
"Kenapa melihat ku seperti itu? Apakah terkesan dengan apa yang aku katakan?" tanya Al melihat Queen tidak bersuara.
"Tidak, hanya saja sedang melihat seorang lelaki yang begitu percaya diri dengan kalimat yang ia katakan." Jawab Queen.
"Tentu saja harus percaya diri. Tapi aku juga ingin memberikan syarat kepada mu." Jawab Al.
"Syarat?" tanya Queen.
"Kau boleh melakukan apapun yang kau suka tapi ku harap jangan ada laki-laki yang ada di dekat mu. Bukan membatasi hanya saja aku tidak ingin bersaing dengan orang lain ketika aku sedang berjuang untuk membuat mu menyukai ku." Jawab Al.
"Oke. Aku akan selalu memberi tahu mu siapapun lelaki yang dekat dengan ku, bahkan aku akan selalu meminta izin mu terlebih dahulu. Lagi pula bukannya sudah menjadi kewajiban ku untuk menjaga kehormatan suami?" tanya Queen.
"Baguslah, ternyata memahami apa yang menjadi kewajiban mu." Jawab Al.
"Jadi kau ingin pernikahan yang seperti apa?" tanya Al.
"Aku tidak ingin ada pesta. Mungkin cukup tinta di atas kertas. Sah di mata hukum dan agama." Jawab Queen.
"Aku akan mengikuti apa yang kau inginkan. Jadi berikan saja tanda pengenal mu. Aku akan mengurusnya dengan segera." Jawab Al.
"Sekarang?" tanya Queen.
__ADS_1
"Tentu." Jawab Al.
Queen berjalan kearah kamar untuk mengambil kartu identitas miliknya sedangkan Al membereskan makanan yang ada di meja dan mencuci piring yang kotor.
"Setelah selesai membersihkan lebih baik kau pergi, karena ini sudah malam. Aku letakkan ini di sini." Jawab Queen dengan meletakkan kartu identitas di atas meja makan lalu pergi berjalan menuju kamar.
"Oke." Jawab Al dengan wajah yang begitu bahagia.
"Akhirnya aku berhasil." Jawab Al dengan ingin melompat tapi terhenti karena sedang menggosok piring kotor dengan sabun cuci piring.
Setelah selesai, Al langsung memerintahkan Joy untuk mendaftarkan dirinya dan Queen ke biro pernikahan untuk mendapatkan sertifikat pernikahan. Al yang baru saja keluar dari pintu apartemen Queen langsung masuk ke apartemen miliknya yang ada di depan pintu apartemen Queen.
Al yang sudah selesai menelepon Joy meletakkan ponselnya di samping wastafel kamar mandi. Ia membuka semua bajunya dan membersihkan diri sebelum tidur. Sudah menjadi sebuah kebiasaan yang dimiliki olehnya bahwa Al sedikit pembersih.
"Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu." Jawab Al.
Al membaca satu demi satu berita tentang keluarga Abraham dari tentang saham tragedi hingga segala sesuatu yang muncul dari searching. Tanggal demi tanggal dan tahun demi tahun. Al melihat semua berita itu satu persatu hingga menemukan berita 20 tahun yang lalu.
"Apa ini alasannya?" tanya Al dalam hati.
"Abraham? Abraham? Aku baru ingat, bukankah itu adalah salah satu keluarga yang memiliki ikatan pertemanan dengan pembunuh itu? Tapi aku juga tidak punya alasan bukti yang kuat untuk mengatakan bahwa mereka ada terlibat kematian Ibu dan Ayah. Lagi pula ayah dan ibu juga terbunuh karena ulah mereka sendiri. Dan aku menghancurkan orang-orang yang telah membunuh mereka bukan untuk membalaskan dendam. Hanya saja sebagai kepuasan diri karena telah membuktikan bahwa aku lebih kuat dari mereka." Jawab Al tersenyum.
__ADS_1
Ia menutup laptop itu setelah mendapatkan sedikit informasi dan ingatan tentang keluarga Abraham. Al meletakkan laptop ke tempat semula.
