
Al membawa senjata itu keluar dari apartemen dan kembali menuju ke apartemen Queen. Al sudah memerintahkan bawahannya untuk mendapatkan sedikit bukti dari rekaman CCTV atau transaksi penembak itu dalam menerima apartemen tersebut.
Queen yang berada di dalam apartemennya sedang membersihkan pecahan kaca yang telah berserakan di lantai ruang tamu apartemen. Al langsung masuk ke dalam apartemen Queen dan meletakkan senjata yang dibawa oleh jadi sofa dan berjalan mendekati Queen yang sedang membersihkan pecahan kaca itu.
"Berhenti dari pekerjaan itu, itu akan melukai mu nanti." Ucap Al yang tidak ingin Queen terluka karena serpihan kaca yang telah berantakan di lantai ruang tamu.
"Tidak apa-apa ini hanya sebentar saja." Jawab Queen yang hampir selesai di bersihkan. Serpihan itu juga di masukkan ke dalam tong sampah.
"Biar aku saja." Jawab Al yang mengambil sapu dari tangan Queen lalu menggantikan untuk membersihkan sisa pekerjaan.
"Bagaimana dengan penembak itu?" tanya Queen.
"Aku kehilangannya, tapi aku akan segera menemukannya secepatnya." Jawab Al.
"Sepertinya ini adalah peluru dari senjata kaliber 50 yang dapat menembus kaca anti peluru." Jawab Queen yang menunjukkan peluru yang diikuti olehnya tadi menancap di sofa.
Peluru yang ditimbulkan oleh penembak jitu itu tidak mengenai Queen melainkan mengenai sofa. Saat Al pergi, Queen menatap ke seberang gedung. Queen memperhatikan dengan detail dan mengambil peluru yang menancap di sofa tersebut lalu membersihkan serpihan kaca.
"Bagaimana kau mengetahui ini adalah peluru dari senjata kaliber 50?" tanya Al sangat terkejut karena Queen sudah mengetahui senjata apa yang digunakan oleh penembak jitu.
"Dimana senjata itu?" tanya Queen.
"Itu." Jawab Al yang menunjukkan senjata itu di bawah olehnya di atas sofa.
Al sudah selesai membersihkan serpihan kaca itu, lantai ruang tamu sudah bersih dari serpihan kaca namun kaca yang menjadi dinding ruang tamu apartemen telah rusak dan angin masuk menghembuskan ruangan itu begitu aja. Al meletakkan sapu dan juga alat pembersih lainnya lalu berjalan mendekati Queen yang membuka tas hitam.
Queen mengeluarkan senjata itu dari tas lalu mengamati senjata tersebut dari ujung sampai ujung.
"Sepertinya buatan dari Arsenal pada tahun 1990. Dan yang menyediakan senjata itu di sini hanya tempat itu." Jawab Queen bergumam sendiri sambil memegang senjata kaliber 50.
"Maksud mu?" tanya Al yang tidak terlalu jelas mendengarkan apa yang dikatakan oleh Queen.
"Terima kasih selalu membawa bersenjata kemari." Jawab Queen.
__ADS_1
"Tapi ini tidak boleh lama-lama berada di sini, kita harus menyerahkan senjata ini ke pihak yang berwajib karena untuk rakyat biasa seperti kita tidak boleh memiliki senjata yang berbahaya seperti ini." Jawab Al.
"Benar juga. Tapi aku bisa meminjam ini dari mu sehari saja. Malam ini akan aku kembalikan." Jawab Queen.
"Mau kau gunakan untuk apa?" tanya Al.
"Nanti kau juga akan mengetahuinya." jawab Queen dengan menyimpan kembali senjata itu ke dalam tas.
"Kau juga menemukan hal ini ternyata." Jawab Queen.
"Apa?" tanya Al yang mendekat lagi selangkah.
"Oh ini barrett m82a1 sniper." Ucap Queen yang juga menemukan perlengkapan penembak jitu di dalam tas itu.
"Kau juga mengetahui tentang perlengkapan itu?" tanya Al yang kembali bertanya-tanya dengan pernyataan yang diberikan oleh Queen.
"Sepertinya ada sesuatu yang bisa di jadikan bukti." Jawab Queen.
