Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
47. Mother and daughter


__ADS_3

Malam harinya Ella masih sedikit kesal dengan Sifat Ardi tadi. Ella sengaja nyuekin dan tidak menghubungi pria itu sama sekali sejak tadi siang. Eh lhakok Ardi juga seolah ikutan merajuk. Ardi yang biasanya selalu kepo nanyain kabar tiba-tiba juga menghilang seperti ditelan bumi tanpa kabar.


Tapi segi positifnya Ella dapat memanfaatkan waktunya tanpa gangguan Ardi. Dia pergunakan waktunya untuk diluangkan bersama mamanya. Kruntelan di kasur mamanya dalam kamar mamanya sambil nonton film azab favorit mamanya itu. Kebiasaan mereka sejak Ella masih sekolah dulu, kruntelan di kasur dan ngobrol ngalor ngidul. Papa Ella yang terusir dari kamarnya akhirnya memutuskan untuk duduk dan mengobrol di teras dengan Pak Hasan.


"Terus pembicaraan yang kemarin gimana?" Mama Ella menagih janji Ella untuk cerita.


"Pembicaraan yang mana?" Ella kelupaan.


"Tentang nak Ardi. Kok kayaknya dia banyak rahasia gitu? Kamu udah tahu semua?"


"Ella udah tahu semua ma. Sebenarnya mas Ardi itu bukan orang biasa. Dia itu orang yang luar biasa tapi sukanya berlagak jadi orang biasa." Jawaban Ella terdengar agak ambigu. Membuat mamanya semakin bingung saja.


"Orang biasa dan orang luar biasa apaan si?"


"Sebenarnya keluarga Pradana itu adalah keluarga paling kaya se Banyu Harum. Bisa dibilang Sultannya Banyu Harum lah. Dan mas Ardi itu putra pertama mereka, pewaris utama Pradana group," Ella menjalaskan.


"Lho katanya dia kerja di perusahaan konstruksi?" Mama Ella masih tak percaya.


"Iya memang. Itu salah satu anak perusahaan Pradana group. Dan dia direkturnya disana. Bisa dibilang itu murni perusahaan milik Mas Ardi sendiri. Proyek perumahan yang dikerjakannya tidak main-main, ma. Itu adalah perumahan elite dengan harga milyaran per unitnya." Ella menjelaskan.


"Milyaran? Nak Ardi yang masih semuda itu udah mainan uang milyaran?" Mama Ella benar-benar kaget mendengarnya.


"Iya kapan hari ada masalah, nyaris hilang tiga belas milyar. Ada kontraktor yang nakal gelapin dana segitu. Duh ngeri kalau dibayangin ma. Mama Lilik ama Ella mah gak nutut bayangin uang sebanyak itu hehe."


"Iya berapa gebok uang itu ya?" Lilik ikut membayangakan. "Terus gimana duitnya? jadi ilang?" Lanjutnya bertanya penasaran.


"Aman kayaknya. Tapi jadinya mas Ardi sekarang sibuk banget. Banyak yang diurusin, makanya gak bisa anterin aku. Jadinya ya nyuruh pak Hasan buat anterin aku."


"Syukur deh kalau gak jadi hilang duit segitu." Lilik terdengar lega. "Terus udah sejauh apa hubungan kalian?"


"Sejauh apa ya? Ya gini-gini aja pacaran. Jalan bareng, makan bareng, telponan. Ngapain lagi?" Jawab Ella sambil ngemil keripik kentangnya.


"Udah dikenalin sama keluarganya? Udah pernah dibawa ke rumahnya?"


"Udah pernah ke rumahnya di Banyu Harum. Sama adek-adeknya juga udah akrab. Sama mama papanya udah kenalan."


"Terus reaksinya gimana?" Lilik bertanya khawatir. Dia tahu benar keluarga kaya biasanya sangat selektif dalam memilih calon mantu. Apalagi untuk keluarga sekaya Sultannya Banyu Harum?


"Itulah ma, kayaknya agak susah. Mama mas Ardi kayaknya gak setuju sama Ella." Ella menegakkan duduknya. Pembicaraan mulai serius. Mungkin dia bisa meminta sedikit pendapat dan wejangan dari mamanya itu.


"Kenapa dia gak setuju? Dia maunya mantu yang sama kayanya?"

__ADS_1


"Iya awalnya dia ingin menjodohkan mas Ardi sama cewek lain yang sama-sama dari keluarga sultan. Tapi mas Ardi gak mau, dan ceweknya juga udah punya pacar. Jadi kayaknya aman gak bakal dilanjutin perjodohan mereka," jawab Ella.


"Kalau gitu sekarang masalahnya apa?"


"Masalahnya mama mas Ardi gak suka punya mantu wanita carier. Dia maunya wanita yang full suport buat suami."


