
Queen mendengarkan cerita orang dengan tetap menatap wajahnya. Queen melihat setiap sudut wajah Al dengan mendengarkan apa yang di ucapkan Al tanpa bertanya apapun.
"Semua orang sudah pergi sehingga aku keluar dari bawah tempat tidur. Tanpa di sangka ada 1 orang laki-laki yang masuk kembali ke dalam rumah dan melihatku. Dia memberikanku jumlah uang dan memberikan sebuah pilihan kepada ku. Dia mengatakan untuk aku pergi ke panti asuhan dan hidup dengan bahagia atau membalaskan dendam dengan hidup yang kuat dan dapat menguasai dunia. Tapi dia menyarankan untuk memilih pilihan pertama."
"Setelah aku keluar dari rumah, dia menyalakan api untuk membakar rumah ku. Dan karena itulah aku memilih menyatukan pilihan itu. Aku hidup di panti dengan mendapatkan fasilitas pendidikan. Dan berlatih di luar panti untuk menjadi seorang penguasa jalanan. Singkat cerita karena pilihan itu aku menjadi seperti ini, seperti yang orang lain ketahui dan seperti yang kau ketahui."
"Dan benar, jika aku memilih yang pertama aku pasti sudah bahagia tanpa ada rasa dendam seumur hidup ini. Dan saat 3 tahun yang lalu aku bertemu dengannya lagi. Dia berkata bahwa dia telah berubah, dia tidak menjadi seorang pembunuh lagi. Kehidupannya sudah normal seperti orang biasa."
"Kenapa aku menceritakan orang itu ke kepada mu? Karena dia adalah Ayah mu, Alex." Jawab Al.
"Ayah?" tanya Queen yang terkejut.
"Iya, aku tidak mengetahui apa yang di fikirkan olehnya. Alex hanya mengirimkanku sebuah pesan untuk menjagamu. Aku baru membacanya setelah beberapa hari yang lalu sebelum aku yakin untuk menikahi mu." Jawab Al.
"Kapan dia mengirimkan pesan itu?" tanya Queen dengan memegang kedua bahu Al dan menatapnya.
"Sepertinya sebelum kita bertemu pertama kali." Jawab Al.
"Jadi, Ayah memang sudah merencanakan semua ini?" tanya Queen.
__ADS_1
"Maksud ya?" tanya Al yang tidak mengerti sama sekali.
"Apa yang sebenarnya kau fikirkan Ayah?" tanya Queen dalam hati.
"Queen!" panggil Al untuk menyadarkan Queen yang terbengong.
"Alasan yang logis karena aku sudah menginginkan mu sejak pertama bertemu dan juga karena ayah mu yang menitipkan kepada ku. Itulah alasan yang paling kuat dan logis. Apakah kau sudah mau memberikan ku kesempatan?" tanya Al.
"Aku ingin kembali ke kamar." Jawab Queen yang menjatuhkan selimut dan berjalan cepat masuk ke dalam hotel tanpa menggunakan sandal.
Al mau melihat hal itu merasa dirinya melakukan kesalahan. Al berfikir kesalahan apa yang telah dilakukan olehnya sehingga membuat Queen seperti itu.
Queen berjalan dengan cepat meninggalkan pinggir pantai dan juga Al yang masih duduk di atas pasir. Queen berjalan masuk ke dalam kamar dan mengambil tasnya yang masih di dalam. Al ingin menyusul namun sudah melihat Queen yang masuk ke dalam kamar sehingga membuatnya tidak ingin mengganggu. Al masuk ke kamar hotel.
Queen yang bergegas pergi ingin meninggalkan hotel tanpa sepengetahuan siapapun. Sampai di resepsionis, Queen bertanya kepada mereka tentang layanan akomodasi hotel. Pihak hotel memberikan layanan pengantaran pengunjung. Untung saja di waktu malam menjelang pagi hari. Pihak hotel juga pengertian karena melihat wajah Queen yang begitu sedih.
Queen yang berada di dalam mobil hanya terdiam dan menahan tangis. Tidak ada air mata yang jatuh hanya ada pemikiran tentang sang ayah yang sebenarnya apa yang di fikirkan dengan ayahnya.
