
Al yang sudah sampai di lantai atas rumah sakit Sam, langsung masuk dengan menekan pasword yang sudah di ketahui olehnya. Ia langsung duduk di depan Sam yang sedang memeriksa data di meja komputer kerjanya.
"Bagaimana hasil lab ya?" tanya Al.
"Obat itu benar-benar 100% heroin tapi jumlah kadarnya bukan heroin seperti biasa. Efek ini lebih membahayakan dari pada seperti biasanya. Jika heroin biasa radang gusi, keringat dingin, menurunnya sistem kekebalan tubuh, lemah otot, dan insomnia. Ia juga dapat merusak pembuluh darah yang nantinya bisa menyebabkan gangren jika tidak ditangani. Dan efek obat yang berada di dalam minuman itu lebih mematikan."
"Lihat saja orang yang telah meminum minuman kaleng itu saat ini kondisinya tidak sadarkan diri. Namun dia juga termasuk orang yang beruntung karena kekebalan tubuhnya sangat bagus. Sedangkan orang yang mati di hotel daya tahan tubuhnya itu lemah. Dan juga zat yang dikonsumsi dia bukan hanya heroin itu tetapi juga ada racun yang dapat mengakibatkan saraf tubuhnya lumpuh dan lambungnya mengeluarkan zat asam yang pekat. Itulah mengapa ia berbui." Terang Sam.
"Dari semua kejadian ini, aku mendapatkan sedikit hipotesis bahwa seseorang yang berhasil kabur itu bernama Zerico. Dia adalah salah satu mafia narkoba yang terkenal di Negara A. Dia mengatakan akan memberikan aku kejutan 3 hari lagi. Dan kemungkinan kejutan itu adalah kerjasama antara negara A dengan pelabuhan milik kita." Jawab Al.
"Kerjasama?" tanya Sam mengingat kembali.
"Iya kerjasama beberapa hari yang lalu kita tolak karena tidak ada keuntungan sama sekali untuk bekerjasama dengan mereka." Jawab Al.
"Jadi karena dia sakit hati tidak mendapatkan kontrak kerjasama dengan kita maka dia sendiri yang datang?" tanya Sam.
"Mungkin. Aku sudah memerintahkan seseorang untuk menyelidiki identitas Zerico beserta geng Sativa." Jawab Al.
"Benar-benar gila. Orang itu memang gila." Jawab Sam.
"Kita akan membereskan setelah mengetahui apa yang di mau 3 hari ke depan. Untuk saat ini lebih baik fokus dengan hal-hal yang di perlukan saja." Jawab Al.
"Baik lah." Jawab Sam
Mereka mengakhiri perkataan itu, Al pergi meninggalkan rumah sakit lalu menuju ke rumah kecil miliknya yang terdapat di Jl. Lotus nomor 5. Sedangkan Sam istirahat setelah apa yang terjadi hari ini.
Senin pagi di kampus Belta, ruang-ruang kelas mulai terisi penuh oleh mahasiswa dan mahasiswi untuk mengikuti perkuliahan seperti biasanya. Queen yang baru saja tiba di depan kelas melihat seseorang yang sedang melambaikan tangan ke arahnya sambil memanggil namanya.
"Queen!" Panggil Fiona yang sudah duduk di kursi kelas.
__ADS_1
Queen berjalan ke arah Fiona dengan muka yang datar seperti biasanya. Queen meletakkan tasnya ke atas dan duduk disamping Fiona.
"Bagaimana hari weekend mu?" tanya Fiona dengan wajah yang bahagia.
"Tidak ada." Jawab Queen yang langsung mengingat bahwa ia telah bertemu dengan Al.
"Aku memiliki sebuah hadiah untukmu." Ucap Fiona sambil membuka tas untuk mencari hadiah yang ia maksud.
"Aku melihat sebuah syal berwarna hitam dengan corak putih yang cocok dengan dirimu." Ucap Fiona dengan memberikan sebuah kotak kecil yang berisi sel dengan tulisan brand ternama.
"Ch*nel?" tanya Queen dengan melihat bungkus kotak syal itu.
"Bagaimana? Apakah kau menyukainya?" tanya Fiona.
"Sepertinya aku tidak bisa menerima barang mahal seperti ini." Ucap Queen kepada Fiona.
