Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
243. S2 - Malam Pertama


__ADS_3

Setelah acara pesta selesai, para kerabat dan sahabat dekat masih banyak yang berkumpul untuk sekedar ngobrol dan bertukar sapa. Sebagian besar dari mereka memang telah disediakan kamar dan akan menginap di hotel ini. Jadi sepertinya mereka berencana bakalan jagongan sampai malam bahkan sampai pagi. Party all night long.


Terutama para prianya, terutama pula para pria bujangan. Dengan hanya bermodal kopi, rokok, Vape, dan wine mereka bisa kuat melek sampai pagi. Bisa dibilang bujangan party season two.


"Jadi besok lusa setelah semua acara selesai pak Ardi langsung honeymoon? Berapa lama pak?" Bambang bertanya pada Ardi memastikan jadwal bosnya itu.


"Gak tahu. Seminggu palingan. Gak jauh-jauh amat kok cuma ke Bali aja, bisa pulang sewaktu-waktu kalau ada urusan mendesak." Jawab Ardi.


"Ngapain gak ke luar negeri? Jepang lagi musim semi Lo. Eropa juga lagi hangat kayaknya." Mahes bertanya heran dengan tujuan honeymoon Ardi.


"Waktunya masih agak sulit. Ntar kalau aku udah longgar bisa dijadwalkan ulang." Ardi menjelaskan soal kerjaannya yang masih menumpuk.


"Yaelah penganten baru masih mikirin kerjaan aja." Tyo mengeluhkan kebiasaan workaholic Ardi. Kerja ya kerja, honeymoon lain perkara kan seharusnya.


"Karena banyak pekerjaan yang tertunda kemarin akibat persiapan pernikahan." Bambang menambahi.


"Karena kasus dengan pak Gengen juga." Gery ikutan nimbrung. "Oiya saya sudah pastikan tuntutan secara hukum dari pak Gengen telah dicabut. Aman pak gak bakal ada ancaman untuk dipenjara lagi."


"Syukur deh. Tapi sayang gak jadi nikah di penjara ya, bro?" Tyo cekikikan mengingat kendala dan ujian pernikahan Ardi. Mau gak mau jadi kepikiran juga kalau dirinya akan menikah ntar ujiannya kayak apa ya.


"Ditambah lagi karena seseorang yang tiba-tiba jadi bego juga sebelum nikah hahahaha." Celetuk Linggar, kapan lagi bisa ngatain mas Ardi bego.


Semua yang hadir langsung cekikikan mengingat tingkah dan keabsurban Ardi menjelang pernikahan. Memang sangat aneh seorang CEO sekelas Lazuardi Pradana bisa sebego itu.


"Sudah malam lho, kamu gak masuk kamar? Istirahat sana besok kan masih ada pesta tahap kedua." Mahes mengingatkan pada Ardi untuk menjaga stamina.


"Lhoiya gimana si, manten pria kok malah jagongan sama kita-kita para pria jomblo." Tyo ikutan prihatin.


"Eits gue gak jomblo ye." Ujar Mahes congkak.


"I'm a married man too." Nick menyombongkan diri.


"Sudah pak Ardi masuk kamar aja. Kasian pak bininya dianggurin. Pamali lho..." Gery mulai menyerempet ke ranah sensitif. Padahal Mahes dan Tyo sudah sengaja tidak membahas soal perbinian ini.


"Nanti digigit nyamuk lho klo dianggurin." Linggar sudah tak tahan untuk tidak menyeletuk cekikikan.


"Nyamuk berkepala hitam," tambahnya.


Kangen suasana santai penuh canda begini. Dari tadi selama pesta Linggar harus menemani Ditha dan keluarga Sampoerna lainnya, harus jaga image dan wibawa, gak bisa selengekan dan ngakak. Capek banget rasanya, gak bisa guyon dan saling hujat dengan para saudara dan sahabat dekat lainnya.


"Lha emang kepalanya nyamuk hitam kan?" Bambang bertanya kebingungan.


