
"Oh benarkah?" tanya John yang mendengarkan bahwa Queen adalah anak beasiswa dari kampus itu.
"Begitulah Kek," jawab Queen singkat.
"Baiklah, sekarang bukannya sudah waktunya kita menikmati hidangan di depan?" tanya Samuel.
"Iya, silahkan menikmati tuan John, tuan Zaki." Jawab Serli.
Mereka menikmati makanan yang ada di depan mereka.
John memberikan kode kepada Zaki untuk mendekatinya. John memberikan bisikkan kepada Zaki untuk keluar sebentar.
"Kami keluar sebentar ke toilet." Jawab Zaki.
"Silahkan." Jawab Samuel.
Zaki mendorong kursi roda John keluar dari ruangan menuju toilet.
"Zaki apakah hanya aku yang merasa bahwa wanita itu mirip dengan putri ku?" tanya John.
"Iya juga terkejut jika nona muda ada di dalam. Dan yang terpenting adalah saat nona muda kecelakaan bersama suaminya, bukannya dia juga kehilangan anak dalam kandungannya. Tuan juga melihat semua itu." Jawab Zaki.
"Aku juga berfikir aneh jika ada wajah yang mirip dengan putri ku. Tapi Zaki, untuk memenuhi rasa penasaran ku. Kau harus mengetahui apa yang harus kau lakukan kan?" tanya John.
"Aku mengerti tuan," jawab Zaki.
"Dan satu lagi, rahasiakan dia terlebih dahulu dari anggota keluarga kita." Jawab John.
"Baik tuan, tindakan tuan tidak akan yang mengetahui." Jawab Zaki.
"Baiklah. Kita kembali ke dalam." Jawab John.
Mereka kembali ke dalam ruangan. Saat mereka kembali, Queen dan Fiona sudah tidak ada.
"Di mana mereka?" tanya Zaki.
"Fiona dan Queen pergi dulu, katanya mereka lupa membeli sesuatu untuk perkuliahan mereka besok." Jawab Serli.
"Oh." Jawab Zaki.
__ADS_1
Mereka melanjutkan makan. Zaki yang tadinya duduk di dekat Queen, dengan tanpa di lihat orang lain, Zaki mengambil gelas yang di gunakan oleh Queen. Zaki mengambil sempel air liur Queen untuk di tes DNA dengan John. Apakah ada kaitannya.
Setelah selesai menikmati makan siang, mereka pergi ke ruang rapat. Samuel dan Serli menjelaskan tentang kerjasama antara entertainment mereka dengan John. John tanpa berfikir panjang menyetujui hal ini dan memerintahkan mereka untuk merahasiakan tentang kerjasama ini dengan siapapun. Mereka juga meminta tidak untuk di publikasikan sampai karya ini tamat. Samuel dan Serli menyetujui akan kesepakatan ini.
Sementara lain, di isi Queen dan Fiona.
"Apa kau tidak ingin ke rumah ku Queen?" tanya Fiona di saat mereka berada di dalam mobil.
Queen menerima sebuah chat permintaan pertemanan, ia menerima dan membaca pesan.
"Fiona aku berhenti di toko itu saja." Jawab Queen dengan menunjuk toko kue yang ada di depan.
"Kenapa berhenti?" tanya Fiona.
"Nona Queen katanya ingin turun di sini, jadi saya segera berhenti."
"Terima kasih pak, Fiona lain kali saja. Aku ada sedikit urusan." Jawab Queen.
Queen berjalan ke arah halte yang ada di depan toko roti. Yah, halte yang ada di sebrang jalan. Queen melewati zebra cross dengan cepat karena saat itu lampu merah berhentikan mobil dan menyelakan tanda pejalan kaki. Queen duduk di halte itu dengan membuka ponselnya dan sedang mengetik. Menunggu 15 menit duduk di halte, sebuah kereta berwarna hitam tiba-tiba berhenti.
"Apa aku membuat mu menunggu?" tanya Al yang membuka helm dan menoleh ke arah Queen.
"Mungkin 15 menit, bagaimana dengan kereta ku?" tanya Queen.
