
Al yang langsung tersenyum mendengar respon Queen yang sangat cepat.
"Tersenyum?" tanya Queen dengan tatapan bertanya.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Lebih baik fikiran lebih dulu. Tapi ingatlah aku akan membuat mu menjadi milik ku. Lagi pula, aku tidak akan pernah memilih perempuan sembarangan. Dan aku juga tidak akan berjuang untuk mendapatkan hati perempuan jika pada akhirnya dia tidak akan memilihku." Jawab Al dengan tersenyum dan berjalan menaiki sepeda motor.
Queen terdiam dan mencerna pernyataan yang di berikan oleh Al.
"Naiklah, aku akan mengantarmu ke apartemen karena sepeda motor mu sudah sampai di sana. Atau kau masih mau di sini?" tanya Al.
"Dasar laki-laki aneh, dalam sekejap bisa berubah dengan cepat." Jawab Queen dalam hati namun berdiri dan berjalan untuk naik ke atas sepeda motor Al.
Dalam sepanjang perjalanan mereka tidak ada berbicara. Bahkan banyak lampu merah yang memberhentikan mereka dan mungkin bisa sedikit di atas sepeda motor. Keheningan berlanjut hingga sampai di apartemen.
"Tuan ini kuncinya, " jawab seseorang yang membawa sepeda motor Queen.
Al menerima kunci sepeda motornya dan memberikannya kepada Queen.
"Sampai bertemu kembali. Fikirkan apa yang aku katakan." Jawab Al dengan memberi kunci sepeda motor Queen.
Belum menjawab pertanyaan dari Al, Al sudah pergi meninggalkan Queen begitu saja.
Hari berganti, sehari terlah terlewati. Queen menganggap semua yang terjadi kemarin adalah sebuah halusinasi yang tidak perlu dipikirkan. Queen tetap pergi ke kampus seperti biasanya. Semua orang sudah masuk ke dalam kelas termasuk Fiona yang sudah duduk di samping Queen.
"Kenapa yang masuk Bu Grace?" tanya para mahasiswa yang heran karena pada jadwal ini yang seharusnya masuk adalah Azlan.
"Semuanya harap tenang dan duduk di tempatnya." Jawab Grace yang masih berjalan dari pintu menuju ke podium. Semua orang mengikuti perintah Grace untuk duduk dan menghentikan aktivitas mereka.
"Aku mengetahui bahwa kalian sedang bertanya-tanya mengapa ibu yang masuk pada jadwal ini yang seharusnya Pak Azlan lain yang masuk. Beliau sedikit ada urusan sayang dia tidak hadir pada hari ini. Ibu hanya menggantikannya hari ini saja. Berhubung setelah ini adalah jadwal ibu. Jadi bisakah kita membuat kesepakatan untuk menyatukan jadwal pertama ini dengan jadwal kedua sebagai jadwal ibu?" tanya Grace.
"Apakah ini tidak apa-apa?" tanya seseorang.
"Tidak perlu khawatir karena Pak Azlan sudah memberikan amanah untuk menangani jadwalnya dengan kelas kalian. Dan saya sudah meminta izinnya." Jawab Grace.
"Baiklah Bu, aku setuju." Jawab seseorang yang mengangkat tangannya untuk menyetujui kesepakatan yang ditawarkan oleh Grace. Lalu di ikuti hampir seluruh mahasiswa menyetujuinya.
__ADS_1
"Baiklah, karena kalian sudah menyepakati keputusan bersama ini, maka aku mengatakan kepada kalian bahwa aku akan memberikan tugas kelompok kepada kalian. Terserah ingin berapa orang setiap kelompok. Bisa hanya dua orang atau bisa 10 orang paling banyak dalam 1 kelompok."
"Peraturannya sangat sederhana, Aku ingin kalian mencari salah satu penulis untuk bisa diwawancarai tentang pengalamannya menuliskan cerita. Terserah penulis terkenal atau penulis biasa, genre cerita romansa atau yang lainnya. Yang terpenting aku ingin kalian mendapatkan sebuah rangkuman wawancara dari draf yang akan kalian buat sendiri dalam wawancara."
"Tenang saja. Waktu yang saya berikan kepada kalian cukup lama yaitu hanya 1 bulan saja. Apakah ada pertanyaan lain?" tanya Grace yang sudah menjelaskan tugas yang ia berikan.
