. Pokoknya aku mau siaran ulang yang lebih bagus, romantis dan berkesan di dalam hati." Laras berusaha menjelaskan maksud dan keinginannya pada Mahes.
Sebagai seorang gadis muda tentunya Laras sudah sering membayangkan seseorang akan menyatakan cinta kepadanya dan mengajaknya berkencan dengan sesuatu yang sangat romantis dan berkesan. Bisa dibilang juga karena kebanyakan nonton adegan romantis dari film-film drama koreya ataupun dari berbagai media sosial. Mau tidak mau dirinya juga mengharapkan perlakuan seperti tokoh utama wanita disana.
Masak proses jadiannya cuma di restoran solarina kayak gini? Gak ada bunga, kue, cincin atau lagu romantis. Duh Parah banget ini Mas Mahes, sama sekali gak romantis blas jadi orang. Padahal diakan punya duit banyak, kenapa gak kepikiran sesuatu yang dapat membahagiakan seorang wanita sih?
Heloooo ini kan proses jadian putra keluarga Hartanto dan putri keluarga Pradana, masak sehambar dan setidak romantis ini? Gak mauuu, pokoknya aku gak mauuu. Laras bersihkeras untuk meminta Mahes mengulangi proses pengakuan cintanya.
"Jadi? Jadi kamu bukannya nolak aku? Kamu bukannya gak suka sama aku?" Mahes sedikit memastikan arti dari jawaban Laras yang menurutnya masih sangat ambigu.
"Iya, anggap aja pernyataan cinta Mas Mahes cuma ditunda. Aku ingin mas Mahes mengucapkannya lagi pada waktu dan situasi yang lebih tepat." Laras memberikan sedikit clue. Masak iya si mas Mahes begitu tidak pekanya sampai gak sadar juga? Lama-lama Laras merasa gemas menghadapi pria dihadapannya ini. Kalau pria yang lain yang memperlakukannya begini pasti sudah ditolaknya mentah-mentah.
Tapi ini Maheswara Hartanto, pria yang sudah sejak lama juga dikaguminya. Pria yang telah lama juga diam-diam mengisi relung hatinya. Laras yang memiliki harga diri tinggi terlalu gengsi untuk menunjukkan rasa cintanya pada Mahes. Dia lebih memilih menunggu Mahes untuk menyatakan perasaannya padanya. Dan setelelah penantiannya akhirnya terwujud, apa yang didapatkannya? Gini doank? Enak aja...Gak mauuu.
"Ok, Ok. Aku mengerti..." Mahes menjawab dengan nada sok tenang. Padahal dalam hati dia sudah mengumpat-ngumpat dan memaki kebodohan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa lupa bahwa gadis yang akan ditembaknya adalah Larasati Pradana. Seorang nona besar dan manja seperti Larasati Pradana mana mungkin mau menerima pernyataan cinta yang terlalu biasa dan sederhana begini. Pastinya Laras ingin sesuatu yang mewah dan sangat berkelas.
"Maaf ya mas Mahes aku memang egois dan banyak maunya. Mas Mahes harus beneran ekstra sabar kalau mau serius sama aku." Laras menambahkan dengan sedikit tertawa riang. Seakan apa yang barusan dikatakannya adalah hal yang wajar untuk menjawab ungkapan cinta seseorang.
Membuat Mahes mau tak mau juga ikut tertawa garing, miris banget rasanya. Kalau saja dirinya tidak mengenal sifat Laras bahkan sejak dari gadis itu masih kecil pasti dirinya sudah patah hati dibuatnya. Tetapi justru karena Mahes tahu betul sifat dan peragai Laras, dirinya malah menjadi semakin bersemangat untuk dapat menakhlukkan dan mendapatkan hati Larasati Pradana. 'Awas saja kamu ya, pasti akan kubikin kamu jatuh cinta padaku dan mau menerima diriku apa adanya', Mahes semakin bertekad bulat.
Selanjutnya mereka berdua menyelesaikan prosesi makan malam mereka dengan santai. Seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Baik Laras dan Mahes menghabiskan hidangan makan malam mereka sambil sesekali mengobrol. Membicarakan hal-hal lain yang sekiranya tidak membuat mereka canggung. Membicarakan tentang dunia medis dan rumah sakit menjadi pilihan utama mereka.
