
Keseruan pesta pertunangan Ardi dan Ella berlanjut dengan Pesta Keakraban. Acara ngobrol santai dengan para tamu dan makan-makan segala hidangan yang telah disiapkan oleh panitia acara.
"Selanjutnya tinggal acara lamaran resminya saja. Ditunggu lho ya undangannya." Intan menyeletuk mengawali pembicaraan.
Benar-benar gila si sultan. Kemarin Intan iseng nanya kapan mau lamar Ella. Ardi menjawab besok juga bisa, Intan mengira pria itu hanya bercanda. Tapi nyatanya apa? Ardi benar-benar melaksanakan apa yang dikatakannya. Betapa kagetnya Intan saat Sari menelponnya tadi sore mengatakan dirinya diundang menghadiri pesta pertunangan ini.
Dadakan! Tapi hasilnya? Fantastis! Seperti di cerita-cerita fairy tale saja. Sweet dan romantis banget bahkan mengalahkan apa yang biasa terjadi di drama koreya.
Ini memang private party yang hanya dihadiri oleh keluarga dan sahabat-sahabat terdekat kedua calon mempelai saja. Tapi tak dapat dipungkiri konsep pestanya begitu rapi serta sangat sweet dan bikin melting. Wanita mana pun pasti akan iri pada Ella dan ingin dirinya dilamar dengan cara begini. Dicintai sebegitu besarnya oleh seorang pria seperti Ardi.
Yang jelas budget yang dikeluarkan Ardi juga gak main-main untuk pesta kejutan ini. Hidden camera yang merekam segala proses mulai dari Kresna menjemput Ella di rumahnya, Ella datang ke kantor Ardi, mereka berduaan di kamar Ardi, sampai kejadian di kantin taman ini. Berapa banyak kamera dan teknologi dipakai agar bisa merekam bahkan menyiarkan secara langsung acara ini kepada seluruh tamu yang hadir? Beneran seperti nonton reallity show live.
Cincin couple berukirkan nama keduanya dengan taburan batu berlian asli untuk Ella juga pasti gak main-main harganya. Mending gak usah nanya deh berapa harganya. Dekorasi kantin yang sweet bernuansa pink dengan berbagai dekorasi bak acara di gedung. Pengaturan timing pencahayaan, back sound, convety dan ledakan puluhan kembang api raksasa. Sangat mewah.
Dan jangan lupa buket mawar segarnya. Pink buket yang pertama saja sudah jelas mahal. Apalagi buket yang super duper gede tadi? Kayaknya Ardi mengambil paket 999 roses. Harganya? cukup dibayangkan saja jangan ditanyakan nanti bisa syok. Yah kembali lagi, sultan mah bebas...
"Lho kan sudah diundang?" Ardi bertanya balik.
"Gak ada acara di gedung mas?" Linggar ikutan kaget mendengar jawaban Ardi.
"Ella maunya acara private dan tidak mencolok. Jadi cukup begini saja. Selanjutnya tinggal pesta keluarga kecil-kecilan saat keluarga kita mendatangi kediaman Ella. Kita ikuti saja bagaimana acaranya sesuai tradisi keluarga Ella." Ardi menjelaskan konsep pesta pertunangan yang diinginkan Ella.
Ella diam saja tak berkomentar, hanya memberikan senyumannya sebagai bentuk terima kasih karena Ardi begitu pengertian padanya. Tidak memaksakan acara yang terlalu berlebihan untuk sekedar acara pertunangan resmi mereka nanti.
"Kapan itu acaranya?" Sari ikutan menyeletuk bersemangat. Berharap bisa ikutan rombongan pelamar bersama keluarga Pradana nantinya.
"Hahaha nunggu hari baik." Laras yang kali ini menjawab. Dan semua yang hadir kontan melongo mendengar jawab Laras.
"Yah mama kami itu masih menganut paham kejawen murni. Apa-apa diitung tangal dan harinya. Ribet pokoknya, nunggu dapat wangsit dulu hehe." Laras lanjut menjelaskan.
"Dan kalau mau selamet...alias selamet gak diomelin mama, mending diturutin aja apa maunya." Mahes memberi kesimpulan dan sebagian besar mengangguk setuju dengan ucapan Mahes. Memang bisa runyam dan panjang perkaranya kalau bikin Nyonya Kartika tidak berkenan.
