Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
240. S2 - Sah!


__ADS_3

Sore ini cuaca Surabaya sangat cerah dan berawan. Pawang hujan profesional dan berlisensi langganan mama Kartika ternyata bisa membuktikan kehebatannya. Menciptakan suasana yang sejuk dengan sang surya yang malu-malu memancarkan sinarnya karena tertutup awan.


Back yard Gadbadia Hotel sudah disulap sedemikian rupa dengan nuansa serba putih. Deretan kursi dan meja telah ditata apik disana mengelilingi meja panjang dengan taplak sutra putihnya. Berbagai bunga berwarna putih tak lupa ikut menghiasi di atas meja. Sementara buket-buket mawar putih juga telah berdiri berjajar dalam standing vas-nya.


Bagian langit-langit pun tak ketinggalan dihias indah. Atap transparan telah disediakan disana, jaga-jaga kalau tiba-tiba turun hujan atau sinar matahari terlalu terik.


Bunga-bunga sakura berwarna putih ditata seolah merambat dengan indah dan alami memenuhi seluruh atap. Kain sutra putih dibiarkan menjulur dari berbagai penjuru atap dan berakhir di tengah tepat di bagian atas Candelier. Candelier mewah yang tergantung ditengah atap menambah kesan romantis yang diciptakan.


Sementara tepat ditengah taman telah disediakan path way berwarna putih mengkilap bagaikan marmer. Dengan bebungaan indah bernuansa putih di kanan kirinya. Jalan yang membentang dari ujung back yard sampai ke bagian tengah yang berakhir dengan wedding setting minimalis dengan back drop putih bertuliskan nama kedua mempelai.


Empat pilar kayu berdiri tegak seolah membentuk suatu kubah kasat mata. Dan setiap bagian kayu itu tak luput dari berbagai Bungan dengan nuansa putih dan peach. Semuanya ditata dengan indah dipadukan dengan juntaian kain sutra berwarna putih. Tepat ditengahnya telah tertata enam buah kursi mengelilingi sebuah meja dengan taplak putih.


Di salah satu kursi itulah Ardi duduk, dengan mengenakan pakaian khas Jawa. Beskap putih lengkap dengan jarik, blangkon, kalung dan broch bertahtahkan batu permata, kalung bunga melati serta tak ketinggalan sebuah keris diselipkan di bagian pinggangnya.


Penampilan yang mampu membuat seorang Lazuardi Pradana memancarkan ketampanan dan kegagahan maksimal seperti layaknya seorang pangeran dari keraton Jogja.


Ardi duduk berhadapan langsung dengan seorang penghulu dan petugas KUA lainnya. Sementara sisi kanan kirinya juga telah duduk papa Erwin dan papa Bowo. Sementara kursi disebelah Ardi yang seharusnya ditempati Ella masih kosong.


Bagaimana perasaan Ardi saat ini?


Cuma ada satu kata, Mules.


Entah berapa banyak rasa yang bergabung dan berkecamuk menjadi satu memenuhi dadanya. Bahagia, haru, bangga, syukur, nervous , grogi, panik, semuanya bergabung menjadi menjadi suatu kesatuan utuh.


Keringat dingin juga sudah terasa mengalir di tengkuknya. Rasa yang tak pernah sekalipun Ardi alami seumur hidupnya. Jadi begini rasanya mau menikahi anak gadis seseorang? Menikahi seorang gadis yang sangat dicintainya?


Acara dimulai dengan pembukaan yang dipandu oleh pembawa acara. Pembukaan dilakukan dengan membaca ‘bismillah’ dan doa agar acara ini dapat berjalan dengan lancar dan penuh berkah. Kemudian pembacaan ayat suci dengan alunan nada yang indah dan merdu.


Khutbah nikah kali ini disampaikan oleh petugas dari KUA. Khutbah nikah yang berisi tentang pembekalan bagi kedua mempelai, sekaligus pengingat tentang pentingnya menjaga keutuhan dalam pernikahan.


Selanjutnya acara puncak dari semua persiapan pernikahan, yakni proses ijab kabul. Jantung Ardi sudah berdetak semakin kencang tak terkendali saat penghulu bertanya kepadanya.


"Saudara Lazuardi Edwin Pradana apakah Anda setuju untuk menerima Saudari Amellia Rieka Safitri sebagai istri dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas murni 75 kilogram?"