"Aih..."
"Duh..."
"Sebulan Bu?"
Semua orang terlihat lemas ketika mendengarkan sebuah tugas kuliah yang harus dikerjakan selama 1 bulan.
"Tidak ada yang bertanya?" tanya Grace kembali.
Queen mengangkat tangannya untuk bertanya.
"Iya kamu, kalau tidak salah Queen ?" tanya Grace.
"Hahah, aku kira sebuah pertanyaan yang ... Baiklah, itu adalah tantangan kalian sendiri. Entah menggunakan uang, kekuasaan, atau kecerdasan kalian sendiri untuk mendapatkan kontak dari penulis yang akan menjadi target kalian." Jawab Grace yang mau merendahkan Queen namun berhenti dan langsung menjelaskannya.
"Iya, kita kan punya uang. Kita bisa membayar seorang penulis."
"Ayah ku adalah pengusaha di kota ini. Aku bisa mendapatkan hak itu melalui koneksi dari keluargaku."
"Iya, dia mungkin dari kalangan bawah."
"Queen kau sangat kasian, pantas saja kau bertanya seperti itu ternyata kau hanyalah seorang anak beasiswa. Apa mungkin kau bukan dari keluarga...?" tanya Elena ya ingin membongkar identitas Queen yang hanya seorang anak dari keluarga biasa.
"Kenapa dengan anak beasiswa penuh. Bukannya kau juga anak beasiswa dari keluarga mu sendiri?" Jawab Queen tersenyum.
"Kau?" Ucap Elena yang berdiri tidak terima dengan pernyataan Queen.
"Sudah tenang, tenang. Sudah aku katakan, itu jadi tantangan kalian sendiri dalam menyelesaikan masalah. Kalian akan saya beri jam bebas hari ini untuk mencari tahu penulis siapa yang cocok kalian wawancarai. Kalian bisa melihat referensi dari ruang media perpustakaan yang menyimpan berkas video senior-senior kalian dari tahun ke tahun." Jawab Grace.
__ADS_1
"Hal itu dapat membantu kalian dalam menentukan dan menyelesaikan tugas ini." Jawab Grace lagi.
"Baik Bu." Jawab mereka di dalam kelas.
"Ada lagi saya ingin bertanya selain Queen dalam tugas ini? tanya Grace.
"Tidak buk." Jawab mereka.
"Baiklah, kalian sudah bisa mulai keluar untuk mencari referensi di perpustakaan atau langsung bertanya kepada senior yang kalian kenal dalam menyelesaikan tugas ini." Jawab Grace.
"Baik Bu." Jawab mereka.
"Queen jangan khawatir, apa kau lupa aku ini anak siapa?" tanya Fiona yang sejak tadi diam karena merasa hal ini sangat menguntungkan bagi dirinya.
"Tante Serli?" tanya Queen yang baru sadar bahwa Ibu Fiona adalah seorang penulis untuk perfilman yang terkenal di negara ini.
"Iya." Jawab Fiona dengan tersenyum.
"Kenapa aku hampir melupakan itu." Jawab Queen.
"Hahaha, tenang saja. Kita akan meminta Ibu untuk di wawancarai. Jadi kita bisa langsung menyiapkan draf wawancara yang akan kita ajukan kepada Ibu." Jawab Fiona.
"Kita ke perpustakaan saja." Jawab Queen.
"Ayo." Jawab Fiona dengan cepat membereskan barang-barangnya yang ada di atas meja. begitu pula dengan Queen yang memasukkan buku catatan ke dalam tasnya.
Mereka berdua langsung berjalan keluar meninggalkan kelas menuju perpustakaan. Mereka berjalan melewati Elena dan Yosi yang masih duduk.
"Kalian itu hanya orang biasa yang beruntung mendapatkan beasiswa di kampus elit seperti ini." Jawab Elena yang menyindir Queen dan Fiona.
"Abaikan saja." Jawab Queen yang terus berjalan dan menarik Fiona yang ingin sekali membalas kalimat Elena.
"Fiona?" tanya Queen.
"Apakah kau masuk ke kampus ini dengan penyamaran?" tanya Queen.
__ADS_1
"Tentu saja tidak." Jawab Fiona