"Terus abis itu kamu mau gelar konferensi pers nggak?" Tyo bertanya pada Ardi. Sepertinya tertarik untuk mengikuti jejak Ardi dengan acara simpel dan tidak heboh untuk dirinya sendiri kelak.
"Gak usah. Ella gak bakal merasa nyaman kalau harus ngadepin pers kayak gitu." Ardi menjawab sambil mendekap semakin erat sebelah tangan Ella. Membuat Ella sedikit kaget dan canggung juga dengan tindakan Ardi yang mulai berani pamer kemesraan di hadapan banyak orang begini. Maluuu.
"Tapi tetap harus dipublikasikan pak." Cindy mengingatkan perlunya memberitahukan publik.
"Benar sekali biar pada tahu kalau Ardi Pradana sudah punya pawang sekarang. Biar gak digodain cewek-cewek dan emak-emak yang sibuk menawarkan putri mereka." Rena menyetujui.
"Pakai caraku dulu saja." Mahes menyeletuk.
"Gimana?" Hampir semua yang hadir penasaran dengan cara apa yang dipakai Mahes dan Laras dulu untuk mengumumkan pertunangan mereka.
"Datang ke party seseorang yang berpengaruh sambil bawa pasangan kita. Show off deh disana semesra mungkin nempel dan lengket. Lebih baik lagi kalau pestanya banyak awak medianya. Iya gak sayang?" Mahes menjelaskan.
"Iya pokoknya kemana-mana ngintil aja berduaan kayak perangko. Nanti pasti jadi viral sendiri hehe." Laras membenarkan ucapan suaminya.
Ardi mengangguk setuju dengan rencana Mahes. Not that bad lah. Gak ribet juga untuk dilaksanakan tinggal kekep si Ella terus di dekatnya selama pesta.
"Ada undangan party dalam waktu dekat. Mbang?" Ardi menanyakan jadwalnya pada Bambang.
"Ada pak. Sabtu depan ada undangan pesta ulang tahun Ceicillia Tang dari Ciputra Grup." jawab Bambang setelah memeriksa ponselnya.
"Oh Cecil sang ratu mau ultah? Pas banget itu. Pasti heboh acaranya. Kamu mau datang juga gak darling? As my girl?" Tyo menawarkan pada Rena.
"Boleh siapa takut." Rena tak keberatan.
"Gimana honey? Kamu cuma tinggal berdiri di sebelahku, dandan yang cantik dan senyum-senyum saja nanti." Ardi bertanya pada Ella.
"Hmmm...Akan kucoba..." Ella menyetujui juga.
__ADS_1
Meskipun agak ngeri membayangkan pesta seperti apa yang akan dihadirinya nanti. Membayangkan bertemu dengan para sultan dan sultanwati disana. Memikirkan tentang pergaulan mereka...
"Tenang aja mbak Ella. Aku, mas Mahes, Tyo dan Rena juga hadir kok nanti. Jadi paling nggak kamu bisa berkumpul bersama kami agar merasa nyaman." Laras mencoba menenangkan Ella.
"Ok deh sabtu depan kita party lagi." Mahes mengakhiri perkara publikasi pertunangan ini.
"Kalau acaraku sama Ditha bisa gak dibikin simple aja kayak gini?" Linggar bertanya, berharap acara pertunangannya dengan Ditha tak perlu terlalu heboh dan besar-besaran.
"Wah khusus untuk acara kalian kayaknya gak bisa deh. Sudah terlanjur booming. Dan mama kami sudah overexcited untuk menangani acaranya nanti. Kalian pihak pria tinggal datang saja bawa tumbal hahahaha." Tyo menjelaskan tentang acara pertunangan resmi Linggar dan Ditha yang masih on going project dari keluarga Sampoerna.
"Tumbal apaan coba?" Ditha menyeletuk sewot.
"Tumbal untuk jadi tunangan kamu, Dith. Yang sabar ya Nggar. Aku percaya kamu kuat." Jawaban Tyo kontan membuat Ditha makin merengut dan Linggar semakin bersemangat. Merasa tertantang juga.
Sementara semua yang hadir lainnya ikutan tersenyum membayangkan bagaimana hubungan kedua pasangan muda itu nantinya.
"Yaudah sesi selanjutnya kita lanjutkan dengan pemberian kado saja." Bambang melanjutkan susunan acara mereka selanjutnya.
"Sekalian dibuka saja kadonya biar gak penasaran." Sari menyarankan agar semakin seru suasananya.
"Jangaaan!!!" Beberapa orang langsung menolak.
