
"Ia. Aku membuat laporan palsu tentang kalian berdua." Jawab Bram.
"Lalu apa yang terjadi setelah itu? Dimana suster itu?" tanya Queen.
Bram menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya kepada Queen setelah sehari mereka melaksanakan kerjasama.
20 Tahun yang Lalu
Seperti biasanya Bram setiap minggunya mendapatkan jadwal piket malam di rumah sakit bersama dengan suster yang bernama Natasya. Malam itu dalam keadaan cuaca hujan deras hingga pagi hari. Jam kerja mereka sampai jam 2 pagi untuk pergantian shift kepada yang lainnya.
Natasya yang apartemennya dekat dengan rumah sakit hanya menggunakan payung dan berjalan untuk melewati derasnya hujan menuju ke apartemen. Suasana gelap gulita dan juga derasnya hujan beserta bunyinya suasana membuat keadaan sangat mencengkram.
Natasya merasa ada seseorang yang sedang mengawasi dirinya sejak ia keluar dari rumah sakit menuju ke apartemennya. Di tengah jalan, Natasya memberhentikan langkahnya kemudian menoleh ke belakang untuk memperhatikan keadaan apakah firasatnya mengatakan hal yang nyata bahwa ada orang yang sedang mengikutinya.
Saat Natasya melihat sekitar namun tidak menemukan apapun. Natasya melanjutkan langkahnya untuk menuju ke gang menuju ke apartemennya. Tapi tidak di sangka, ia di datangi seseorang dengan muncul di belakang Natasha sambil menodongkan pistolnya.
"Jalan!" perintah seseorang itu kepada Natasha untuk terus berjalan melewati zebra cross jalan menuju apartemennya.
Natasya yang menoleh kebelakang sedikit melihat situasi bahwa dirinya sedang ditodong dengan pistol. Melihat hal itu Natasha langsung bergemetaran dan memikirkan apa yang sedang terjadi saat ini.
"Siapa yang memerintahkan mu melakukan semua ini? Apakah aku memiliki kesalahan yang tidak aku ketahui?" tanya Natasya dengan nada yang terbata-bata dan tetap berjalan mengikuti perintah lelaki itu.
"Katakan padaku tentang maksud mu bahwa 2 hari yang lalu mereka tidak melahirkan hanya 1 orang saja namun 2?" tanyanya.
"Orang-orang bos yang tidak aku ketahui?" tanya Natasya dalam hati.
__ADS_1
"Iya. Saat anak pertama dilahirkan aku akan menjalankan perintah dari bos untuk membunuh semuanya. Saat aku mengambil obat untuk membunuh, anak itu diculik oleh orang yang tidak aku ketahui. Aku kembali lagi ke meja operasi untuk mengatakan kepada dokter bahwa anak itu telah hilang. Tapi saat itu, wanita itu melahirkan satu bayi perempuan lagi."
"Bayi itu bukan kembarannya?"
"Apakah dia mengetahui bahwa bayi yang asli sudah aku tukar?" tanya Natasya dalam hati lagi.
"Maksud mu?" tanya Natasya.
"Bayi itu masih hidup, di mana keberadaannya?
"Bayi itu sudah mati." Jawab Natasya.
"Katakan yang sejujurnya atau kau akan mati di sini." Dengan menekan pistol ke punggung Natasya.
"Ingatlah bahwa jangan ada yang mengetahui hal ini, dan kau berhati-hatilah dalam beberapa hari ini karena kau hanyalah bidak catur bos. Dan katakan kepada Bram untuk bener-bener merahasiakan tentang anak itu." Pistol yang di punggung Natasya tiba-tiba hilang setelah laki-laki itu mengatakan hal ini kepada Natasya.
Natasya melihat sekeliling bahwa ia tidak menemukan siapapun, dan laki-laki itu benar-benar sangat misterius.
"Jadi dia bukan untuk membunuhku?" tanya Natasya yang sudah basah kuyup akibat hujan yang sangat deras saat itu.