"Udah malem ni, yuk pulang." Ajak Mahes begitu melirik jam tangannya sudah menunjukkan lebih dari jam sembilan malam. Bisa diomelin budhe Kartika ni kalau bawa anak gadisnya pulang kemalaman.
"Oke deh. Nanti kalau Mas Mahes udah siap bilang aja sama aku. Acara siaran ulangnya kapan." Ujar Laras sambil beranjak dari kursinya, mengingatkan Mahes akan hutangnya untuk memberikan pertnyataan cinta yang romantis.
"Tenang aja, next time will be the most unforgetable momment for you." Jawab Mahes memastikan kesanggupannya. Diraihnya sebelah tangan Laras untuk berjalan beriringan ke parkiran mobil, dan dibukakannya pintu mobil untuk gadis itu. Selanjutnya diantarakannya pula Laras ke kediaman utama keluarga Pradana yang berada di tengah kota Banyu Harum ini.
~∆∆∆~
__ADS_1
Sekembalinya dari mengantar Laras pulang dan sampai di rumahnya sendiri, Mahes langsung saja meraih ponselnya, menelpon Ardi. Saking gemasnya dia ingin menumpahkan segala uneg-uneg dan kegalauannya pada sahabatnya itu.
"Halo apaan si malem-malem nelpon? Jijik banget tau gak telponan sama cowok di waktu romantis kayak gini." Ardi menggerutu menerima panggilan begitu melihat nama Mahes yang terpampang di layar ponselnya.
"Heh brengsek dengerin dulu sebentar. Aku mau ngomong ni! Urgent, penting banget!" Mahes tak memperdulikan protes Ardi. Biarin aja toh masih jam sepuluhan malam, Ardi pasti belum tidur juga biasanya jam segini.
"Apaan? Buruan ngomong. Aku lagi sibuk ni." Mau tak mau Ardi jadi sedikit penasaran juga. Diletakkannya berkas-berkas yang dari tadi dibacanya di meja dan disandarkannya kepalanya ke sandaran kursi kerjanya yang empuk. Berusaha sedikit merilekskan tubuhnya sambil mendengar cerita Mahes.
"Soal Laras, Di. Duh parah banget adekmu itu."
"Hah? Laras? Emang kenapa? Parah gimana? Bukanya kamu udah kenal dan tahu kayak apa dia anaknya dari dulu?" Jawab Ardi sedikit kebingungan.
"Iyaaaa...Justru karena udah tahu dia kayak gimana makanya jadi gemes kayak gini...Tapi asli, syok juga aku tadi denger jawabannya yang blak-blakan padaku."
"Wahahha. Kenapa emangnya? Kamu ditolak mentah-mentah?" Ardi tertawa ngakak membayangkan kegagalan Mahes dalam proses penembakan pada Laras, adiknya itu. Tapi masa iya sih Laras tega nolak Mahes? Mau cari pria yang kayak gimana lagi coba kalau seorang Maheswara Hartanto aja ditolaknya? Atau Mahes yang gagal untuk mengutarakan maksudnya dengan baik dan benar karena saking gugupnya?
"Ya gak separah itu juga kali. Seneng banget kamu kalau aku ditolak? Buat nemenin kamu patah hati?" Mahes menggerutu sebal.
"Tapi masak ya, Di. Si Laras, adikmu itu minta siaran ulang. Kurang romantis katanya tadi pernyataan cintaku," ujar Mahes pasrah.
"Hahahaha bener-bener Laras banget itu. Lagian kamu nembak dia dimana?" Ardi semakin tertawa terbahak-bahak membayangkan adegan katakan cinta Mahes yang seharusnya berakhir romantis malah berakhir tragis dan mengenaskan begini.
"Solarina. Lha katanya dia pengen makan nasi goreng disana. Yaudah aku turutin aja."
"Hahaha aduuh yaampun...Sakit perut aku kebanyakan ketawa karena kamu, Hes. Coba kamu bayangin ya, kamu mau nembak sang putri dari Pradana group di family restoran? Sambil makan nasi goreng? Kamu tu yang gak waras. Sinting hahaha." Ardi benar-benar tertawa lepas kali ini.