"Ayolah Queen, aku sangat sedih jika kau tidak mau menerimanya. Padahal ketika aku berbelanja dengan ibu dan melihat itu aku langsung mengingatmu. Aku pikir kau akan menyukainya karena sesuai dengan warna yang selalu kau gunakan selama ini." Ucap Fiona yang sudah berteman dengan Queen selama 1 bulan ini melihat Queen hanya menggunakan warna oufit hitam dan putih saja.
"Baiklah aku menerimanya. Tapi lain kali jangan pernah untuk membelikanku sesuatu barang-barang mewah seperti ini lagi. Ini adalah hadiah pertama Dan terakhir yang bisa aku terima." Jawab Queen.
"Iya, iya lain kali Aku tidak akan memberikan hadiah kepada mu tanpa seizin mu terlebih dahulu." Jawab Fiona.
"Oke."Jawab Queen yang menerima kotak itu.
"Oh ya Queen, karena aku membelikan syal untukmu. Ibu ku sangat senang karena akhirnya aku memiliki seorang teman baik. Jadi dia ingin bertemu denganmu." Ucap Fiona.
"Bertemu dengan ku?" tanya Queen.
"Iya. Jadi kapan kau bisa ikut bersama ku ke rumah untuk bertemu dengan ibu?" tanya Fiona.
__ADS_1
"Bagiamana jika hari ini atau besok?" tanya Fiona langsung tanpa mendengarkan jawaban Queen.
"Perempuan ini begitu semangat seperti biasanya." Jawab Queen dalam hati.
"Oke ?" tanya Fiona kembali.
"Baiklah." Jawab Queen dengan menyetujui ajakan dari Fiona untuk menemui ibunya.
"Baguslah. Aku akan memberitahu Ibu dulu " Jawab Fiona.
"Iya." Jawab Queen.
Fiona mengambil ponselnya untuk menghubungi Ibu. Fiona berjalan keluar ruang kelas untuk dapat menelpon sang ibu. Sementara Queen masih duduk di tempatnya dan mengeluarkan buku catatan miliknya.
"Siapa sebenarnya perempuan ini?" tanya Elena yang sudah mencari tahu identitas Queen.
Yang di dapatkan Elena adalah identitas Sella Queen. Elena hanya mengetahui bahwa Queen adalah seorang anak dari orang biasa yang tidak terlalu kaya. Hanya serba kecukupan saja. Di tambah lagi, Bram akan segera pensiun di tahun ini. Queen juga bukanlah seorang yang jenius. Nilai pendidikannya hanya di atas rata-rata biasa. Rangking 5 besar, namun tidak pernah menjadi nomor satu.
Elena menganggap bahwa identitas Queen adalah identitas orang biasa yang tidak bisa dibandingkan dengan dirinya. Queen juga tidak memiliki riwayat tentang pelatihan seni bela diri. Queen benar-benar hanya wanita lemah lembut, walaupun sangat ramah tapi dia tidak begitu terkenal di sekolahnya. Hal itu yang lebih membuat Elena masih berpikir bahwa Queen yang ada di hadapanmu tidak sesuai dengan informasi yang didapatkan dari detektif yang diperintahkan olehnya.
Elena yang berjalan bersama dengan Yosi masuk ke dalam kelas. Elena hanya melihat Queen sejak tadi berjalan hingga ia duduk. Queen yang dilihat oleh Elena sedang duduk melamun ke arah jendela dengan menyokong kan tangannya ke dagu.
"Jika dia yang mengalahkan orang-orang ku dari mana dia belajar tentang hal itu? Tapi jika bukan dia yang melakukan itu? Siapa yang membantu dia dengan suka rela di zaman sekarang? Bahkan jika dia bisa menyewa pengawal, dia tidak mungkin memiliki banyak uang untuk membayarnya." Tanya Elena dalam hati.
"Hey, Elena kenapa sejak tadi melihatnya?" tanya Yosi.
"Melihat siapa?" tanya Elena yang sadar dari lamunannya.
"Queen? Kau melihat dia kan?" tanya Yosi.
__ADS_1
"Tidak. Aku hanya mengenang weekend kemarin." Jawab alibi Elena.