
Teruntuk kamu?
"Jauh atau dekat, lama atau singkat, kalau memang takdirku dan takdir mu terikat, saat waktunya tiba kita pasti duduk dalam satu akad. Dan hidup berdua bersama hingga hayat."
"Apa aku membangunkan mu?" tanya Al yang sedang menggendong Queen. Mereka berada di dalam lift.
"Turunkan aku!" Ucap Queen.
"Baiklah." Jawab Al kepada Queen dengan menurunkan Queen di lantai lift. Saat diturunkan, Queen masih oyong sehingga tidak stabil berdiri. Al membantu menangkap tubuh Queen untuk berdiri stabil.
"Sudah aku bilang!" Ucap Al kembali menggendong Queen lagi.
"Kenapa di gendong lagi?" tanya Queen.
"Tenanglah." Jawab Al lalu pintu lift terbuka. Al langsung berjalan ke arah parkiran dan meletakkan tubuh Queen di kursi depan.
"Kenapa tidak membangunkan ku?" tanya Queen saat Al sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi di samping Queen.
"Susah aku bangunkan. Tapi tidak juga bangun." Jawab Al.
"Benarkah?" tanya Queen yang berfikir untuk mengingatnya.
"Ya sudah jika tidak percaya. Lain kali jika tidur jangan susah di bangunkan. Waspadalah sedikit." Jawab Al.
"Bukannya sudah ada kamu jadi aman?" tanya Queen yang tiba-tiba menjawab seperti itu membuat Al jadi salting.
"Tentu saja. Tapi tidak mungkin 24 jam bisa bersama." Jawab Al kepada Queen sambil menghidupkan mobil.
"Maka jadikan untuk mungkin." Jawab Queen.
"Kau yakin? tanya Al.
"Iya." Jawab Queen.
"Oke, akan kita lakukan mulai hari ini. Jangan mengingkarinya. Jangan pernah lepas dari pandangan ku sedetik pun." Jawab Al.
__ADS_1
"Sedetik pun?" tanya Queen yang mulai berfikir bahwa perkataan yang di ucapkan olehnya tidak bisa di biarkan begitu saja. Queen menyesal sudah bermain-main dengan Al.
"Tentu saja." Jawab Al dengan memasangkan wajah yang begitu penuh dengan tipu muslihat.
"Aku batalkan." Jawab Queen.
"Bisa seperti itu?" tanya Al.
"Tentu saja. Lagian tadi hanya bercanda. Mana mungkin bisa bersama dengan mu 24 jam. Bagaimana jika mau ke kamar kecil?" Ucap Queen yang dengan kalimat terakhir bernada pelan. Al melihat Queen yang stalking dan tiba-tiba mendengar suara perut Queen sedang berdemo.
"Kriukkkk"
"Hahaha, sudahlah aku tau tadi kau hanya bercanda, hanya saja aku tidak percaya bahwa kau bisa juga bercanda." Jawab Al dengan mengelus kepala Queen sambil menyetir mobil.
"Apaan sih?" tanya Queen yang menyingkirkan tangan Al dari kepala.
"Perut mu sudah demo, jadi kita mampir saja sekalian makan malam. Lagian ini masih sore hari." Jawab Al yang membelokkan mobilnya.
Mereka berjalan menuju kesebuah restoran Tiongkok yang menyuguhkan beberapa makanan herbal yang bagus untuk kesehatan tubuh. Terutama stamina yang harus di berikan oleh Queen.
Al yang memberhentikan mobil dan membuka pintu mobil untuk Queen. Berjalan berdua bersama-sama masuk ke dalam restoran. Al sudah memesan makanan yang menurutnya bagus. Mereka menikmati makanan itu dengan cepat. Hingga Queen tidak sadar bahwa dirinya sudah menikmati makanan dengan cepat. Hal ini membuat Al tersenyum puas melihat Queen yang begitu lahap menikmati makanan yang telah di pesan oleh Al.
"Lumayan." Jawab Queen.
"Hanya lumayan?" tanya Al.
"...." Jawab Queen yang menganggukkan kepalanya dan membersihkan bibirnya dengan tisu setelah makan.
"Setelah makan 5 piring?" tanya Al kembali.
"Apakah itu akan membuat mu miskin?" tanya Queen.
"Hahahah, tentu saja tidak." Jawab Al.
"Apakah tidak boleh?" tanya Queen yang bersifat dingin.
