
Queen yang sudah bangun memesan sarapan menggunakan delivery online. Sambil menunggu pesanan, Queen yang sudah siap untuk berangkat ke kampus membuatkan sebuah air madu untuk Fiona.
Fiona yang terkejut dengan dirinya yang sedang berada di kamar siapa. Berjalan keluar mencari tahu sedang berada di mana.
"Kau sudah bangun?" tanya Queen yang sedang meletakkan susu hangat di atas meja makan.
"Queen?" panggil Fiona yang melihat sekitar.
"Mandilah bersihkan diri mu. Pilih pakaian baru di lemari ujung yang bisa kau gunakan." Jawab Queen.
"Syukurlah aku berada di tempat mu, aku kira aku sedang di tempat yang tak di kenal." Jawab Fiona yang bernapas lega.
"Pergilah " Jawab Queen yang melihat Fiona. Dan suara bel rumah berbunyi.
Delivery makanan yang di pesan oleh Queen datang. Queen membuka pintu dan mengambil makanan itu dan menata di atas meja makan. Queen yang menunggu Fiona selesai sambil memainkan tabletnya.
"Bagus juga kata-kata mereka." Jawab Queen tersenyum melihat berita kedua yang mengklarifikasi dirinya.
"Aku mencari cukup keras, hampir tidak ada pakaian yang cocok dengan ku." Jawab Fiona yang menggunakan style yang tidak seperti dirinya yang selalu memakai dress ke kampus.
"Begitu juga cocok." Jawab Queen.
"Iya. Style ini juga nyaman ternyata. Aku mulai menyukainya. Terima kasih Queen sudah meminjamkan kepada ku." Jawab Fiona.
"Tentu. Segara habiskan sarapan mu dan minum dulu air madu untuk meredakan mabuk yang masih terasa pagi ini. Setelah itu kita pergi ke kampus." Jawab Queen.
"Queen ternyata sangat perhatian dengan ku. Menyediakan air madu dan mempersiapkan sarapan ku." Jawab Fiona.
"Segera habiskan atau kita akan terlambat " Jawab Queen yang tetap dingin dan sedikit tersipu.
Mereka berdua pergi ke kampus dengan berjalan kaki. Karena kampus yang tidak terlalu jauh dari apartemen Queen. Saat memasuki gerbang kampus mereka di perhatikan banyak mata.
Sampai di depan kelas, Grace datang mencari Queen kembali setelah ia menyampaikan materinya. Jadwal dirinya dua hari memang ada jam pagi di kelas Queen.
Queen di panggil di ruang dekan kembali, dekan meminta maaf kepada Queen tentang apa yang telah di lakukan olehnya dengan tidak mencari tahu lebih dulu apa yang sedang terjadi. Queen juga hanya tersenyum dan keluar dari ruangan itu.
"Bisa kita berbicara?" tanya Grace yang menahan Queen.
__ADS_1
"Tentu Bu." Jawab Queen dengan sopan namun tetap saja berwajah dingin.
Mereka berdua berjalan menuju taman depan duduk di bawah pohon rindang yang menghadang sinar matahari.
"Aku hanya ingin memastikan apakah benar bahwa kau memiliki ikatan darah pada keluarga Abraham?" tanya Grace.
"Apakah ini adalah pertanyaan pribadi yang harus aku jawab?" tanya Queen.
"Jika kau tidak ingin menjawabnya juga tidak apa-apa. Aku akan mencari tahu dengan sendirinya. Tapi yang harus aku katakan adalah apapun alasan atau rencana yang kau lakukan dengan cara masuk ke keluarga Abraham, aku tidak akan diam saja. Aku akan melindungi apa yang harus aku lindungi." Jawab Grace dengan berjalan pergi meninggalkan Queen.
Queen yang terdiam dengan pernyataan yang di berikan oleh Grace.
"Dia sedang mengancam atau sedang memberikan kode berperang?" tanya Queen yang berjalan memasuki kelas.
Al yang sudah masuk setelah jam pelajaran Grace tidak melihat keberadaan Queen hingga membacakan semua nama mahasiswa untuk di absen.
"Tok....tok...tok..." suara ketukan pintu kelas yang berasal dari tindakan Queen.