"Perkenalkan Altezza Alaric, panggil saja Al. Aku belum berkenalan dengan mu secara resmi." Jawab Al.
"Queen." Jawab Queen tanpa memberikan juluran tangannya kepada Al. Queen berjalan mengambil helm.
"Hhhh, baiklah." Al yang tertawa kecil lalu berjalan ke arah sepeda motor dan memakai helmnya kembali. Al melihat Queen yang sudah memakai helm yang di letak olehnya di atas kereta.
Al menaiki sepeda motornya lalu Queen juga ikut naik setelah Al. Queen tidak ingin memeluk Al, namun Al menarik gas untuk membuat Queen bisa memeluk tubuhnya.
"Apakah kau sengaja?" tanya Queen.
"Apa? Aku tidak dengar." Jawab Al dengan membuat kecepatan melaju sepeda motornya dengan cepat.
"Aish." Jawab Queen dalam hati dan mengikuti Al yang membawanya dengan sepeda motor.
Al membawa Queen mengelilingi kota A negara boyalia hingga tiba di perbatasan kota A dan B. Mereka juga melewati area balap kemarin. Al membawa Queen ke atas bukit. Mereka berhenti di sebuah tempat tinggi yang dapat melihat seluruh kota Al dari atas.
__ADS_1
"Lihatlah." Jawab Al dengan duduk di atas rumput dan membuka helmnya.
Queen yang sejak tadi sudah melihat sekitar.
"Kau membawa ku hanya sekedar melihat pemandangan ini?" tanya Queen.
"Tidak, saat aku merasa aku sendirian, aku datang ke tempat ini sendiri dan melihat bahwa akulah yang memegang kekuasaan di tempat ini." Jawab Al.
"Memamerkan apa yang kau miliki?" tanya Queen.
"Bukan. Memamerkan bahwa aku begitu menyedihkan. Memiliki segalanya tapi tidak memiliki hal yang berarti." Jawab Al.
"Apa yang sedang di bicarakan laki-laki ini sebenarnya?" tanya Queen dalam hati lalu duduk di samping Al.
"Ada hal yang ingin aku tanyakan kepada mu." Jawab Al.
"Pertanyaan?" tanya Queen.
"Iya, ku harap kau mengatakan dengan jelas." Jawab Al.
"Kau fikir, kau siapa?" tanya Queen dengan memandang Al ke arah kanan dan Al juga memandangnya. Jarak wajah mereka sekitar 10 cm.
"Kenapa kau menyelamatkan aku waktu di hutan?" tanya Al.
"Bukannya itu manusiawi. Menolong seseorang yang sedang terluka?" tanya Queen kembali
"Kita tidak saling kenal, seperti yang kau katakan bahwa kita tidak sedekat itu." Jawab Al.
"Apakah aku harus menolong seseorang jika aku mengenalnya?" tanya Queen.
"Kau tau, kita bertemu lagi saat aku mencari keberadaan mu. Tapi saat itu, kau pergi dengan cepat dari bandara. Bahkan kau tidak mengingat ku. Queen, apakah aku adalah orang yang mudah untuk kau lupakan begitu saja?" tanya Al lebih mendekatkan wajahnya ke arah Queen.
"Kapan aku sering bertemu dengan mu?" tanya Queen dengan menghindar tatapan Al. Wajahnya di palingkan ke depan.
"Pertama di hutan, kedua di pesawat, ke tiga di... terakhir di hotel." Jawab Al yang hampir saja ingin mengatakan bahwa dia bertemu dengan Queen saat di kampus.
"Tapi dari seluruh pertanyaan ku semua, aku ingin mempertanyakan satu hal kepada mu." Jawab Al lalu dirinya berdiri.
"Apakah aku terlalu maniak untuk berterima kasih pada mu dengan cara menjadikan mu wanita ku?" tanya Al dengan melihat Queen.
__ADS_1
"Yah, aku ingin mengenal mu lebih dalam. Tapi aku ingin melewati tahap pacaran namun ingin segera menikahi mu." Jawab Al lagi.
"Apa kau Gilak?" tanya Queen yang masih duduk dan menoleh ke atas melihat Al.