"Haduh heran deh sama didikan keluarga Pradana kalian. Apanya yang salah coba? Aku nembak cewek lain sebelum dia juga di restoran fast food sukses-sukses aja. Emang kamu sendiri nembak Ella dimana?" Mahes semakin kebingungan dan penasaran juga.
"Didikan utama keluarga Pradana itu untuk memperlakukan orang sesuai dengan nilai dan kedudukannya di matamu. Jadi kalau buat orang yang katanya kamu cintai atau kamu hormati ya jangan pelit-pelit lah. Gak usah peritungan." Ardi menjelaskan prinsip pergaulan dalam keluarganya. "Aku sih dulu nembak Ella pertama kali di Landung Biru. Lumayan romantis kan restoran tepi laut dengan lampu-lampunya di malam hari."
"Yaelah Landung Biru mah sama aja kelasnya kayak Solarina." Mahes memprotes Ardi.
__ADS_1
"Lho suasananya beda, bro. Bukan masalah harga atau kelas restorannya. Yang penting suasana romantisnya dapet... Terus tahu gak? Aku waktu putus sama Ella di Upper Sky Restoran di hotel bintang lima," Ardi berusaha menjelaskan dengan sabar pada Mahes, sepupunya yang sangat tidak peka itu.
"Hahaha ini baru lucu, Di...Mau putus aja pakek ke restoran mewah segala," Mahes yang tertawa ngakak kali ini.
"Yah kan namanya juga masih usaha waktu itu. Kali aja Ella melting dan gak jadi minta putus..." Ardi mendengus pasrah demi mengingat the hardest day of his life, hari dimana hubungan cintanya dengan Ella berakhir begitu saja.
"Jadi intinya cewek itu suka dengan suasana, dan segala sesuatu yang tidak penting tapi mereka anggap so sweet," lanjutnya memberi kesimpulan.
"Terus aku harus gimana ni enaknya?"
"Ya bawa ke tempat romantis, kasih lagu romantis, kasih bunga, kasih kue, kasih cincin. Yang kayak gitu-gitu lah, Hes. Kamu kok jadi g*blok gini si kalau menghadapi Laras." Lama-lama Ardi gemas juga menghadapi Mahes yang bertingkah layaknya ABG mau nembak cewek untuk pertama kalinya.
"Hmmm bener juga ya. Tumben kamu pinter, Di? Jangan-jangan udah sering ya ngeluarin jurus gitu ke cewek-cewek?" goda Mahes.
"Enak aja. Baru ke Ella doank. Kalau cewek lainnya gak pakek usaha dan gak pakek dikejar juga datang sendiri." Sekali lagi Ardi jadi mengingat masa-masa indahnya bersama Ella. Bagaimana dirinya yang biasanya cuek dan tidak perduli pada wanita, yah hampir sama saja si kaya Mahes si cuek dan tidak pekanya. Entah bagaimana dirinya bisa berubah seratus delapan puluh derajat untuk bersikap semanis dan seperhatian itu pada Ella. Hanya pada Ella seorang.
"Di, bantuin ya. Masih bingung ni konsepnya."
"Ogah aku sibuk. Ini aja masih banyak dokumen yang belum kelar aku baca." Ardi menolak mentah-mentah.
"Tega bener kamu..." Mahes memelas mengharapkan bantuan dari Ardi.
"Eh kamu inget Edo temen SMA kita? Edo si pemilik Santika Hotel? hubungin dia aja napa? Suruh urus semuanya, tinggal bayar kan beres?" Tak lama kemudian Ardi memberikan solusi paling aman pada Mahes. Tak tega juga melihat Mahes yang sepertinya sudah kebingungan. Tak ingin juga acara perjodohan Mahes dan Laras menjadi semakin kacau.
"Wah boleh juga tu. Daripada puyeng mikir, dah aku telpon Edo dulu deh. Thanx ya kakak ipar." Mahes menyetujui usulan Ardi.
"Kakak ipar gundulmu! Jadian dulu sono yang bener hahaha. Jangan sampai ditolak lagi, malu-maluin keluarga Hartanto aja kamu parah banget, Hes!" Sungut Ardi yang cuma dibalas tawaan galau oleh Mahes sebelum keduanya menutup sambungan telponnya.
~∆∆∆~
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼
__ADS_1