Gadis Monochrome

Gadis Monochrome
Episode 45


__ADS_3

Al hanya tersenyum tipis berjalan menuju lift. Queen mengikuti langkah kaki Al dari belakang. Mereka berdua masuk ke dalam lift tanpa ada berkata apapun, suasana benar-benar dingin. Sampai mereka keluar dari lift. Al membukakan pintu mobil untu Queen. Tangan Al di atas kepala Queen yang masuk ke dalam mobil agar tidak terkena pintu atas mobil. (Sok so sweet wkwkkwkw).


"Hallo Nona, kita bertemu kembali." Jawab Joy yang mencairkan suasana karena sejak mereka masuk sejak tadi tidak ada suara apapun yang keluar dari mereka berdua. Masing-masing mereka duduk berjarak di dekat kaca pintu mobil. Queen baru menyadari supir yang membawa mereka adalah orang yang sama yang pernah ia temui di hutan.


"Kau!" tanya Queen yang mengingat kembali.


"Iya nona, saya adalah laki-laki yang bertemu dengan ada beberapa bulan yang lalu di hutan saat Tuan Al tidak sadarkan diri." Jawab Joy dengan tersenyum yang terlihat dari kaca depan mobil.


"Jadi benar dia laki-laki itu." Jawab Queen yang sedang membandingkan wajah Al saat ini dan saat di hutan. Karena saat di hutan wajahnya yang sudah terluka dan juga tertutup dengan tanah. Queen yang sedang memandang wajah Al yang dingin saat ini.


"Apakah aku tampan?" tanya Al dengan mendekatkan wajahnya di hadapan Queen.


"Aku hanya melihat pemandangan di balik kaca." Jawab Queen yang terkejut dengan cepat mengalihkan dirinya untuk tidak melihat ke arah Al.


Joy yang melihat tingkah laku mereka hanya tersenyum tipis.


"Baru kali ini aku melihat tuan Al seperti itu." Jawab Joy dalam hati.


Sementara di tempat lain, Paz bersama dengan beberapa anggotanya sudah tiba di kantor cabang kepolisian di mana Sam di penjara. Paz keluar dari mobil bersama dengan anggotanya berjalan masuk ke dalam kantor cabang kepolisian daerah sempat.


"Pak Jendral Paz?" panggil seorang polisi yang memang sudah mengenali petinggi petinggi atas.


"Kenapa bapak datang kemari?"


"Dimana ketua kalian?" tanya Paz.


"Silahkan bapak masuk dulu. Saya akan mengambil pak ketua."


Mereka di antar ke ruang tamu di kantor kepolisian itu. Ketua yang ada di dalam kantornya langsung kaget saat bawahannya mengatakan bahwa tamu yang baru saja datang adalah jenderal Paz. Dengan cepat ia masuk ke dalam ruang rapat sebagai ruang tamu juga.


"Siang Pak?" Ucapnya dengan berdiri tegak dan memberi hormat kepada Paz.


"Apa yang sudah kau lakukan dengan penangkapan tuan Sam?" tanya Paz


"Tuan Sam?"


"Iya, CEO hotel A. Apa hanya sekedar kiranya video dari internet itu sudah menjadi bukti kuat untuk menangkap seseorang seperti dia?" tanya Paz.

__ADS_1


"Maaf jika saya salah." Jawabnya dengan tegas.


"Kau memang benar-benar salah karena sudah mengganggu seseorang yang tidak bisa di provokasi." Jawab Paz.


"Saya akan mengeluarkan tuan Sam langsung." Jawabnya meminta izin untuk keluar dan mengeluarkan sampah dari sel tahanan.


"Maaf tuan Sam kami salah menangkap anda." Jawabnya.


"Di mana orang yang telah membebaskanku?" tanya Sam.


"Silahkan ikut kami." Jawabnya.


Ia mengantar Sam yang baru saja dikeluarkan dari sel menuju ke ruang rapat di mana Paz sudah menunggu.


"Tuan maafkan anggota saya." Jawab Paz langsung berdiri dan memberikan uluran tangan kepada Sam.


"Dimana dia?" tanya Sam.


"Tuan besar dalam perjalanan." Jawab Paz.