"Wanita itu ya, harus bisa cari uang, nyetir mobil, berdandan dan punya uang dalam dompetnya." Lilik yang juga seorang guru PNS, sesama wanita carier berkomentar.


"Seorang pria itu kalo punya banyak duit. Mau betapa cantiknya dirimu, maka sangat mungkin untuk membuangmu. Namun bila kamu punya uang, pekerjaan, pendidikan, apalagi cantik kayak kamu. Liat siapa saja yang berani membuangmu?"


"Iya ma, Ella setuju. Aku juga berpikir begitu. Mungkin mas Ardi bisa memberikan banyak uang untukku. Bahkan lebih dari cukup. Tapi kami berdua punya banyak impian besar. Tidak adil rasanya kalau hanya dia yang berjuang keras. Ella ingin menggenggam tangannya dan berjuang bersama untuk menggapai segala impian kami." Ella juga mengemukakan pendapatnya.


"Tapi masalah rumah tangga itu tidak sesimpel itu El. Menikah itu tidak hanya menyatukan dua orang pria dan wanita. Menikah itu juga menyatukan dua keluarga. Jadi bagaimana pun juga restu orang tua sangatlah penting." Lilik mengingatkan.


Ella diam saja tak menjawab petuah dari mamanya. Dan Lilik pun melanjutkan ucapannya. "Terus sebagai keluarga itu juga harus tahu batasan. Kalau sudah rumah tangga itu artinya murni suami dan isteri. Tidak boleh ada intervensi dari pihak lain bahkan dari keluarga suami atau isteri. Semua murni hasil musyawarah antara kedua suami dan isteri. Dan disinilah dituntut ketegasan dari si suami sebagi pemimpin keluarga dan si isteri wajib menurut padanya"


"Tetapi ada satu hal yang perlu kamu ingat nak." Lilik seperti menekankan ucapannya. "Anak wanita setelah menikah akan menjadi milik suaminya. Tetapi anak laki-laki itu selamanya milik ibunya. Dia memiliki kewajiban untuk berbakti kepada ibunya, kepada kedua orang tuanya."


Ella terdiam kali ini. Memikirkan tentang ucapan mamanya yang sangat bijak. Ella kembali disadarkan akan kewajiban dan tanggung jawab yang harus ditanggung Ardi. Tanggung jawabnya sebagai seorang putra, dan lebih lagi tanggung jawabnya sebagai pewaris utama Pradana group.


Dilain pihak Ardi dihadapkan dengan cintanya pada Ella yang begitu besar. Saking besarnya sampai dia tak tega untuk menghalangi keinginan dan cita-cita Ella untuk terus berkarier dan menuntut ilmu. Pasti kegalauan dan dilema yang dihadapi Ardi saat ini jauh lebih besar dari yang Ella rasakan. Membuat dada Ella semakin terasa sesak dan kasihan pada kekasihnya itu


"Terus Ella harus gimana ma?" Ella bertanya pasrah. Benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Bahkan dirinya yang selalu bisa menjawab berbagai soal ujian pun tak sanggup untuk menjawab ujian cinta ini. Benar kata pepatah dari Cina, beginilah cinta deritanya tiada akhir.


"Terutama kamu El, sebagai wanita posisi kita setelah menikah itu murni apa kata suami. Jadi kamu harus benar-benar berfikir akan segalanya. Mama tahu benar perjuanganmu untuk sampai seperti ini nak, makanya mama juga tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Bagaimana bimbangnya kamu harus memilih antara cinta atau profesimu ini."


"Iya ma, kayaknya memang kami berdua harus ngomongin masalah ini secara serius." Ujar Ella akhirnya mengambil kesimpulan. Lilik membelai kepala dan rambut Ella dengan lembut. Ada rasa khawatir, iba dan sedih juga yang dirasakannya demi mengetahui bagaimana rumitnya kisah cinta anak gadisnya itu.


Sebagai orang tua tak ada yang diinginkan Lilik dan suaminya selain kebahagiaan Ella. Mereka sama sekali tidak mengharapkan menantu yang kaya atapun seorang sultan. Mereka hanya menginginkan seorang laki-laki yang dapat membahagiakan dan menjaga puteri mereka.


"Aku ke kamar dulu ya ma, capek pengen istirahat." Ella pamit pada mamanya. Ingin menyendiri dan merenung sendirian di kamarnya tentang segala pembicaraannya dengan mamanya barusan. Pembicaraan yang terasa sangat berat dan memenuhi seluruh isi kepalanya.


Ella kembali ke kamarnya dan segera menghempaskan dirinya keatas kasurnya. Gulung-gulung dengan galaunya di atas kasur. Kemudian dipeluknya gulingnya erat-erat seakan ingin menyalurkan dan membagikan kegundahannya kepada guling itu. Ella merasa begitu hampa, frustasi, tak berdaya dan putus asa. Tanpa disadari Ella Air matanya mulai menetes perlahan. Membasahi pipinya, membasahi guling dalam pelukannya. Ella memeluk gulingnya semakin erat dan menumpahkan seluruh air matanya ke guling itu sampai puas.


