
Senin pagi adalah hari pertama untuk mengawali setiap minggu. Hari ini Queen pergi kuliah seperti biasanya begitu juga dengan Al yang menyamar sebagai Azlan, dosen di kampus seperti biasanya.
Mereka berdua bertemu lagi di lift namun terpisah kembali ketika turun dari lift. Hanya ada senyum sapa tipis dari sudut bibir Queen ketika bertemu dengan Al di lift. Al hanya membalasnya dengan senyuman saja tanpa ada percakapan yang lebih.
Queen hari ini menggunakan sepeda sebagai alat transportasi menuju ke kampus. Ia berjalan di jalan khusus sepeda menuju ke kampus. Sementara Al tetap menggunakan sepeda motornya. Al lebih dahulu tiba di kampus dibandingkan dengan Queen.
Dan saat Queen tiba di gerbang kampus, ada sebuah mobil di seberang jalan yang berhenti dan memperhatikan Queen. Queen sudah merasa aneh bahwa ada sebuah mobil yang berhenti dan terus melihat ke arah gerbang kampus. Dan saat Queen yang masuk, mobil itu membuka kaca mobil dan memotret. Queen melihat orang yang ada di dalam mobil itu dengan menggunakan kaca spion sebuah mobil yang juga masuk ke dalam gerbang sekolah bersamaan dengan Queen.
Saat Queen menghentikan sepedanya dan menoleh ke belakang, orang yang berada di dalam mobil itu menutup kacanya lalu beberapa detik kemudian mobil itu melaju meninggalkan kampus.
"Siapa mereka?" tanya Queen yang tidak terlalu jelas melihat plat nomor dalam mobil itu.
"Sudahlah." Jawab Queen membalikkan dirinya lagi dan mengayunkan sepeda menuju ke parkiran.
Hari ini Queen masuk pagi hingga siang. Ia melaksanakan pembelajaran seperti biasanya dengan baik.
"Bagaimana jika hari ini kita karaokean?" tanya Fiona yang sudah mengajak Queen untuk bernyanyi.
"Aku ada urusan." Jawab Queen dengan begitu cuek sambil memasukkan buku catatannya ke dalam tas beserta alat tulis lainnya lalu melangkah pergi keluar dari ruang kelas.
"Ais itu wanita udah hampir 3 bulan tetap aja dingin." Jawab Fiona dalam hati.
__ADS_1
Queen yang keluar dari kelas ternyata menuju ke arah perpustakaan. Ia datang ke pelayanan pencari informasi. Queen mengetikan sebuah nama di dalam aplikasi perpustakaan. Nama yang di cari langsung muncul. Yah, muncul beberapa karya buku, penelitian, biografi dan sebagainya atas nama yang telah di cari oleh Queen.
Nama yang dicari oleh Queen adalah nama dari sang ayah yang bernama Mirza Khan. Queen yang sudah mengetahui nama ayah dan ibu kandungnya juga mengetahui latar belakang dari keduanya. Sang Ayah adalah seorang laki-laki genius teknologi. Sang ayah adalah dosen terkenal di kampus ini jadi mudah untuk membuatnya mengetahui hal itu. Sang ayah yang sudah sejak kecil berlatar belakang yatim piatu dan hanya tinggal bersama dengan nenek. Hingga sang nenek meninggal dan sang ayah meneruskan kuliahnya di kota hingga menjadi dosen.
Queen langsung memfoto informasi dari layar komputer yang ada di depannya. Informasi yang berisi tentang karya sang Ayah dan latar belakang sang ayah, rak buku beserta nomor klasifikasi yang tercantum pada karya. Dengan begitu memudahkan Queen untuk mencari karya yang ditulis oleh sang ayah tanpa harus mencari Karya di seluruh perpustakaan universitas.
Queen berjalan ke arah rak pertama dengan nomor klasifikasi 900. Rak ini berisi tentang biografi. Dan Queen langsung membaca dari nomor punggung jajaran buku yang tersusun rapi di rak 900. Queen dengan cepat mendapatkan buku biografi tentang Mirza Khan.
