
Mata Ella terbelalak dan sangat kaget begitu dapat melihat dengan jelas sosok pria yang sedang bergulat dan berseteru dengan Linggar. Ella dapat langsung mengenali wajah dan sosok pria itu, wajah yang sangat tidak asing lagi baginya, Roni?
Ardi juga ikut membalikkan tubuh dari posisi duduknya yang membelakangi pintu, untuk melihat keributan yang sedang terjadi. Penasaran dengan keributan apa yang sedang terjadi di belakangnya. Dahi Ardi pun berkerut keheranan demi melihat Linggar sedang bergulat dengan seorang pria yang sudah sangat dikenalnya, si brengsek itu, Roni.
"Lepas! Lepasin aku!" Roni bergerak-gerak berusaha melepaskan tubuhnya dari pegangan Linggar. Tapi pegangan Linggar cukup kuat sehingga Roni tidak bisa melepaskan tubuhnya. Wah si Linggar ini kayaknya bisa sedikit ilmu bela diri deh.
"Hei brengsek! Kamu siapa hah? Ngapain kamu masuk keruangan yang sudah dibooking orang lain?!" Alih-alih melepaskan pria itu, Linggar malah menghardik lawannya itu dengan nada garang.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini! Atau aku panggilkan satpam buat mengusir kamu!" Lanjut Linggar dengan nada semakin sinis penuh ancaman.
"Justru kalian berdua itu yang brengsek! Apa yang mau kalian lakukan pada Ella di ruangan tertutup begini? Dasar kalian bajing*n bersaudara!" Roni mengumpat kasar tak mau kalah melawan Linggar.
Wajah Roni sudah merah padam, membara dibakar oleh api amarah saat ini. Kedua bola matanya pun terlihat berkilat-kilat penuh ancaman. Roni terlihat sangat murka dengan emosi yang memuncak dan mendidih sampai ke ubun-ubun. Dalam keadaan begini tak mengherankan kalau segala makian dan penghuni kebun binatang bisa keluar dari mulutnya.
Linggar sedikit kaget juga mendengar ucapan Roni. Pertama kaget karena ternyata pria itu sepertinya mengenal Ella. Pria itu marah karena Ella yang seolah disekap di ruangan tertutup. Serta yang kedua adalah kaget karena ada orang yang berani mengatai mereka berdua dengan kata-kata kasar begitu. Mengatai dua tuan muda Pradana.
Kalau untuk dirinya si masih Ok lah. Linggar sendiri juga masih sering berkata kasar begitu. Apalagi kalau sedang emosi atau bercanda dengan teman-teman sekampusnya. Tapi untuk mas Ardi? Siapa coba yang segila dan senekat itu berani mengatai bos besar Pradana Grup dengan kata-kata brengsek dan bajing*n seperti yang barusan dikatakan pria itu? Udah bosen idup kali ya?
"Ron? Kamu, kamu sedang apa disini?" Ella yang kali ini bertanya keheranan, bangkit dari kursi, tempat duduknya. Tapi tetap berdiri si posisinya semula.
Ella benar-benar kebingungan dan tak habis pikir dengan keributan yang sedang terjadi tepat di hadapannya. Bagaimana Linggar dan Roni bisa sampai bertengkar dan beradu badan begitu? Ngapain coba? Sungguh sangat aneh rasanya melihat dua orang pria dewasa bertengkar, adu mulut bahkan sampai melibatkan sedikit adegan kekerasan fisik seperti itu.
Bagaimana Roni bisa sampai ada di sini? Di restoran mewah ini? Gak mungkin hanya suatu kebetulan lewat kan? Ella tahu benar restoran mewah dengan kelas seperti ini bukanlah tempat tongkrongan bagi para mahasiswa residen kere seperti Roni dan dirinya sendiri. Terlalu mewah dan tidak ramah di dompet mereka tentunya.
Apa Roni sengaja datang kesini gara-gara panggilan telponnya tadi? Apa gara-gara Ella tadi menyebut nama Linggarjati Pradana? Apa Roni cemburu pada Linggar? Ataukah karena Linggar ada hubungannya dengan keluarga Pradana?
Apa Roni khawatir akan ada hubungannya juga dengan Ardi Pradana? Apa Roni sengaja datang kesini untuk mencegah dirinya berhubungan dengan anggota keluarga Pradana? Mencegah dirinya berhubungan dengan Ardi Pradana khususnya...Apa Roni kesini untuk menjemput dirinya pulang?