"Saya bersedia," Ardi menjawab semantap mungkin.


Sebanyak tiga kali sang penghulu mengulangi pertanyaannya untuk memastikan kesungguhan Ardi. Setelahnya, barulah acara inti dari rangkaian prosesi akad nikah alias pembacaan ijab kabul dilaksanakan.


Bowo sebagai ayah kandung dari Ella sendiri yang akan mengucapkan ijab qobul. Menikahkan putri kesayangannya kepada sang calon mempelai pria. Melepaskan putrinya untuk dinikahi oleh seorang pria. Melimpahkan tanggung jawab penuh atas putrinya itu kepada sang calon suaminya.


"Saudara Lazuardi Edwin Pradana bin Erwin Pradana. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Amellia Rieka Safitri binti Wibowo Wiratmoko dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat beserta emas murni seberat 75 kilogram. Tunai.”


Pernyataan itu harus segera dijawab oleh calon mempelai pria, tidak boleh ada jeda waktu yang signifikan sehingga bisa disela dengan pengucapan kabul oleh pihak selain calon mempelai pria. Ardi tahu benar akan hal itu, sehingga dia segera memberikan jawaban dengan suara tegas.


“Saya terima nikahnya dan kawinnya Amellia Rieka Safitri binti Wibowo Wiratmoko dengan mas kawin yang telah disebutkan, tunai.”


Akhirnya Ardi telah mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang telah berulangkali dilatih dan diucapkannya semalaman agar tidak terjadi kesalahan. Kalimat yang diucapkannya dari lubuk hati yang terdalam. Kata-kata sakral yang tidak hanya akan didengarkan oleh manusia. Tetapi juga akan didengarkan juga oleh para malaikat yang turut menyaksikan dan Tuhan semesta alam.


Suasana tiba-tiba sunyi dan mengharukan saat pengucapan ikrar ijab qobul terjadi. Membuat beberapa hadirin dan segenap keluarga menitikkan air mata bahagia. Terharu demi menyaksikan janji suci dan ikrar sehidup semati yang telah diucapkan Ardi untuk mempersunting Ella, cinta sejatinya.


Karena calon suami sudah bersedia menerima dan telah menyepakati ijab kabul, maka penghulu menanyakan keabsahan ijab kabul ini. Beliau bertanya kepada para saksi dan wali yang dihadirkan dalam acara ini.


"Bagaimana saudara sekalian, sah?"


""Saaaahhhhh!""


"Alhamdulillah."


Berbagai pekikan kelegaan dan haru langsung menggema di segala penjuru. Akhirnya pernikahan Ardi dan Ella telah sah. Prosesi sakral ijab qobul dinyatakan memenuhi syarat, menjadikan kedua mempelai sah sebagai suami istri. Kemudian sang penghulu melanjutkan dengan melantunkan doa pernikahan untuk mendoakan keselamatan dan kebahagiaan bagi kedua mempelai.


Acara selanjutnya adalah yang paling dinantikan. Yaitu waktu kemunculan mempelai wanita untuk keluar menghampiri mempelai pria. Penyerahan mempelai wanita setelah sah menjadi istri dari mempelai pria. Ella pun sudah keluar dari brides's room dan berdiri di ujung path way.


Pandangan Ardi langsung mengarah ke ujung taman. Terpaku dan tak sanggup untuk berkedip atau mengalihkan pandangannya. Debaran di dada jangan ditanyakan lagi, jantungnya sudah mau copot rasanya saking kerasnya berdetak.


Seorang wanita berdiri disana dengan anggunya dalam balutan kebaya putihnya. Ella berjalan perlahan dengan diiringi oleh Lilik dan beberapa Bridesmaids lainnya. Cantik, sangat cantik sekali bagaikan bidadari turun dari surga. Kau lah bidadariku, bidadari surgaku...


Not sure if you know this


But when we first met


I got so nervous I couldn't speak


In that very moment

__ADS_1


I found the one and


My life had found its missing piece


(*Aku tidak yakin apakah kau tahu


Tapi saat kita pertama kali bertemu


Aku sangat gugup sampai tidak bisa bicara


Pada saat itu juga


Aku menemukan yang 'seseorang' dan


Hidupku telah menemukan bagiannya yang hilang)


So as long as I live I love you


Will have and hold you


You look so beautiful in white


And from now 'til my very last breath


This day I'll cherish


You look so beautiful in white


Tonight


(*Jadi selama aku hidup aku akan mencintaimu


Akan memiliki dan mendekapmu


Kamu terlihat sangat cantik dengan pakaian putih


Dan mulai sekarang sampai nafas terakhirku


Hari ini aku akan merayakannya


_Shane Filan - Beautifull in white_


Ella mengambil duduk di kursi sebelah Ardi. Menundukkan wajahnya dengan malu-malu.