"Apa itu?" tanya Al.
"Rambut?" tanya Al.
"Apakah Sam bisa mencari identitas seseorang dengan hanya dari DNA rambut?" tanya Queen.
"Jadi itu yang kau maksud." Jawab Al.
"Iya." Jawab Queen.
"Bisa. Hanya saja pasti membutuhkan waktu dalam mencari identitas. Karena kita harus mendapatkan izin dari kepolisian cyber untuk mendapatkan akses melacak seseorang dari sebuah identitas DNA." Jawab Al.
"Berapa lama?" tanya Queen.
"Mungkin paling cepat 3 hari dan paling lama 1 minggu." Jawab Al.
__ADS_1
"Itu sudah cukup." Jawab Queen.
"Biar aku yang menyimpan." Jawab Al dengan memberikan sebuah sapu tangan dan Queen meletakkan satu hari rambut itu di atas sapu tangan Al. Al melipat sapu tangan itu dan menyimpan di kantong jas depan.
"Tapi Queen, siapa yang sebenarnya kamu singgung baru-baru ini? Beberapa hari ini aku tidak bertemu dengan mu dan ketika kembali aku sudah melihat semua ini. Bagaimana jika aku tidak datang pada hari ini?" tanya Al.
"Aku bisa menyelesaikan sendiri masalah yang bersangkutan dengan ku. Lagi pula aku tidak memiliki musuh beberapa hari ini." Jawab Queen.
"Kau yakin?" tanya Al yang ingin Queen menceritakan apa yang telah terjadi dua hari ini saat ia tidak ada bersama dengannya.
"Iya. Memangnya kenapa jika aku tidak bersama dengan mu?" tanya Queen.
"Baiklah jika kau juga tidak mengetahui siapa yang telah menelpon sampai seperti ini. Tapi aku akan mencari tahunya dengan segera. Karena siapapun yang telah menyinggung bahkan sampai melukai wanita ku, dia akan menanggung akibatnya berkali-kali lipat dari apa yang telah di lakukan oleh ya." Jawab Al dengan menatap Queen Dan meletakkan tangan kanannya di pipi kiri Queen.
"Apa-apaan kau?" tanya Queen langsung melepaskan sentuhan tangan kanan Al.
"Queen pergilah ke villa sebagai tempat yang aman untuk bersembunyi dari mereka yang belum kita ketahui. Aku benar -benar khawatir." Jawab Al menawarkan.
"Jika aku tetap bersikeras di tempat ini maka aku akan menjagamu selalu di tempatnya. Atau akan akan membawa mu secara paksa ke villa." Jawab Al yang ingin meluluhkan hatiku namun terlihat seperti sedang mengancam Queen.
"Tidak perlu, hanya tinggal mencari tukang untuk memperbaiki kaca itu dengan menggantinya kaca anti peluru yang berlapis." Jawab Queen.
"Kau lupa dengan apa yang kita lihat tadi? Mereka menggunakan kaliber 50 sebagai senjata yang seluruhnya akan menembus kaca anti peluru? Dan lihat sendiri, kaca ini sudah hancur dengan begitu mudah dan separah ini? Bagaimana aku bisa tenang meninggalkanmu disini sendiri." Jawab Al.
"Mungkin penembak jitu itu adalah orang yang diperintahkan seseorang yang memiliki kekuatan tinggi. Sebelum aku memastikan siapa yang melakukan itu maka aku akan melindungi mu walaupun dengan memaksa secara paksa." Jawab Al.
"Al, kau tidak perlu melakukan semua itu untukku. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Jawab Queen.
"Kau benar-benar keras kepala. Aku kawatirkan Semua ini karena aku tidak ingin kau terluka!" Ucap Al kepada Queen dengan wajah yang mendominasi.
"Benarkah?" tanya Queen.
"Queen, aku tidak ingin seperti cokelat hitam. Dia sangat manis saat pertama kali dimakan namun meninggalkan kepahitan. Cinta adalah anugerah. Tapi, mencintai tanpa di cintai mungkin akan sama seperti dengan cokelat hitam itu." Jawab Al.
__ADS_1
"Apakah kau tidak ingat dengan perjanjian kita?" tanya Al kembali.