Gadis Monochrome

Gadis Monochrome
Episode 192


__ADS_3

~Aku tidak membutuhkan lelaki tampan, kaya dan bertahta. Yang aku butuhkan hanya lelaki yang mencintai ku seperti Ayah yang mencintai seorang putrinya.~


"Jika tidak ada aturan seperti yang kau katakan maka tidak ada yang memimpin?" tanya Queen.


"Bukan seperti itu. Yang menjadi pembunuh nomor satu dan pemilik, atau lebih tepatnya orang yang membentuk inilah yang hingga saat ini tidak bisa diketahui siapa dan dimana dia. Banyak rumor yang tidak baik. Tapi yang jelas, organisasi ini lahir dengan tujuan memberikan peluang untuk membunuh orang-orang yang di khawatirkan menjadi musuh berat." Jawab Al.


"Sudah berapa lama?" tanya Queen.


"Sudah ratusan tahun yang lalu. Kedengarannya organisasi ini sangat tertutup. Hanya orang-orang yang bertalenta dan jenius yang bisa masuk. Tentu saja dalam subjek beladiri yang mengandung unsur kekuatan, pertahanan, penyerangan, taktik dan juga keberuntungan. Bisa di katakan aku pernah di tawari oleh mereka untuk bergabung." Jawab Al tersenyum.


"Benarkah?" tanya Queen.


"Cara mereka mengundang juga tidak biasa. Mereka langsung mendatangi ku. Orang yang mendatangi aku itu adalah orang yang tidak bisa aku kalahkan. Lebih tepatnya, selama ini hanya dia yang tidak bisa aku kalahkan jika one by one." Jawab Al.


"Jika Al mengatakan hal itu berarti memang organisasi yang benar-benar hebat." Jawab Queen dalam hati.


"Tapi tetap saja. Semua orang bisa mendaftarkan diri sebagai pemberi misi atau sebagai pembunuh di tempat itu. Tapi tim pengawas inti dari pengontrol kegiatan itu. Walaupun terlihat bebas, namun sebenarnya tidak. Dan yang terpenting setiap jejak akan hilang begitu saja jika mereka bertindak." Jawab Al dengan menjelaskan terus menerus.


"Aku memiliki sedikit hak khusus yang bisa menghapus target yang akan di bunuh." Jawab Al tersenyum.


"Apakah kau begitu sangat hebat sehingga mendapatkan hak khusus itu?" tanya Queen dengan memandang Al.


"Mungkin mereka berhutang Budi kepada ku beberapa tahun yang lalu. Sudahlah jangan di bahas itu, yang terpenting pengumuman tentang diri mu itu sudah aku hapus. Dan juga aku sudah menemukan titik IP yang mengirimkan pengumuman itu." Jawab Al baru saja mengecek ponsel miliknya.


"Dimana?" tanya Queen terkejut.

__ADS_1


"Di rumah John Abraham, kakek mu." Jawab Al.


"Jadi mereka yang menginginkan aku juga mati seperti orangtua ku juga?" tanya Queen.


"Kau bukanya kaget tapi malah mengatakan seperti itu?" tanya Al.


"Jika itu mereka aku tidak akan kaget. Tapi jika kau menemukan siapa orang yang tinggal di rumah itu yang melakukan hal itu aku aku akan terkejut." Jawab Queen.


"Kenapa seperti itu?" tanya Al.


"Kakek John Abraham, ekspresi yang di berikan olehnya itu tidak seperti sedang berakting tapi entahlah. Mungkin dia terlalu pandai berakting atau memang dia benar-benar tulus. Dan jika di perkirakan tujuan dia melakukan itu aku tidak menemukannya karena tidak mungkin seorang Ayah dengan tega membunuh Putri ya sendiri." Jelas Queen.


"Jika itu paman Biel. Walaupun wajahnya itu tidak ramah, namun saat melihat ku dia tidak seperti takut atau terancam atau bahkan senang. Dia memiliki ekspresi wajah yang mudah berubah. Dan juga dia tetap tenang dan santai saja." Jelas Queen.


"Kalau aku malah berfikir ini Biel yang melakukan ya. Karena dia bukan darah daging Kakek mu dan juga dia memiliki anak." Jawab Al.