Ponsel di kasur Ella bergetar terus dari tadi. Mode silentnya masih aktif sejak tadi pagi lupa dimatikan. Ella memang tidak memperdulikan ponselnya itu. Ditinggalkannya ponselnya itu dikamar saat dia bemanja-manja dengan mamanya tadi. Lazurdi, nama itu yang terus terpampang di layar ponselnya. Dua puluh lima missed call? Kenapa Ardi terlihat sangat ingin berbicara dengannya. Karena tak tega dan kasian akhirnya Ella mengirimkan pesan agar Ardi tidak mencemaskannya.


Ella


Kenapa mas?


Lazuardi

__ADS_1


Ella kamu kenapa? Terima telponku please


Ella


Gak papa kok. Maap aku lagi gak bisa nerima telpon sekarang.


Lazuardi


Ella! Kamu kenapa? Aku pengen liat kamu!


Tak lama kemudian ponsel Ella bergetar lagi. Duh ini sultan emang gak bisa diomongin ya. Dibilang gak bisa nerima telpon malah dia vidio call. Ella menolak panggilan itu.


Lazuardi


Ella pleasee...Bentar juga boleh


Ardi memohon. Ella pun luluh, tak tega membiarkan pria itu terus gelisah karenanya. Cepat-cepat dia ke meja riasnya, dipakainya bedak tebal-tebal untuk menutupi bekas tangisannya. Dipakainya pula lipstik dengan warna orange menyala untuk menambah kecerahan wajahnya. Akhirnya saat Ardi menghubunginya lagi, Ella pun menerima panggilan vidio call itu.


Ella dapat melihat Ardi yang masih mengenakan kemeja kerjanya, sepertinya pria itu masih di kantornya. Jam berapa ini? Sudah lewat jam delapan malam kenapa Ardi masih belum pulang? Dasar maniak kerja yang gak mau jaga kesehatan.


"Hallo Ella...El, kamu kenapa?" sapa Ardi lembut. Terlihat sangat khawatir. Ardi sedikit kaget melihat Ella yang berdandan dengan riasan mencolok. Padahal biasanya gadis itu tidak pernah memakai riasan menor apalagi waktu di rumah saja.


"Gak papa," jawab Ella singkat sambil tersenyum yang seperti dipaksakan. Samar-samar Ardi dapat mendengar nada suara Ella sedikit bergetar, seperti habis menangis. Ardi mengamati sekali lagi wajah gadisnya itu dengan seksama. Benar saja, mata Ella terlihat sembab dan berkaca-kaca. Sepertinya gadis itu habis menangis dan tak ingin dirinya mengetahuinya.


"El? Kamu kenapa?...Aku minta maaf kalau punya salah sama kamu. Aku tadi keterlaluan ya? Aku cemburu, aku gak rela kamu bersama atau ngeliat cowok lain selain aku. Sorry, sorry banget ya..."


"Ngak kok. Gak papa..." Tanpa disadari Ella air matanya kembali mengalir membasahi pipinya. Cepat-cepat disekanya dengan kedua telapak tangannya. Tak ingin Ardi melihatnya menangis. Ella memang bukan tipe gadis cengeng yang gampang meneteskan air matanya. Tetapi sekali air matanya menetes maka akan sangat susah untuk dibendung dan lama untuk diredakan lagi.


"El...Ayo ngomong jangan kayak gini..." Ardi semakin tak berdaya melihat Ella yang terus menangis.


"Maaf mas, aku lagi gak bisa ngomong..."


"Yaudah kamu gak perlu ngomong gak papa. Tapi jangan ditutup, aku cuma pengen liatin wajah kamu." Ujar Ardi pasrah.


"Tiduran sana biar tenang, aku temenin sampai kamu tidur ya." Pinta Ardi. Dirinya memang sangat rindu pada Ella. Tapi melihat Ella seperti itu juga rasanya tidak tega, rasanya sakit, dan sangat menyayat hatinya. Dan parahnya Ardi sama sekali tak tahu kenapa Ella sampai menangis begitu? Semakin membuatnya gila dan frustasi saja tak tahu harus berbuat apa.


Ella menuruti perkataan Ardi, merebahkan dirinya ke kasur. Menarik selimut tebalnya menutupi tubuhnya. Diletakkannya ponselnya di depan wajahnya yang sudah bersandar ke bantal empuknya. Mereka berdua hanya berpandangan dalam diam, tak berkata-kata. Sampai akhirnya Ella menutup matanya, ketiduran.


"Good night honey," ujar Ardi sebelum mematikan panggilan vidio call mereka.


~∆∆∆~

__ADS_1


Thanx to ibu negara tercinta buat masukan dan idenya yang tertuang dalam pemikiran mama Ella di bab ini


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼


__ADS_2