
Tanpa welas kowe lunga biyen kae
Ra ono mesakne aku sitik wae
Ngaboti tresna anyarmu lalu kau tinggalkan aku
Tersakiti sendiri di malam itu
Kowe lunga pas aku sayang-sayange
Tanpa pamit kowe ngadoh ngono wae
Aku ra ngerti salahku dan kau campakkan diriku
Bersanding dengan kekasih barumu
Abot tak trimo kanti ikhlas legawa
Sing tak arep kowe ra disio-sio
Ben cukup mung aku korban janji manismu
Udan bledek kang dadi saksiku
Korban Janji _ Panji Priyanto
____________________________
"Liar! You're a bad Liar!" ujar Ardi kali ini dengan nada dingin dan sinisnya. Kembali memasang wajah dengan tatapan yang sulit diartikan.
(*Pembohong. Kamu pembohong yang buruk.)
Ella kebingungan harus menjawab apa. Dirinya sampai dikatai sebagai pembohong oleh Ardi. Apakah seburuk itu kebohongannya? Apakah sejelas itu terlihat bahwa dirinya masih memiliki suatu rasa pada Ardi? Apakah Ella harus mengatakan juga bahwa dirinya juga kangen pada Ardi?
"Aku bisa merasakan dan mendengar jantungmu tadi. Aku bisa mendengar jantungmu yang juga berdebar sama kencangnya saat kita saling berpelukan tadi, El...Rasa itu masih ada diantara kita...Getar-getar di dada itu masih sangat nyata diantara kita berdua."
"Kamu juga kangen sama aku kan?" Ardi semakin menekankan pertanyaannya. "Gak usah bohong lagi, karena rasa itu tidak pernah bohong."
"You right. I'm a bad liar...Now you know, I need to go..." Ella kembali menelan air ludahnya beberapa kali sebelum akhirnya menjawab. Masih berusaha untuk menghindar dan menjauh dari Ardi. Mencoba untuk menjauhkan pria itu dari kehidupannya.
__ADS_1
(*Kamu benar. Aku memang pembohong yang buruk... Sekarang kamu sudah tahu, aku harus pergi...)
Keras kepala? Benar, memang itulah dirinya. Dan Ella sadar benar akan hal itu. Ella bahkan dengan keras kepalnya mendustakan perasaannya sendiri. Perasaannya yang seakan menjierit-jerit saat ini mengatakan betapa dirinya juga merindukan dan mencintai pria dihadapnnya itu, Lazuardi.
Ella lebih memilih untuk mengedepankan akal sehat dan realisme daripada segala perasaan semu yang tidak ada kepastian kepada Ardi...Ella beranjak dari posisinya berdiri, bermaksud pergi melewati Ardi dan meninggalkan pria itu.
Tetapi Ardi juga tak mau kalah kali ini. Dia tak ingin lagi membiarkan Ella pergi begitu saja. Tidak sebelum mereka menyelesaikan pembicaraan mereka. Ardi menghalangi pintu yang bisa dilalui gadis itu untuk kembali ke mall. Mencegahnya pergi.
"Kita perlu bicara sebentar..." Ardi meminta waktu. Meminta kesempatan untuk menjelaskan sesuatu.
"Untuk apa lagi?..."
"Untuk berbagi cerita...Dengerin aku dulu!"
"Mas, kita masing-masing sudah punya kehidupan sendiri-sendiri. Jangan terikat dengan masa lalu kita terus-terusan. Kita hanya perlu saling melupakan dan fokus dengan pasangan kita masing-masing." Ella akhirnya menjelaskan maksud tindakannya selama ini. Kenapa dia terus saja mencoba menghindar dari Ardi.
Ella merasa kesal juga dengan sikap tidak mau mengalah dan seenaknya Ardi yang masih belum berubah. Apaan coba abis cium-cium cewek lain kayak gitu sekarang malah dengan entengnya bilang kangen dan ingin berbagi cerita dengan dirinya? Dasar pria gila dan egois!
