
Al dan Queen pulang ke rumah cukup malam.
"Syukurlah mama dan Ayah sudah tidur." Jawab Queen dalam hati.
"Sudahlah tidak apa-apa. Yang terpenting aku sudah sedikit berhasil mendapatkan hatinya." Jawab Al dalam hati yang melihat Queen melewatinya begitu saja, dan sejak itu Queen hanya diam saja dengan wajah meronanya.
"Syukurlah mereka sudah pulang." Jawab Stella yang keluar dari pintu kamar dan melihat Al dan Queen masuk ke kamar mereka.
Keesokan paginya mereka sarapan bersama namun Queen juga belum bangun sehingga hanya Bram, Stella dan Al yang sarapan pagi. Seperti biasanya, Al membantu Bram di kebun. Stella membangunkan Queen untuk membantunya membereskan belanjaan yang telah di beli oleh Queen kemarin malam.
"Sayang, kamu itu sudah menikah. Hilangkan kebiasaan mu yang tidak bisa bangun pagi itu ." Jawab Stella kepada Queen saat mereka berdua berada di dapur dengan menyusun belanjaan di dalam kulkas.
"Jika bukan karena harus menyamar, aku juga tidak suka tidur terlalu siang. Tapi untuk kemarin aku memang sangat mengantuk sehingga terbangun jam 12 heheh." Jawab Queen dalam hati yang mengingat sedikit perkataan kebiasaan dari Sella Queen.
"Iya ma, maaf. Nanti Queen ubah kebiasaan buruk itu." Jawab Queen.
"Oke. Lalu kenapa beli belanjaan segini banyaknya?" tanya Sella.
"Untuk kita. Lagian sekarang makan ku banyak Ma." Jawab Queen tersenyum.
"Apa kau sedang hamil?" tanya Stella.
"Ha? Hamil, mama ngomong apa sih?" tanya Queen yang terkejut.
"Sepertinya berciuman tidak membuat hamil kan?" tanya Queen dalam hati mengingat kejadian kemarin malam.
__ADS_1
"Tidak-tidak, mana mungkin itu terjadi. Aku juga mempelajari biologi tidak seperti itu." Jawab Queen dalam hati.
"Bukannya normal jika kau hamil sayang? dengan begitu aku memiliki cucu. Ah gemesnya jika di bayangkan." Jawab Stella dengan wajah yang sangat ceria membayangkan sedang mengendong anak bayi.
"Normal mama, tapi aku dan Al sudah memutuskan untuk menunda dulu memiliki anak karena aku masih kuliah." Jawab Queen.
" Sayang sekali, padahal jika hamil juga tidak apa-apa sambil kuliah." Jawab Stella yang sedikit kecewa mendengarkan hal itu.
"Wajah mama sedikit muram?" tanya Queen dalam hati.
"Sayang ingatlah, di luar sana banyak orang yang ingin hamil dengan cepat bahkan ada yang sudah mendamba-dambakan seorang anak seumur hidupnya. Jadi lebih baik jangan mengaturnya. Jalankan saja sebagai mestinya, biar Tuhan yang mengaturnya. Tidak baik juga memaksa kehendak yang ingin kita lakukan sendiri." Jawab Stella yang memberikan nasihat kepada Queen.
"Apa aku menyinggung mama sehingga wajahnya berubah seperti itu?" tanya Queen dalam hati karena mengingat bahwa Stella dan Bram selama ini sudah berusaha untuk mendapatkan seorang anak melalui berbagai cara program hamil namun tetap gagal.
"Iya mama tenang saja. Kami juga tidak terlalu menundanya hanya saja belum di beri, nanti kami akan berusaha lebih keras lagi " Jawab Queen yang bingung harus berkata apa kepada Stella yang wajah ya murung.
"Benarkah? Harus seperti itu dong anak mama. Jangan seperti mama yang tidak bisa memberikan keturunan pada Ayah Bram. Mama seperti seorang perempuan yang tidak sempurna untuk Bram yang begitu sempurna untuk ku." Jawab Stella yang semakin sedih.
