
Bram menceritakan semua kejadian yang sebenarnya kepada Queen. Mereka mengungkapkan bahwa mereka bukanlah orang tua kandung Queen. Dan Memberitahu bahwa Queen memiliki kembaran. Bram juga menceritakan seberapa sadisnya keluarga Abraham yang memerintah untuk membunuh orangtua kandung Queen dan Suster Natasya.
"Jadi mereka bukanlah orangtua kandung ku dan Sella?" tanya Queen dalam hati yang sudah mendapatkan kepastian setelah mendengar cerita dari Bram. Rasa penasaran Queen membaca diary Alex akhirnya sudah terjawab.
"Queen, terlepas dari semua rahasia yang kami katakan kepadamu tentang asal-usul keluarga kandung dan juga identitas dirimu. Ketahuilah bawah aku dan juga Bram sangat mencintaimu." Jawab Stella memeluk Queen dan mengeluskan kepalanya.
"Jika Mama dan Ayah tidak menyetujui ku pergi ke sekolah itu karena takut bertemu dengan keluarga Abraham maka aku tidak akan pernah pergi." Jawab Queen.
"Tapi jika Ayah dan Mama percaya bahwa aku bisa menjaga diriku dan juga tidak terlibat dengan keluarga mereka maka izinkan aku untuk pergi menuntut ilmu." Jawab Queen lagi.
"Sayang, kau sudah dewasa. Kami berdua akan menyetujui apapun pilihan yang akan kamu ambil. Tapi ingat baik-baik, jika terjadi sesuatu seperti sebelumnya kami tidak akan pernah memaafkan diri kami sendiri karena tidak bisa melindungi mu." Jawab Stella.
"Mama, Ayah. Tenang saja, aku akan melindungi diri ku sendiri." Jawab Queen
"Semua ini semakin menarik. Aku harus mengetahui dengan jelas siapa sebenarnya keluarga Abraham itu?" tanya Queen dalam hati .
"Jadi kau akan pergi ke universitas itu dan meninggalkan kami?" tanya Bram.
"Ayah, Mama. Lebih baik kalian berdua tetap disini untuk berjaga-jaga agar identitasku tidak diketahui oleh mereka." Jawab Queen.
"Baiklah. Kami merestui mu. Selalu kabarin kami jika terjadi sesuatu." Jawab Bram.
"Pasti." Jawab Queen.
Bram berjalan ke arah meja kaca rias yang berada di kamar Queen. Bram memberikan paspor dan juga tiket pesawat untuk keberangkatan Queen ke Negera Boyalia. Bram memberikan kepada Queen paspor dan juga tiket pesawat itu.
"Sayang, kami berdua sudah mempersiapkan semua keperluan mu di sana. Dan ini adalah pasport dan tiket pesawat untuk mu besok malam." Jawab Bram.
"Iya, kami sudah mencarikan apartemen untuk kau tinggali yang dekat dengan kampus. Dan semua keperluan sehari-hari sudah kami persiapkan di apartemen. Queen akan seorang bodyguard yang sudah kami sewa untuk mengantarkan mu tiba di sana." Jawab Stella.
"Bodyguard?" tanya Queen kaget.
"Iya " Jawab Stella
"Bisakah kalian membatalkan bodyguard itu?" tanya Queen.
__ADS_1
"Tidak. Kami mengkhawatirkan keselamatan mu. Dan untuk kami sendiri mengantarkan mu tidak mungkin. Kami hanya tidak ada kemungkinan bahwa mereka mengetahui keberadaan kami." Jawab Bram.
"Hmmm, baiklah tapi hanya sampai di apartemen setelah itu ia harus pergi." Jawab Queen.
"Oke." Jawab Bram.
Mereka mengakhiri percakapan itu. Seperti biasanya, Bram dan Stella memperlakukanku dengan manja dan sangat menyayangi. Queen yang mendapatkan kehangatan dari Bram dan Stella sangat tersentuh. Queen juga berusaha untuk menjadi sosok Sella yang mungkin lemah lembut di hadapan Bram dan juga Stella. Padahal Queen memiliki sifat yang dingin dan cuek namun tetap penyayang.
Stella membantu Queen untuk berkemas barang-barang yang perlu dibawa olehnya ke negara Boyalia. Mereka berdua yang sedang menyusun baju di dalam koper sambil bercerita. Queen sedang mencari celah untuk mengetahui apa saja yang harus di perhatikan olehnya tentang kebiasaan dan lainnya yang berhubungan dengan Sella.