Queen mengambil 2 buku atas nama Mirza Khan lalu berjalan lagi mencari buku yang lain dengan melihat catatan dari handphone miliknya yang terdapat foto layar informasi tentang keberadaan karya sang Ayah.
Queen hanya mengambil 10 buku karya sang ayah karena hanya sebatas itu yang diperbolehkan oleh peraturan perpustakaan dalam membaca buku. Queen mengangkat semua buku yang di dapat dan mencari tempat baca yang cocok untuknya.
Queen memilih tempat baca yang berada di pojok sebelah kanan perpustakaan. Queen memilih tempat yang sedikit tenang dan tidak terlalu ramai seperti pojok baca pada lingkaran tengah ruang perpustakaan.
Ekspresi wajah yang ditimbulkan oleh Queen terkadang tersenyum tipis dan terkadang bibir yang ditekuk. Mata yang sedang menampilkan berkaca-kaca. Tapi Queen benar-benar menikmati setiap kata yang dibaca dalam buku karya sang ayah. Queen merasa sedang dalam pemikiran sang ayah lewat dari karya miliknya.
"Andai saja Ayah masih hidup mungkin aku bisa belajar dengan mu." Jawab Queen dalam hati.
Saat Queen membaca buku terakhir yang diambilnya dari rak tiba-tiba ada seorang pustakawan yang sedikit tua dengan baju kemeja yang begitu rapi dan kaca mata yang terpasang di wajah tampannya walaupun rambut sudah memutih.
"Baru kali ini aku melihat mahasiswi yang mengambil semua buku karya Mirza Khan." Ucap pustakawan.
__ADS_1
"Bapak kenal dengan penulis buku ini?" tanya Queen.
"Tentu, dia adalah lelaki baik yang pintar dan juga tampan. Tapi sayang takdir mempercepat kematiannya dengan sebuah kecelakaan yang tidak kami duga duga. Padahal saat itu, baru saja ia menemukan kebahagiaannya karena telah menikah dengan seseorang yang dicintainya dan akan segera menjadi seorang ayah. Tapi tidak di sangka takdir sangat mengecewakan untuk kehidupannya. Ia meninggal bersamaan seluruh keluarganya." Jawab pustakawan itu.
"Ia, saya juga membaca berita 20 tahun yang lalu." Jawab Queen.
"Tapi tetap saja, walaupun ia sudah tidak ada di dunia ini tapi karyanya tetap menjadi referensi bagi mahasiswa lain hingga saat ini. Tapi untuk apa sampai membaca hampir semua karya miliknya. Apakah kau mahasiswi jurusan komputer?" tanya pustakawan.
"Tidak pak, saya hanya sedikit menyukai karya Mirza." Jawab Queen dengan tersenyum tipis.
"Benarkah?" tanya sang pustakawan lalu memperhatikan wajah Queen sejak tadi.
"Iya. Saya mahasiswi jurusan sastra." Jawab Queen.
"Tapi aku lihat jelas sekarang. Kenapa wajah mu itu mirip dengan istri Mirza?" tanya pustakawan.
"Tapi sepertinya tidak. Apa mungkin aku terlalu merindukan mereka." Jawab pustakawan lelaki itu dengan mengusap-usap matanya dan memasang kaca matanya kembali.
"Mungkin saya salah lihat. Karena sudah tua saya sedikit pikun. Saya pergi menyusun buku yang lain." Jawab Pustakawan itu pergi.
"Kakek itu mengenal ayah dan ibu?" tanya Queen dalam hati.
__ADS_1
"Lain kali aku akan bertanya kepadanya lagi tentang ayah dan ibu." Jawab Queen yang melihat sosok laki-laki itu sedang sibuk meletakkan beberapa karya yang sesuai dengan tempat klasifikasinya yang disebut dengan pekerjaan shelving buku.