
"Jadi kau berfikir bahwa Queen telah menyelesaikan masalahnya itu sendiri?" tanya Al.
"Begitulah. Aku mengakui keahliannya dalam bertarung. Karena malam itu, untuk pertama kalinya aku melihat seorang wanita bisa mengalahkan 5 orang pria yang berbadan besar yang profesional. Jika dia melakukan hal akan menjadi hipotesis yang paling tepat." Jawab Sam.
"Jika itu memang benar, tetap saja aku tidak akan melepaskan siapapun yang telah melakukan hal itu kepada wanita ku." Jawab Al.
"Aku mengerti. Al kita sudah sampai." Jawab Sam yang tiba di sebuah gedung yang di masuki Queen siang hari tadi.
Al dan bersama dengan Sam menggunakan masker warna hitam dan masuk ke dalam gedung itu.
Mereka langsung di suguhkan dengan suasana kantor kecil yang berantakan. Wajah babak belur orang-orang yang ada di depan komputer. Mereka tetap fokus pada komputer dengan tangan yang sedang mengetik.
"Kalian berdua siapa? Maaf kami hari ini tutup untuk melayani klien karena sedikit ada masalah." Jawab bos mereka yang tidak di depan komputer.
"Kau bos di sini?" tanya Sam.
"Iya." Jawabnya.
"Jadi kalian yang membuat berita tentang mahasiswi Belta itu?" tanya Sam.
"Kalian orang-orang wanita itu? Kami sudah melakukan permintaan dari wanita itu untuk mengklarifikasi berita yang telah tersebar. Bahkan kamu sudah hapus berita pertama dan terus memberikan komentar pada berita pertama agar di percaya oleh para pembaca." Jawabnya dengan ketakutan.
"Wanita yang kalian maksud adalah dia?" tanya Al yang menunjukkan foto pernikahannya dengan Queen.
"Iya nona ini." Jawabnya.
"Apa dia yang melakukan semua ini kepada kalian?" tanya Al.
"Iya."
"Baguslah kami tidak salah alamat." Jawab Al yang berpura-pura menjadi apa yang di fikirkan orang ini.
" Apa lagi yang ingin di minta nona itu?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku di perintahkan untuk mengambil apa yang di ambil olehnya tadi." Jawab Al yang berpura-pura.
"Baiklah, kami akan memberikan rekaman CCTV itu lagi. Tunggu sebentar, aku mencari flashdisk dan akan memberikan kepada kalian setelah mengcopy dari server CCTV." Jawab.
"Iya." Jawab Al.
Al dan Sam tidak perlu melakukan banyak hal untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan oleh mereka. Al dan Sam juga bertanya kepada mereka bahwa mereka hanyalah seorang yang di menerima tawaran dari klien. Sehingga Al dan Sam melepaskan mereka begitu saja dan membawa rekaman CCTV yang sudah di copy.
"Apakah kau membawa laptop atau tablet?" tanya Al yang tidak sabar untuk melihat rekaman CCTV itu.
"Ada di bagasi mobil, sebentar." Jawab Sam yang mengambil laptop memberikan kepada Al.
Al menonton rekaman CCTV itu di dalam mobil dan Sam menjalankan mobilnya. Setelah beberapa menit melihat Al sudah mengetahui siapa dalang yang melakukannya.
"Elena? lagi-lagi dia yang melakukan hal ini." Jawab Al.
"Siapa? Kau mengenalnya?" tanya Sam.
"Apa? Lagi-lagi wanita itu?" tanya Sam.
"Sam cari tahu tentang wanita itu keseluruhan. Dan aku harus memberikan dia pelajaran untuk mencari tahu tentang siapa yang telah di singgung olehnya." Jawab Al.
"Aku mengerti. Jadi sekarang kita kemana?" tanya Sam.
"Aku akan kembali ke apartemen untuk melihat Queen." Jawab Al.
"Sepertinya jangan dulu, Queen bersama dengan Fiona di apartemennya. Aku lupa memberitahumu bahwa kami tadi pergi ke bar. Sedikit bersenang-senang karena permintaan Fiona." Jawab Sam.