Tapi sayang, setelah beberapa langkah berjalan di arena zebra cross untuk menyebrang jalan, tiba-tiba mobil datang menghantam tubuh Natasya sehingga membuat dirinya mengalami pendarahan pada kepala dan beberapa tulangnya patah. Darah bercucuran dari tubuh Natasya. Mobil itu mengajukan gasnya kembali dan meninggalkan Natasya begitu saja ketika sudah tergeletak di jalan.
Bram yang sejak tadi mencari keberadaan Natasya karena ia meninggalkan ponselnya. Bram menggunakan mobil menuju ke apartemennya Natasya, namun ia melihat saat Natasya di tabrak oleh mobil. Bram keluar dari mobil dan langsung membawa Natasya ke dalam mobilnya dan melaju ke arah rumah sakit.
"Bertahanlah sebentar Natasya!" perintah Bram saat mengemudi melihat Natasya sudah kehilangan banyak darah. Darah yang keluar dari kepalanya. Tangan yang patah dan kaki yang patah terlihat jelas.
__ADS_1
"Bram!" panggil Natasya.
"Iya." Jawab Bram.
"Berjanjilah padaku untuk membawa istri dan juga anak itu pergi dari negara ini. Semua yang menimpaku karena kesalahan ku sendiri. Jadi biarlah aku menebus dosa ku dengan cara seperti ini."
"Apa yang kau katakan? Sebentar lagi kita sampai. Bram yang menelpon temannya untuk mempersiapkan ruang operasi karena saat ini ia sedang membawa Natasya.
"Bram, ingat yang aku katakan barusan bahwa kau sudah harus pergi dari negara ini dan jangan pernah kembali lagi. Dan ingatlah Jangan pernah berkaitan dengan keluarga Abraham." Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Natasya sebelum hembuskan nafas terakhirnya.
"Natasya bertahanlah." Ucap Bram yang menoleh kebelakang dan memberhentikan mobilnya karena sudah sampai di rumah sakit.
Saat teman-teman mereka sudah menyiapkan tempat tidur troli menuju ke ruang UGD. Bram sudah memeriksa keadaan Natasya yang tidak lagi bernapas. Bram menggelengkan kepalanya kepada teman-temannya bahwa Natasha sudah tidak bisa dapat diselamatkan lagi.
Bram sangat terpukul tentang apa yang terjadi di depan matanya itu namun ia tidak dapat melakukan apapun untuk membantu menyelamatkan Natasya. Fikiran Bram sangat kacau. Polisi langsung datang setelah beberapa jam kejadian kecelakaan itu. Bram menjadi saksi tentang apa yang terjadi. Namun, saat itu Bram memang tidak mengetahui plat mobil yang telah menabrak Natasya. Dan polisi juga tidak mendapatkan rekaman CCTV yang berada di jalan itu. Kasus tabrak lari itu dianggap tidak mendapatkan titik temu sehingga ditutup begitu saja. Polisi hanya memberikan kompensasi kepada pihak keluarga.
Kalimat yang diucapkan kepada Natasya kepada Bram selalu diingatnya hingga tepat 1 bulan setelah kejadian itu. Bram dan Stella memutuskan untuk pindah dari negara itu, semua itu di lakukan untuk meminimalisir kemungkinan yang tidak dapat di fikirkan mereka. Bram dan Stella memutuskan untuk mengikuti perintah dari Natasya sebelum ia meninggal
Bram mengurus kepindahan kerjanya, Bram dan Stella pergi dari negara Boyalia menuju kampung halaman Stella. Mereka memulai kehidupan yang baru bersama dengan bayi yang bersama dengannya.
"Semoga ini adalah keputusan yang paling baik untuk menyelamatkan bayi ini." Ucap Stella.
"Semoga. Kita hanya menghindar untuk tidak terkena masalah di masa depan jika terus berada di negara Boyalia. Lebih baik kita memulai hidup yang baru di kampung halaman mu sayang bersama dengan Sella Queen. Karenanya juga kau bisa melupakan kesedihanmu karena tidak bisa memiliki keturunan seumur hidup." Jawab Bram.
"Iya, sayang. Sella Queen adalah cahaya yang hadir menerangi kehidupan kita yang gelap.
__ADS_1