
"Seperti yang sudah aku katakan kepada mu bahwa banyak orang yang hanya mendekati ku karena status ayah dan ibu. Aku tidak ingin melakukan hal yang sama. Sejak SMA hingga saat ini aku tidak menonjol hal itu. Dan setiap media datang dari dunia bisnis aku menolaknya. Lagi pula kak Ibu juga mengunakan nama pena pada tulisannya. Hanya ayah yang mengetahui bahwa ia adalah penulis. Sedangkan yang lainnya hanya mengetahui bahwa ibu adalah sekertaris ayah saja." Jawab Fiona sambil berjalan dengan Queen ke perpustakaan.
"Jadi seperti itu, pantas saja. Bagaimana dengan kalimat bahwa kau juga mendapatkan beasiswa." Jawab Queen.
"Walaupun Aku adalah Putri tunggal dari mereka berdua namun aku selalu ingin membuktikan kepada mereka bahwa aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan tanpa bantuan dari mereka. Sejak dulu aku sudah mempersiapkan untuk bisa berkuliah di isinya dengan menggunakan beasiswa bukan karena kekuatan dan kekuasaan mereka." Jawab Fiona dengan tertawa.
"Cukup dewasa." Jawab Queen dengan tersenyum dan mengelus kepala Fiona saat berjalan.
"Ha?" Fiona yang terkejut dengan Queen yang pertama kalinya bersikap lembut kepadanya yang juga tersenyum
"Ada apa?"
"Kau tersenyum? Aku sayang suka melihat mu bisa tersenyum seperti itu." Jawab Fiona.
"Oh." Jawab Queen yang menarik senyumnya dan berjalan lebih cepat.
"Hahahhah kau malu?" tanya Fiona.
"Berhenti menggoda ku." Jawab Queen.
"Baik lah." Jawab Fiona yang tertawa.
Mereka berdua masuk ke dalam perpustakaan untuk mencari referensi menyelesaikan tugas.
Sementara di sisi lain,
Al yang pagi tadi sudah bersiap-siap akan pergi ke kampus terhenti karena Joy menjemputnya di depan apartemen.
"Bos." Ucap Joy yang sudah berdiri di depan mobil menjemput Al.
"Joy! Ada apa?" tanya Al.
"Ada sebuah paket yang di kirimkan ke pelabuhan. Paket itu menunjukkan dikirim untuk mu. Kami semua tidak berani untuk membukanya. Aku fikir itu penting untuk mu sendiri yang melihatnya. Dan juga yang membuatku merasa penasaran adalah paket itu tidak mencantumkan pengirim." Jawab Joy.
__ADS_1
"Baiklah, bawa aku ke sana." Jawab Al
Joy membukakan pintu mobil untuk Al. Al masuk ke dalam mobil dengan pakaian rapi yang akan digunakannya ke kampus. Al membuka kacamatanya kemudian menguncir rambut gondrong ya dan melipat lengan baju kemeja yang dipakainya hingga ke siku.
"Bagaimana tentang perusahaan?" tanya Al.
"Masih bisa aku kendalikan Bos. Hanya saja ada beberapa dokumen yang harus kamu periksa sebelum di tanda tangani oleh mu sendiri." Jawab Joy.
"Ya sudah, setelah ke pelabuhan kita ke kantor." Jawab Al.
"Baik bos." Jawab Joy.
"Bagaimana dengan perkembangan dalang di balik penghianatan A09? Apakah sudah ada petunjuk?" tanya Al.
"Maaf bos, untuk saat ini kami tidak menemukan apapun. Mereka benar-benar bersih dalam melakukan hal itu." Jawab Joy.
"Tanak bersih belum tentu bersih keseluruhan. Bagaimana kalian sudah menemukan jasad a09?" tanya Al.
"Sudah menelusuri hutan tapi belum menemukan jejaknya. Seperti yang bos katakan mungkin sudah habis di makam binatang buas. Dan dua orang kita terluka karena mencari jejak itu akibat hewan buas." Jawab Joy.