'Ngapain malu-malu, El? Kamu cantik, sangat cantik. Seharusnya kamu percaya diri dan menunjukkan wajah cantikmu pada semua orang... Tapi tunggu dulu. Kayaknya mending gini aja deh. Biar gak ada yang bisa liatin wajah Ella. Cuma aku yang bisa melihatnya sampai puas...Nanti ya di kamar.'


Ardi sudah senyam-senyum sendiri dengan pikiran kemana-mana sambil memandangi wajah Ella. Istri sah-nya.


'Yes! Akhirnya kamu jadi milikku, El!'


Acara dilanjutkan dengan penandatanganan buku nikah oleh kedua mempelai. Setelah dinyatakan sah sebagai suami istri di mata agama, maka kedua mempelai diminta untuk menandatangani dokumen pernikahan, salah satunya ialah buku nikah. Dengan begini keduanya dinyatakan sah menikah di mata hukum.


Serah terima mas kawin selanjutnya dilakukan mempelai laki-laki pada mempelai perempuan. Karena mas kawin yang diberikan cukup menghebohkan, 75 kilogram emas. Jadilah proses ini hanya diwakili secara simbolis oleh sepaket alat sholat.


Sementara mahar aslinya tetep berada disana sebagai pajangan yang mencengangkan. Satu troli penuh banyaknya emas batangan yang dipersembahkan Ardi untuk mempersunting Ella.


Setelah mahar diberikan, kedua mempelai saling memasangkan cincin kawin di jari manis pasangannya. Cincin kedua yang menandakan penyatuan dua insan yang saling mencintai.


Kali ini Ardi memberikan cincin emas putih dengan permata besar gabungan saphire-diamond pada Ella. Permata kebiruan sesuai namanya, Lazuardi. Sementara untuk Ardi cincin polos dari bahan emas putih juga yang disematkan Ella di jari manisnya.


Ella mencium tangan kanan Ardi, memberikan penghormatan dan pengabdian pertamanya kepada sang suami. Seorang pria yang telah rela untuk menerima tanggung jawab penuh atas dirinya. Bahkan ikut menanggung pula segala dosa yang mungkin akan diperbuat olehnya kelak. Terharu dan sangat bersyukur bahwa Ardi lah pria itu.


Ardi membalas ciuman Ella dengan memberikan ciuman ringan di kening istrinya itu. Ciuman pertama dalam keadaan hahal sebagai istri, serta mendatangkan pahala. Kemudian keduanya kembali duduk bersanding dengan saling memandang dan menyunggingkan senyuman penuh arti.


'Kalau ciuman aja bisa dapat pahala, tak cium aja kamu tiap hari, El. Cari pahala yang banyak hehe.'


Kedua mempelai selanjutnya akan diberikan nasihat soal hak dan kewajiban seorang suami atau istri. Di sini, kedua mempelai akan mengetahui apa saja yang boleh dan nggak boleh dilakukan sebagai pasangan suami istri. Serta bagaimana cara untuk menciptakan keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah serta menggapai surga bersama.


Serangkaian prosesi akhirnya ditutup dengan pembacaan doa oleh penghulu. Dan terakhir pembawa acara menyatakan berakhirnya upacara pernikahan Ardi dan Ella, mempersilahkan setiap hadirin untuk menikmati segala hidangan yang telah disediakan.


"Finally, you're mine honey." Ujar Ardi sambil memberikan senyuman indah pada Ella.


(* Akhirnya kamu menjadi milikku, sayang).

__ADS_1


"You're mine too." Balas Ella sambil tersipu.


(*Kamu juga milikku).


"Kamu cantik sekali. Sampai bingung bagaimana mau diungkapkan dengan kata-kata."


"Bukannya barusan sudah termasuk kata-kata gombal ya? hehe."


"Belum. Belum ada apa-apanya ini. Liat saja nanti malam pasti akan lebih jauh seru lagi," Ardi sengaja memberikan kedipan nakalnya pada Ella.