"Nggar, lepasin dia." Perintah Ardi pada Linggar yang masih memegangi tubuh Roni. Lagi-lagi nada bicara Ardi terdengar datar, tanpa ekspresi.
Ardi berdiri dari kursinya. Kemudian berjalan perlahan ke arah Roni sampai kedua posisi mereka berdua cukup dekat. Ekspresi wajah Ardi berubah mengeras dengan sesekali menggeretakkan gigi- geliginya saat melihat dan berhadapan dengan wajah menyebalkan Roni.
__ADS_1
Ardi masih sangat kesal dan marah akibat pertemuan terakhirnya dengan pria itu. Dimana si brengsek Roni ini dengan terang-terangan berani menantangnya. Bahkan si brengsek itu juga sengaja memamerkan kemesraan dengan Ella untuk memanasi dirinya di pesta kelulusan Mahes.
Bagi Ardi yang seorang CEO perusahaan raksasa tentu saja tak pernah ada yang berani untuk menantangnya terang-terangan begitu sebelumnya. Bahkan saingan bisnisnya sesama sultan pun tak akan berani secara terang-terangan untuk menantangnya. Eh ini malah seorang rakyat jelata yang bahkan masih berstatus residen, masih sekolah, sudah berani menantang dirinya? Sungguh benar-benar tak tahu diri kan?
Jika mau Ardi dapat dengan mudah memberi pelajaran pada Roni ini. Bahkan mungkin dirinya juga bisa menghancurkan karier dan hidup Roni. Yah dengan segala kekuasaan dan uang yang dimilikinya semua itu bukanlah hal yang mustahil dilakukan.
Untung saja Ardi bukanlah tipe sultan yang brutal dan suka seenaknya sendiri dalam bertindak. Ardi tidak suka mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan bisnisnya. Dirinya tak suka untuk memanfaatkan kekuatan finansialnya hanya buat menghancurkan orang yang tidak disukainya secara personal. His personnal matters.
Beda lagi urusannya untuk seseorang yang jelas-jelas telah merugikan perusahaannya, Ardi tak akan segan-segan atau ragu sama sekali untuk menghancurkannya sampai jera. Bahkan mungkin akan membuat lawannya tak bisa untuk bangkit kembali. His Bussiness matters.
"Kalian kenal sama si brengsek ini?" Linggar bertanya keheranan, masih belum mau melepaskan pegangannya tangannya dari tubuh Roni.
"Iya..." Ardi menjawab singkat.
"Dia Roni...Pacarku..."
Semua mata langsung beralih ke arah datangnya suara itu. Kali ini Ella yang menjawab. Jawaban dengan nada pelan saja tetapi terasa menggelegar di seluruh ruangan. Jawaban yang bahkan mempu membuat lawan Linggar tersenyum penuh kemenangan sementara Ardi tersenyum kecut sekaligus demi mendengarnya.
Sekalian juga untuk Memberitahukan dan membuktikan dengan gamblang bahwa dirinya masih bisa hidup dan bahagia serta menemukan cinta yang lainnya dari pria selain Ardi.
Ella seolah ingin menunjukkan pula bahwa segala hal tak selamanya harus berjalan sesuai dengan apa yang mereka kehendaki. Meskipun mereka adalah para sultan yang seakan memiliki segalanya. Konglomerat yang seakan bisa mendapatkan segala keinginan mereka dengan hanya menggesekkan kartu sakti yang mereka miliki saja.
Kalau Ardi saja sepertinya sudah merelakan dirinya, apa lagi yang tersisa dari hubungan mereka coba? Tidak ada. Tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan. Yang ada hanya sesuatu yang perlu diikhlaskan.
'Baiklah, akan aku turuti saja apa maumu... Aku akan bersanding dengan Roni saja yang sudah jelas statusnya dan dapat terjangkau di depan mata. Bukan seseorang yang terlalu tinggi posisinya di langit ketujuh yang tak terjangkau oleh tangannya seperti Ardi.'
Ella semakin mantap menentukan pilihannya pada Roni. Serta bertekad untuk melupakan dan mengubur segala masa lalunya dengan Ardi.
Selama tiga tahun ini Ella sudah sering kali bermimpi dan berandai-andai bagaimana jika nanti dirinya kembali bertemu dengan Ardi. Berbagai macam cerita dan scenario juga telah hadir menghiasi mimpi-mimpinya itu. Mulai dari mimpi yang biasa saja sampai kisah terindah bak kisah cinta Cinderella.