"Brisik, mbang!" protes Ardi. Dan Bambang langsung mingkem tak berani nyeletuk lagi. Duh kayaknya pak bos masih dendam gara-gara lagu pilihannya tadi.


"Malah bisa diduluin setan kalau kelamaan." Tyo ikutan mengompori.


"Yaudah aku pamit dulu deh," Ardi seakan baru ingat kalau Ella sudah menunggunya di kamar.


'Duh kok bisa lupa si? Padahal akhirnya bisa buka puasa setelah 30 tahun lamanya menanti.'


"Pak jangan lupa tisue magic dari saya." Ujar Gery.


"Obat kuatnya juga jangan lupa ya." Tambah Tyo.

__ADS_1


"Make her Scream!" Nick menambahkan.


""Huahahaha.""


Semuanya tertawa ngakak keasikan menggoda Ardi. Tapi Ardi tidak memperdulikannya. Dengan langkah cepat dan semangat empat lima Ardi keluar dari ballroom, menuju lift dan menekan lantai 7 tempat kamarnya dan Ella berada. Salah satu kamar presidential suit room di Galbadia Hotel.


Dalam kepalanya Ardi sudah membayangkan saat dirinya memasuki kamar Ella akan menyambutnya dengan senyuman indahnya. Memberinya ketenangan dan kehangatan, lalu... Arrrghhh... lalu apa lagi...


Tapi betapa kagetnya Ardi saat membuka pintu kamar tak ada sambutan untuknya. Sepi banget, bahkan pencahayaan di kamar juga remang-remang. Ella kemana? Ardi buru-buru menyalakan lampu untuk mencari dimana keberadaan istrinya itu.


Dan ternyata Ella sedang rebahan di salah satu sofa empuk dengan masih mengenakan busana pengantin. Sepertinya ketiduran, mungkin dia terlalu lelah untuk sekedar melepas pakaiannya. Ardi mendekati Ella dan mengamati wajah tidur istrinya itu, pules banget dan menggemaskan. Jadi gak tega buat bangunin.


Akhirnya karena Ardi yang juga merasa sangat lelah dan penat, pengen naruh punggung saja rasanya. Ardi memutuskan untuk mandi dulu dan berganti pakaian.


Ardi melepaskan tuxedo serta vest, ikat pinggang dan dasi yang dikenakannya. Meletakkan begitu saja bekas pakaiannya di atas salah satu sofa. Tinggal kemeja yang sudah dibuka sebagian kancingnya, yang tersisa selain celana panjang putihnya. Beranjak ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tidur.


Didalam kamar tidur ternyata sudah ditata kelopak-kelopak bunga mawar merah dan lilin-lilin membentuk suatu path way ke arah ranjang. Di atas ranjang juga telah tertata kelopak bunga mawar yang dibentuk hati. Sementara di atas meja sudah tersedia sebotol wine dalam cooler beserta dua gelas wine dan sepiring kue-kue untuk cemilan. So romantic.


Ardi lanjut ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya dengan air hangat dari shower. Lumayan ampuh ternyata untuk menghilangkan sebagian penatnya. Setelah cukup lama mengguyur tubuhnya, akhirnya Ardi menyelesaikan prosesi mandinya dan berganti pakaian dengan silk night robe. Seragam kasur.


Ardi menghampiri Ella sekali lagi, dipandanginya wajah istrinya itu...cantik dan cantik sekali. Tanpa sadar, seakan terhipnotis oleh kecantikan Ella Ardi sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Ella. Dan tahu-tahu Ardi sudah mendaratkan bibirnya ke bibir Ella. Mencium dan mengulum bibir tebal itu.


"Heemmm..." Ella terbangun dan membuka matanya karena ciuman dari Ardi yang mengganggu tidurnya.


"Mas Ardi?" Ella sedikit kebingungan mendapati wajah Ardi sangat dekat dengan wajahnya.


"Hallo honey," Ardi menyapa dan memberikan satu kecupan ringan lagi di bibir Ella. "Ayo bangun dulu." Ardi membantu Ella bangkit dari tidurnya.