__ADS_1
"Boleh, tentu saja boleh. Aku sangat senang jika nafsu makan mu banyak." Jawab Al.
"Semua ini karena efek minum obat dari Sam." Jawab Queen.
"Oh mungkinlah." Jawab Al.
Queen malu untuk mengakuinya sehingga saat ini mereka selesai makan. Al membayar tagihan dan mereka kembali ke vila.
Esok harinya, Al kembali mengajak Queen untuk ikut pergi bersama dengannya pergi ke kantor. Tapi Queen menolak. Queen lebih memilih untuk tinggal di vila.
"Ya sudah, siapkan semua keperluan mu untuk kembali. Kita akan berangkat malam ini setelah aku selesai di kantor." Jawab Queen.
"Benarkah? Kita berangkat sore ini?" tanya Queen.
"Tentu saja. Aku sudah menyelesaikan setengah pekerjaan kemarin. Jadi hari ini mungkin akan lebih cepat dari perkiraan." Jawab Al.
"Baiklah." Jawab Queen dengan tersenyum bahagia namun senyumannya masih tipis terlihat di hadapannya.
"Aku pergi dulu, dan aku akan memerintah beberapa orang untuk datang ke vila menjaga mu dan membersihkan vila. Jadi kau bisa memerintahkan siapa saja." Jawab Al.
"Iya." Jawab Queen.
Al pergi meninggalkan Queen. Beberapa saat setelah kepergian Al, pelayan dan penjaga suruhan Al datang ke vila. Mereka pekerjaannya masing-masing sedangkan Queen menyusun beberapa pakaian dan hal-hal lainnya ke dalam koper.
Queen yang sudah siap meletakkan barang-barang dan memegang identitas miliknya. Melihat status miliknya telah berubah. Dari berstatus belum menikah menjadi tertulis menjadi sudah menikah.
"Sudah beberapa status ini berubah." Jawab Queen sendiri sambil memandang kartunya.
"Al, sosok yang jauh dari perkiraan ku kita bisa bertemu. Pertemuan yang begitu singkat tanpa perlu waktu lama untuk memutuskan bersama. Mungkin ini semua sudah menjadi takdir kita berdua yang telah terikat. Sehingga kita berdua memutuskan untuk bersama." Jawab Queen yang berpuitis sendiri dalam memikirkan keputusan yang telah di ambil olehnya.
"Ku harap ini adalah keputusan yang benar. Dan selama ini kau sudah memperlakukan ku dengan cukup baik. Kau sudah mengenal tentang ku begitu banyak, tapi aku belum mengenal mu begitu dalam. Apakah yang aku dapatkan dari orang-orang terdekat mu itu sudah menjadi salah satu dari aku mengetahui tentang mu?" tanya Queen dalam hati kembali.
Queen memikirkan bahwa dia sebenarnya belum mengetahui siap Al yang sebenarnya. Selama ini Queen yang cuek dan seperti tidak peduli tenyata sedang berusaha memahami dan ingin mengetahui Al dengan baik. Salah satu cara yang dilakukan olehnya adalah dari orang-orang yang berada di sekitar Al.
"Dan aku tidak pernah membantah perintah dari Ayah. Pilihan Ayah tidak mungkin tanpa pertimbangan matang. Dan setelah kejadian kemarin aku baru menyadari bahwa pilihan yang di berikan oleh Ayah itu sangat benar. Jika bukan karena itu kau, apa mungkin aku masih hidup?" tanya Queen lagi memikirkan tentang kejadian di dalam hutan.
__ADS_1
"Yang masih menjadi teka teki dalam fikiran ku atas segala kejadian kemarin adalah apakah orang-orang yang tinggal di negara Boyalia ini memang seperti ini? Kejam dan dengan mudahnya mengambil nyawa seseorang? Apakah aku telah melakukan kesalahan yang begitu fatal kepada Elena? Kenapa bisa sampai melibatkan pembunuh untuk membunuh ku?" tanya Queen dalam hati lagi.
"Setelah aku fikirkan dari awal, jika aku tidak memiliki perlindungan diri aku sudah lama dapat di singkirkan olehnya. Tapi setiap tindakan itu juga selalu ada Al yang hadir untuk siap menolong ku. Itulah yang menjadi alasan terkuat ku untuk menerimanya walaupun aku masih mempertanyakan keputusan ayah di kala itu." Jawab Queen lagi.