
Mahasiswa mahasiswi memasuki kelas satu persatu memenuhi ruangan kelas karena waktu menunjukkan kelas akan segera dimulai. Queen sudah duduk di tempat itu tiba-tiba didatangi oleh sekelompok gadis yang berpenampilan seperti Sang penguasa kelas.
"Siapa perempuan itu? Kenapa dia berani duduk di tempat Elena." Tanya Fiona dalam hati yang juga di rasakan dalam pikiran kawan-kawan perempuan lainnya yang masuk ke dalam kelas itu.
"Hey? Pinggir ini tempat duduk ku." Jawab Elena.
"..." Queen hanya menatap dengan tajam wajah yang sedang berbicara denganmu dengan sangat kasar itu.
"Kenapa kau tidak menjawab aku yang menyuruhnya untuk pergi dari tempat ini." Ucap Elena lagi.
Queen menggunakan jari tangan untuk menunjuk mukanya.
"Iya, siapa lagi. Kau yang ku maksud. Ini adalah tempat duduk ku." Jawab Elena.
"Tidak ada nama terpampang di kursi ini jadi siapapun yang datang lebih dulu dia yang duduk." Jawab Queen.
"Kau berani melawan ku? Apa kau tidak mengetahui siapa aku?" tanya Elena dengan kesal
"Tidak tau dan tidak ingin mengetahui." Jawab Queen.
"Kau..." Elena yang memegang kerah jas Queen.
"Tidak perlu kasar." Jawab Queen yang langsung menggunakan kekuatannya untuk menunjukkan tangan Elena dari kerah jas miliknya.
"Auuuu." Ucap Elena yang tangannya terhenti oleh meja.
"Kakak Elena maafkan anak baru ini. Mungkin dia tidak mengetahui bahwa ini tempat mu." Jawab Fiona yang tiba-tiba datang lalu meminta maaf kepada Elena dan dengan cepat menarik tangan Queen untuk beranjak pergi dari tempat itu.
Elena yang ingin membalasnya tiba-tiba berhenti karena dosen telah masuk ke dalam ruang kelas mereka.
"Duduklah." Jawab Fiona menarik tanganku ke tempat duduknya. Elena juga duduk di tempat Queen tadi. Elena di tenangkan oleh kedua temannya untuk menahan emosi terlebih dahulu.
"Jangan lakukan saat ini karena profesor itu sudah datang dan kau sendiri bahwa dia sangat killer." Ucap teman Elena yang bernama Yosi. Yosi menjelaskan bahwa saat ini jam pelajaran seorang profesor yang sangat kejam. Kejam yang dimaksud adalah orang yang saat pada aturan dan sangat pelit terhadap nilai.
"Fiona" Ucap Fiona dengan lirik memperkenalkan dirinya kepada Queen.
__ADS_1
"Queen." Ucap Queen membalas.
"Jangan lakukan itu lagi kepada Elena karena dirinya adalah orang yang berkuasa di kampus ini." Jawab Fiona.
"Berkuasa?" tanya Queen.
"Nanti aku akan menjelaskannya kepadamu setelah jam matakuliah ini selesai dan lebih baik kita saat ini diam dan memperhatikan profesor itu sedang mempresentasikan materi." Jawab Fiona.
"Oke." Jawab Queen.
Lirikan mata Elena kepada Queen sangat tajam sehingga membuat Queen tidak nyaman. Tapi Queen yang diberikan tatapan itu kepada yang lemah membuatnya tidak berkedip dan memberikan tatapan yang lebih tajam dari milik Elena.
Elena yang tersenyum licik melihat tingkah laku Queen terhadapnya sambil menekan pulpen yang ada di tangan kanannya.
"Kau lihat saja setelah materi profesor ini." Jawab Elena dalam hati.
Profesor yang baru saja tiba di tempat langsung membuka absen dan memanggil semua mahasiswa yang sedang hadir. Satu per satu nama di panggil hingga tiba nama Queen di sebutkan ya.
"Sella Queen." Ucap profesor saat ini memanggil Queen.
"Kau sudah sembuh?" tanya Profesor.