"Aku ketiduran..." Ella menyadari kebodohannya. Tadi memang dirinya mendahului Ardi masuk ke kamar. Niatnya si mau mandi dan siap-siap untuk menyambut suami, tapi malah ketiduran di sofa.


"Kamu gak gerah pakai baju itu terus?" Ardi kembali bertanya pada Ella yang sepertinya tidak nyaman dengan Wedding dress ribetnya.


"Aku, aku gak bisa ngelepas baju ini." Ella berkata jujur. Dari tadi sebenarnya sudah pengen ganti pakaian. Gak nyaman banget pakai baju ini buat rebahan. Tapi apalah daya bajunya terlalu ketat dan susah untuk dilepaskan dari tubuhnya tanpa bantuan orang lain.


"Dasar kamu ini, kenapa gak bilang? Sini aku bantuin." Ardi menawarkan bantuannya.


"Eh? Mas Ardi yang bantuin?" Ella langsung bangkit dari duduknya. Panik. Masa harus minta tolong mas Ardi untuk melepaskan bajunya...Maluuuuu.


"Lho kenapa? Kan aku suamimu sekarang?"


"Tapi...tapi..."


"Tapi apa? Malu? Ngapain pakek malu-malu? Nanti juga aku bakal lihat semuanya." Goda Ardi jahil.


Ella diam saja, tak bisa membantah lagi. Ardi dengan cekatan menghampiri Ella dan menarik resleting gaun di punggungnya. Perlahan namun pasti gaun itu tersingkap dan menampakkan lekukan punggung Ella yang indah. Menampilkan kulit tubuh Ella yang terlihat halus, mulus dan putih mempesona.


'Glek,'


Ardi menelan air liurnya yang serasa ingin menetes. Entah mengapa tak dapat menahan dirinya untuk memeluk tubuh Ella dari belakang. Membenamkan wajahnya ke bagian belakang tubuh istrinya itu. Menikmati aroma tubuhnya yang menggoda. Menciumi setiap inchi leher, tengkuk dan punggungnya secara merata.


"Mas Ardi...aku...aku masih bau." Ella sudah menggeliat kegelian dengan ulah Ardi yang menciumi bagian belakang tubuhnya seperti itu.


Deg...deg... deg, jantung Ella sudah berdebar sangat cepat dan tak karuan rasanya.

__ADS_1


'Sepertinya Mas Ardi sudah benar-benar 'tinggi' sekarang ...Gak bisa ditunda lagi ya?'


Ella masih ngeri harus membayangkan apa yang akan diterimanya. Gimana rasanya ya? Katanya sakit banget kalau pas pertama? Gak bisa ditunda lagi ya?


"Wangi...kamu wangi banget kok." Ardi tak dapat menghentikan kegiatannya untuk menciumi tubuh Ella. Kecanduan rasanya. Seakan tombol ON sudah ditekan untuk menyalakan engine dalam tubuhnya.


"Mas...aku mandi dulu ya..." Ella sedikit memohon.


Ella merasa memang tubuhnya sudah lengket karena keringat seharian. Belum lagi make up tebal di wajahnya sudah gak nyaman pengen cepet-cepet bersihkan. Sekalian ingin sedikit menenangkan diri dan meredakan debaran di dadanya yang menggila.


"Oke deh...jangan lama-lama ya," dengan berat hati Ardi melepaskan Ella dari pelukannya. Dan gadis itupun segera berlari ke kamar arah kamar tidur.


"Kok susah banget ya? Mau mesra-mesraan dan enak-enakan sama istri sendiri aja banyak halangan. Rintangan terjal." Ardi menggerutu sambil mengambil ponselnya dan beranjak ke arah ranjang. Rebahan disana sambil menunggu Ella selesai mandi.


Sambil menunggu Ella, iseng-iseng Ardi mencari-cari artikel di search engine. 'How to make your wife Scream'. Belajar teori dulu lah sebelum berperang. Biar lebih bisa menguasai medan perang nantinya.