"Hah? Pasangan? Kamu saja kali yang punya pasangan!" Ardi mendengus lirih. Pasangan apaan coba? Padahal dirinya sudah sangat bersabar untuk tidak berhubungan dengan wanita manapun selama tiga tahun ini. Untuk apa lagi?...Ya untuk kamu, Ella.
"Itu tadi siapa? wanita yang mesra-mesraan di butik sama kamu tadi siapa?" Entah mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Ella.
Ardi kaget mendengar perkataan Ella kali ini. Tapi tak lama kemudian dia tersenyum, jadi Ella cemburu? Cemburu karena melihat dirinya dengan Ditha tadi di butik? Berarti benar kata Linggar, gadis ini sebenarnya juga masih memiliki rasa padanya.
Mungkin Ella bertingkah menyebalkan begini. Bahkan ingin menjauh pergi karena mengira Ardi sudah memiliki pasangan lain pengganti dirinya.
"Itu tadi Ditha. Praditha Sampoerna dari Sampoerna grup. Bukan siapa-siapa cuma rekan bisnis."
"Hoooo jadi begitu cara memperlakukan rekan bisnis wanita? Pantesan aja bisnismu semaju itu..." Ella semakin nyerocos tanpa dapat direm sama sekali. Benar-benar kesal dengan jawaban Ardi. Masa rekan bisnis sampai begitu dekatnya? Bilang aja kalau pacar, tunangan atau istri apa susahnya sih? Kenapa gak mau jujur saja?
Ardi tertawa ringan melihat tingkah Ella. Lucu dan gemesin banget kalau lagi ngambek begini. Sama persis seperti yang ada dalam ingatan Ardi sejak tiga tahun yang lalu.
Entah bagaimana sepertinya kecanggungan diantara mereka berdua sudah mulai mencair. Mereka sudah bisa saling berbicara dengan sedikit lancar sekarang.
"Sini deh, El..." Ardi beralih dari posisinya yang menghalangi pintu penghubung tangga darurat dan mall. Mengambil duduk di salah satu anak tangga. Menunjuk tempat di sebelahnya agar Ella mau ikut duduk disana.
Ella diam saja masih berdiri di hadapan Ardi yang sudah duduk dengan santainya di tangga. Masih terlalu marah, kesal dan pastinya canggung juga untuk duduk berduaan sedekat itu dengan Ardi.
"Yaudah kalau gak mau duduk. Tapi paling tidak dengerin omonganku dulu..." Ardi mengalah akhirnya. Tak mau memaksa Ella sehingga membuatnya tidak nyaman. Yang penting gadis itu sepertinya sudah tidak ada keinginan kabur lagi.
__ADS_1
"Kata siapa aku sudah punya pasangan? Kata siapa aku sudah menikah? Tunangan atau punya pacar?" Ardi memulai pertanyaannya.
Ella terdiam. Gak bisa menjawab kali ini. Memang benar tak ada yang memberi tahunya tentang hal itu. Tak ada pula bukti yang dimiliki olehnya juga. Semuanya murni hanya asumsi dan dugaan-dugaan pribadinya berdasarkan sikap Ardi padanya. Berdasarkan sikap Ardi yang terlihat dingin dan sangat berbeda seratus delapan puluh derajat.
"Kalau aku nikah atau tunangan, pasti akan masuk headline news kok. Ada konferensi pers resminya juga biasanya. Dan kamu juga pasti akan tahu kalau hal itu terjadi...Jadi intinya aku belum nikah atau tunangan," Ardi kembali menjelaskan tentang status asmaranya dengan sangat tenang.
Ella kembali disadarkan dengan kebenaran dan kenyataan yang dikatakan Ardi. Benar saja jika ada pernikahan atau pertunangan sultan sekelas Ardi pasti heboh dan masuk headline news kan? Apalagi kalau pasangannya juga sekelas putri dari grup Sampoerna yang menguasai industri tembakau.
Ella juga kembali dibuat kagum dengan peragai Ardi yang bisa setenang dan seadem ini dalam berkata, menjelaskan perkara. Rasanya Ardi jauh lebih dewasa dan berkepala dingin daripada sebelumnya.