"Wah kalian ngasih apa coba? Jadi makin penasaran." Linggar tiba-tiba merasa tergelitik. Penasaran banget dengan apa kira-kira yang diberikan orang-orang ini pada Ardi dan Ella.
"Boleh-boleh kayaknya seru." Ditha juga penasaran. Akhirnya tanpa bisa dicegah Linggar dan Ditha mendahului mereka mendekati meja tempat kado.
"Aku bukain ya mas," Linggar meminta ijin pada Ardi.
"Buka aja." Jawab Ardi santai, tidak keberatan.
"Yang pertama kado dari Roni. Kado yang bagus." Linggar menunjukkan sebuah kado yang telah dibukanya berisi buku, pada semua yang hadir.
Buku panduan pernikahan yang harmonis. Berjudul 'Menuju keluarga sakinah mawadah dan warohmah.'
"Iya sama-sama. Semoga kalian samawa nantinya." Roni menjawab sambil tersenyum. Entah gimana perasaan Roni saat memilih kado itu ya?
"Kado selanjutnya dari mbak Sari." Linggar membuka sebuah kotak kecil yang berisi dua buah jam tangan couple Alexandre Christie.
"Thanx ya Sar," Ardi yang kali ini berterima kasih dan Sari hanya mengangguk dan tersenyum menjawab.
"Yang ini dari aku!" Ditha dengan bangganya menunjukkan sepasang gelas couple cantik bergambar mickey dan minni mouse.
Ardi dan Ela kompak tersenyum dan berterima kasih pada Ditha untuk hadiah yang diberikannya.
Linggar kemudian mengambil salah satu kado yang memanjang. Membuka bungkus dan kotaknya lalu menunjukkan isinya kepada semua yang hadir. "Ini dari mas Mahes."
"Apa itu?" Tanya Ditha keheranan pada sebuah botol transparan di dalam kotak kado. Botol yang berisi cairan semi gel berwarna biru. "Pelumas?" Ditha membaca tulisan di botol itu.
"Maheeess!" Ujar Ardi geram saat tahu benda apa yang ternyata diberikan oleh Mahes.
Beberapa yang hadir langsung cekikikan melihatnya. Ada-ada saja masa mengado lubricant pada acara pertunangan? Memangnya Mahes berharap Ardi dan Ella mau ngapain coba? Tapi beberapa orang yang lainnya termasuk Ella, Ditha dan Bambang melongo kebingungan, benda apa itu?
"Hahaha ya kali aja kalian butuh," jawab Mahes ringan sambil tertawa kegirangan. Duh dasar Mahes ini, mentang-mentang yang sudah pengalaman.
"Ini lagi apaan coba?" Kali ini Ditha yang membuka hadiah yang sepertinya satu set obat-obatan. Obat perangsang dan obat penguat kayaknya.
"Tyo! Ini ulahmu kan?" Bentak Ardi marah.
"Ya tentu saja. Kalian harus berterima kasih padaku ya nanti setelah malam yang dahsyat!" jawab Tyo santai seakan tak punya dosa. Dasar cowok ini benar-benar playboy kelas wahid.
"Tapi aku percaya Ardi sangat kuat untuk beberapa ronde bahkan tanpa obat sekalipun." Lanjutnya semakin menggoda Ardi dan Ella sekaligus. Kedua orang yang digodain sukses memerah padam wajahnya.
__ADS_1
"Nah ini ada lagi obat-obatan." Ditha menunjukkan kado selanjutnya.
"Itu dari kami, buat Ella. Anti nyeri, anti biotik, anti radang dan anti perdarahan." Intan menjawab dengan tidak punya dosa.
"Haaah? Maksudnya? Kok buat aku?" Ella kebingungan mendapat kado obat-obatan begitu.
"Simpen aja, nanti kamu juga tahu fungsinya." Intan dan Laras cekikikan. Dasar golongan ibu-ibu muda yang berpengalaman.
Kado selanjutnya adalah parfum dengan aroma wangi yang sangat menyengat dari Rena.
"Katanya si, pheromone parfum dapat membangkitkan selera..." Rena menjelaskan kadonya sambil menahan tawa gelinya.
"Ini selanjutnya ada buku lagi dari mbak Cindy." Linggar sudah nyaris tertawa saat menunjukkan cover buku berjudul 'the secret of kamasutra' kepada semua yang hadir.
