Gadis Monochrome

Gadis Monochrome
Episode 53


__ADS_3

Bram yang terburu-buru pulang setelah menyelesaikan administrasi pensiun profesi dokternya. Ia mempercepat pengurusan untuk segera pergi dari kota A. Saat ini, Bram sudah menelpon Stella untuk segera membereskan segala barang-barang yang di butuhkan untuk di bawa.


Bram yang melajukan gas mobil hingga kecepatan rata-rata. Ia terlihat begitu mengkhawatirkan sesuatu. Dengan membutuhkan waktu yang singkat, Bram sudah tiba di rumah. Stella sudah mempersiapkan semua barang-barang yang perlu di bawa ke dalam koper. Jajaran koper dan dus-dus sudah di susun di ruang tamu. Stella juga sudah memakai pakaian untuk segera pergi.


"Sayang sudah siap?" tanya Bram yang membuka pintu di saat Stella sedang menghitung barang-barang.


"Sudah datang?" tanya Stella yang memberhentikan aktifitasnya.


"Sudah, mari kita pergi." Jawab Stella


"Bagaimana tentang Queen? Sudah memberitahunya?" tanya Bram.


"Aku sudah berusaha menelpon namun tidak di angkat. Bahkan untuk ke sekian kalinya nomor ya tidak aktif. Mungkin dia sedang tidur. Tapi aku sudah memberikan pesan kepadanya." Jawab Stella.


"Nanti kita hubungi secara langsung lagi. Sekarang lebih baik kita pergi dulu dari rumah ini." Jawab Bram dengan sambil membawa kardus-kardus yang sudah di susun oleh Stella.


Mereka bersama-sama meletakkan beberapa barang itu ke dalam Mobil jenis Ford F-150 Raptor. Bram dan Stella meletakkan barang-barangnya di belakang mobil. Menyusun dengan rapi seluruh barang lalu pergi meninggalkan rumah.


"Sudah semua?" tanya Bram.


"Sudah." Jawab Stella.


"Tidak ada barang-barang untuk meninggalkan jejak?" tanya Bram.


"Sudah beres semua." Jawab Stella.


Mereka melakukan semua ini karena sebulan yang lalu ada keluarga Abraham yang datang ke rumah sakit lama saat Bram masih bekerja di rumah sakit itu. Lalu mengarahkan mereka ke arah rumah sakit yang sekarang. Bertepatan saat mereka mencari tidak ada Bram di rumah sakit.

__ADS_1


Dan beberapa orang yang sudah di beri tahu oleh Bram bahwa jika ada seseorang selain istri dan anaknya yang datang ke rumah sakit jangan katakan apapun tentang dirinya. Bahkan anggap saja ia tidak pernah bekerja di tempat itu. Oleh karena itu, pihak rumah sakit tidak ada yang membocorkan hal itu. Sebuah perjanjian antara rumah sakit dan Bram ketika waktu dulu.


Namun tidak berhenti disaat itu, Bram yang mengetahui hal ini tidak akan mudah menipu keluarga Abraham, Bram langsung menyusun strategi pelarian kembali dengan menjual seluruh aset di rumah bukan atas namanya sejak dulu dan saat ini sudah di jual kembali.


Mereka benar-benar pergi meninggalkan kota A dengan sangat rapi, tidak ada jejak sama sekali. Tapi ada hal yang tidak bisa di fikirkan oleh mereka, mereka tidak bisa menyamarkan diri mereka dari CCTV. Tapi untuk saat ini, Bram dan Stella berjalan ke arah Negara B untuk menetap di sana.


Yah, menetap di desa Stella di masa kecil. Mereka memiliki ladang yang cukup luas, peternakan yang dapat di olah mereka di masa tua. Mereka memang sudah mempersiapkan hal itu.


Namun saat dalam perjalan di tol ke arah negara B, Stella mendapatkan sebuah telepon.


"Kalian ingin kabur begitu saja?"


"Kau siapa?" tanya Stella.