"Iya. Kau tidak mengetahui hal ini?" tanya Al.


"Aku kira itu hanya gosip saja untuk menjatuhkan dia. Karena hanya dia yang sudah pasti akan mewarisi segalanya yang dimiliki Kakek." Jawab Queen.


"Hahahha, jadi kau juga tidak tahu tentang kebenaran bahwa saham yang di miliki oleh Biel lebih sedikit di perusahaan Abraham walaupun dia adalah CEO saat ini? Dan saham ibu mu hingga saat ini tidak pernah berahli kepada siapapun?" tanya Al.


"Tidak." Jawab Queen.


"Aku memang belum memiliki bukti tentang paman tiri mu itu. Tapi selama aku menanamkan saham pada perusahaan itu sekitar 5% untuk saat ini. Aku sudah mengetahui bagaimana sifat Biel itu yang hanya menginginkan keuntungan dan juga sangat ambisius dalam segala sesuatu. Tapi selama ini aku tidak ingin ikut campur. Karena aku tidak mau repot dan juga saham yang ada perusahaan keluarga mu hanya saham kecil saja." Jawab Al.

__ADS_1


"Kau tau Al, saat ini kau terlihat sangat sombong." Jawab Queen.


"Itu lebih baik untuk membuat mu terpesona dengan ku. Dengan begitu aku bisa mendapatkan hati mu." Jawab Al.


"Hahaha." Jawab Queen tertawa sehingga membuat Al terdiam dan memperhatikan Queen.


"Dari seluruh hal yang aku ketahui tentang mu selama ini kita bersama, aku hanya tidak menyukai kesombongan mu ini. Walaupun aku tahu sebenarnya kau tidak sombong hanya saja berkata jujur. Terlihat jelas kau itu adalah orang yang tidak mau repot. Lihat saja semua urusan di urus oleh Sam dan Joy." Jawab Queen.


"Benar juga apa yang kau katakan." Jawab Al dengan menerima pendapat Queen. Lalu mereka terdiam sejenak sambil melihat bulan yang tertutup awan mulai muncul di atas langit.


"Tapi tunggu, apa maksud mu?" tanya Al yang membalikkan badannya ke arah Queen.


"Al, aku tidak tahu tentang apa itu cinta. Tapi untuk saat ini, terimakasih untuk segala yang kau lakukan kepada ku. Dengan berjalannya waktu aku sudah terbiasa bahwa kau ada di sisiku. Seperti kau adalah sosok yang menjadi pengantin Ayah dalam perjalan ku saat ini." Jawab Queen.


"Maksud ya kau sudah mulai menyukai ku? tidak-tidak maksud ku mencintai ku?" tanya Al bersemangat.


"Bukan seperti itu, lebih tepatnya aku sudah menerima mu. Aku merasa bahwa sosok Ayah ada pada mu walaupun tidak keseluruhannya. Jika ayah selalu keras kepada ku dalam melakukan sesuatu kau kebalikkanya. Tapi tetap saja, kalian adalah orang yang pertama maju di saat aku membutuhkan seseorang untuk menyelamatkan ku." Jawab Queen tersenyum.


"Queen, bolehkah aku memeluk mu?" tanya Al yang benar-benar tersentuh dengan pernyataan kejujuran dari Queen yang baru saja ia dengar.


"Tentu." Jawab Queen yang lebih dulu mendekati Al dan memeluknya.


"Sudah cukup, ini sudah lebih dari cukup." Jawab Al lalu Queen melepaskan pelukannya.


"Maksudnya?" tanya Queen.

__ADS_1


"Bagiku, kau mengakui ku bahkan menerima ku saja sudah lebih dari cukup. Aku fikir selama ini aku tidak bisa menjadi lelaki yang baik untuk mu. Seseorang yang tidak bisa di andalkan..." Al yang ingin berbicara terus namun Queen yang mendekat dan menempelkan bibirnya ke bibir Al untuk menghentikannya lalu dengan cepat melepaskannya.


Dengan wajah terkejut, Al terdiam beberapa detik. Queen juga menjauh dengan cepat dari sisi Al. Queen tersadar entah apa yang sedang dia lakukan.


__ADS_2