"Hehe karena kupikir nanti akan menjadi pengalaman pertama bagi kalian, jadi kalian harus belajar manualnya dulu dari buku" jawab Cindy santai. Duh ini anak beneran teoritis dalam segala hal sepertinya.
Ardi dan Ella sudah pasrah saja untuk menerima kado-kado yang pasti lebih absurd lagi nantinya. Sementara yang lainnya sudah keasikan tertawa cekikikan. Udah gak sanggup berkomentar, protes atau marah lagi kayaknya.
"Nah yang ini dari mbak Laras." Ditha menunjukkan sebuah lingerie dari bahan transparan yang halus bak sutra berwarna hitam. Dengan detail renda-renda yang manis lengkap dengan G-String yang sexy menggoda. Semua yang melihat benda itu, terutama para pria kompak menelan air ludahnya. Terutama Ardi yang mau tak mau membayangkan Ella memakainya, duh bikin ngiler.
Sementara Ella terbelalak ngeri membayangkan dirinya harus memakai pakaian sesexy itu. Wajah Ella sudah semerah kepiting rebus saking malunya.
"Warna favorit mas Ardi kan hitam. Jadi aku pilihin yang warna hitam saja." Ujar Laras gak punya dosa. Bukan masalah warnanya kali...Bentuknya...
"Ini pasti dari Kresna." Linggar menunjukkan kado selanjutnya yang sepertinya dvd case. "Ini film apa hayo Kres kok gak ada covernya?"
"Hasil hacking untuk dipelajari pak Ardi." jawab Kresna dengan nada lempengnya.
"Hah? Apaan coba?" Ardi bertanya curiga, tapi Kresna melancarkan aksi diam membisu.
"Ini punya siapa hayo? Kon*dom dengan berbagai macam rasa? Hahaha" Linggar membuka kado selanjutnya yang isinya lebih absurd lagi.
"Itu kadoku," jawab Bambang malu-malu. "Pak Ardi kan biasanya bosenan. Kupikir biar gak bosen jadi aku belikan rasa yang bermacam-macam."
"Duh mikir apa si kamu, Mbang!" ujar Ardi geram. Dan semuanya malah tertawa melihat pertengkaran yang sudah rutin terjadi antara Bambang dan Ardi.
"Selanjutnya dari Gery." Linggar membuka kotak paling kecil berisi barang dengan tulisan tisue magic. "Kamu mau main sulap, Ger?" tanya Linggar kebingungan. Dan sebagian besar yang hadir juga bingung dengan benda apakah itu.
"Hanya untuk yang tahu saja. Nanti saya ajarin cara pakainya pak." Gery menjawab santai.
"Fvck you!" Ardi langsung mengumpat dengan muka memerah. Dan semua yang tadinya tidak mengerti jadi tahu kalau barang itu gak jauh-jauh dari urusan begituan juga.
"Gila! Gak ada kado yang beres disini" Keluh Ardi mendengus pasrah memikirkan kado-kado aneh dari teman-temannya. Kecepetan tahu kalian ngasihnya! Gimana kalau aku pengen nyobain?
"Kadoku belum dibuka" Linggar tiba-tiba menyeletuk dengan nada sedikit kecewa.
Ardi yang kali ini mengambil kado terakhir yang berukuran cukup besar yang pastinya adalah pemberian dari Linggar.
"Apa? Apa ini Nggar?" Ujar Ardi keheranan setelah membuka kado itu.
"Pakaian cosplay sailormoon? Seriously?" Tyo ikut keheranan melihat kado dari Linggar.
"Kenapa? Kata penjual di toko, itu adalah barang paling digemari oleh pasangan pengantin baru." jawab Linggar dengan nada tanpa dosa. Kalau dia pribadi sih asli penasaran pengen liat Ditha pakai baju itu. Pasti manis banget hehehe.
"Hahahahahahahha"
Tawa semua yang hadir langsung meledak bersama. Menyadari bahwa sebagian besar yang hadir tidak berpengalaman untuk bertunangan atau menikah sebelumnya. Hanya Intan, Ivan, Mahes dan Laras saja yang berpengalaman. Tapi tetap saja kado dari mereka juga sama absurdnya.
Menyadari bahwa mereka terlalu awam dan bingung untuk memilih kado yang tepat untuk sahabat mereka yang akan melepas masa lajangnya. Eit tapi masih belum lho yah. Pernikahan mereka masih belum dilaksanakan. Belum sah. Bahkan acara pertunangan resmi mereka saja belum dilaksanakan.
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN yaaaa 🌼