"Katanya yang halal itu lebih menantang... Memang bener sih, tantangannya ternyata sangat berat. Tantangan untuk bersabar kayak gini." sepuluh menit kemudian Ardi kembali menggerutu karena Ella tak kunjung kembali dari kamar mandi.


"Honey...udah belum?" tanya Ardi. Dan tidak ada jawaban dari Ella yang masih di kamar mandi.


"Duh kenapa si wanita mandinya lama?" gerutu Ardi.


"Sabar...sabar...Yang sabar dapet banyak nanti..." Ardi mencoba menghibur dan menenangkan dirinya.


Ella melepas pakaiannya dan berganti dengan bath robe yang disediakan oleh hotel. Melepas Tiara dan sanggul di kepalanya, menghapus pula make up tebal di wajahnya. Ternyata butuh cukup banyak waktu untuk menghapus make up di wajahnya. Memang wajar si untuk make up setebal itu, walaupun terkesan minimalis tetap harus awet berjam-jam.


Selanjutnya Ella masuk ke kamar mandi. Membasuh dan membersihkan dirinya dengan air hangat dari shower. Sebagian untuk menghilangkan penat dan lelah di tubuhnya. Sebagian lain untuk membersihkan dirinya. Sebersih mungkin dan sewangi mungkin untuk persiapan malam pertama menemani suaminya tidur. Haruskah malam ini juga ya? Gak bisa ditunda lagi?


Ella semakin panik dan deg-degan tak karuan saat keluar dari kamar mandi dan menghampiri Ardi yang sudah menunggunya di ranjang. Kali ini Ella sudah sengaja memakai lingery sexy berwarna hitam pemberian Laras. Ella juga menambahkan parfum dengan aroma menyengat pemberian Rena. Mengabaikan rasa gengsi dan malunya, untuk malam ini saja, malam spesial mereka berdua ...


"I'm ready hubby," ujar Ella dengan nada sedikit genit, bermaksud sedikit menggoda suaminya.


Tak ada jawaban.


"Mas?..." tanya Ella mendekati Ardi di ranjangnya.


Tetap gak ada jawaban.


Ella semakin mendekat ke arah ranjang dan ternyata Ardi sudah ketiduran dengan posisi masih memegang ponselnya. Ella mengambil ponsel itu untuk mengamankannya di side table. Dahi Ella berkerut demi melihat judul artikel yang dibaca Ardi, how to make your wife scream? Apaan coba?


'Apa aku kelamaan ya tadi? Maaf ya mas Ardi kamu jadi ketiduran karena kelamaan nunggu.'


Diamatinya wajah tidur suaminya itu, wajah yang sangat tampan. Melihat Ardi tidur sepulas itu tentu saja Ella jadi tak tega untuk membangunkannya.


Ella sadar benar memang rundown acara yang padat terasa sangat melelahkan bagi mereka berdua dan segenap keluarga serta semua yang terlibat. Apalagi besok masih ada satu perhelatan resepsi lagi yang masih harus dilakukan. Mereka harus benar-benar menjaga stamina.


Akhirnya Ella naik ke atas ranjang, tiduran di samping Ardi. Memandangi wajah suaminya itu sambil tersenyum-senyum sendiri. Dalam hati sangat bersyukur akhirnya dirinya dapat menjadi istri sah dari seorang Lazuardi Pradana.


Cukup lama Ella memandangi wajah tidur Ardi yang menggemaskan. Tak berani menyentuhnya, takut mengganggu tidur pulas suaminya itu. Sampai akhirnya tanpa terasa Ella ikut ketiduran juga.


Fix malam pertama mereka gagal total. Terkalahkan oleh rasa kantuk dan rasa lelah serta penat yang amat sangat di tubuh mereka. Tapi tenang aja gaes masih banyak malam-malam lainnya kok. Malam kedua, malam ketiga dan seterusnya. They can spend every single night together.


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Yuuuuks PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼


__ADS_2