"Kalau pacar, jujur saja aku bahkan gak bisa move on dari kamu tiga tahun ini. Aku gagal untuk melupakan kamu. Jadinya aku sama sekali gak bisa untuk menjalin suatu hubungan dengan wanita lain manapun." Ardi melanjutkan ucapannya. Mengakui semua yang terjadi padanya dengan jujur.
"Aku nungguin kamu El, tiga tahun kan waktu yang kamu minta waktu itu...Sekarang setelah tiga tahun berlalu aku datang lagi padamu. Untuk melanjutkan kisah cinta kita yang sempat tertunda."
Ella benar-benar kaget mendengarnya. Setengah tak percaya juga dengan pengakuan terang-terangan Ardi. Bagaimana mungkin seorang dengan kaliber Ardi Pradana sang sultan dari kerajaan bisnis Pradana bisa terdengar sangat menyedihkan begini kisah hidupnya. Hanya karena cinta, hanya karena wanita, dan wanita itu adalah dirinya.
"Tapi justru kamu yang telah berpaling, El. Kamu yang telah berpaling dengan yang lainnya...Kamu bisa bayangin bagaimana hancurnya perasaanku?"
Sabar, sabar dan adem banget Ardi menjelaskan dan mengutarakan segala perasaanya. Isi hatinya. Menekan segala ego, gengsi dan emosi di jiwanya untuk dapat mengutarakan semua uneg-uneg yang ingin disampaikanya pada Ella.
Seketika beban berat ribuan ton seakan jatuh sekaligus menimpah tubuh Ella. Berat, sungguh sangat berat, sesak dan menghimpit rasanya. Jadi selama ini Ardi masih begitu setia untuk menunggu dirinya? Masih setia mencintainya? Bahkan pria itu juga masih saja berharap untuk dapat kembali bersatu lagi dengan dirinya?
Lalu apa yang sudah dilakukannya? Ella malah dengan teganya menjalin hubungan dengan pria lain, Roni. Walau ada berbagai pertimbangan lain juga untuk memutuskan berpacaran dengan Roni.
Tapi tetap saja kalau dilihat dari sudut pandang hubungannya dengan Ardi, Ella adalah pasangan yang sangat buruk. Ella yang kehabisan kesabaran dan tak dapat memenuhi janji mereka tiga tahun yang lalu.
Ella tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Ardi waktu mengetahui hubungannya dengan Roni. Pasti hati pria itu sangat hancur kan? Pasti Ardi sangat kecewa pada dirinya. Dirinya yang seolah tak menepati janji mereka tiga tahun yang lalu...
Padahal Ella sendiri yang meminta waktu tiga tahun waktu itu. Meminta waktu untuk memantaskan diri bersanding dengan Ardi. Untuk mendapatkan gelar spesialisnya yang bergengsi. Tapi sekarang setelah pria itu akhirnya mau menungunya tiga tahun lamanya. Saat Ardi akhirnya kembali untuk menjemputnya, Ella malah sudah bersanding dengan pria yang lainnya...
Tulang-tulang kaki Ella rasanya menjadi lunak, lemas, dan lunglai seketika. Ella terduduk lunglai begitu saja di lantai demi mengetahui kebenaran yang terjadi... Menyesal, menyesali ketidak sabaran dirinya untuk menunggu dan menantikan Ardi juga. Menyesali keputusannya untuk menerima cinta Roni.
"Maaf...maafkan aku, mas Ardi." tanpa Ella sadari butiran air mata mengalir di sudut matanya. Butiran bening jatuh tak tertahankan. Terlalu sedih dan sangat hancur juga hati Ella rasanya.
Kebenaran yang telah terjadi selama tiga tahun ini akhirnya terungkap juga. Perasaan Ardi yang biasanya selalu dipendamnya rapat-rapat agar tidak diketahui orang lain. Akhirnya dapat tersampaikan pada Ella dengan gamblangnya.
~∆∆∆~
Kira-kira gimana reaksi Ella setelah tahu perasaan dan kebenaran tentang Ardi? Akankah keduanya bisa bersatu kembali, gaes?
__ADS_1
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. ðŸ¤ðŸŒ¼