"Tidak ada yang bisa lolos dari keluarga Abraham. Kalian telah melakukan kesalahan yang fatal. Jika kalian ingin melarikan diri, Ikuti apa yang aku katakan."


"Kenapa kami harus mempercayai mu?" tanya Stella. Lalu Bram memerintahkan Stella untuk mengeraskan volume ponsel agar Bram juga mendengar.


Suara panggilan telepon itu tertutup dan membuat Bram bersama Stella saling memandang untuk mempercayai apa yang ia katakan.


"Aku sedikit kenal dengan suara dia." Jawab Br sambil berfikir.


"Iya aku ingat, dia yang menyelamatkan malam itu." Jawab Bram.


"Laki-laki yang kamu ceritakan?" tanya Stella.


"Iya." Jawab Bram langsung menambah kecepatan mobilnya untuk menuju ke arah peristirahatan tol pertama.

__ADS_1


"Padahal kita sudah melakukan dengan baik untuk tidak bisa diketahui oleh mereka. Apa jangan-jangan Queen juga sudah bertemu dengan mereka?" tanya Stella.


"Kau benar? Bagaimana dengan keadaan Queen jika dia sudah bertemu dengan mereka?" tanya Bram.


"Aku akan coba menelpon kembali." Jawab Stella.


Namun, Stella ya terus menelpon ke nomor Queen namun tidak dapat terhubung. Nomornya terus mati dan tidak aktif.


Mereka tiba di tempat itu, sepanjang jalan mereka mencari mobil yang dimaksud oleh penelepon itu. Dan saat melihat mobil yang di maksud, Bram langsung mendekati mobil itu.


Belum saja turun dari mobil, mereka sudah disambut oleh 2 orang sepasang kaki-laki dan perempuan yang umurnya sebaya dengan mereka berdua. Tapi wajah mereka berdua seperti orang yang memiliki banyak tenaga.


"Tuan ini kuncinya. Kalian berdua masuk saja ke dalam mobil, kami yang akan urus barang-barang." Jawab laki-laki memberikan kunci mobil itu kepada Bram.


Bram dan Stella saling memandang untuk melihat mereka yang langsung sibuk mengangkat barang-barang dari mobil Bram ke mobil Fard Super Duty. Dengan membutuhkan waktu 10 menit mereka sudah memindahkan seluruh barang ke mobil itu.


"Siapa sebenarnya tuan kalian?" tanya Bram yang penasaran dan belum masuk ke dalam mobil sedangkan Stella sudah lebih dulu masuk kedalam mobil atas perintah dari Bram.


"Maaf tuan, kami berdua tidak bisa menjawab hal itu dan lebih baik anda dan istri anda segera pergi dari sini sebelum mereka datang. Dan ingat gunakan perlengkapan penyamaran yang sudah kami siapkan di dalam mobil."


"Baiklah. Terima kasih." Jawab Bram yang sebenarnya masih penasaran namun waktu sudah tidak cukup lagi untuk mencari tahu.


"Selamat jalan."


Bram dan Stella yang berada di dalam mobil langsung menggunakan wig dan kacamata sesuai dengan penampilan dua orang yang tadi lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju ke negara B kota A sesuai dengan tujuan awal mereka ingin melarikan diri.


"Apa sebenarnya keuntungan mereka?" tanya Stella yang belum dijawab oleh Bram tiba-tiba telepon berdering lagi.

__ADS_1


"Untuk beberapa bulan ini lebih baik kalian pergi sejauh mungkin. Dan untuk Queen anak kalian jangan khawatir, dia akan aman. Ingat, kalian jangan ke Negara Boyalia untuk bertemu dengan anak kalian jika kalian ingin selamat." Lalu ponsel itu mati.


Stella dan Bram mencoba untuk menelpon kembali nomor yang telah menelepon mereka tadi namun tidak dapat terhubung. Mereka berdua sangat heran karena dia bisa mengetahui nama anak yang mereka asuh selama ini. Mereka juga mau tidak mau harus mempercayai perkataan dari laki-laki itu.


__ADS_2