"Sayang istirahatlah, jangan terlalu lelah." Jawab Stella yang sudah selesai membantu klien berkemas dan pergi meninggalkanku di dalam kamar.
Queen sedang memperhatikan sekelilingnya. Ia mencari sebuah diary milik Sella. Mungkin Sella juga suka menceritakan kesehariannya dalam bentuk tulisan diary. Queen berjalan ke rak buku yang berukuran 1 m dengan 2 tingkat. Queen memeriksa buku-buku itu mungkin pada diare yang dicari olehnya. Queen akhirnya menemukan sebuah buku diary yang berwarna pink. Queen langsung membaca buku diary itu sehingga membuatnya mendapatkan informasi tentang Sella.
Malam itu, Queen sibuk menghabiskan waktu membaca buku diary milik Sella sehingga membuatnya tertidur di jam 3 pagi. Stella yang masuk ke dalam kamar Queen pukul 8 pagi dan masih melihat Queen yang sedang tertidur pulas membuatnya tidak jadi untuk membangunkan Queen.
Queen terbangun dari tidurnya pada siang hari. Queen bergegas membersihkan dirinya dan keluar dari kamar lalu menemui sang ibu yang berada di ruang keluarga. Stella sedang menonton TV.
"Sayang sudah bangun?" tanya Stella.
"Lapar? Mama sudah masak kesukaan mu." Jawab Stella.
"Terima kasih Ma," jawab Queen memberikan ciuman pipi kepada sang ibu lalu pergi.
"Walaupun kau lupa ingatan tapi kebiasaan mu tetap tidak hilang." Jawab Stella dalam hati dengan tersenyum melihat Queen yang tidak berubah menurutnya walaupun sedang kehilangan ingatan.
Queen dan Stella menunggu kepulangan Bram dari rumah sakit untuk pergi mengantar Queen ke bandara. Queen dan Stella bersiap-siap untuk pergi ke bandara setelah Bram menelpon akan segera pergi ke bandara setelah ia tiba menjemput mereka di rumah.
"Kalian sudah siap?" tanya Bram yang membuka pintu dan melihat Queen, Stella sudah di depan pintu rumah.
"Sudah." Jawab Stella.
Mereka pergi menuju bandara.
"Princess ingat, saat tiba nanti. Orang suruhan Ayah akan datang menjemput mu. Ayah sudah mengirimkan fotonya kepada mu agar mudah di kenali." Ucap Bram mengingat Queen.
__ADS_1
"Baik ayah." Jawab Queen.
Stella yang melihat Queen dengan wajah yang khawatir.
"Sayang kenapa?" tanya Stella
"Tidak apa-apa Ma. Hanya ingin ke toilet sebentar." Jawab Queen.
"Mau mama temani?" tanya Stella.
"Queen sendiri saja." Jawab Queen yang pergi ke toilet sebelum masuk ke boarding.
Queen yang berada di dalam toilet membasuh wajahnya kemudian melihat ke depan cermin.
"Queen kau pasti bisa." Jawab Queen memberikan semangat kepada dirinya sendiri.
Queen keluar dari toilet dan berpamitan dengan sang Ayah dan Ibu menuju boarding. Setelah pengecekkan tiket dan pasport, Queen berjalan ke lorong untuk masuk ke dalam pesawat.
"Sayang kabarin jika sudah tiba." Jawab Stella
"Take care princess." Jawab Bram
Mereka berdua melambaikan tangan saat Queen menoleh ke belakang dan melanjutkan perjalanannya masuk ke dalam.
"Sayang apakah hanya perasaanku saja bahwa perasaan ku mengatakan Queen sangat takut untuk menaiki pesawat?" Tanya Stella kepada Bram.
"Apa anak kita mengalami traumatis karena kecelakaan beberapa hari yang lalu?" tanya Bram baru memikirkan itu
"Kenapa kita tidak mengingatnya. Bagaimana keadaannya?" tanya Stella yang langsung panik.
sementara Queen,
"Semakin berjalan semakin aku bergemetaran." Jawab Queen dalam hati melihat pesawat yang begitu besar.
"Ah sial, untuk naik pesawat membuat ku sedikit gugup. Apa ini yang di namakan trauma?" Ucap Queen dalam hati.
__ADS_1