Al memasang kuda-kuda untuk melakukan push-up. Sebelum tidur, ia selalu melakukan push-up sebanyak 50 kali karena untuk membuat bisa tertidur dengan cepat. Al sedikit mengalami gangguan tidur di mal hari. Seperti insomnia yang selalu datang padanya. Hal itu akibat kebiasaan ia yang dulu hanya tertidur satu hari 4 jam saja. Selebihnya, waktu digunakan untuk mencari uang berlatih dan belajar di sekolah formal. Al melakukan semua itu dengan usahanya sendiri. Jadi h wajar jika dia saat ini hanya menikmati hasil kerja kerasnya dan hidupnya menjadi terkondisi sendiri karena kebiasaan itu tadi.
Tubuh yang bercucuran keringat membuat Al tidak betah lagi sehingga membuatnya mandi kembali lalu memejamkan mata untuk tertidur.
Sementara Queen yang berada di dalam kamar hanya fotonya dengan Alex di saat acara kelulusan SMA.
"Aku tahu ayah mengetahui semua apa yang terjadi padaku saat ini. Tapi kenapa ayah tidak ingin muncul di hadapan ku?" tanya Queen dalam hati sambil mengelus photo yang telah terbingkai kaca.
"Aku aku memilih pilihan kedua. Tapi bukan untuk membalaskan dendam, melainkan aku ingin mengetahui kebenaran. Jika kebenaran didapatkan sangat menyakitkan maka aku akan melakukan pembalasan kepada siapapun yang telah melakukan hal kejam itu kepada kedua orang tuaku. Tapi untuk melakukan hal itu aku harus memiliki beberapa rencana, dan langkah pertama untuk melakukan perencanaan ini adalah menerima pernikahan dengan Al.
"Ku harap rencana ini adalah jalan yang benar. Aku tidak ingin melakukan pilihan yang salah karena semua orang memiliki kesempatan untuk memilih dan hal ini harus aku fikirkan dengan matang-matang. Lebih baik aku fikirkan sekali lagi beberapa hari ini untuk mengambil keputusan bersama." Jawab Queen dalam hati.
Queen terus berdialog dengan dirinya sendiri karena telah melakukan pilihan untuk menerima tawaran dari Al sebagai istrinya.
Queen kembali mengambil laptop untuk mencari tahu tentang Al yang sebenarnya. Apa dan siapa dia sebenarnya? Kenapa terlalu banyak identitas yang di milikinya. Hal itu membuat Queen sulit untuk mencari tahu siapa sosok Al yang sebenarnya.
Queen aku juga melakukan hal yang sama untuk melakukan pencarian di kolom Google searching tentang Altezza Alaric. Perusahaan Alaric dan juga segala sesuatu gosip tentang Al atau hanya sekedar gosip semata. Bukan tentang perusahaan, perhotelan dan juga percintaan Al. Karena untuk percintaan, Queen sama sekali tidak membaca tentang gosip itu. Queen yang saat ini belum puas mendapatkan semua informasi menjadikan untuk mencatat hal-hal yang perlu ia catat sebagai amunisi yang kemungkinan akan berguna untuk membunuh para pembunuh yang Ining membunuh ku." Jawab Queen dalam BBM hati.
Queen yang sedang memikirkan semua tentang informasi yang didapatkan olehnya nya, terfikir kan untuk mencatat dan menjadi. bahan pertimbangan Queen kembali. Dan tanpa di sadari, Queen baru teringat bahwa ada beberapa hal yang terlupakan olehnya yaitu terus melakukan kontak telepon untuk memberikan kabar kepada oeangtua.
__ADS_1
Queen mengambil ponselnya dan segera menghubungi orang-orang yang di rumah untuk tidak menganggap telpon dari siapapun hari ini. Dan karyawan kerja semuanya mengetahui hak itu
"Bagaimana dengan Ayah Bram dan Ibu Stella? Apa mereka sudah dapat di hubungi?" tanya Queen yang menghentikan lamunannya dari tentang Alex.