Tapi ternyata kenyataan tetaplah kenyataan. Kenyataan kadang sangat kejam dan pastinya tak seindah mimpi-mimpi itu. Bahkan kenyataan yang terjadi ternyata terasa sangat menyakitkan dengan sikap Ardi padanya yang telah berubah, berubah seratus delapan puluh derajat seolah pria itu sudah bukan Ardi yang pernah dikenalnya. Mungkin memang lebih baik kalau mereka tidak pernah bertemu kembali. Agar lebih mudah untuk mengubur dan melupakan segala kenangan.
__ADS_1
"Haaa? Pacar?" Linggar bertanya kaget, tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Buru-buru dilepaskannya cengkeraman kedua tangannya dari tubuh Roni. Tapi dirinya sama sekali tidak menyesal telah berlaku kasar pada Roni, pacar Ella ini.
"Iya...Kenapa? Aku memang pacarnya Ella sekarang. Ada masalah?" Ujar Roni dengan senyuman penuh kemenangan dan kepercayaan diri. Membuat Linggar dan Ardi semakin kesal melihat wajahnya.
"Bed*bah!" Umpat Linggar terang-terangan.
Sementara Ardi memilih untuk tetap diam saja, dengan image cool-nya. Padahal sebenarnya dirinya juga sudah misuh-misuh dalam hatinya.
Ternyata Ella sudah punya pacar? Aduh kok tadi aku gak nanya soal pacar si? Linggar menyadari kegagalannya dalam mengorek informasi tadi. Kebodohan dirinya karena cuma bertanya apakah Ella sudah menikah atau bertunangan saja.
Tapi kalau hubungan mereka baru pacaran, masih bisa untuk putus kan? Not a big deal right? Kalau sudah tunangan atau menikah, Ardi pasti tak bakal akan mau untuk merebut Ella kembali.
Ardi, kakaknya yang terlalu baik dan gentleman itu mana mau untuk bermain curang dengan merebut wanita yang sudah menjadi milik orang lain. Ardi pasti akan lebih memilih untuk mundur dan menyerah daripada menjadi seorang penjahat.
Kalau perkara merebut istri orang sudah jelas salah. Dan Linggar juga tahu benar akan hal peraturan dasar seperti itu. Dirinya juga tak akan pernah melakukan atau sekedar membantu kakaknya untuk melakukan hal itu. Mending cari inceran yang lain saja kalau sudah begitu. Kayak di dunia ini udah kehabisan stok cewek aja?
Sementara untuk pertunangan. Kan katanya haram untuk melamar wanita yang sudah dilamar oleh pria lain sebelum sang wanita mengembalikan lamaran dari pria yang lain itu. Katanya sih...Jadi ya gak boleh juga untuk dilakukan. Dan Linggar juga meyakini hal itu...
Tapi kalau cuma sekedar pacaran jelas masih ada harapan. Masih sah dan gak dosa untuk direbut dan ditikung kan? So let's get fight!
Linggar merasa masih ada harapan terbentang di hadapan mereka. Linggar menjadi semakin bersemangat untuk melanjutkan misinya. Misi untuk mempersatukan Ardi dan Ella. Sebelum janur kuning melengkung kan kata pribahasa hehe.
Bukannya Linggar suka cari gara-gara dengan merebut pacar orang lho ya, untuk merebut Ella dari Roni. Tapi dirinya dengan mata kepalanya sendiri dapat melihat bagaimana pertemuan antara Ella dan Ardi tadi.
Linggar dapat melihat dengan jelas bahwa keduanya masih saling mencintai. Keduanya masih memendam rasa cinta di dada masing-masing. Tentunya getar-getar rasa itu sangat nyata terlihat dan terasa dari ekspresi wajah mereka yang tertangkap mata Linggar.
Roni yang sudah berdiri bebas dari pegangan tangan Linggar segera menghampiri Ella yang berdiri di tengah ruangan. Melewati Ardi yang berdiri diantara mereka begitu saja, menganggap pria itu seakan tidak ada. Roni meraih sebelah tangan Ella dan menggenggamnya dengan sangat erat. Seolah ingin membuktikan bahwa gadis itu kini miliknya.
Kemudian Roni menghampiri Ardi, berhadapan dengan Ardi dengan kedua pasang mata mereka yang sejajar. Keduanya saling pandang bahkan seolah sampai ada aliran listrik yang mengalir dari kedua mata mereka yang saling beradu pandangan.
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. ðŸ¤ðŸŒ¼