"Tuan besar sudah memberikan perintah untuk melaksanakan beberapa tindakan yang akan saya lakukan. Saya sudah memerintah anggota saya untuk mengambil beberapa bukti yang kuat agar dapat memberikan penjelasan kepada publik." Jawab Paz.


"Baguslah." Jawab Sam.


"Kalian belikkan makanan kepada Pak kepala dan tuan Sam." Ucap ketua itu.


Sambil menunggu mereka mendapatkan hidangan makanan di kantor polisi. Dan saat menikmati makanan yang baru saja datang dari delivery, seorang wanita yang tiba-tiba datang ke kantor polisi untuk bertanya tentang keberadaan Sam. Yah, wanita itu adalah Fiona.


Fiona adalah salah satu mantan pasien Sam yang bisa mendapatkan hak khusus selain antara pasien dan dokter. 7 tahun yang lalu, Fiona pernah mengalami operasi usus buntu untuk pertama kalinya masuk ke rumah sakit. Yang membuat dirinya terguncang karena takut dengan suasana rumah sakit. Sam lah yang membantu psikologi kejiwaan dirinya agar tidak merasa takut berada di lingkungan rumah sakit. Dan latar belakang Fiona yang bersifat introvert dan tidak memiliki banyak teman.


"Saya ingin bertemu dengan tahanan yang bernama Sam?" tanya Fiona.


"Sam?"


"Baik saya antar," jawab polisi di ruang informasi itu setelah mengingat bahwa asam yang dimaksud adalah orang yang baru saja dibebaskan dari dalam sel. Ia mengantarkan Fiona untuk bertemu dengan Sam yang sedang makan di dalam ruangan.


"Fiona?" tanya Sam yang baru selesai makan melihat Fiona masuk di depan pintu. Sam berdiri dari tempat duduk.

__ADS_1


"Kakak!" panggil Fiona dengan berlari menuju ke arah Sam lalu memeluknya.


"Hey, kenapa kau ada disini?" tanya Sam yang memeluk Fiona juga.


"Huhuhuh, Kakak tidak apa-apa?" tanya Fiona dengan menangis memeluk Sam.


"Aku tidak apa-apa, seperti yang kau lihat." Jawab Sam kepada Fiona lalu melepaskan pelukannya. Sam menghapus air mata Fiona yang terjatuh di pipinya. Semua orang yang ada di dalam tercengang dengan apa yang mereka lihat. Sam yang menyadari itu membawa Fiona keluar dari ruangan dan berhenti di lorong tangga darurat.


"Sudah agak tenang?" tanya Sam lalu Fiona mengangguk.


"Bagaimana bisa Kakak masuk kedalam sel? Apakah berita itu benar? Kakak seorang pembunuh?" tanya Fiona.


"Tentu saja tidak. Buktinya sekarang sudah di sini, di hadapan mu." Jawab Sam.


"Jadi itu tidak benar? Aku sudah berlari dengan tergesa-gesa menuju kemari setelah mendengar berita itu. Aku khawatir tentang Kakak." Jawab Fiona kembali menangis dengan merengek.


"Sudah-sudah jangan menangis lagi." Jawab Sam dengan memeluk Fiona untuk memenangkan dirinya.


Setelah beberapa menit Fiona menangis dalam pelukan Sam. Fiona melepaskan pelukannya dan melihat Sam yang baik.


"Sudah siap menangis ya gadis kecil?" tanya Sam dengan mencubit pipi Fiona.


"Baguslah Kakak baik-baik saja." Jawab Fiona.


Sam yang melihat kaki Fiona yang terluka di mata kaki sebelah kanan dengan kulit yang memerah dan sedikit berdarah.


"Seperti biasanya, kau sungguh ceroboh." Jawab Sam yang berjongkok dan melihat luka di kaki Fiona. Sam yang sering mengantongi hansaplast, mengambil hansaplast itu dalam sakunya dan menempelkannya di kaki Fiona.


"Dia sudah pernah berubah untuk bersikap lembut kepada ku." Jawab Fiona dalam hati.


"Sudah makan?" tanya Sam.


"Belum." Jawab Fiona.


"Setelah selesai disini kita makan malam." Jawab Sam.


Lalu mereka masuk kembali di dalam ruangan itu dan Sam memberikan minum dan pizza yang ada di meja itu.

__ADS_1


__ADS_2