"Iya bos, kami juga tidak menggunakan senjata api. Hanya menggunakan obat bius. Hanya saja bawahan kita terluka karena gigitan bisa ular." Jawab Joy.
"Kalian juga harus membawa perlengkapan obat-obatan yang bisa menyelamatkan kalian di dalam hutan." Jawab Al.
"Iya bos." Jawab Joy.
"Walaupun dia bisa menjadi sangat kejam, tapi sebenarnya dia adalah lelaki yang begitu rambut dan baik." Jawab Joy dalam hati.
Dalam perjalanan menuju pelabuhan, mereka terus bercerita tentang kondisi perusahaan. Joy menjelaskan apa saja kepada Al dengan seksama, karena sudah sebulan lebih Al tidak pernah datang ke kantor. Walaupun biasanya ia datang seminggu sekali secara rutin.
Mereka berdua tiba di pelabuhan, Al dan Joy berjalan ke dalam gudang pelabuhan. Sejak turun, mereka berdua di beri penghormatan kepada orang-orang yang di sana untuk menyambut mereka.
Susunan peti kemasan yang tertumpuk di sekeliling pelabuhan, beberapa mesin pengangkat peti kemasan, parkiran mobil tronton akan siap sedia membawa peti kemasan, beberapa kapal besar yang berhenti dan beberapa kapal kecil. Al dan Joy masuk ke dalam gedung gudang penyimpanan bahan.
__ADS_1
"Bagaimana paket itu ada?" tanya Al.
"Saat penyulingan barang-barang yang akan di distribusikan, kami menemukan itu di peti kemasan bersama dengan barang-barang lainnya. Dan kotak itu juga kota yang berbeda dari yang lainnya, sehingga membuat kami mudah untuk mengenalinya bahwa kotak ini sedikit mencurigakan. Dan saat kami periksa bahwa kotak ini di kirim untuk mu tanpa nama pengirim." Jawab Joy.
Al dan Joy berjalan menuju paket yang mereka sebutkan sejak tadi. Paket itu di letak di atas meja panjang. Sebuah paket yang berbentuk persegi dengan ukuran 50 cm. Di bungkus rapi dengan warna hitam. Beratnya mungkin hanya sekitar 3 kg.
Beberapa orang sudah menjaga kotak paket itu. Mereka yang menjaga sedang bermain kartu untuk menghilangkan kejenuhan.
"Bos, selamat datang." Ucap mereka menyapa Joy yang datang bersama dengan Al. Saat ini Al menggunakan topeng untuk menyembunyikan wajahnya seperti biasa.
"Siapa orang yang bertopeng serigala itu bersama bos?" tanya mereka berbisik-bisik.
"Bagaimana dengan paketnya?" tanya Joy.
"Tidak ada tanda-tanda bergerak atau terjadi sesuatu bos. Dia tetap di situ saja tanpa kami menyentuhnya atau memindahkannya sesuai dengan perintah bos."
"Baguslah."
"Tuan silahkan di buka sendiri atau memerintah orang?" tanya Joy.
"Biar aku saja yang melakukannya." Jawab Al.
"Tapi jika itu membahayakan mu bagaimana?" tanya Joy.
"Tidak akan. Ambilkan aku alat pendeteksi bom." Jawab Al kepada Joy.
"Kami sudah menyiapkannya." Ucap anggota Joy yang menjaga kotak itu.
"Apakah kalian sudah mengeceknya?" tanya Al.
"Sudah. Tidak ada terdeteksi." Jawabnya.
"Tapi sepertinya di dalamnya adalah sebuah bahan yang terbuat dari tembaga." Jawabnya.
__ADS_1
"Aku mengerti. Berikan pisau itu." Jawab Al.
Al dengan perlahan-lahan membuka paket itu yang di lapisi dengan plastik hitam hingga terlihat sebuah kotak kardus berwarna cokelat. Saat kardus itu di buka oleh Al. Al terkejut bahwa yang di lihat adalah sebuah pistol buatan Italia, surat, flash disk dan sebuah contoh heroin yang beratnya 0,1 kg.