"Nona benar ini alamatnya?" tanya supir.
__ADS_1
"Iya, terima kasih pak." Jawab Queen yang keluar dari mobil dan bergegas masuk ke apartemen.
Sampai tiba di dalam kamar apartemen, Queen mencari buku diary Alex. Lembaran demi lembaran di buka oleh Queen dari diary. Queen mencari tanggal yang sama atau berdekatan dengan tanggal saat Alex mengirimkan email kepada Al.
Queen menemukannya dan membaca.
"Setelah membaca rahasia tentang jati diri mu, jangan pernah untuk membalaskan dendam mu kepada mereka. Temukan kebahagiaanmu bersama saudara kembarnya mu. Oh ya, Ayah sudah memperkenalkanmu kepada seseorang yang ayah kenal. Mungkin kalian akan cocok. Bisa saling mengerti. Ayah percaya kepadanya untuk menyerahkan mu kepadanya."
"*Dia adalah laki-laki yang aku temui 22 tahun yang lalu. Dia adalah lelaki yang penuh dengan ambisi. Dan laki-laki yang butuh untuk di cintai . Sejak kecil dia tumbuh di jalan dan panti asuhan. Hingga beranjak remaja sudah ikut sebagai tentara. Setelah itu dia mampu membangun jaringan melawan keadaan. Bukan hanya sukses di dunia bisnis tapi juga sukses menguasai sebuah negara. Aku harap kau bisa bersamanya. Aku yakin kalian bisa cocok. Aku ingin kalian melupakan dendam yang terjadi pada masa lalu. Tapi jika kalian tidak bisa melupakan itu, mungkin saja kalian bisa bersatu untuk dapat membalaskan dendam atas ego kalian, dan dengan itu mungkin kalian mendapatkan sebuah kebenaran. Tapi aku harap kalian memilih pilihan yang pertama."
"Jangan khawatirkan ayah, ayah sudah bahagia melihat kalian bahagia. Dengan melihat kalian bersatu akan membuat ku bangga bisa melunasi hutang kebahagiaan yang sudah aku renggut dari kalian berdua. Aku harap aku bisa menebus segala dosa yang telah aku lakukan di masa lalu."
"Tidak perlu mencari keberadaan ku, aku akan selalu dekat dengan kalian. Aku akan selalu di hati kalian. Terima kasih telah hadir di dalam hidup ku, terima kasih telah mengubah aku menjadi manusia yang sebenarnya. Aku mencintaimu Queen Aleska*."
Kalimat itu berhenti di kata nama Queen. Queen yang tadi sudah bertahan untuk tidak menjatuhkan air matanya. Akhirnya air mata yang telah di tahan tidak dapat di bendung lagi. Air mata itu jatuh setetes demi setetes tanpa dapat di henti Queen lagi. Air mata yang jatuh membasahi diary Alex.
"Kenapa ayah melakukan semua ini? Kenapa ayah pergi meninggalkan aku begitu saja? Kenapa ayah harus menyerahkan ku kepada Al? Kenapa ayah harus pergi dengan cara seperti ini? Apakah ayah tidak bisa bersama kami? Apakah ayah tidak bisa tetap bersama ku? Walaupun ayah begitu kejam saat melatih ku. Walaupun ayah selalu keras dalam mendidik ku. Walaupun ayah begitu dingin kepada ku. Tapi ayah adalah ayah. Ayah adalah satu-satunya orang yang selalu ku inginkan tetap bersama. Aku tidak apa-apa dengan latihan keras ayah, aku siap menghadapi ya lagi. Aku siap untuk tidak mengeluh lagi. Aku akan menjadi anak yang lebih baik lagi. Tidak bisa kah ayah kembali?" Suara tangisan membersamai kata-kata itu dengan memeluk diary Alex. Apartemen yang hanya terdengar suara tangisan Queen, malam menjelang pagi yang diiringi musik tangisan Queen.
Queen yang sudah kelelahan sejak tadi tidak ada tidur sama sekali, terlelap lelah begitu saja memejamkan matanya. Dan itulah yang membuatnya bisa berhenti menangis dalam tidur sambil tetap memeluk diary Alex.
__ADS_1