"Maaf pak, bisa saya masuk?" tanya Queen.
"Pak, saya tadi dari ruang dekan." Jawab Queen memberikan penjelasan agar dapat masuk kelas.
"Masuklah. Apakah masalah mu sudah terselesaikan?" tanya Al.
"Sudah pak." Jawab Queen lalu berjalan duduk ke arah Fiona.
"Sedikit aku mengatakan kepada kalian. Untuk kalian seorang pelajar yang bisa berfikir dengan mencari fakta kebenaran atas sebuah berita maka jangan mudah untuk menerima dan menyebarkan dengan mudah informasi dengan mudah tanpa mencari tahu kebenaran. Yang saya maksud adalah jangan mudah terprovokasi karena sebuah berita yang tidak tahu kebenaran di dalam informasi nya. "
"Terkadang ketika kita mempercayai sebuah berita tanpa mencari tahu kebenarannya dan kita menjadi hakim terhadap berita itu maka kita akan melukai orang tanpa di sadari. Sama halnya seperti apa yang di alami teman kalian. Jadi untuk kedepannya kalian haru mampu mengolah informasi yang di dapat." Jawab Al dengan bijaksana di depan kelas memberikan pernyataan kepada mereka
"Tentu pak. Kami akan melakukan apa yang bapak bilang. Aku juga meminta maaf kepada Queen, Langsung percaya dengan berita yang tersebar dan menyalahkan mu dari belakang. Maaf Queen." Jawab seseorang dengan berdiri meminta maaf kepada Queen.
"Aku juga."
"Aku juga."
Satu persatu mereka meminta maaf hanya Yosi dan Elena yang diam saja. Elena menggigit kuku jari jempolnya karena melihat Queen memang lagi kali ini.
__ADS_1
"Aku akan membalas mu lebih lagi." Jawab Elena dalam hati.
"..." Queen hanya tersenyum tipis dan membungkuk kan badannya.
"Dengan begini aku sedikit membantu mu " Jawab Al dalam hati melihat.
"Baiklah, semuanya duduk kembali. Kita akan melaksanakan kegiatan pembelajaran seperti biasanya." Jawab Al.
Al melanjutkan pembelajaran di kelasnya hingga selesai.
"Queen akhirnya aku bisa bernapas dengan lega." Jawab Fiona berbisik.
"Tentu saja karena berita kemarin sudah tidak mempengaruhi citra mu lagi. Jadi apa yang di katakan oleh dekan kepada mu?" tanya Fiona.
"Dia berubah total." Jawab Queen.
"Maksud ya?" tanya Fiona
"Dia meminta maaf kepada ku karena masalah kemarin. Dan dia mengatakan selamat atas diri ku yang baru saja di akui oleh keluarga Abraham." Jawab Queen.
"Jadi karena itu dia berubah?" tanya Fiona.
" Ada apa?" tanya Queen.
"Aku mengira bahwa Dekan bersikap baik kepada mu karena keluarga Abraham." Jawab Fiona.
"Kenapa dengan keluarga Abraham?" tanya Queen.
"Tentu saja mereka sangat takut akan menyinggung keluarga itu. Yang aku tahu dari berita dan dari pembicaraan ayah dan ibu bahwa mereka keluarga yang tidak bisa di singgung." Jawab Fiona.
"Bukti yang kuat, beberapa bulan sebelum aku mengenal mu. Mereka pernah bekerjasama dengan sebuah perusahaan berita yang kecil karena sebuah kerjasama tentang program tayangan. Dan mereka melenyapkan perusahaan kecil itu begitu saja. Karena program yang di jalankan tidak sesuai dengan kesepakatan." Jawab Fiona.
"Semuanya di ketahui oleh atasan?" tanya Queen.
"Begitulah. Aku juga tidak mengetahui dengan jelas apa yang terjadi. Namun seperti itulah. Aku bingung untuk menjelaskan dengan jelas. Mungkin karena mereka adalah orang yang berpengaruh pada dunia media publikasi dan juga keluarga terkaya ke 5 di negara ini." Jawab Fiona.
"Oh. Mungkin saja dekan bersikap baik untuk mendapatkan hubungan baik dengan keluarga Abraham." jawab Queen.
__ADS_1