"Mama?" tanya Queen yang saat itu Stella mengeluarkan air matanya. Queen dengan sigap menghapus air mata Stella yang terjatuh dari ujung kelopak matanya.
"Mama jangan bersedih. Jika tuhan tidak memberikan anak dari rahim sendiri. Bukankah Tuhan sudah memberikan aku sebagai anak mama dan Ayah?" tanya Queen yang tidak tahu kenapa berbicara seperti itu dengan sendirinya.
Stella yang langsung melihat wajah Queen yang begitu tulusnya mengatakan hal itu. Dengan eskpresi yang menahan tangis dan juga beban fikiran yang selama ini tidak tertuang dengan segera tumpah begitu saja dengan sebuah pelukan dan tangisan.
"Queen benar, aku dan Bram sangat beruntung mendapatkan mu. Kau adalah cahaya bagi kami berdua." Jawab Stella dengan langsung memeluk Queen dan menjatuhkan air matanya.
__ADS_1
"Menangis lah sampai mama merasa sudah lebih baik. Karena pada akhirnya, bukan mama dan ayah yang berterimakasih kepada ku. Tapi aku yang berterimakasih kepada Tuhan telah mempertemukan mama dan ayah yang begitu baik untuk ku di saat aku kehilangan segalanya dan tidak mengetahui apa-apa di kala itu. Kalian berdua adalah malaikat berwujud manusia yang paling aku syukuri atas nikmat yang Tuhan berikan kepada ku." Jawab Queen yang memeluk Stella dengan penuh kasih sayang dan perkataan yang membuat Stella menjadi lebih kuat lagi.
Cukup lama mereka berpelukkan di dapur, di antara meja dengan kulkas dan di kelilingi pemandangan belanjaan sayuran, buah-buahan dan bahan lainnya yang belum tersusun di dalam kulkas. Mereka berdua saling menguatkan satu sama lain.
"Tidak seharusnya tadi aku membahas tentang hal itu kepada Mama " Jawab Queen dalam hati yang berfikir tidak seharusnya membahas prihal hamil. Karena hal itu terlalu sensitif bagi Stella. Walaupun sebenarnya yang membahas itu lebih dulu adalah Stella sendiri.
"Terimakasih, mama sudah baik-baik saja." Jawab Stella yang menghapus air matanya dan tersenyum.
"Tentu saja, mama adalah wanita kuat yang selalu menjadi inspirasi ku." Jawab Queen juga membalas senyuman dari Stella.
"Ahh sudahlah, kenapa kita harus menangis Bombay di saat sedang bekerja." Jawab Stella yang menyadarkan dirinya.
"Bagaimana jika kita melanjutkan untuk menyusun semua ini ke dalam kulkas setelah di cuci bersih?" tanya Queen kepada Stella tentang sayuran, buah-buahan dan yang lainnya untuk di cuci terlebih dahulu sebelum di masukkan kedalam kulkas.
"Oke." Jawab Stella yang tersenyum lebar. Dengan cepat Stella sudah berubah menjadi lebih baik lagi dengan cepat.
"Mama memang orang yang mudah mengubah ekspresi begitu saja dengan cepat." Jawab Queen yang mengamati Stella selama ini.
"Ma, bagaimana jika mengajari ku memasak. Masakan mama kan paling enak. Dengan begitu aku bisa belajar selagi ada di sini. Dan makanan yang enak seorang istri akan menjadi kerinduan dan candu buat suaminya?" tanya Queen membahas hal lainnya.
"Queen benar-benar sudah dewasa ya. Baiklah, mama akan mengajari mu beberapa resep yang sudah menjadi turun temurun dari nenek moyang kita." Jawab Stella dengan tertawa kepada Queen.
Mereka berdua yang sedang mencuci di wastafel sambil berbicara. Queen dengan cepat juga mengalikan pembahasan agar membuat Stella melupakan hal yang tadi.
Queen di ajari memasak oleh Stella sekalian membuat menu masakan untuk siang hari ini. Setelah mereka membereskan belanjaan untuk di masukkan di dalam kulkas, mereka berdua mulai memasak untuk menu makan siang.
__ADS_1