"Sudah pak." Jawab Queen
"Baguslah dengan begitu kau sudah bisa masuk ke mata pelajaran saya setelah satu kali absen dari mata pelajaran saya. Selain dari Queen tugas Minggu lalu silakan dikumpul ke depan hardcopy ya. Dan yang tidak mengumpulkan soft copy ke email dengan batas waktu yang sudah ditentukan maka dianggap tidak mengerjakan tugas dan tidak perlu untuk mengumpulkan hardcopy." Jawab Profesor.
Semua mahasiswa mengumpulkan tugas nya ke depan. Setelah itu, Profesor sedang menjelaskan materi selanjutnya pada mereka dengan menggunakan power point. Waktu berjalan dengan cepat sehingga waktu telah selesai. Profesor baru saja keluar dari ruangan, tiba-tiba Elena sudah ada di depan Queen.
Queen yang membereskan peralatan tulis miliknya ke dalam tas dan Viona memberitahukan kepada Queen bahwa Elena ada di depannya.
"Urusan kita belum selesai?" Ucap Elena.
"Urus saja urusan mu itu dan jangan menganggu ku." Jawab Queen yang memakai tasnya lalu berdiri meninggalkan tempat duduknya dan meninggalkan Elena begitu saja.
"Berani-beraninya dia pergi meninggalkanku begitu saja." Jawab Elena yang mengejar Queen keluar dari kelas.
__ADS_1
Sampai di sudut lorong yang lumayan sunyi. Elena dan Yosi teman perempuannya menghentikan Queen yang sedang berjala.
"Apa kau tuli bahwa Elena menyuruhmu untuk berhenti." Yosi memegang tangan Queen dan memerintahkannya untuk berhenti.
"Lepaskan atau kau...." ucap Queen
"Kenapa?" tanya Yosi yang mendorong bahu Queen dari depan. Dan saat Yosi ingin mendorong kedua kalinya tangan Queen menghentikan itu lalu meremas tangan kanan Yosi hingga kesakitan.
"Auuu?" ucap Yosi yang kesakitan
"Sudah aku katakan jangan mengganggu ku " Jawab Queen ketika melihat ada kamera di sudut lorong. Dan meneruskan langkah kakinya.
"Kau tidak apa-apa Yosi?" tanya Elena.
"Sakit sekali. Tenaga dia seperti sedang meremas tangan ku begitu saja." Jawab Yosi.
"Sepertinya kita tidak bisa memberi pelajaran untuknya di kampus." Jawab Elena dalam hati.
Di sisi lain, Al memperhatikan kejadian itu dan hanya tersenyum menontonnya. Elena yang melihat tangan Yosi sangat merah karena tekanan yang diberikan oleh Queen.
"Tenang saja, aku akan membuat dia menyesal atas perilakunya hari ini." Jawab Elena.
Fiona yang melihat hal itu juga namun tidak bisa melakukan apapun. Ia berpura-pura untuk berjalan melewati Yosi dan Elena lalu mengejar Queen.
"Kau benar-benar sangat hebat. Sebenarnya aku juga menginginkan hal itu terjadi kepada mereka namun aku tidak memiliki keberanian seperti yang kau miliki. Bagaimana jika aku berteman denganmu?" tanya Fiona yang tiba-tiba datang mengatakan hal itu kepada Queen
"...." Queen hanya melirik orang yang sedang memegang bahunya.
"Maaf. Bolehkah aku berteman dengan mu Queen?" Tanya Fiona namun Queen menghiraukannya dan terus berjalan.
"Elena itu adalah salah satu anak pemilik donatur tetap di kampus ini. Jadi tidak ada yang berani untuk menyinggung dirinya bahkan para dosen sangat menghormati dia. Dan sifatnya yang berkuasa itu membuat banyak orang tidak menyukainya. Tapi bagaimanapun dia adalah orang yang memiliki kekuasaan di kampus ini sehingga kita yang hanya orang kecil tidak akan mampu dibandingkan olehnya. Jadi jangan mencari gara-gara dengannya." Jawab Fiona menjelaskan kepada Queen.
"Aku tidak peduli. Dia yang terlebih dahulu menganggu ku." Jawab Queen.
"Kau benar-benar tidak takut tentang apa yang akan dilakukan untuk mu di masa depan?" tanya Fiona.
__ADS_1
"Apa yang akan dilakukan olehnya?" tanya Queen memberhentikan langkahnya dan mulai melirik sebentar ke arah Fiona.