"Kau tidak melakukan hal apa pun kan?" Tanya Al dengan tatapan tajam.
"Tidak...." Sam menjelaskan.
"Baguslah. Ya sudah kita kembali ke rumah tua. Aku ingin istirahat." Jawab Al.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan mengantarmu." Jawab Sam.
Sementara di tempat lain, Elena yang sudah sangat bahagia dengan berita diketahui olehnya itu telah berhasil melakukan pencemaran nama baik Queen membuat Elena mengekspresikan kebahagiaannya dengan berbelanja dengan Yosi. Elena sampai saat ini belum mengetahui tentang berita yang dibuat orang yang telah dihapus dan digantikan dengan berita lainnya yang mengklarifikasi tentang berita pertama.
Elena yang baru saja sampai di rumah selesai berbelanja masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri. Elena ingin tidur, kembali mengecek ponselnya untuk melihat perkembangan berita yang telah dibuat olehnya itu. Namun saat Elena melihatnya, hanya ada tampilan 404 Not Found.
"Kenapa tidak bisa di buka?" tanya Elena.
Elena mencoba mengecek kuota internetnya apakah telah habis atau tidak. Namun masih banyak. Elena mencoba kembali apakah ponsel yang sedang bermasalah, ternyata tidak. Elena mengambil laptop dan mencoba link itu untuk di buka. Namun tetap sama, layar halaman yang di tampilkan adalah 404 Not Found.
"Apa yang sebenernya terjadi?" tanya Elena.
Elena melihat grup kampus yang terus berdering membuatnya penasaran untuk membaca awal obrolan yang ada di dalam grup.
Saat Elena membaca, ia mendapatkan link klarifikasi berikut pertama. Elena langsung membaca berita itu dan wajahnya berubah seketika.
"Apa yang telah terjadi? Siapa yang merusak rencana ku?" tanya Elena dengan mencoba mengambil ponsel lainnya untuk menelpon bos yang telah di sewa olehnya untuk melakukan penayangan berita Queen.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa berita yang telah Aku perintahkan kepada kalian tidak dapat dibuka. Dan kalian membuat berita lain untuk klarifikasi ini?" tanya Elena dalam panggilan ponsel.
"Maaf nona, kami akan mengambilkan uang muka kepada anda. Kami tidak ingin melakukan hal itu lagi karena kami lebih memilih untuk menyelamatkan diri. Nyawa lebih penting dibandingkan uang yang dapat cari kembali." Jawabnya
"Apa maksudnya?" tanya Elena.
"Maaf nona lebih baik jangan menghubungi kami kembali. Dan aku beritahu kepada anda sebuah nasehat bahwa Jangan pernah menyinggung wanita itu lagi atau Anda tidak akan selamat." Jawabnya langsung mematikan panggilan itu. Dan saat Elena yang belum puas dengan jawaban itu menelpon kembali. Namun nomornya tidak aktif.
"Apa-apaan ini? apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang telah menghancurkannya?" tanya Elena yang melemparkan ponsel yang dipegang oleh nya dan mengambil ponsel pribadinya untuk menelpon Yosi. Elena memastikan bahwa memang benar berita yang diperintahkan olehnya itu sudah tidak dapat diakses kembali karena telah dihapus.
"Sial, apa yang terjadi? Bagaimana wanita lemah itu bisa mendapatkan keberuntungan ini? Siapa yang melindungi dia sebenarnya? " Tanya Elena dalam hati.
Elena benar-benar tidak menyukai hal itu sehingga dia memberantaki beberapa skincare dan seluruh barang yang berada di meja rias. Elena menyapu ratakan barang-barang di atas meja hias. Elena menatap dirinya di depan cermin dan berkata " Kenapa gagal lagi untuk melakukan balas dendam kepada wanita itu?" tanya Elena.
"Sepertinya aku memang harus meminta bantuan dari Ayah." Jawab Elena dalam hati sambil menahan emosinya
__ADS_1