"Iiihhh apaan coba?" Ella menanggapi godaan Ardi dengan sangat malu. Nanti malam? Ngapain?


"Lhoo kok masih malu-malu, kan kita sudah sah. Sudah halal, gak dosa lagi, malah dapat pahala." Ardi semakin keasikan menggoda istrinya yang sudah merah padam wajahnya, malu-malu.


"Urusan nanti malam ya nanti, gak usah dibahas sekarang." Ella berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Gak bisa, lebih asik kalau sudah direncanakan dulu mulai dari sekarang. Kamu pengen gaya apa?"


"Mas Ardi..." Ella sudah tak sanggup menjawab.


"Hahahaha." Ardi tertawa ngakak, semakin gemas dengan tingkah malu-malu istrinya itu. Gemesin!


'Awas ya nanti malam kamu akan kuterkam, El.'


"Permisi..." Sebuah sapaan menyadarkan Ardi dan Ella bahwa mereka berdua masih dalam rangkaian acara resmi. Tidak seharusnya mereka berduaan dan bercanda mesra terus begitu.


"Sudah-sudah, udah cukup belum anda berdua mesra-mesraannya? Sekarang waktunya sesi pemotretan." Hawa menghampiri kedua mempelai yang sedang asik bercanda penuh cinta. Bahkan mungkin jika dijadikan film animasi sudah ada pelangi diatas kepala mereka serta bunga-bunga mawar bermekaran berwarna merah muda.


Hawa mengingatkan padatnya rundown acara mereka. Ella membuang napas lega karena Hawa datang tepat pada saat yang tepat. Langsung menurut saja mengikuti arahan Hawa untuk sesi pemotretan. Sementara Ardi yang tidak senang dengan gangguan dari Hawa melemparkan pandangan menusuknya pada sang E.O.


'Ganggu aja!'


Kedua mempelai pun melanjutkan acara sesuai rundown yang ditetapkan oleh tim E.O. Pengambilan foto dan Vidio dengan berbagai macam pose, gaya, dan lokasi. Mulai dari foto perorangan mempelai pria dan wanita, foto mereka berdua dengan menunjukkan buku nikah, foto dengan menunjukkan cincin nikah serta foto dengan menunjukkan mas kawin mereka.


"Mas Ardi kok ngasihnya banyak banget mas kawin buat aku. Kalau sebanyak itu kan gak bisa dibawa." Ella merasa tidak enak melihat tumpukan emas batangan di atas troli.


Tujuh puluh lima batang emas murni satu kiloan. Buat apa coba sebanyak itu? Harga emas murni per gramnya berapa? Dan ini gak tanggung-tanggung, sebanyak 75 kilo gram yang artinya 75.000 gram.


"Masa kebanyakan si? Buat kamu gak masalah kok. Bawanya pakai troli." Jawab Ardi dengan entengnya.


"Lagian kenapa pula harus 75 kilo? Gak bisa angka lain apa?"


"Gak bisa."


"Kenapa gak bisa?" Ella makin penasaran.


"Karena sudah pas segitu beratnya."


"Haaaah? Berat apaan?"


"Berat badanku. Berarti kamu dapat emas murni seberat mas Ardi aslinya." Ardi menjawab dengan gak punya dosa.


Ella yang mendengarnya hanya bisa melongo, ini orang bego atau gimana sih?


"Kenapa?" tanya Ardi heran melihat reaksi Ella. Sebegitu takjubnya kah? Atau terharu?


"Tahu gitu sebelum nikah aku kasih makan yang banyak kamu mas."


"Biar tambah berat ya, hehehe"


"Iya, kalau perlu sampai seratus kilo."


"Terus kalau sudah gendut, kamu mau minta tambahan emasnya?" Ardi masih cekikikan gemas.


"Kalau sudah gendut tinggal disembelih nanti pas lebaran kurban." Jawab Ella seenaknya.


"Yaelah jahat bener kamu, honey. Masa tega sama suami tercinta?" Ardi pura-pura merengek mendengar jawaban Ella.


"Abisnya kamu ada-ada saja si."


"Hahahaha," keduanya pun tertawa bersama dengan riangnya.


Akhirnya misteri besar tentang jumlah mas kawin yang fantastis terpecahkan juga.

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Yuuuuks PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼


__ADS_2