
"Kamu mengusirku?" tanya Seruni dengan suara yang cukup parau. Dia dan juga para hantu yang lainya tentu sangat terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Ozil. Tidak menyangka, Ozil akan mengeluarkan kata kata seperti itu.
"Hantu itu juga bukan siapa siapa aku, Run. Tapi aku cukup kasian dengan nasib tragis yang mereka alami," ucap Ozil dengan suara agak pelan meski terlihat jelas ada emosi dalam sorot matanya. "Mereka terkatung katung antara hidup dan mati. Mereka tidak tentu arah selama hampir satu tahun lamanya. Namun di saat mereka memiliki harapan untuk bisa menemukan jasad mereka, kamu dengan lantangnya akan menghancurkan harapan mereka hanya karena mereka bukan siapa siapa kamu. Lalu apa bedanya kamu dengan Paman kamu, Run?"
Seruni kembali terbungkam. Tubuhnya terasa lemas. Dia langsung terduduk di atas lantai. Namun tak lama setelahnya, air mata Seruni pecah. Dia menangis sejadi jadinya. Ozil hanya menatapnya tanpa ada niat untuk menenangkan wanita itu. Ozil memilih keluar dari kamar untuk menetralkan amarahnya. Para hantu sontak saja mengikuti pemuda itu.
"Biarkan saja Seruni nangis, Bang. Mungkin dengan begitu, nanti dia bisa berpikir lebih jernih, setelah tangisnya reda," ucap Lili saat Ozil sudah lebih tenang dengan duduk di taman samping.
"Sekarang apa rencana kalian beriikutnya?" tanya Ozil dengan mata menatap kolam kecil yang ada beberapa ikannya di hadapannya.
"Kami sih mendengar, kalau kedatangan Dokter Sakurata akan menemui bos mereka. Kalau nggak salah katanya nama Bos mereka itu di panggil Mbah Wiro," ucap Cempaka.
__ADS_1
"Mbah Wiro?" tanya Ozil dengan kening yang berkerut.
"Yah, yang aku dengar, namanya Mbah Wiro. Tapi kan Dokter Sakurata harus bisa mendapatkan Seruni terlebih dahulu dan membawanya ke tempat keberadaan Mbah Wiro," ucap Cempaka lagi. "Aku takutnya gini, Mbah Wiro itu orang sakti yang bisa melihat hantu juga. Kalau dia tahu tentang keberadaan kami, bisa gawat kan?"
Sejenak Ozil terdiam dengan mencerna ucapan dari salah satu hantu itu. "Mungkin saja seperti itu. Jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Kalau menurut aku sih, mending kita kayak gini aja," ucap Mawar yang langsung mengatakan idenya dengan seksama.
"Nah itu ide bagus, tapi, apa Seruni bisa diajak kerja sama?" tanya Ozil. "Sekarang aja, kita lagi pertengkar?"
Hingga beberapa menit berlalu, pembicaraan Ozil dan para hantu pun terhenti. Kelima hantu kembali memutuskan pergi untuk mengawasi para penjahat, sedangkan Ozil, mau tidak mau harus kembali ke kamar. Begitu pintu kamar dibuka, Ozil melihat Seruni masih terdiam di tempat yang sama saat tadi Ozil keluar kamar. Ozil ingin mengatakan sesuatu, tapi seperti ada yang mengganjal dalam tenggorokannya. Ozil pun memilih diam dan melepas celana ketat yang dia pakai. Di dalamnya sudah ada celana kolor, jadi Ozil tidak perlu beganti celana. Setelah itu Ozil langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur menghadap tembok.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Ozil dibuat terkejut saat tiba tiba ada tangan yang melingkar dipinggangnya. Ozil tahu itu tangan siapa dan Ozil memilih diam saja, membiarkan tangan milik Seruni memeluknya dengan kencang. Tubuh Seruni bahkan sangat menempel sampai membuat degup jantung Ozil berdetak lebih kencang. Tidak ada pembicaraan diantara keduanya, sampai rasa kantuk menghinggapi mata mereka. Akhirnya keduanya terlelap tanpa saling membuka suara.
Hingga hari berganti lagi, seperti biasa, Ozil bangun lebih pagi untuk menunaikan pekerjaannya. Setelah tugas pagi selesai, Ozil langsung membeli makanan untuk sarapan dan juga melanjutkan tugas lainnya sembari dia mandi karena setiap jam kantor tiba, Ozil harus mengenakan pakaian yang rapi.
Sampai saat jam kantor tiba, semua pekerjaan Ozil sudah beres. Satu persatu para karyawan berdatangan. Ada yang menyapa Ozil dengan hangat dan ramah, ada juga yang sama sekali tidak menyapa Ozil. Seperti Mbak Rini, wanita itu kelihatannya masih memendam kecewa pada pemuda yang berkerja sebagai Ob di kantor tersebut. Ozil jelas sekali masih merasakan sikap Mbak Rini yang berbeda.
Sepertinya, hari ini tidak ada tugas lapangan yang harus Ozil ikuti. Biasanya kalau ada tugas lapangan, Ozil akan diberi tahu setelah mereka datang ke kantor beberapa saat kemudian. Namun hari ini sepertinya ada tugas lapangan tapi yang tidak membutuhkan bantuan.
Seperti biasa, jika ada waktu luang, Ozil akan menggunakannya untuk ngobrol dengan satpam atau berdiam diri di dalam kamar. Kali ini Ozil memilih menuju kamar untuk melihat keaadaan Seruni yang sejak bangun jarang mengeluarkan suaranya.
"Sudah sarapan?" tanya Ozil bagitu memasuki kamarnya.
__ADS_1
"Sudah," jawab Seruni pelan. Ozil pun mengangguk dan dia percaya karena ada bekas nasi bungkus masih tergeletak di sana. "Bang, apa aku boleh mengusulkan sebuah rencana?"
...@@@@@...